Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Menantang Sang Penguasa Tertinggi
Malam sebelum konfrontasi besar itu terjadi, suasana di dalam ruang kerja pribadi Adrian di penthouse terasa begitu menekan. Udara seolah berhenti bersirkulasi, meninggalkan rasa sesak yang tak kasat mata. Dokumen-dokumen kusam dari Mahardika Group terhampar berantakan di atas meja kaca, di bawah temaram lampu meja yang menyinari rincian angka-angka dan nama-nama yang menjadi saksi bisu sebuah kejahatan korporasi sepuluh tahun silam.
Adrian berdiri diam di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Kemeja putihnya yang lengannya digulung hingga ke siku tampak sedikit kusut. Pria itu menatap pantulan dirinya di kaca. Di dalam nadinya mengalir darah Dirgantara—darah yang sama dengan pria tua yang sepuluh tahun lalu tega menghabisi sebuah keluarga demi takhta bisnis. Pergulatan batin berkecamuk hebat di dalam dada sang CEO dingin. Mengkhianati kakeknya sendiri, Albert Dirgantara, berarti menghancurkan pilar yang selama ini membesarkannya. Namun, melihat Renata yang duduk terdiam di sofa dengan mata sembab, Adrian tahu di mana ia harus berdiri.
Renata menatap punggung tegap suaminya dengan perasaan campur aduk. "Adrian..." panggilnya lirih, memecah keheningan malam. "Jika kita melangkah sejauh ini, tidak akan ada jalan kembali untukmu. Kamu akan dicap sebagai pengkhianat keluarga oleh seluruh klan Dirgantara."
Adrian membalikkan tubuhnya perlahan, melangkah mendekati Renata lalu berlutut di hadapan istrinya. Ia menggenggam kedua tangan Renata yang terasa sedingin es, menatapnya dengan sepasang mata elang yang memancarkan komitmen mutlak. "Aku memilihmu, Renata. Sejak malam kontrak itu robek, duniaku adalah kamu. Jika kakekku membangun kekaisaran ini di atas tumpukan mayat keluargamu, maka aku sendiri yang akan meruntuhkan setiap jengkal dinding gedung ini untuk menebus dosa itu."
Sepanjang malam itu, mereka tidak tidur. Alih-alih meratapi nasib, insting tajam sang Kupu-Kupu malam dan kejeniusan sang CEO bersatu untuk menyusun strategi perang. Bersama Baskara yang bekerja di bawah tanah, mereka menyaring setiap data forensik dari Elena, memasukkannya ke dalam pelacak digital, dan menyusun jaring-jaring hukum yang akan mengunci pergerakan Albert tanpa celah. Renata mengaktifkan kembali kemampuannya meretas jaringan sekuritas lama, memastikan bahwa begitu mereka melangkah ke rumah Menteng, seluruh akses keuangan Albert sudah berada di bawah pengawasan ketat.
Keesokan paginya, langit Jakarta diselimuti awan mendung yang tebal, seolah ikut mengiringi langkah takdir dua singa muda ini. Tanpa pengawalan mencolok, Adrian berkendara sendiri membelah jalanan ibu kota menuju kediaman utama keluarga Dirgantara di kawasan elit Menteng. Rumah bergaya kolonial yang biasanya memancarkan keagungan itu, hari ini tampak seperti kuburan megah yang siap menelan rahasianya sendiri.
Pintu ruang kerja kayu jati milik Tuan Besar Albert Dirgantara terbuka dengan suara derit yang berat. Singa tua itu sedang duduk santai di kursi kebesarannya, menyesap teh dari cangkir porselen mahal, saat Adrian dan Renata melangkah masuk. Aura di dalam ruangan itu seketika drop ke titik beku.
BRAKK!
Tanpa basa-basi atau sapaan hormat yang biasa ia berikan, Adrian melemparkan map kulit cokelat berisi dokumen Mahardika Group tepat ke tengah meja kerja kakeknya. Hantaman map itu membuat cangkir teh porselen di atas meja bergetar hebat, menumpahkan sedikit cairan pekat ke atas permukaan kayu jati yang mengkilap.
Albert mengerutkan keningnya, melirik sekilas ke arah map tersebut dengan tatapan meremehkan, sebelum akhirnya menatap Adrian dengan sepasang mata tua yang masih memancarkan otoritas mutlak yang mengintimidasi. "Apa arti dari kelancanganmu yang tidak berpendidikan ini, Adrian? Apakah istrimu dari jalanan itu tidak mengajarimu cara bersikap di depan kepala keluarga?"
"Periksa isinya, Tuan Besar Albert Dirgantara," sahut Adrian, suaranya terdengar sangat rendah, datar, namun sarat akan ancaman maut yang siap meledak. Ia sengaja tidak memanggilnya 'Kakek', sebuah penegasan bahwa ikatan darah di antara mereka telah putus sejak malam itu. "Atau Anda ingin saya yang membacakan kembali rincian dana gelap yang Anda transfer sepuluh tahun lalu untuk menyewa pembunuh bayaran guna melenyapkan seluruh silsilah darah Mahardika?"
Mendengar nama 'Mahardika' disebut, gerakan tangan Albert yang hendak mengambil tongkat peraknya seketika membeku. Sepasang mata tuanya yang biasa tenang kini sedikit menyipit, membelalak tidak percaya. Rahangnya mengatup kaku saat ia membuka map tersebut dan melihat lembaran kertas audit forensik serta surat ancaman dengan tanda tangannya sendiri yang ia kira telah musnah dibakar puluhan tahun lalu.
Albert mengalihkan pandangannya kepada Renata yang berdiri tegak di sebelah Adrian. Di bawah tatapan membunuh sang penguasa tua, Renata tidak gentar sedikit pun. Ia menegakkan bahunya, menatap langsung ke dalam manik mata pria yang telah membuat hidupnya dan Kak Maya hancur berantakan.
"Jadi... Elena Mahardika pelacur tua itu masih hidup, dan dia mengirim putrinya ke sini untuk menggigit tanganku?" Albert tiba-tiba terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat kejam, dingin, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan. Pria tua itu berdiri, bertumpu pada tongkat peraknya, mencoba menekan balik aura dominasi Adrian. "Adrian, kamu terlalu naif! Bisnis di tingkat tertinggi selalu melibatkan darah dan air mata! Jika aku tidak menghancurkan Mahardika sepuluh tahun lalu, kita tidak akan memiliki kekaisaran bisnis sebesar ini hari ini! Kamu menikmati fasilitas dari uang itu, lalu sekarang kamu berlagak menjadi pahlawan?!"
Albert melangkah mendekat, menunjuk wajah Adrian dengan jari telunjuknya yang gemetar karena amarah yang memuncak. "Jangan lupa, Adrian! Aku bisa mencabut jabatan CEO-mu dalam waktu satu detik! Aku bisa membuatmu dan wanita jalangmu ini menjadi gembel di jalanan Jakarta besok pagi! Kamu tidak punya kekuatan apa-apa tanpa nama Dirgantara di belakangmu!"
Adrian tidak mundur satu sentimeter pun. Sebaliknya, ia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari kakeknya. Senyuman dingin yang penuh kemenangan terukir di bibir tegas sang CEO muda.
"Kalau begitu, lakukan saja sekarang, Kakek. Cabut jabatanku, coret namaku dari silsilah keluarga," tantang Adrian dengan nada suara yang berdentum mutlak, memotong seluruh keponggahan Albert. "Karena sebelum kami melangkah masuk ke gerbang rumah ini, Baskara atas perintahku telah mengirimkan salinan digital dokumen Mahardika ini ke meja Biro Investigasi Federal, Otoritas Bursa Saham Internasional, dan divisi kejahatan korporasi. Saat kita sedang berbicara di ruangan ini, sistem mereka sedang memproses pembekuan massal seluruh aset Dirgantara Group."
Renata maju selangkah, menatap Albert dengan senyuman jernih yang mematikan. "Dan jangan lupakan rekening rahasia Anda di Cayman Island, Tuan Albert. Sepuluh menit yang lalu, aku telah meretas dan mengunci aksesnya menggunakan protokol darurat Mahardika. Anda tidak memiliki satu rupiah pun yang bisa digunakan untuk menyewa pengacara malam ini."
Wajah Albert seketika berubah menjadi pias, abu-abu seperti debu. Tubuh tuanya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan erat pada tepi meja kerja agar tidak ambruk. Singa tua itu menyadari, jebakan yang dipasang oleh cucunya sendiri dan putri Mahardika ini telah mengunci lehernya dengan sempurna.
Adrian meraih tangan Renata, menautkan jemari mereka dengan sangat erat di depan mata Albert yang mulai membelalak panik menatap kehancurannya sendiri.
"Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, Tuan Besar Albert Dirgantara," bisik Adrian, suaranya sedingin es di kutub utara. "Dan kali ini, cucu kandung Anda sendirilah yang akan memastikan Anda membusuk di dalam penjara untuk membayar setiap tetes darah keluarga Mahardika."
Maaf lambat up cerita🙏