hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 20: LANGKAH BERSAMA DI TENGAH KES
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 20: LANGKAH BERSAMA DI TENGAH KESUSAHAN
Matahari pagi sudah naik cukup tinggi, sinarnya bersinar terang namun terasa panas menyengat kulit, menandakan hari itu akan menjadi hari yang terik dan melelahkan seperti biasa. Di halaman rumah yang sempit dan berdebu itu, suasana terasa jauh lebih tenang dan hangat dibandingkan hari-hari sebelumnya, meski keadaan rumah, pakaian yang mereka pakai, dan isi perut mereka tetap sama persis: serba kekurangan, sederhana, dan makanan sehari-hari hanya sekadar masuk perut saja, jauh dari kata bergizi atau enak. Tidak ada perubahan apa pun dari harta benda mereka, tidak ada uang tambahan yang tiba-tiba ada, tidak ada makanan enak yang muncul di meja, tapi ada satu hal yang berubah besar sekali dan terasa sangat nyata: cara pandang, sikap, dan kasih sayang antara mereka kini sudah kembali utuh, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Ria duduk di bangku kayu tua di bawah pohon mangga yang rimbun di pinggir halaman, meniup-nitiup kakinya yang sedikit kesemutan sisa demam kemarin. Terlihat jelas sekali sosok remaja putri kelas 3 SMP berusia empat belas tahun itu bertubuh sangat tinggi, hampir sama tingginya dengan ketiga kakak laki-lakinya, namun badannya kurus kering luar biasa. Tulang bahu, lengan, dan kakinya panjang, kurus, dan menonjol jelas ke luar, seolah hanya kulit tipis saja yang membungkus tulang-belulang itu. Kulitnya tampak pucat, kering, dan kusam, bukan karena kotor, tapi karena selama bertahun-tahun tubuhnya hanya mendapatkan asupan makanan yang sangat terbatas, kurang gizi, dan sering kali hanya makan nasi dicampur garam atau sambal saja. Di kedua tangannya yang kurus dan panjang itu, terlihat jelas kulit yang mengeras, ada kapalan, dan beberapa bekas luka kecil bekas lecet atau tergores benda kasar. Semua itu adalah bukti nyata perjuangan beratnya selama dua tahun belakangan ini, saat ia harus berjuang sendirian, bantuin Bu Rini guru ngaji, bantuin Pak Guru di sekolah, menyapu halaman, mengangkat air, dan bekerja keras apa saja demi mendapatkan sedikit uang jajan dan biaya sekolahnya sendiri, sementara ketiga kakaknya saat itu bersikap sangat dingin, acuh tak acuh, dan membiarkannya menderita sendirian.
Namun pagi ini, semuanya sudah berbeda. Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah berdiri di dekatnya, menatap sosok adik satu-satunya itu dengan pandangan yang penuh perhatian, kasih sayang, dan rasa bersalah yang mendalam, tapi rasa bersalah itu kini sudah berubah menjadi tekad yang kuat untuk berubah dan menebus kesalahan mereka. Bang Hamza maju selangkah, lalu duduk berjongkok tepat di depan Ria, menatap mata adiknya dalam-dalam.
"Dik... Abang sudah pikirkan semuanya matang-matang..." ucap Bang Hamza dengan suara tenang, tegas, namun sangat lembut. "Kami tahu benar, hari-harimu itu berat sekali. Kami tahu, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, kamu biasanya sudah bangun lebih awal buat bersih-bersih halaman sekolah supaya boleh belajar gratis. Kami tahu, sepulang sekolah kamu tidak langsung pulang, tapi kamu lari ke rumah Bu Rini, bantu-bantu di sana sampai sore, baru pulang dalam keadaan lelah, lapar, dan kadang kedinginan. Kami tahu semua itu, Dik... Dulu kami diam saja, kami pura-pura tidak tahu, kami jahat sekali sama kamu... Tapi mulai hari ini, semuanya berubah. Kami sudah bicarakan bertiga, kami sudah putuskan sesuatu."
Ria mengerutkan kening sedikit, menatap ketiga kakaknya bergantian dengan rasa penasaran. "Memangnya Abang semua sudah putuskan apa? Jangan-jangan Abang mau larang Ria kerja atau larang Ria sekolah ya? Kalau itu maksudnya, Ria mohon banget jangan ya Bang... Ria mau sekolah, Ria mau punya masa depan... Kalau Ria tidak bantuin orang lain, mana ada biaya sekolah, mana ada uang beli buku dan alat tulis... Kita kan susah, Bang..." jawab Ria cepat, nadanya sedikit cemas, matanya berkaca-kaca membayangkan jika ia dilarang berjuang.
Mendengar itu, hati ketiga kakaknya terasa kembali disayat-sayat, perih sekali rasanya mendengar ketakutan itu. Bang Arefin langsung menggeleng cepat, lalu duduk di samping Ria, memegang bahu kurus adiknya itu lembut.
"Eh, bukan begitu maksud Abang, Dik... Jangan takut ya... Kami sama sekali tidak mau melarang kamu sekolah, malah kami sangat dukung dan bangga sekali sama semangatmu itu... Kamu hebat sekali, Dik, jauh lebih hebat dari kami bertiga..." ucap Bang Arefin lembut menenangkan. "Maksud kami begini... Kami tahu kami miskin, kami tidak punya uang lebih buat kasih kamu biaya sekolah. Kami tahu, kalau kamu mau tetap bersekolah sampai tamat, kamu memang harus tetap bantu-bantu Bu Rini dan Pak Guru seperti biasa... Kami tidak akan larang itu, Dik... Tapi yang berubah adalah: mulai hari ini, kamu tidak akan melakukan semua itu sendirian lagi. Di mana pun kamu bekerja, apa pun yang kamu kerjakan, kami bertiga akan selalu ada di sampingmu, kami akan ikut bantu kerjakan semuanya."
Bang Ardiansyah ikut menyambung, suaranya tegas dan penuh janji yang kuat. Ia menunjuk dadanya sendiri, lalu ke arah kedua kakaknya.
"Betul kata Bang Arefin... Dulu kami biarkan kamu menyapu halaman sekolah sendirian yang luasnya sebesar itu... Dulu kami biarkan kamu mengangkat air dari sumur yang dalam itu sendirian... Dulu kami biarkan kamu mencuci tumpukan piring kotor di rumah Bu Rini sendirian sampai tanganmu keriput dan kasar begini... Itu semua pekerjaan berat buat tubuhmu yang kurus, lemah, dan kurang gizi ini, Dik... Itu semua seharusnya kami yang kerjakan, bukan kamu... Mulai sekarang, pagi-pagi sekali kami yang akan bangun, kami yang ke sekolah, kami yang bersihkan semuanya sampai selesai, kamu tinggal datang saja berangkat sekolah seperti anak-anak lain. Sore harinya, sepulang sekolah, kami semua ikut sama kamu ke rumah Bu Rini. Kami yang akan menyapu, kami yang akan angkat air, kami yang akan mencuci, kami yang mengerjakan semuanya. Kamu cukup duduk saja, cukup bantu sedikit saja, atau cukup belajar saja di sana... Biar kami saja yang capek, biar tenaga kami saja yang habis... Kami laki-laki, kami kuat, kami sehat, kami punya tenaga lebih... Tubuhmu ini, tulang-belulangmu ini, sudah terlalu banyak menanggung beban, sudah terlalu banyak berkorban... Sekarang giliran kami yang berkorban buat kamu."
Mendengar penjelasan itu, mulut Ria ternganga tak percaya, matanya membelalak menatap mereka bertiga bergantian. Air mata bahagia dan haru langsung mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Selama dua tahun lebih ini, ia selalu berpikir nasibnya begini selamanya, ia harus berjuang sendiri selamanya, ia harus menahan beratnya beban hidup seorang diri. Ia tidak pernah membayangkan, tidak pernah bermimpi sekalipun, bahwa suatu saat nanti kakak-kakaknya yang dulu sangat dingin dan jauh itu, akan rela dan mau ikut bekerja berat membantunya, demi meringankan beban di bahu kurusnya itu.
"Benar... Benar kan Abang semua? Ria tidak mimpi kan?" tanyanya pelan dengan suara bergetar, takut semua itu hanya khayalan saja. "Abang mau ikut Ria kerja? Abang mau bantuin Ria bersih-bersih sekolah dan rumah Bu Rini? Padahal itu pekerjaan berat, kotor, dan melelahkan... Padahal dulu Abang tidak pernah mau dekat-dekat sama Ria..."
Bang Hamza langsung memegang kedua tangan kurus dan kasar adiknya itu erat sekali, menatapnya dengan pandangan paling tulus dan penuh rasa hormat.
"Ini bukan mimpi, Dik... Ini kenyataan... Dan jangan pernah ingat masa lalu yang buruk itu lagi ya... Dulu kami bodoh, dulu kami jahat, dulu kami tidak punya hati... Dulu kami pikir, sebagai laki-laki dan kakak, kami harus jaga gengsi, kami malu kalau kerja berat atau kerja orang lain... Tapi sekarang kami sadar, gengsi apa yang kami punya kalau kami membiarkan adik perempuan kami sendiri menderita, kurus kering, dan sakit-sakitan begini demi biaya sekolahnya? Kami sadar sekarang, gengsi kami hilang semua saat kami lihat kamu berjuang sendirian... Kerjaan apa pun, seberat apa pun, sekotor apa pun, kami rela kerjakan demi kamu, demi keselamatanmu, demi kebahagiaanmu... Itu baru gengsi yang sebenarnya, itu baru harga diri kami sebagai kakak laki-lakimu."
Bunda Maria yang sedari tadi berdiri di ambang pintu mendengar semuanya, hanya bisa menangis bahagia sambil tersenyum lebar. Hati Bunda terasa sangat lega dan bangga sekali. Meski rumah mereka masih kecil, meski makanan mereka masih seadanya dan kurang gizi, meski pakaian mereka masih sederhana dan lusuh, tapi Bunda tahu, harta paling mahal dan paling berharga sudah kembali ke rumah ini: kasih sayang, kebersamaan, dan saling melindungi satu sama lain. Itu modal terbesar untuk menjalani hidup susah mereka.
Siang itu berlalu dengan penuh kehangatan. Menjelang sore, saatnya Ria bersiap berjalan kaki ke rumah Bu Rini seperti biasa. Biasanya, saat jam seperti ini, langkah kaki Ria terasa berat, lelah, dan hatinya terasa sepi karena harus berjalan dan bekerja sendirian. Tapi sore ini, saat ia melangkah keluar pagar rumah, ketiga kakaknya langsung berjalan beriringan di sampingnya, kiri kanan dan belakang, mengawal langkah kaki kurusnya itu. Mereka berjalan berempat beriringan di jalan setapak yang berdebu itu, menembus panas matahari. Warga desa yang lewat melihatnya dengan takjub dan senyum bahagia. Mereka semua tahu kisah keluarga itu, mereka tahu betapa dinginnya hubungan kakak beradik itu dulu, tapi sekarang melihat mereka berjalan bersama, akur, dan saling menjaga, hati siapa saja yang melihatnya ikut merasa bahagia.
Sesampainya di rumah Bu Rini, Bu Rini sendiri sangat kaget dan heran melihat kedatangan mereka berempat. Biasanya hanya Ria seorang diri yang datang dengan wajah lelah, tapi hari ini Ria datang dengan senyum cerah, diapit oleh tiga laki-laki muda yang gagah namun wajahnya penuh kesungguhan.
"Assalamualaikum, Bu Rini..." sapa Bang Hamza dengan sopan dan hormat. "Maaf mengganggu Bu... Kami bertiga kakak-kakaknya Ria... Kami dengar selama ini Ria sering bantu-bantu Ibu di sini, bantu bersih-bersih dan lain-lain... Kami minta maaf banget ya Bu, kalau selama ini adik kami kerja sendirian, kami sama sekali tidak bantu... Kami sadar kami salah besar... Mulai hari ini Bu, kalau Ria harus bantu apa saja di sini, kami bertiga ikut bantu juga. Apa saja yang Ibu suruh, apa saja pekerjaan yang ada, kami kerjakan semua... Biar Ria tidak terlalu berat kerjanya... Kami mohon izin ya Bu..."
Bu Rini yang mendengar itu sampai terharu dan meneteskan air mata haru. Ia tahu benar betapa beratnya perjuangan Ria selama ini, ia tahu betapa dinginnya kakak-kakaknya dulu, dan melihat perubahan besar itu, Bu Rini merasa sangat bahagia dan lega.
"Waalaikumsalam... Ya Allah... Alhamdulillah... Iya, silakan saja Nak... Senang sekali Bu melihat kalian rukun dan saling bantu begini... Bagus sekali, ini baru namanya saudara... Ria beruntung sekali punya kakak-kakak yang akhirnya sadar dan mau sayang sama dia..." jawab Bu Rini sambil tersenyum bahagia.
Sore itu, halaman rumah Bu Rini menjadi sangat ramai dan hidup. Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah bekerja keras sekuat tenaga mereka. Mereka menyapu bersih halaman yang luas itu, mengangkat air dari sumur berpuluh-puluh ember sampai bak penuh, mencuci tumpukan piring kotor, dan memindahkan barang-barang berat yang biasanya Ria kerjakan dengan susah payah. Sementara Ria? Ia hanya duduk di beranda, mengamati mereka dengan senyum paling indah dan bahagia yang pernah ada di wajahnya. Kadang ia ikut membantu pekerjaan ringan saja, atau sekadar mengambilkan minum. Rasanya luar biasa lega, rasanya sangat bahagia, rasanya berat beban di bahunya yang kurus itu hilang lenyap seketika, berganti dengan kehangatan yang menyejukkan hati.
Matahari mulai terbenam, langit berubah warna menjadi jingga kemerahan. Pekerjaan di rumah Bu Rini pun selesai, semuanya bersih dan rapi. Bu Rini memberikan sedikit uang jajan dan beras seperti biasa, tapi kali ini Ria menerimanya dengan rasa yang jauh berbeda. Bukan rasa sedih karena harus berjuang keras sendirian, melainkan rasa syukur dan bahagia karena ia tidak lagi sendirian.
Dalam perjalanan pulang, mereka berjalan berempat lagi menyusuri jalan setapak yang mulai gelap. Angin sore berhembus sejuk, menerpa wajah mereka. Ria berjalan di tengah-tengah, diapit oleh ketiga kakaknya. Tangannya yang kurus dan kasar itu kini digenggam erat oleh tangan Bang Arefin, hangat dan kuat.
"Gimana rasanya Dik? Tidak terlalu capek kan?" tanya Bang Arefin lembut.
Ria menggeleng cepat, tersenyum lebar sampai matanya menyipit. "Tidak capek sama sekali Bang... Malah rasanya enak sekali, rasanya enteng banget badan Ria... Senang sekali rasanya... Terima kasih ya Abang semua... Terima kasih banyak..."
Bang Hamza menepuk pelan bahu kurus adiknya itu. "Jangan bilang terima kasih lagi ya Dik... Ini tugas kami, ini kewajiban kami... Dulu kami biarkan kamu berjalan di jalan terjal dan berat sendirian sampai kakimu lecet dan sakit... Sekarang kami janji, kami akan selalu berjalan di sampingmu, kami akan ratakan jalan itu buat kamu... Meski hidup kita tetap susah, meski kita tetap miskin, meski makan kita tetap seadanya... Asal kita berjalan bersama-sama, saling bantu, saling sayang, dan saling lindungi... Kita pasti kuat, kita pasti bisa, dan kita pasti bahagia..."
Malam itu, di rumah kecil mereka yang sederhana dan serba kekurangan, di tengah keterbatasan makanan dan ekonomi yang sulit, ada kebahagiaan besar yang tumbuh subur. Ria sadar benar, tubuhnya memang kurus kering dan kurang gizi, hidupnya memang penuh perjuangan dan kerja keras, tapi ia sudah tidak lagi berjalan sendirian. Di belakangnya kini berdiri tegap tiga benteng terkuatnya, yang berjanji akan selalu ada, selalu bantu, dan selalu melindunginya sampai kapan pun. Itulah kekuatan terbesar yang ia miliki, jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini.