Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Pertama
Musik kembali memenuhi aula megah Istana Kekaisaran Astrael. Para bangsawan mulai berbincang dengan lebih santai setelah pidato pembukaan Kaisar selesai. Para pelayan bergerak di antara kerumunan membawa minuman dan makanan ringan, sementara alunan musik orkestra menciptakan suasana elegan khas pesta bangsawan.
Arcelia berdiri di dekat salah satu balkon terbuka. Dari tempat itu, ia bisa melihat sebagian taman istana yang diterangi ribuan lampu kristal. Udara malam terasa lebih nyaman dibandingkan keramaian di dalam aula.
"Aku baru lima menit di sini." gumamnya pelan. "Tapi aku sudah lelah."
Auriel yang bersembunyi di balik lipatan gaunnya terkekeh. "Itu karena kau terlalu suka tempat sepi."
"Aku menyukai ketenangan."
"Dan aku menyukai makanan."
"Itu bukan hal yang mengejutkan."
"Benar." Auriel terdengar bangga. "Konsistensi adalah kualitas yang baik."
Arcelia memilih tidak menanggapi, namun ketenangan itu tidak berlangsung lama karena seseorang menghampirinya.
"Lady Arcelia." Suara pria muda terdengar sopan.
Arcelia menoleh dan langsung mengenali wajah itu. Adrian Holster.
Pemuda yang sempat ditemuinya saat perjalanan menuju ibu kota. Pria itu membungkuk ringan. "Malam ini Anda terlihat sangat mempesona."
"Pujian yang baik." jawab Arcelia sopan. "Tapi terlalu sering digunakan."
Adrian tertawa kecil. "Aku mulai mengerti kenapa begitu banyak orang membicarakanmu."
"Semoga bukan hal buruk."
"Itu tergantung siapa yang berbicara." Jawaban diplomatis.
Arcelia cukup menghargainya. Setidaknya pria ini lebih cerdas daripada sebagian bangsawan muda yang hanya tahu menyombongkan diri.
"Aku berharap bisa berbincang lebih lama." lanjut Adrian. "Tapi kurasa banyak orang memiliki rencana yang sama."
Arcelia mengikuti arah pandangannya dan benar saja. Beberapa bangsawan muda sedang memperhatikan ke arah mereka. Sebagian karena penasaran dan sebagian menghitung peluang. Sebagian lagi sekadar ingin mengetahui siapa yang akan mendekati Arcelia terlebih dahulu.
Dunia bangsawan memang melelahkan. Untungnya sebelum Adrian bisa memperpanjang percakapan, Serena muncul seperti badai.
Lagi. "Arcelia!" Serena berdiri di antara mereka dengan tersenyum manis.
Adrian langsung tampak pasrah. "Lady Serena."
"Halo." jawab Serena.
Nada suaranya ramah, namun entah bagaimana tetap terdengar seperti pengusiran halus bahman Arcelia hampir kagum.
Setelah beberapa detik yang canggung, Adrian akhirnya menyerah. "Aku tidak akan mengganggu lagi." katanya akhirnya.
"Itu keputusan yang baik." kata Serena cepat.
Begitu Adrian pergi, Arcelia mengangkat alis. "Kau melakukannya lagi."
"Apa?"
"Mengusir orang."
"Aku menyelamatkanmu."
"Aku bisa berbicara sendiri."
"Tentu." Serena mengangguk. "Tapi aku lebih cepat."
Noah yang baru datang dari belakang langsung menggeleng. "Suatu hari nanti seseorang akan menuliskan buku tentang kepercayaan diri Serena."
"Itu akan menjadi buku yang luar biasa." jawab Serena.
"Tidak ada yang meragukannya." jawab Noah lagi.
Beberapa saat kemudian, musik berubah, melodi yang lebih lambat mulai dimainkan. Para bangsawan yang berpengalaman langsung memahami artinya. Tarian pertama malam itu akan segera dimulai. Bisikan langsung menyebar ke seluruh aula. Karena dalam pesta bangsawan, pasangan untuk tarian pertama sering kali memiliki makna tertentu.
Bukan pertunangan, bukan pula pernyataan cinta. Namun cukup penting untuk menarik perhatian banyak orang.
Serena menoleh ke arah lantai dansa. "Lihat."
"Apa?"
"Pertarungan sudah dimulai." ujar Serena.
"Itu lantai dansa."
"Itu juga medan perang sosial."
Arcelia tidak bisa membantah sepenuhnya, karena Serena memang benar. Beberapa pemuda bangsawan mulai mendekati gadis-gadis yang mereka incar.
Undangan dansa mulai diajukan dan penolakan mulai terjadi.
Di sisi lain aula, Putra Mahkota Elias Astrael sedang berbicara dengan beberapa pejabat tinggi atau lebih tepatnya berusaha berbicara. Karena sebagian besar waktu digunakan untuk mendengarkan laporan.
"Wilayah utara menunjukkan peningkatan perdagangan."
"Baik." jawab Putra Mahkota.
"Persiapan keamanan festival telah selesai."
"Bagus."
Marcus yang berdiri di belakangnya menahan senyum. Ia sudah mengenal Putra Mahkota Elias selama bertahun-tahun. Dan tahu bahwa tuannya sebenarnya lebih memilih membaca laporan daripada menghadiri pesta. Namun sebagai Putra Mahkota, beberapa kewajiban tidak bisa dihindari.
"Yang Mulia." kata salah satu bangsawan. "Apakah Anda akan mengikuti tarian pertama?"
Pertanyaan itu langsung menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. Karena jawaban Putra Mahkota Elias selalu menjadi topik menarik.
Putra Mahkota Elias menyesap minumannya. "Mungkin." Jawaban singkat. Namun cukup membuat sebagian bangsawan mulai menebak-nebak.
Siapa yang akan mendapat kehormatan berdansa dengan Putra Mahkota? Putri Duke? Putri Marquis? Atau anggota keluarga kekaisaran lainnya?
Marcus memperhatikan kerumunan, lalu tanpa sengaja melihat Serena Albright. Dan di samping Serena Arcelia.
Marcus berkedip, kemudian menoleh kepada Putra Mahkota Elias lalu kembali melihat Arcelia dan akhirnya memahami sesuatu.
"Oh." gumamnya.
Putra Mahkota Elias meliriknya. "Apa?"
"Tidak ada."
"Itu jelas bukan ekspresi tidak ada apa-apa." ujar Putra Mahkota.
Marcus langsung memasang wajah polos, sayangnya, Putra Mahkota Elias tidak mempercayainya.
Sementara itu... Di dekat balkon. Arcelia mulai mempertimbangkan kemungkinan melarikan diri ke taman.
Suasana pesta masih menyenangkan, tetapi jumlah orang yang mencoba mengajaknya berbicara mulai meningkat dan kesabarannya memiliki batas.
"Aku mungkin akan keluar sebentar." katanya.
"Kau mau kabur?" tanya Serena.
"Aku menyebutnya mencari udara segar."
"Itu versi bangsawan dari kata kabur."
Noah langsung tertawa. "Untuk sekali ini, aku setuju dengannya."
Arcelia menghela napas. Ternyata tinggal terlalu lama bersama Serena membuat orang-orang di sekitarnya ikut berbahaya.
Namun tepat saat ia hendak menjawab suasana aula kembali berubah. Musik melambat dan seorang pelayan istana melangkah maju.
"Tarian pertama akan segera dimulai." Suara pelayan itu bergema ke seluruh ruangan.
Beberapa gadis bangsawan langsung tampak gugup. Sebagian lainnya bersemangat dan beberapa mulai diam-diam melihat ke arah Putra Mahkota.
Arcelia tidak terlalu memikirkannya sampai seseorang bergerak dari sisi aula. Seseorang yang membuat bisikan langsung menyebar. Putra Mahkota Elias Astrael.
Pria itu berjalan tenang melewati kerumunan langkahnya mantap dan ekspresinya tetap sulit dibaca. Namun arah yang ditujunya perlahan membuat suasana aula semakin sunyi.
Karena ia tidak menuju kelompok bangsawan besar. Tidak menuju putri Duke terkenal. Tidak menuju keluarga yang paling berpengaruh. Melainkan ke arah balkon tempat Arcelia berdiri.
Serena membeku, Noah berkedip. Auriel hampir jatuh dari tempat persembunyiannya. Dan Arcelia untuk pertama kalinya malam itu benar-benar terkejut.
Karena Putra Mahkota Astrael berhenti tepat di depannya. Kemudian membungkuk sopan, tatapan mata mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya.
Mata hitam yang tenang dan mata perak yang jernih sedangkan di tengah aula yang mendadak sunyi Putra Mahkota Elias membuka mulutnya. "Lady Arcelia." Suara tenangnya terdengar jelas. "Apakah Anda bersedia menemani saya untuk tarian pertama malam ini?"
Dalam sekejap seluruh aula membeku dan seratus rumor baru lahir pada saat yang bersamaan.