NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 4 : Metamorfosis

Merasakan sesuatu bergerak di belakangnya, Theo segera menengok ke belakang.

"Huuh... Kamu toh Snow. Gila!

Kenapa kamu membawa babi hutan itu?"

"Yah, mahluk ini benar-benar tangguh. Aku bahkan harus menyuntikkan bisa cukup banyak untuk melumpuhkannya."

Snow datang dengan babi hutan yang cukup besar masih terbelit di ekornya.

"Oke, sekarang, kita biarkan mahluk babi atau apalah ini bangun."

"Apa? Bangun? Bukankah lebih baik makhluk ini kita potong langsung?" Tanya Theo.

"Tidak dong, kan kita mau berlatih."

Tiba-tiba...

Ghrrrh

Terdengar suara menggelegar dari perut Theo.

"Hahahahahhaha, kau lapar? Hahahaha."

"Hahahahaha, tuan lapar?"

"Berisik!" Ujar Theo dengan muka yang kecut.

"Kebetulan, sebelum tuan Theo berburu. Tuan harus mengisi racun di pisau lempar ini."

"Hah? Bagaimana?"

"Ingat tuan, seperti yang White ajarkan. Lalu, tuan masukkan air liur tuan ke dalam tabung di ujung taring itu."

Theo lagi-lagi mengikuti omongan dari White.

"Baiklah tuan, sekarang babinya sudah sadar. Waktunya, tuan lemparkan pisau itu."

Theo mencoba melempar pisau taring di tangannya.

Meleset...

"Sial" gerutu Theo yang kemudian disambut oleh gelak tawa kedua ular di dekatnya.

Theo mencoba lagi dan lagi, naas dia tidak memiliki sedikitpun kemampuan untuk melempar pisau tepat sasaran.

Setelah berkali-kali mencoba, lemparan Theo secara kebetulan mengenai paha kiri dari babi tersebut.

Babi yang tadinya berlarian ke segala arah mulai melambat dan tumbang.

"Hahahha, berhasil. Tuan berhasil melumpuhkan seekor babi."

"Cih dia berhasil. Baiklah, waktunya memakan babi atau apalah itu."

Kedua ular putih itu segera melahap babi itu. Snow memakan bagian atas babi itu, sedangkan White memakan bagian bawah babi itu.

"Hei, hei, hei, punyaku?"

"Kau? Cari saja sendiri."

"Tuan bisa memakan ini tuan."

White hanya menyisakan ekor babi untuk dimakan oleh Theo. Theo pun segera menolah ekor babi itu, dan memilih mencari buah yang aman dimakan seperti yang sebelumnya pernah ia makan.

"Hei, tenang saja, kau akan kebal terhadap semua racun yang ada. Jadi tidak perlu pilih pilih makanan. Makan saja ini." Ucap Snow sambil mengulurkan buah besar yang berwarna merah mengkilap.

"Tidak mau, ini beracun." Balas Theo, mengingat itu adalah buah yang membuat wajahnya bengkak sebelumnya.

"Haish, dasar manusia manja. Makan saja buah ini."

Snow dengan sigap segera memasukkan buah besar itu ke mulut Theo dan memaksanya untuk menelannya.

"Ughh.. ugh ugh ugh ugh (Hei, jangan paksa aku. Hei)."

Theo segera melepaskan diri dan melempar Snow ke semak belukar.

"Hei! Kau gila? Kau ingin aku mati?"

"Berbicara lagi? Atau makan." Snow kembali menyodorkan buah dengan bekas gigitan besar di buah tersebut.

Lagi-lagi, dengan berat hati Theo memakan buah itu.

Ajaibnya, bukannya merasa gatal atau perih, Theo merasa buah itu sangat manis, berlemak dan bahkan terasa seperti daging.

"Buah aphua inhi? Henak shekualhi." Theo melayangkan pertanyaan sembari mengunyah buah tersebut.

"Bukankah sudah kubilang untuk memakannya? Huh dasar manja."

"Kau tau? Buah ini seharusnya mengandung racun. Makanya kemarin aku mengoleskannya ke mulut untuk menguji apakah buah ini beracun."

Theo kemudian mengambil buah merah itu, dan terus memakannya sampai-sampai ia tidak sadar sudah memakan lebih dari lima buah merah.

"Huuh, aku kenyang." Ujar Theo sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.

Matahari telah terbenam, menyisakan langit malam yang indah diterangi cahaya bulan yang bersinar megah.

"Mandi, aku harus mandi. Hei Snow, White, kalian pernah liat air? Ada dimana ya kira-kira?"

"Air? Hmm, kalau kupikir ada air di dekat sini. Kalau nggak salah itu di sekitar sana."

Theo segera mengikuti Snow, dengan White yang sedang melilit menggantung di leher Theo.

"Tuan, untuk apa tuan mencari air?"

"Tentu saja, mandi."

"Hah, buat apa monyet sepertimu mandi?"

"Monyet? Sialan kau." Theo segera berlari mengejar Snow yang juga mempercepat lajunya.

Tak lama, mereka sampai di sebuah sungai kecil. Sungai yang sangat cocok untuk mandi.

"Ahh, segarnya. Hah?" Theo menyiramkan air ke wajahnya. Lalu ia melihat sebuah kejadian yang aneh.

"Mataku, mataku berwarna hijau?"

"Hei bukankah sudah seharusnya? Lihat saja, kau kan sudah dapat kekuatan ras ular kami."

Theo sekali lagi melihat ke arah air dan mulai menerima matanya yang menjadi hijau.

"Ngomong-ngomong, kan aku ngambil empat telur. Mana dua saudara kalian?"

"Ooh, maksudmu adik kami? Tentu saja..."

Belum selesai Snow berbicara, White segera memotong pembicaraannya.

"Kami memakan kedua telur itu. Bagaimanapun kami membutuhkan energi dari kedua adik kami supaya kami bisa tetap hidup."

"Tapi..."

"Bagaimanapun bukankah memang begitu hukumnya? Yang kuat memangsa yang lemah." Lanjut Snow memotong omongan Theo.

"Ngomong-ngomong. Sepertinya babi tadi hanyalah hidangan pembuka ya." Lanjut sambil menatap ke arah semak belukar di dekat mereka.

Grrr

Terdengar gerakan halus, serta aura membunuh yang jelas asalnya dari semak belukar yang ditunjuk oleh Snow.

"Hah! Itu?"

"Ya, seekor kucing hutan."

"Tuan, sekarang aku akan mengajarkan caranya menggunakan kekuatan ras kami yang kedua." Ucap White.

"Hah? Kekuatan kedua?" Tanya Theo penasaran sambil mengisi pisau taring yang dimilikinya.

"Pertama, tuan tutup salah satu mata tuan. Lalu, tuan kencangkan sedikit mata tuan yang satunya."

Setelah melakukannya, Theo terkejut dengan perubahan warna di sekitarnya.

Daerah disekitarnya berubah warna menjadi biru, sedangkan di balik semak-semak terlihat sosok harimau yang sangat besar.

Roarr!

Suara auman memenuhi seluruh hutan, menyebabkan gempa kecil di sekitar Theo.

"Hua.. ha.. huaa!" Teriak Theo ketika keseimbangannya mulai terganggu.

"Hei, bersiaplah untuk berlari. Dia itu mahluk yang harus dihindari di hutan ini. Setidaknya itulah yang ibuku katakan."

"Hah? Ibumu?"

Theo yang dilanda kebingungan, berusaha keras untuk memfokuskan dirinya pada harimau di depannya.

Tidak lama, terlihat ada sedikit anomali di dalam penglihatan Theo.

'Apa? Disekitar harimau itu terlihat pusaran berwarna biru?'

Pusaran itu terus membesar, kemudian pusaran itu di cakar oleh sang harimau.

Jebless!

Sebuah bekas cakaran besar terbentuk tepat di samping kaki Theo. Memperlihatkan kekuatan harimau itu.

Lagi-lagi, Theo melihat harimau itu melepaskan beberapa cakaran angin.

Jebles!

Slaash!

Boom!

Langkah demi langkah, Theo menghindari serangan harimau. Sampai tidak sengaja, kaki Theo tersandung bekas cakaran yang dalam.

Bruk

"Sial... Sial.. sial. Sial.

Apakah aku akan mati lagi di sini?"

"Hei, cari cara apapun. Kau kan bisa mengalahkan ibu kami, masa kau tidak bisa mengalahkan harimau ini?"

"Apa! Sialan! Berbeda dengan ular, kucing adalah hewan besar yang paling efisien dalam berburu. Lagian, aku beruntung, ibu kalian mau mendekati matanya. Kalau tidak, sudah pastilah aku mati." Gerutu Theo membalas kata-kata dari Snow.

"Tuan, hati-hati, sepetinya dia mulai mengambil ancang..."

White tidak sempat memberikan informasi ketika harimau itu melompat, hendak menerkam Theo...

***

End ch. 4 : metamorfosis

Jangan lupa like dan comment

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!