NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: SYARAT MUTLAK

07:16:05

Jeritan Vero perlahan mereda, menyisakan napas yang tersengal-sengal dan tatapan ngeri dari seisi gerbong.

Wanita tua di sebelahnya sudah pindah kursi, ketakutan melihat pemuda yang tiba-tiba berteriak histeris seperti orang kesurupan.

Vero menundukkan kepala, membiarkan keringat dingin menetes ke lantai gerbong. Otaknya bekerja membedah kegagalan terakhirnya.

Bom sudah mati. Indikator hijau. System Reset Complete.

Tapi Loop tetap terjadi.

"Aku mati," bisik Vero. "Masalahnya adalah aku mati."

Dia tertawa getir. Tawa yang terdengar seperti pecahan kaca.

Ternyata alam semesta—atau siapapun yang menjebaknya di sini—tidak menerima pengorbanan heroik. Aturannya sederhana dan egois: Vero harus hidup melewati pukul 08:00.

Jika dia menjinakkan bom tapi mati tertembak, Reset.

Jika dia menyelamatkan semua orang tapi mati kena serangan jantung, Reset.

Kemenangan hanya dihitung jika dia berdiri di atas kaki sendiri saat jarum jam menyentuh angka 08:01.

"Perfeksionis brengsek," umpat Vero.

Dia melihat jam tangannya.

07:16:20.

Waktunya sangat sempit. Jalur kereta akan segera bercabang di dekat Stasiun Manggarai. Jendela waktu untuk melompat ke kereta kargo tinggal hitungan detik, bukan menit.

Vero berdiri. Tidak ada waktu untuk penjelasan. Tidak ada waktu untuk sopan santun.

Dia berlari ke arah Sarah.

"Kode Merah!" Vero berteriak tepat di muka Sarah, membuat wanita itu terlonjak kaget. "Triad Industries! Project Omega! Jangan tanya! Ikut aku sekarang!"

Dia menarik tangan Sarah begitu keras hingga laptop wanita itu nyaris jatuh.

"Hei! Sakit!"

Vero menyeretnya ke sambungan gerbong. Dia tidak mengambil gunting. Dia tidak butuh gunting. Dia akan menggunakan tangan kosong dan kemarahan murni.

Dia menendang pintu penyambung gerbong.

Pria Jaket Hitam di Gerbong 4 menoleh.

Vero melepaskan Sarah. "Tunggu di sini. Ambil ponselnya saat dia jatuh."

Vero berlari menerjang.

Pria Jaket Hitam itu baru setengah jalan merogoh saku.

BUAGH!

Vero tidak menahan diri. Dia menghantamkan kepalanya sendiri ke hidung pria itu (headbutt).

Bunyi tulang patah terdengar mengerikan.

Pria itu ambruk seketika, darah muncrat dari hidungnya, pingsan total karena gegar otak instan.

Vero merogoh saku pria itu dengan kecepatan kilat.

Ponsel militer. Dilempar ke Sarah.

Pistol Glock 19. Diselipkan ke pinggang Vero.

"Kau tahu tugasmu!" teriak Vero pada Sarah yang menangkap ponsel itu dengan wajah pucat. "Retas! Override! Kode Triad Alpha-9! Jangan tunggu aba-abaku! Begitu kau masuk, tekan Enter!"

"Tapi—siapa kau?!" jerit Sarah.

"Nanti kuceritakan kalau kita hidup!"

Vero berlari ke pintu gerbong. Dia memecahkan kaca tuas darurat dengan gagang pistol, memutarnya.

Pintu terbuka. Angin menderu.

Vero melihat keluar.

Kereta Kargo di sebelah kiri sudah mulai menjauh. Jarak antar gerbong melebar. 1,5 meter... 2 meter...

Rel mulai berbelok.

"Sial!"

Vero mundur dua langkah untuk mengambil ancang-ancang.

Dia berlari dan melompat.

Tubuhnya melayang di udara, melewati celah kematian yang menganga lebar di bawahnya.

Jari-jarinya menggapai pinggiran atap gerbong kargo.

Dug!

Dia menghantam dinding gerbong dengan keras. Jari-jarinya tergelincir. Kakinya menendang-nendang udara kosong.

Vero meluncur turun.

"TIDAK!"

Tangan kirinya mencengkeram besi pegangan tangga terakhir di sisi gerbong. Bahunya serasa mau copot karena menahan beban tubuh yang jatuh mendadak.

Dia bergelantungan. Di bawahnya, batu kerikil rel berkelebat kabur saking cepatnya.

Vero menggeram, menarik tubuhnya naik cm demi cm. Otot-ototnya menjerit protes. Dia baru saja mati tertembak di loop sebelumnya, dan meski tubuhnya baru, mentalnya lelah luar biasa.

Dia berhasil naik ke atap. Terengah-engah.

Dia melihat ke belakang. Kereta Commuter Line sudah berbelok menjauh, membawa Sarah dan laptopnya ke jalur yang berbeda.

Koneksi fisik putus. Sekarang tinggal koneksi digital dan kepercayaan.

Vero melihat jam.

07:20.

Dia harus bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

Vero berlari di atas atap gerbong. Dia tidak mengendap-endap.

Dia tahu posisi penjaga. Dia tahu mereka akan menyalakan rokok di detik ke-30.

Vero sampai di Gerbong 14.

Dua penjaga itu baru saja mengeluarkan korek api.

Vero tidak menunggu. Dia membidikkan Glock 19 sambil berlari.

Dor! Dor!

Dua tembakan di kepala. Bersih. Efisien.

Dua penjaga itu jatuh tanpa sempat tahu apa yang membunuh mereka.

Vero mengambil senapan HK416 dari mayat penjaga. Mengambil granat.

Dia membuka palka kontainer.

"Halo lagi, kaleng sarden," bisik Vero.

Dia mencabut pin granat, melemparkannya ke dalam, menutup palka, dan menindihnya.

BLAM!

Vero langsung membuka palka lagi, melompat turun ke dalam asap.

Prajurit Elit di bawah sana terkapar, telinga berdarah, tapi tangannya masih bergerak mencoba meraih MP5-nya.

Vero mendarat tepat di atas dada prajurit itu.

Krak! (Suara tulang rusuk prajurit itu patah tertimpa beban Vero).

Vero menembakkan satu peluru Glock tepat di dahi helm prajurit itu, menembus kaca visornya.

Ancaman fisik netralisir.

Vero berdiri, menatap konsol.

T-MINUS: 00:39:00.

Dia mengeluarkan ponselnya. Sinyal satu bar.

Dia menelepon Sarah.

"Angkat... angkat..."

"Halo? Vero?! Kau gila! Kau benar-benar lompat!" Suara Sarah histeris.

"Fokus, Sarah!" bentak Vero. "Kau sudah masuk?"

"Sedang proses! Enkripsinya sama, tapi laptopku lambat!"

"Percepat! Aku butuh Override dalam 2 menit!"

Vero menatap langit-langit kontainer.

Pojok kanan atas. Panel tersembunyi.

Tempat Automated Turret itu bersembunyi.

Di loop lalu, turret itu turun saat Sarah mencoba membobol kode.

Kali ini, Vero tidak akan membiarkan turret itu turun.

Dia mengarahkan senapan HK416 curiannya ke panel langit-langit itu.

Dia membidik engselnya.

"Aku masuk!" teriak Sarah. "Memasukkan kode Triad Alpha-9... Tunggu... Peringatan Intrusi muncul!"

Suara mekanik terdengar dari langit-langit. Panel mulai terbuka.

"Matilah kau, rongsokan!"

Vero menarik pelatuk senapan serbu itu.

TATATATATATA!

Dia memberondong panel itu sebelum turret-nya sempat keluar sepenuhnya. Peluru kaliber 5.56mm merobek logam tipis penutup panel, menghancurkan lensa kamera, menghancurkan mekanisme motor penggerak, dan meledakkan amunisi di dalam turret itu.

BOOM!

Ledakan kecil terjadi di langit-langit. Turret itu hancur, menjuntai seperti kabel putus, memercikkan bunga api.

Vero tersenyum puas. "Satu masalah selesai."

"Vero! Apa itu ledakan lagi?!"

"Cuma bersih-bersih," jawab Vero santai. "Status?"

"Override Ready! Tombol reset fisik aktif!"

Vero berjalan ke meja konsol. Dia melihat tombol merah itu.

Tidak ada turret yang menembaki. Tidak ada prajurit yang menghalangi.

Vero menekan tombol itu dengan tenang.

Klik.

SYSTEM RESET COMPLETE.

SAFE MODE ENGAGED.

COUNTDOWN ABORTED.

Layar berubah hijau. Mesin mati.

Keheningan menyelimuti kontainer itu.

Vero melihat jam tangannya.

07:25.

Dia masih punya 35 menit sebelum pukul 08:00.

Bom sudah mati.

Dia masih hidup. Tidak ada luka tembak. Tidak ada gas racun.

Vero merosot duduk di lantai, bersandar pada meja konsol.

"Berhasil..." bisiknya. "Aku masih hidup. Bom mati. Ini dia. Ini Perfect Run."

Dia menunggu.

Menit demi menit berlalu.

Vero tetap waspada, pistol di tangan, mata mengawasi pintu palka kalau-kalau ada bantuan musuh datang. Tapi tidak ada yang datang. Kereta terus melaju tenang.

07:30.

07:45.

07:55.

Vero mulai merasa optimis. Dia membayangkan akan turun di Stasiun Pusat, bertemu Sarah, dan mungkin mengajaknya minum kopi—kopi yang sebenarnya, bukan kopi loop.

07:59:50.

Kereta mulai melambat memasuki stasiun.

Vero berdiri. Dia bersiap untuk keluar dan menghirup udara kebebasan.

"Tiga... Dua... Satu..." hitung Vero.

08:00:00.

Tidak ada ledakan.

Kereta berhenti dengan mulus.

Suara pengumuman stasiun terdengar sayup-sayup dari luar.

"Selamat datang di Stasiun Pusat Jakarta Kota..."

Vero tertawa. Dia menangis bahagia. "Selesai! Loop Zero selesai!"

Dia memanjat tangga palka, membuka pintu ke atap, dan menghirup udara pagi Jakarta yang panas dan berpolusi. Itu udara paling enak yang pernah dia hirup.

Dia turun dari kereta kargo, melompat ke peron.

Dia melihat kereta Commuter Line di jalur sebelah.

Sarah keluar dari gerbong, wajahnya pucat tapi tersenyum lebar saat melihat Vero melambai dari jauh.

Vero berlari kecil menghampiri Sarah.

"Kita berhasil, Sarah! Kita hidup!"

Sarah berlari menyongsongnya. "Vero! Kau gila! Tapi kau hebat!"

Mereka bertemu di tengah peron.

Vero merentangkan tangan, siap memeluk rekan seperjuangannya itu.

Tapi tiba-tiba, Vero berhenti.

Senyumnya memudar.

Dia melihat sesuatu di belakang Sarah.

Di papan iklan digital raksasa di dinding stasiun.

Jam digital di sana menunjukkan pukul 08:01.

Tapi di bawah jam itu, ada teks berita berjalan (running text).

Berita itu berbunyi:

BREAKING NEWS: GEMPA BUMI BERKEKUATAN 8.5 SR MENGGUNCANG SELAT SUNDA. POTENSI TSUNAMI.

Vero mengerutkan kening. "Gempa?"

Tanpa peringatan, tanah di bawah kaki mereka berguncang hebat.

Bukan guncangan ledakan bom.

Ini guncangan tektonik. Beton peron retak dan terbelah. Atap stasiun yang megah itu berderit, kaca-kacanya pecah berhamburan.

Sarah menjerit, kehilangan keseimbangan.

Vero mencoba meraih tangan Sarah, tapi lantai di antara mereka merekah, menciptakan jurang menganga.

"SARAH!"

Gedung stasiun runtuh menimpa mereka.

Pilar beton raksasa jatuh tepat di atas Vero.

Gelap.

Sentakan kasar.

Vero membuka mata.

Napasnya tercekat.

Langit-langit gerbong logam.

"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir Stasiun Pusat..."

Vero tidak berteriak kali ini.

Dia tidak menangis.

Dia hanya menatap kosong ke udara hampa.

Jam tangannya menunjukkan pukul 07:17:05.

Dia kehilangan satu menit lagi.

Dan dia baru saja menyadari horor yang sebenarnya.

Bom itu nyata. Triad Industries itu nyata.

Tapi Gempa Bumi itu? Itu juga nyata.

Apakah bom itu memicu gempa? Mustahil.

Atau... apakah alam semesta memang ingin kiamat hari ini?

Jika dia menjinakkan bom, gempa terjadi.

Jika gempa tidak terjadi, mungkin meteor jatuh?

"Takdir Final Destination..." bisik Vero, suaranya mati rasa. "Apapun yang kulakukan... jam 8 pagi adalah titik akhir."

Musuhnya bukan lagi teroris.

Musuhnya adalah Takdir.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!