Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekutu Atau Musuh
Keheningan memenuhi ruangan megah itu.
Tatapan emas Putra Mahkota Elias Astrael tidak bergeser sedikit pun dari wajah Arcelia Vareinne.
“Apakah kamu musuh… atau sekutu.”
Pertanyaan itu terdengar tenang, namun tekanan di baliknya sangat jelas.
Di bahu Arcelia, Auriel menyipit tajam. “Dia sedang mengujimu.” bisik Auriel.
Arcelia tetap tenang. “Apa jawaban saya akan mengubah sesuatu?” kata Arcelia sambil tersenyum.
Mendengar Ucapan Sedikit senyum muncul di bibir Putra Mahkota Elias.
“Bisa jadi.” katanya
Tatapan pria itu beralih ke luar jendela besar istana. Disana terlihat langit sore mulai berubah gelap.
Cahaya matahari terakhir memantul di lantai marmer putih.
“Kerajaan ini sedang membusuk dari dalam,” katanya pelan. Dan aku tidak punya banyak orang yang bisa dipercaya.” kata Putra Mahkota Elias.
Arcelia memperhatikan wajah Putra Mahkota diam-diam.
Untuk pertama kalinya ia melihat kelelahan samar di mata emas itu. Berarti Putra Mahkota Elias juga sedang berperang sendirian.
“Kalau begitu,” ujar Arcelia tenang. “Yang Mulia seharusnya mengerti bahwa saya pun tidak mudah percaya pada siapa pun.” Ujar Arcelia.
Putra Mahkota terdiam dan sambil menatap Arcelia dalam-dalam seolah sedang membaca sesuatu.
Kemudian Putra Mahkota Elias tertawa kecil, bukan tawa untuk mengejek. Melainkan tawa tipis penuh ketertarikan.
“Sekarang aku mengerti kenapa Kael mulai panik.” katanya akhirnya.
Mata Arcelia langsung menyipit. “Yang Mulia tahu soal Pangeran Kael?” tanya Arcelia penasaran.
Tatapan Putra Mahkota Elias berubah dingin. “Dia adalah adikku. Tentu saja aku mengenalnya.” katanya.
Auriel mendengus kecil. “Hubungan keluarga kerajaan benar-benar buruk.” gumam Auriel.
“Kamu benar, hubungan kami memang benar-benar sangat buruk.” jawab Elias santai.
Auriel langsung membeku. “Dia benar-benar bisa mendengarku…” gumamnya kesal.
Putra Mahkota berjalan kembali ke meja kerjanya. Di sana terdapat banyak dokumen terbuka dan peta kerajaan.
Sebagian diberi tanda merah. Sebagian lainnya memiliki simbol ular hitam kecil.
"Black Serpent." Mata Putra Mahkota menatap lambang itu.
“Selama dua tahun terakhir,” kata Putra Mahkota Elias. “Aku diam-diam menyelidiki organisasi itu.” katanya.
Tatapan Arcelia jatuh pada dokumen-dokumen tersebut. “Dan hasilnya?” tanya Arcelia.
Wajah Putra Mahkota Elias perlahan mengeras. “Mereka sudah menyusup ke bangsawan, militer… bahkan keluarga kerajaan.” tangan kirinya mengepal sangat keras.
Jawaban yang sudah diduga oleh Arcelia namun tetap terasa berat ketika mendengarnya secara langsung.
“Aku bahkan tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya di istana ini,” lanjut Putra Mahkota Elias rendah.
Auriel melompat turun dari bahu Arcelia lalu berjalan mendekati meja. Bulunya sedikit bercahaya saat melihat simbol tertentu di peta.
“…Ruang bawah tanah." gumam Auriel.
Putra Mahkota Elias langsung menoleh dan tatapannya menyipit tipis. “Kamu mengenali simbol itu?” tanyanya.
Auriel tampak menyesal karena bicara terlalu cepat. Namun Arcelia langsung menangkap sesuatu.
“Ruang bawah tanah apa?” tanya Arcelia.
Putra Mahkota Elias terdiam beberapa detik lalu akhirnya berkata, “Istana tua keluarga Arkanel.” katanya pelan.
Jantung Arcelia berdetak lebih cepat ketika mendengar tentang keluarga Arkanel lagi.
“Tempat itu masih ada?” tanya Arcelia.
“Sebagian... Tersegel di bawah istana kerajaan sekarang.” katanya pelan.
Auriel langsung menegakkan tubuh. “Kalau itu benar… maka kemungkinan besar peninggalan keluarga Arkanel masih tersimpan di sana.” kata Auriel.
Tatapan Putra Mahkota Elias perlahan jatuh pada Arcelia. “Dan hanya darah keluarga Arkanel yang bisa membukanya.” katanya akhirnya.
Ruangan kembali sunyi.
Sekarang semuanya semakin jelas karena itulah alasan Black Serpent mengincarnya.
Bukan hanya karena garis keturunan. Tetapi karena dirinya bisa membuka sesuatu yang tersegel.
“Tuan Rumah…” Auriel terdengar jauh lebih serius sekarang. “Kurasa mereka mencari artefak keluarga lama.” kata Auriel serius.
“Apa Artefak itu berbahaya?” tanya Arcelia penasaran.
“Sangat berbahaya.” kata Auriel.
Tatapan rubah kecil itu berubah gelap. “Kalau artefak itu jatuh ke tangan yang salah…kerajaan bisa hancur.” lanjut Auriel sangat serius.
Putra Mahkota Elias mengangguk pelan. “Itulah alasan aku memanggilmu.” Ia berjalan mendekat lagi. “Kau adalah satu-satunya petunjuk yang tersisa.” kata Putra Mahkota.
Mata merah anggur Arcelia bertemu dengan mata emas Putra Mahkota Elias.
Dan anehnya tidak ada kebohongan yang tertangkap oleh Arcelia di sana.
Hanya kewaspadaan… dan tekad.
“Apa Yang Mulia ingin bekerja sama denganku?” tanya Arcelia langsung.
Sedikit senyum muncul di wajah Putra Mahkota Elias. “Akhirnya kamu bertanya.” katanya senyum nya yang mengembang akhirnya menjawab tujuan Putra Mahkota memanggil Arcelia.
Auriel mendengus kecil. “Manusia licik.” gerutu Auriel.
“Aku mendengarmu,” jawab Putra Mahkota Elias santai lagi.
Rubah kecil itu langsung kesal. Namun sebelum percakapan berlanjut—
TOK!
TOK!
Suara keras terdengar dari luar pintu.
Seorang kesatria kerajaan masuk tergesa-gesa dengan wajah pucat. “Yang Mulia!”
Putra Mahkota Elias langsung menoleh tajam. “Ada apa?”
Kesatria itu terlihat panik. “Pangeran Kael menghilang dari istana.” katanya sambil menundukkan kepalanya.
Tatapan mata Putra Mahkota Elias justru berubah sangat dingin. "kita terlambat.”
Arcelia menyipit. “Terlambat untuk apa?”
Tatapan emas Putra Mahkota Elias perlahan jatuh ke arah luar jendela.
Ke arah pusat ibu kota yang mulai gelap. Dan dengan suara rendah ia berkata:
“Permainan mereka akhirnya dimulai.” katanya dan tatapan matanya berubah tajam.