Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Berbeda
Seminggu berlalu cepat, namun rasanya samar-samar membangunkan ingatan seolah menolak lupa. Melangkah seperti biasa dan menjadi menjadi istri yang baik atau menjadi istri impian dimata semua orang. Hatinya menjadi nyeri setiap kali ada yang memuji perannya dan mengaku cemburu. Dimata semua orang Clarissa adalah wanita yang ideal dan beruntung.
Dering ponselnya sejak beberapa jam yang lalu diabaikan, bukan karena sibuk atau tidak memeriksa pesan masuk. Ponsel itu tetap setia menemani pemiliknya namun sayangnya Clarissa jenuh dan bosan harus menanggapinya.
Rasa semangatnya mudah tergerus oleh perasaan yang berubah-ubah, jujur pada hati terdalam tak ingin menjadi menantu durhaka tapi dia merasa hanya lelah.
Mama mertuanya menelepon dan sengaja diabaikan, perasaan yang mudah berubah-ubah itu kali ini menjadi panik. Belakangan ini rasa panik dan takut menyergap meski ditengah kesibukannya.
Memilih mengabaikan dan melakukan apapun asalkan tidak berbicara dengan mertuanya. Pikirannya membawanya ke dugaan yang liar. Menduga kalau Mama mertuanya akan menanyakan keadaanya, pergi ke dokter terbaik atau merayu untuk mencoba semua cara demi memiliki penerus keturunan.
...****************...
Senja telah tiba, Ethan kembali dan melihat kesibukan istrinya di dapur. Sosok tegap itu mendekat dan menyapa, terjadi pembicaraan singkat. Ethan melihat ada sedikit perubahan dari istrinya, tapi belum sadar sepenuhnya kalau perubahan itu menjadi sekat yang mengatur jarak mereka berdua.
"Mama mencari kamu, kenapa teleponnya tidak diangkat" suara Ethan yang mengalir lembut mengisi udara di ruangan itu, Clarissa tampak diam sejenak memikirkan alasan yang tepat.
"Aku tidak memeriksa ponsel dan sibuk mengurus rumah sejak tadi. Nanti pasti ku telepon" Balas Clarissa yang mulai mempercepat pekerjaannya karena suaminya telah tiba di rumah sementara makan malam belum selesai.
"Mama mau mengajakmu pergi ke pengobatan herbal, dia sudah mencari tahu lokasinya dan cukup baik"
"Benar dugaanku" Batin Clarissa yang tetap menyibukkan diri dengan bumbu yang diraciknya.
"Sa, kamu dengar kan?" Balas Ethan lagi yang tak puas hanya melihat istrinya diam.
"Iya" sahutan yang cukup singkat
"Mama sangat semangat sampai-sampai langsung meneleponku, dia kira kamu pergi kemana karena tak menjawab teleponnya"
Ethan masih berdiri dan meneguk segelas air putih yang diambilnya lalu melanjutkan pembicaraan mereka.
"Kamu bicara saja sama Mama untuk mengatur jadwal"
"Mas, Tolong....aku lelah bisa biarkan aku fokus dengan pekerjaanku" Balas Clarissa yang mulai jengkel.
"Kenapa kamu bilang begitu, aku hanya menyampaikan pesan dari Mama."
"Iya aku tahu, sudah disampaikan kan? Sudah"
"Kamu kenapa sih Sa, kamu seperti tidak senang.?
"Aku hanya lelah, itu saja"
"Lelah kenapa? Kamu hanya di rumah, Apa yang kamu kerjakan sejak tadi"
Aroma di ruangan itu kian mencekam, Ethan yang merasa tak kalah dan Clarissa yang merasa tak dipahami. Perdebatan itu terus merambat hingga puncak.
"Kamu pikir aku seharian di rumah mengerjakan apa?, Aku juga lelah sama seperti kamu" kali ini nada suara Clarissa sedikit naik dan melengking.
"Aku hanya menyampaikan pesan dari Mama karena kamu tidak mengangkat telepon tapi jawaban kamu sejak tadi tidak ramah"
"Kenapa harus aku terus yang disalahkan, kenapa yang harus berobat aku terus. Kamu juga harus terlibat" Emosi Clarissa semakin memanas.
"Apa maksud kamu, sudah lupa dengan yang ku bilang tempo hari?"
Clarissa paham maksud suaminya, dengan ego besarnya yang selalu merasa benar dan tidak butuh pemeriksaan dan konsultasi terkesan menyalahkan tubuh Clarissa yang tak kunjung memberikan keturunan. Clarissa menduga begitu dengan pikiran sempitnya.
"Aku lelah, dan aku tidak mau ikut. Sudah cukup selama ini aku menuruti keinginan keluargamu. Seharusnya kamu sebagai suami juga mendukungku" Balas Clarissa yang masih mengerjakan masakannya.
"Apa kamu bilang, jadi ini alasannya kamu tidak menjawab telepon Mama, iya?" Emosi Ethan ikut naik dan mendorong bahu istrinya.
Emosi itu kian naik kala Clarissa tak menyahut lagi dan sibuk menata makanan diatas piring. Sampai jeritan yang melengking mengisi ruangan itu. Ethan yang tak sabar ingin mendengar jawaban istrinya bukan hanya diam dan mengabaikannya.
Hingga dia mendorong Clarissa yang masih berada didekat wajan dan minyak panas yang masih berada didalam tumpah mengenai lengan dan bahunya. Ethan yang panik mulai bercampur sisa kemarahan membuatnya sedikit sulit berpikir untuk pertolongan pertama pada luka bakar. Hingga akhirnya membopong tubuh Clarissa yang masih menjerit dengan penuh tenaga menuju wastafel dan mendekatkan lengannya pada air mengalir.