NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Percikan Pagi

Sepasang mata bulat milik Valeria Francesca seketika membelalak sempurna dilanda kepanikan luar biasa. Dengan gerakan secepat kilat, ia langsung melesat maju, merenggut kasar gaun malam jala hitam tersebut dari sela jemari Alessandro Dirgantara, lalu dengan panik menjejalkannya kembali ke dalam kantong belanjaan sebelum akhirnya menyembunyikan bungkusan terkutuk itu di balik punggungnya.

Alessandro memutar poros kepalanya perlahan, mengunci pandangan matanya lurus menatap ke arah Valeria yang kini sedang berdiri kaku.

Pada detik itu juga, Valeria rasanya benar-benar ingin membelah permukaan lantai kamar murni agar dirinya bisa melompat masuk dan mengubur seluruh tubuhnya hidup-hidup akibat menahan rasa malu yang teramat pekat. Ia memaksakan otot wajahnya yang menegang kaku untuk mengukir seulas senyuman canggung, lalu meluncurkan untaian kalimat penjelasan yang terdengar teramat kikuk, "A-ah... itu, Ales... benda ini murni cuma sepotong gaun baru biasa kok yang nggak sengaja aku beli pas nemenin Meisya belanja sore tadi."

Alessandro terdiam membisu, namun memori otaknya secara otomatis langsung memutar kembali cuplikan visual mengenai gaun tidur berbahan kain jala renda brokat transparan yang baru saja ia sentuh beberapa detik lalu. Di dalam kalkulasi logika maskulinnya, potongan kain yang terlampau minim, tipis, dan transparan seperti itu... mutlak sama sekali tidak bisa dikategorikan ke dalam jajaran jenis pakaian normal sehari-hari bagi seorang wanita terhormat.

Valeria yang seolah-olah sanggup membaca arah aliran pemikiran yang sedang bergejolak di dalam benak jenius Alessandro, seketika merasakan sepasang kulit pipinya bertransformasi menjadi kian hangat memancarkan rona kemerahan yang kian tebal membakar kulit. Ia berdeham kaku, lalu berbisik pelan sembari melangkah mundur, "Mm, kalau begitu... aku... aku masuk ke dalam ruang ganti dulu ya murni buat simpan barang belanjaan ini."

Pandangan mata Alessandro sempat bergulir tipis, menyapu gurat warna merah padam yang kini sudah menjalar hingga ke area daun telinga Valeria, namun pria berkuasa itu memilih untuk bersikap jika dengan tidak meluncurkan kalimat interogasi lanjutan yang merusak suasana. Ia hanya mengeluarkan sebaris gumaman bariton datar, "Mm."

Valeria segera mengayunkan langkah kakinya dengan ritme yang super cepat murni untuk melesat masuk ke dalam perlindungan ruang ganti pakaian (walk-in closet). Begitu tiba di dalam kesunyian ruangan penuh cermin tersebut, ia dengan gerakan agresif langsung menyusupkan kantong belanjaan berisi "baju haram" itu ke sudut lemari pakaian yang paling tersembunyi, bahkan tidak lupa untuk menumpuknya menggunakan beberapa lembar mantel tebal murni agar keberadaannya tertutup rapat dari jangkauan pandangan mata manusia.

Permukaan cermin kaca besar di hadapannya saat ini tampak memantulkan visualisasi profil wajah cantiknya yang masih memancarkan rona kemerahan pekat yang dipenuhi oleh gurat kejengkelan batin yang mendalam. Bagaimana bisa sepasang tangan cerobohmu itu sampai teledor meletakkan kantong pakaian dalam transparan seekstrem itu secara terang-terangan di atas meja nakas kamar tidur utama?! Sekarang... seorang Alessandro Dirgantara dipastikan akan langsung menyusun kesimpulan logis menuduhku sedang sengaja meluncurkan taktik murahan murni untuk memancing berahi dan merayu tubuhnya malam ini, bukan?!

Tepat di saat ia berhasil melangkah keluar kembali melintasi selasar ruang ganti dengan mental yang sudah sedikit tenang, siluet tegap Alessandro ternyata terpantau sudah memindahkan raga fisiknya untuk masuk ke dalam kamar mandi utama murni untuk menunaikan ibadah mandi malam. Gema suara gemericik kucuran air hangat dari lubang pancuran (shower) terdengar mengalir deras memecah keheningan malam yang sunyi, terdengar teramat jernih dan pekat merangsang indra pendengaran Valeria di atas kasur. Sembari mendengarkan ritme aliran air tersebut, detak jantung di dalam rongga dada Valeria mendadak mulai berpacu dengan ritme yang kian cepat, di mana struktur otaknya secara tidak senonoh justru mulai memutar ulang rentetan cuplikan video pendek mengenai visualisasi tubuh atletis berotot para pria tampan yang sering lewat di halaman beranda aplikasi TikTok-nya di dunia nyata dulu.

Namun, sebelum rentetan pemikiran dewasa itu bergerak kian liar mengotori fungsi logikanya, Valeria segera tersentak sadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gerakan yang teramat bertenaga. Ingat posisi diri kamu baik-baik, Valeria Francesca! Kamu mutlak tidak diizinkan untuk memiliki pikiran mesum atau berahi terhadap pria di dalam kamar mandi itu! Sosok Alessandro Dirgantara pada esensinya adalah karakter algojo berdarah dingin yang di masa depan nanti ditakdirkan bakal menjadi eksekutor utama yang membuat seluruh takdir hidup kamu berakhir mati mengenaskan di atas meja operasi rumah sakit!

Beberapa puluh menit setelah fase peperangan batin itu berlalu, daun pintu kamar mandi akhirnya didorong terbuka dan sosok Alessandro tampak melangkah keluar dengan raga yang mengepulkan sisa uap air hangat. Pandangan mata bulat Valeria secara naluriah dan tanpa sadar sempat bergerak taktis menyapu ke arah area rongga dada pria itu, namun sayang seribu sayang, Alessandro malam ini terpantau memilih untuk mengenakan setelan piyama tidur satin yang kancingnya terpasang rapat hingga ke kasta tertinggi, menutup rapat seluruh akses visualisasi otot tubuhnya dari jangkauan mata telanjang.

Ketajaman insting pelacakan Alessandro tentu saja langsung berhasil mengunci arah garis pandangan mata Valeria yang sempat bergerak mencurigakan. Pria berkuasa itu menghentikan langkah kakinya di tepi ranjang, melayangkan tatapan mata datar yang dalam, lalu bersuara rendah, "Apa yang sedang kamu periksa dari tubuh saya?"

Valeria dengan gerakan super kilat langsung menarik kembali seluruh fokus pandangan matanya ke arah depan, menyahut kaku demi menetralkan kecanggungan, "A-ah... nggak ada kok. Aku sama sekali nggak lagi lihat apa-apa."

Alessandro tidak meluncurkan kalimat interogasi tambahan murni untuk mengejar pengakuan. Ia segera memosisikan postur tubuh tegapnya untuk naik ke atas ranjang kasur, merebahkan raganya di sisi tepi yang sama tanpa meluncurkan sepatah kata pun mengenai insiden memalukan di atas meja nakas tadi, seolah-olah seluruh rangkaian kejadian provokatif beberapa menit lalu mutlak belum pernah terjadi di dunia riil.

Atmosfer di dalam kamar tidur utama raksasa tersebut seketika kembali terjebak di dalam gelombang keheningan malam yang teramat kaku dan dingin. Tidak tahan menghadapi siksaan kecanggungan batin yang merongrong kedamaian pikirannya, Valeria akhirnya memilih untuk mengambil inisiatif mandiri murni untuk memecah kesunyian tersebut terlebih dahulu. "Um... Ales, soal gaun malam transparan di dalam kantong belanjaan yang tadi sempat kamu pegang itu... sebenarnya barang itu murni merupakan jenis pakaian yang dipilihkan dan direkomendasikan secara paksa oleh Jovanka sore tadi. Sumpah demi apa pun, di dalam lubuk hatiku sendiri sebenarnya sama sekali nggak memiliki minat atau keinginan pribadi murni untuk membelinya."

Alessandro memberikan lirikkan mata tipis dari posisi berbaringnya, menatap lekat-lekat ke arah wajah Valeria sebelum menyahut menggunakan intonasi suara bariton yang teramat lempeng namun sarat akan makna ambiguitas yang pekat, "Asalkan kamu tahu, Valeria... di dalam ruang lingkup hubungan kita saat ini, kamu pada esensinya mutlak tidak perlu repot-repot membuang energi finansial murni untuk berburu jenis gaun tidur ekstrem seperti itu dari luar."

Valeria mengerjapkan matanya polos, dilanda kebingungan emosional yang kentara. "?"

Alessandro menurunkan sedikit kelopak matanya, menatap lurus ke dalam netra mata bulat Valeria dengan tatapan yang kian mendalam. "Status kita berdua secara hukum sosial adalah sepasang kekasih resmi yang terikat komitmen pertunangan sah. Jadi, jika di kemudian hari tubuhmu mendadak sedang didera oleh adanya sebuah bentuk letupan kebutuhan biologis atau hasrat seksual tertentu... saya secara dasar selalu bersedia berada di sini murni untuk membantu memuaskan kebutuhan fisikmu tersebut kapan saja."

Sepasang mata bulat Valeria seketika mendadak membelalak sempurna laksana lingkaran cangkir kopi, dan seluruh sistem saraf di otaknya laksana mengalami ledakan korsleting darurat tingkat tinggi detik itu juga. Rentetan untaian kalimat provokatif, vulgar, dan penuh gairah dewasa macam apa yang baru saja meluncur lempeng dari balik bibir seorang CEO kaku sedingin es seperti dia di malam hari bolong begini?!

Dengan gerakan panik yang teramat agresif, Valeria langsung mengayunkan kedua belah telapak tangannya ke udara terbuka, meluncurkan aksi penolakan fisik yang meledak-ledak sembari bersuara terbata-bata, "A-aku... aku bersumpah demi Tuhan sama sekali nggak lagi didera oleh adanya letupan kebutuhan biologis apa pun terhadap tubuh kamu malam ini, Ales! Tolong buang jauh-jauh seluruh bentuk kesimpulan salah paham itu dari dalam kepala kamu sekarang juga!"

Alessandro mengamati bagaimana dahsyatnya intensitas reaksi penolakan dan kepanikan yang ditunjukkan oleh sang kekasih, membuat sebaris garis alis tebalnya perlahan bergerak naik menanjak tipis di udara. "Sama sekali tidak memiliki kebutuhan biologis terhadap saya?"

Sadar bahwa struktur kalimat penolakan kasarnya barusan terlampau frontal hingga berpotensi merusak jalinan identitas penyamarannya sebagai sang kekasih posesif, Valeria dengan gerakan taktis segera memutar otak secepat kilat murni untuk meluncurkan kalimat perbaikan situasi. Ia memaksakan seulas senyuman manis yang terlihat teramat kaku di bibirnya, "A-ah... maksud aku bukan begitu, Ales. Arah maksud dari penolakanku tadi adalah murni karena di dalam fase beberapa hari belakangan ini, lubuk hatiku sendiri sedang tidak memiliki jenis pemikiran dewasa seperti itu untuk sementara waktu. Bagaimanapun juga, fakta malam pertama kita waktu itu kan esensinya murni terjadi karena sebuah insiden kecelakaan yang tidak disengaja oleh kesadaran penuh kamu. Jadi, di dalam kalkulasi logis kepalaku, bahkan jika di kemudian hari kita berdua memang ditakdirkan harus kembali melewati fase hubungan intim seperti itu lagi... sewajarnya proses tersebut wajib dilewati melalui jalinan tahapan emosional yang matang, bukan secara instan dan buru-buru murni karena dorongan nafsu busana seksi semata."

Valeria meluncurkan spekulasi analisis batin di otaknya bahwa seorang Alessandro yang terlahir memiliki kecacatan emosional bawaan dan pembawaan kaku seperti robot... sewajarnya dipastikan akan memiliki pemikiran moral yang seratus persen selaras dengan untaian kalimat bijaknya barusan; karena jika tidak, mana mungkin di sepanjang sejarah berbulan-bulan jalinan hubungan asmara aktif mereka selama ini, sepasang muda-mudi ini tercatat belum pernah sekalipun meluncurkan aksi hubungan intim susulan di atas kasur. Bahkan berdasarkan catatan plot novel orisinal, figur pemilik tubuh Valeria yang asli di masa lalu sampai harus dipaksa pasrah memeras seluruh keringat kreativitas dan melancarkan seribu satu macam taktik godaan vulgar murni hanya demi bisa memancing ketertarikan berahi dari Alessandro, namun hasil akhirnya selalu saja membentur tembok penolakan sedingin es.

Alessandro terdiam membisu meluncurkan fase keheningan batin selama beberapa detik penuh pasca-mendengar rangkaian khotbah kedewasaan tersebut, sebelum akhirnya ia mengeluarkan sebaris suara gumaman rendah penuh afirmasi, "Mm, analisis pemikiran kamu malam ini... memang ada benarnya."

Valeria meluncurkan seulas tawa kering yang terdengar garing dari tenggorokannya murni untuk meredakan sisa ketegangan psikologis di dadanya. "Nah, benar kan kata aku, Ales? Jadi, untuk urusan intim seperti ini, kita berdua mutlak tidak boleh bersikap gegabah atau buru-buru. Nanti jika momentum waktunya sudah dirasa benar-benar pas dan matang, segala sesuatunya dipastikan bakal mengalir dan terjadi secara alami dengan sendirinya, hehe."

Sepasang manik mata hitam milik Alessandro tampak berkilat dalam sebuah intensitas kegelapan misterius yang teramat pekat menatap ke arah pancaran senyuman manis Valeria, sebuah sorot analisis psikologis yang teramat rumit dan tidak bisa dipecahkan oleh akal sehat manusia. Pria berkuasa itu memilih untuk tidak memperpanjang alur diskusi dewasa tersebut lebih lanjut; ia segera mengulurkan jemarinya untuk menekan sakelar elektronik murni guna mematikan seluruh pancaran lampu tidur, membiarkan atmosfer kamar utama kembali tenggelam ke dalam kegelapan malam yang sunyi murni untuk memulai ibadah tidur mereka.

Namun sayang seribu sayang, akibat dari dahsyatnya guncangan emosional serta rentetan stimulus visual mengenai "baju haram" jala hitam transparan yang bertubi-tubi menghantam fungsi logikanya sepanjang hari tadi, tepat pada detik di saat kesadaran jiwa Valeria mulai terhanyut masuk ke dalam fase tidur lelap, struktur otaknya secara tidak senonoh justru meluncurkan sebuah anomali mimpi yang teramat konyol, absurd, dan gila di dalam tidur bawah sadarnya.

Di dalam dimensi dunia mimpi mistis tersebut, Valeria melihat dirinya sendiri sedang dengan penuh keberanian mental mengenakan setelan gaun pertempuran malam berbahan kain jala renda hitam transparan hadiah dari Jovanka sore tadi. Tidak hanya sampai di sana, raga fisiknya di dalam mimpi itu bahkan bergerak dengan teramat agresif dan liar murni untuk memanjat naik ke atas pangkuan tubuh tegap Alessandro Dirgantara, meluncurkan berbagai macam gestur tubuh menggoda yang teramat provokatif murni untuk merayu berahi sang CEO besar. Jalinan visualisasi adegan gila tersebut kian bergerak liar melintasi batas kesopanan di saat siluet tubuh keduanya mulai bergerak saling mendekat, meluncurkan aksi ciuman bibir yang teramat pekat, panas, membara, hingga seluruh rangkaian alur mimpi tersebut resmi bergerak menanjak mendekati skala rating sensor dewasa (R-rated) yang teramat eksplisit.

Tepat pada detik krusial di saat jalannya adegan intim di dalam mimpinya sudah berada di ambang batas kritis yang teramat tidak ramah anak... sebuah gema suara lengkingan klakson kendaraan mobil yang teramat nyaring dan bising mendadak bergaung hebat dari arah luar jendela vila, seketika menghancurkan seluruh alur mimpi indahnya berkeping-keping.

Valeria menyentakkan kedua kelopak matanya terbuka lebar, langsung terduduk tegak di atas kasur dengan napas yang memburu pendek dan sepasang mata bulat yang mengerjap polos dilanda kebingungan emosional yang dahsyat. Pancaran sinar fajar yang teramat terang benderang terpantau sudah lama merangsek masuk menguasai seluruh penjuru sudut kamar, menandakan bahwa pagi hari telah resmi tiba. Dari arah balik kaca jendela luar teras, gema suara lengkingan klakson mobil dari arah jalanan sekitar vila masih terus terdengar berbunyi secara konstan dan berisik tanpa henti. Valeria memutar kepalanya kaku ke arah posisi sisi tepi kasur di sampingnya, mendapati koordinat tempat tidur milik Alessandro saat ini terpantau sudah berada di dalam status yang kosong melompong tak berpenghuni.

Detik itu juga, sebuah kesadaran riil mengenai apa yang baru saja menimpa sistem biologis tubuhnya seketika meledak hebat di dalam kepala Valeria, sukses membuat seluruh permukaan kulit wajahnya memancarkan sensasi panas membakar laksana disiram minyak mendidih. Ya Tuhan... mampus aku! Aku... aku baru saja tidak sengaja mengalami fenomena mimpi basah (wet dream) di siang bolong murni dengan memvisualisasikan raga seorang Alessandro Dirgantara sebagai objek pemuas nafsuku?! Ini semua seratus persen merupakan poin kesalahan mutlak dari tabiat beracun seorang Jovanka! Jika saja wanita sosialita proaktif itu tidak nekat meluncurkan aksi pemaksaan murni untuk menjejalkan kantong pakaian dalam jala hitam transparan itu ke dalam pelukannya sore kemarin, struktur otak bawah sadarnya dipastikan tidak akan pernah sudi murni untuk menyusun skenario mimpi dewasa yang teramat absurd, mesum, dan memalukan seperti itu di dalam tidurnya!

Mengingat kembali bagaimana detail demi detail dari setiap sentuhan fisik, ciuman panas, serta adegan eksplisit yang terasa begitu riil di dalam mimpinya tadi, Valeria seketika mendadak merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan malu yang teramat sangat. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia langsung melompat turun dari atas kasur, berlari kencang masuk ke dalam kamar mandi utama, lalu dengan gerakan agresif segera membasuh dan mengguyur seluruh permukaan wajah cantiknya menggunakan air dingin dari wastafel berulang kali murni untuk menekan dan mengusir kepulan hawa panas yang sedang menari-nari di kepalanya.

Tepat pada detik saat ia baru saja selesai menyeka sisa-sisa air di permukaan wajahnya menggunakan selembar handuk kecil, gawai ponsel genggam di dalam saku piyamanya mendadak bergetar pendek memancarkan notifikasi masuk. Begitu ia menarik keluar gawai tersebut dan membuka layarnya, sebuah pesan teks singkat penuh gosip dari akun pribadi Jovanka terpampang dengan teramat manis di layar kaca:

【Bagaimana hasil pertempuran malam pertamamu, hah, Valeria?! Cerita padaku sekarang juga! Apakah seorang Pak CEO Alessandro yang agung itu semalam memang sukses bertarung hebat meluncurkan aksi gila sebanyak tiga ratus ronde bersama tubuh seksi kamu di atas kasur ranjang? 😉 😉 😉】

Valeria menatap rentetan deretan kalimat beracun beserta stiker emoji seringai jahil tersebut dengan sepasang kelopak mata yang berkedut hebat dilanda kedongkolan batin tingkat tinggi, "..." Fakta riil di kehidupan nyatanya mutlak sama sekali tidak mengalami proses pertempuran fisik sebanyak tiga ratus ronde layaknya khayalan Jovanka; namun asalkan wanita itu tahu, lubuk hatinya saat ini memang sedang didera oleh rasa ingin memicu operasional penggalian tiga ratus lubang besar di atas tanah murni untuk mengubur raga fisiknya sendiri hidup-hidup karena menahan rasa malu sosial akibat dampak mimpinya tadi pagi!

Valeria menggerakkan jemarinya dengan ritme cepat di atas layar kaku, meluncurkan kalimat balasan ketus: 【Nggak usah ngawur deh jalani fantasi kamu itu, Jovanka! Sumpah demi apa pun semalam mutlak sama sekali nggak ada kejadian aneh atau kontak intim apa pun yang terjadi di antara kami berdua di atas kasur ini.】

Hanya butuh jeda waktu kurang dari tiga detik bagi Jovanka murni untuk langsung meluncurkan rentetan kalimat balasan susulan yang membanjiri layar ponsel Valeria:

【? ? ?】

【Demi apa?! Kalkulasi hasil akhir seperti itu mutlak berada di luar nalar hukum asmara sosialita, Valeria! Siapa pun wanita normal di dunia ini yang sudah nekat membungkus raga fisiknya menggunakan setelan "gaun pertempuran malam" kelas kakap rekomendasi dari butik langgananku kemarin... secara statistik dipastikan tidak akan pernah memiliki sepersen pun peluang untuk menemui hasil kegagalan total di atas kasur!】

【Jika dalam kondisi visual seprovokatif itu seorang Pak Alessandro dikabarkan masih tetap terus konsisten diam membisu, kaku, dan sama sekali tidak meluncurkan reaksi berahi liar murni untuk menerkam tubuh ranum kamu sepanjang malam suntuk... maka menurut analisis medis pribadiku, jangan-jangan fungsi organ vital maskulin milik pria berkuasa itu memang sedang didera oleh kasus penyakit kelumpuhan hasrat alias impoten total di dunia nyata?!】

Melihat bagaimana kebebalan logika Jovanka kian bergerak liar meluncurkan fitnah kejam yang merendahkan harga diri kemampuan maskulin milik sang CEO besar, pergerakan jemari tangan Valeria seketika bergerak jauh lebih cepat daripada fungsi kerja otaknya sendiri, di mana ia langsung meluncurkan kalimat bantahan frontal secara impulsif tanpa berpikir panjang: 【Tolong hentikan seluruh ucapan omong kosong tak berdasar kamu itu dari atas layar ini, Jovanka! Aku pertegas sekali lagi ya, kami berdua di masa lalu pada esensinya sudah pernah sukses menuntaskan hubungan intim bersama di atas ranjang kamar hotel! Jadi dari sudut pandang medis mana kamu bisa menyusun spekulasi gila menuduh seorang Alessandro Dirgantara menderita penyakit kelumpuhan fungsi seperti itu, hah?!】

Tepat pada detik krusial di saat jemarinya baru saja resmi menekan tombol kirim dan untaian kalimat pembelaan frontalnya resmi melesat di ruang obrolan... sebuah gema suara bariton rendah yang teramat berat, dingin, dan sarat akan wibawa menakutkan mendadak bergaung hebat tepat dari arah posisi belakang punggungnya. "Aktivitas penting apa yang sedang menyita seluruh fokus perhatianmu sejak pagi buta di dalam kamar mandi ini, Valeria?"

"Aaaakh!"

Valeria seketika langsung meluncurkan sebaris pekikan jeritan histeris laksana seorang gadis yang baru saja melihat penampakan makhluk halus di siang bolong, di mana raga fisiknya sampai refleks meloncat kaku ke udara terbuka hingga gawai ponsel di sela jemarinya hampir saja meluncur jatuh terperosok ke dalam lubang kloset akibat tingkat kekejutan emosional yang teramat dahsyat. Ia sama sekali tidak pernah mendengarkan adanya sepeser pun gema suara langkah kaki manusia yang bergaung melintasi lantai kamar; entah sejak menit ke berapa, siluet tegap Alessandro Dirgantara ternyata terpantau sudah berdiri kokoh mematung mendampingi posisinya tepat di belakang garis punggungnya dengan ketenangan yang menakutkan.

Sepasang manik mata hitam milik sang CEO besar perlahan bergerak bergulir tipis, menyapu permukaan layar digital gawai ponsel Valeria yang saat itu status pencahayaannya masih berada di dalam kondisi menyala terang benderang, membuat sebaris alis tebal tegas milik Alessandro seketika tampak berkedut samar selama satu detik penuh. Menangkap arah pergeseran garis pandangan mata tajam tersebut, Valeria seketika langsung tersentak sadar akan adanya bahaya maut yang sedang mengancam nyawanya begitu menyadari bahwa seluruh lembar riwayat ruang obrolan teks pribadinya bersama Jovanka yang memaparkan kata-kata tabu seperti "tiga ratus ronde", "kelumpuhan fungsi vital", hingga kalimat konfirmasinya mengenai kasus "hubungan intim malam pertama hotel"... saat ini sedang terpampang bebas dalam ukuran huruf yang teramat jelas di depan mata Alessandro!

Didorong oleh insting ketakutan tingkat dewa, Valeria dengan gerakan yang teramat kilat langsung menekan tombol pengunci layar digital ponselnya hingga berubah wujud menjadi hitam pekat, sebelum akhirnya dengan gerakan super agresif langsung menyusupkan gawai tersebut masuk jauh ke dalam kantong celana piyamanya, memancarkan raut wajah yang dipenuhi oleh sekeranjang gurat rasa bersalah semu serta kepanikan yang teramat kentara.

Alessandro menatap lekat-lekat ke arah profil wajah samping sang kekasih yang kini tampak sedang memasang ekspresi bersalah layaknya seorang buronan kriminal yang baru saja tertangkap basah meluncurkan aksi kejahatan riil di depan matanya. Namun, pria berkuasa itu memilih untuk bersikap dingin dengan tidak meluncurkan sebaris pun kalimat pertanyaan administratif murni untuk mengejar isi pesan teks tersebut. Ia hanya merapikan letak jam tangan mewahnya, lalu menyahut datar, "Saya... akan segera bertolak berangkat menuju ke kantor pusat sekarang juga."

Valeria yang saat itu bahkan tidak berani murni untuk mengembuskan napasnya secara normal akibat dikepung rasa bersalah, hanya bisa meluncurkan gerakan anggukan kepala yang teramat cepat dan berulang-kali laksana sebuah boneka bertenaga baterai murni untuk mengantarkan kepergian sang pria.

Namun, di luar dugaan logisnya, postur tegap Alessandro ternyata terpantau tetap berdiri kokoh mematung di posisi semula tanpa menggerakkan tapak kakinya sepeser pun keluar melintasi lantai kamar mandi. Menatap siluet Valeria yang hanya terus diam membisu mematung tanpa ada sepeser pun niat murni untuk meluncurkan inisiatif tindakan perpisah resmi, Alessandro tampak mengeluarkan sebaris desahan napas pendek yang teramat halus dari paru-parunya. Pria berkuasa itu akhirnya memilih murni untuk menurunkan egonya kembali; ia memajukan posisi tubuh tingginya satu tapak kaki ke depan, menundukkan sedikit postur wajah tampannya, lalu dengan gerakan yang teramat lembut dan tenang ia mendaratkan seulas kecupan ringan yang hangat tepat di atas permukaan kulit pipi kanan Valeria.

Pasca-keberhasilan eksekusi kecupan paginya selesai dituntaskan, Alessandro segera menarik kembali postur tubuh atasnya mundur ke belakang, memfokuskan sepasang manik mata hitamnya murni untuk menatap lekat-lekat ke arah wajah Valeria dengan ketenangan yang pekat. Lubuk jantung Valeria seketika melegen rahasia satu dentuman kencang yang luar biasa dahsyat hingga dadanya terasa bergetar hebat. Seorang Alessandro Dirgantara saat ini terpantau sedang berdiri diam manis murni hanya untuk menanti dirinya meluncurkan aksi balasan murni untuk mengembalikan jatah kecupan ritual pagi (morning kiss) di wajah tampannya!

Di dalam rentang waktu beberapa hari belakangan ini, Valeria memang tercatat sudah terlampau sering meluncurkan seribu satu macam alasan taktis murni untuk bisa melarikan diri menghindari kontak fisik intim semacam ini dari jangkauan sang tunangan resmi. Namun untuk momentum fajar kali ini, karena pihak Alessandro sendiri yang sudah lebih dulu berinisiatif menurunkan seluruh egonya murni untuk meluncurkan serangan kecupan perdana... Valeria tahu betul di detik ini dirinya sudah mutlak berada di dalam status terkunci total tanpa memiliki sepersen pun jalur keluar darurat murni untuk melarikan diri lagi dari radius perlindungannya. Jika di tengah atmosfer pagi yang cerah ini dirinya kembali nekat menunjukkan respons penolakan yang ekstrem atau bersikap kaku menolak murni untuk membalas jatah kecupan formalitas tersebut... maka ketajaman insting pelacakan Alessandro dipastikan akan langsung merangkai kesimpulan baru yang valid untuk mengonfirmasi bahwa ada sebuah rahasia konspirasi besar yang sedang disembunyikan oleh sang wanita.

Valeria mengatupkan susunan giginya rapat-rapat, menguatkan seluruh mental baja di dalam dadanya, lalu dengan gerakan jinjit sepasang kaki piyamanya ia mulai mengangkat postur tubuh rampingnya ke arah atas murni untuk mendekati wajah Alessandro. Dalam satu pergerakan yang teramat kilat dan senyap, ia mendaratkan seulas kecupan balasan pendek yang halus tepat di atas permukaan kulit pipi tegas milik sang CEO besar.

Sentuhan fisik yang teramat singkat dan lembut tersebut berakhir menguap hanya dalam durasi satu kedipan mata saja. Namun, jika dibandingkan dengan seluruh rentetan kontak fisik intim yang pernah mereka lalui sebelumnya di masa lalu, Valeria terpaksa harus mengorbankan egonya untuk mengakui di dalam batinnya bahwa letupan kecupan pagi kali ini... entah mengapa justru sukses memercikkan seberkas getaran aneh, debaran romantis, serta riak kupu-kupu yang teramat halus menari-nari di dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Fenomena yang teramat serupa rupanya juga ikut merangsek maju menghantam sistem saraf batin seorang Alessandro Dirgantara; letupan kecupan kilat dari bibir ranum Valeria barusan terasa laksana seonggok kerikil kecil yang sengaja dilemparkan murni untuk mengusik permukaan danau batinnya yang selama ini selalu tenang dan membeku sedingin es, seketika memicu gelombang riak kehangatan asing yang enggan menguap dari dalam dadanya. Alessandro memafokuskan pandangan matanya menatap lekat-lekat ke arah sepasang daun telinga Valeria yang kini terpantau kembali bertransformasi memancarkan rona kemerahan yang pekat, bersuara menggunakan intonasi bariton yang terdengar sarat akan makna ambiguitas pekat, "Saya... berangkat pergi sekarang."

Valeria mengerahkan seluruh energi aktingnya ke tingkat maksimal, memosisikan bahasa tubuhnya sedemikian rupa murni untuk meniru struktur pembawaan dari sesosok figur istri baru yang teramat perhatian dan lembut seperti yang biasa ia tonton di dalam tayangan drama serial televisi, meluncurkan untaian kalimat perhatian hangat, "Mm, iya, Ales... hati-hati di jalan ya sepanjang rute perjalanan menuju ke kantor."

Menatap siluet tegap dan kokoh pria itu perlahan mulai melangkah pergi menjauh meninggalkan radius kamar utama, Valeria mendadak merasakan sepasang kulit pipinya kembali memancarkan sensasi hangat yang tidak kasat mata tanpa alasan logis yang jelas. Ia segera mengangkat kedua belah telapak tangannya murni untuk menggosok-gosok permukaan wajah cantiknya secara agresif demi mengusir seluruh kepulan hawa panas konyol dari dalam kepalanya.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ritual sarapan paginya dengan selamat, Valeria segera bergegas menyambar sekantong perhiasan berisi kalung permata rubi berharga fantastis pemberian Alessandro tempo hari, lalu meluncurkan raga fisiknya melangkah keluar pagar vila murni untuk pergi menuju ke pusat kota. Pasca-terjadinya insiden petaka di acara pameran apresiasi perhiasan elit dua hari lalu, Valeria bersumpah demi apa pun saat ini sudah tidak lagi memiliki sepeser pun keberanian mental murni untuk nekat meluncurkan aksi penjualan langsung atas kalung permata asli tersebut ke toko emas legal kota. Sebab jika di kemudian hari ada sebuah momentum dadakan di mana seorang Alessandro Dirgantara mendadak meluncurkan perintah administratif murni untuk meminta dirinya mengenakan kembali kalung permata rubi tersebut di sebuah acara jamuan bisnis korporat... maka kedok penyamarannya dipastikan akan langsung hancur lebur seketika.

Berdasarkan lembaran catatan rahasia di dalam buku novel orisinal, figur pemilik tubuh Valeria yang asli di masa lalu memang tercatat teramat sering meluncurkan taktik kelicikan serupa; wanita matre itu akan secara konsisten menjual setiap aset perhiasan asli pemberian Alessandro ke pasar gelap demi bisa mendapatkan aliran dana segar murni untuk dikirimkan ke rumah orang tuanya, lalu memanfaatkan jasa pengrajin ilegal murni untuk menebus sepotong perhiasan tiruan kualitas super (high-quality counterfeit) murni sebagai barang pengganti di dalam brankasnya. Bagaimanapun juga, karakter pembawaan Alessandro dari sananya memang terkenal teramat acuh tak acuh dan mutlak tidak pernah memiliki ketertarikan murni untuk memeriksa secara detail setiap porsi perhiasan yang melekat di tubuh sang kekasih, hingga tidak heran jika taktik penipuan rapi tersebut mutlak belum pernah sekalipun berhasil terdeteksi oleh radar pengamatannya di masa lalu.

Atas dasar pertimbangan keamanan itulah, Valeria sore hari ini memilih murni untuk melangkahkan kakinya menuju ke sebuah area pasar barang bekas sekunder yang terletak di sudut tersembunyi kota, murni untuk memburu keberadaan sesosok pria pengrajin emas tua bernama Hendra, satu-satunya sosok pemilik toko perhiasan imitasi yang di masa lalu menjadi rekanan setia dari Valeria asli.

Valeria melangkah masuk melintasi interior toko yang temaram, lalu mengulurkan tangannya murni untuk menyerahkan kotak perhiasan kalung permata rubi asli tersebut ke atas meja konter. "Bos Hendra, kayak biasa sesuai dengan prosedur operasional kita di masa lalu. Tolong kerahkan seluruh keahlian terbaikmu murni untuk membuatkan sepotong kalung tiruan yang bentuk, detail, dan jalinan fisiknya sama persis seratus persen dengan barang asli ini—tiruan kualitas super kasta tertinggi. Pokoknya tingkat kemiripan visualnya wajib berada di level ekstrem agar tidak bisa dibedakan oleh mata telanjang manusia."

Hendra menyambar kacamata pembesar khususnya, lalu mulai melakukan proses pemeriksaan yang teramat detail atas setiap sudut jalinan permata rubi tersebut selama beberapa menit sebelum akhirnya menggelengkan kepala pelan. "Aduh, Nona Valeria... proyek replika untuk barang kali ini memang dipastikan mutlak bukanlah sebuah urusan pekerjaan yang sepele bagi tokomu."

"Jika urusan pengerjaannya berada di kategori yang sepele dan mudah, mana mungkin hari ini aku sudi meluangkan waktu berharga murni untuk mendatangi tokomu ini, Bos Hendra?" Valeria menopang dagunya tenang, melayangkan pertanyaan penegasan, "Sekarang jawab saja secara langsung, apakah seluruh keterampilan tanganmu memang masih sanggup untuk mengeksekusi proyek replika ini dengan aman?"

Hendra mengelus janggut tipisnya sebelum menyahut mantap, "Asalkan urusan dana operasionalnya cocok, pengerjaannya memang berada di dalam jangkauan kemampuanku, Nona. Namun, perlu Anda ketahui bahwa struktur pahatan orisinal yang melekat pada permata rubi milik Dirgantara Group ini terlampau halus dan presisi, ditambah lagi aku juga memikul kewajiban ekstra murni untuk memproses material logam tiruannya agar bisa memancarkan seberkas efek oksidasi alami khas perhiasan lama agar tidak memancing kecurigaan mata awam. Atas dasar kerumitan teknis itulah, aku membutuhkan jaminan ruang waktu pengerjaan minimal selama dua bulan penuh."

Meskipun durasi waktu tunggu dua bulan tersebut tergolong cukup menyita waktu, namun berdasarkan perhitungan lini masa rahasia novel di otaknya, Valeria tahu betul bahwa sisa kuota waktu luang yang ia miliki sebelum kedatangan sesosok karakter tokoh utama wanita asli—Bianca Gabriella—merangsek masuk mengacaukan alur cerita... masih tersisa dalam kurun waktu enam bulan ke depan. Atas dasar kalkulasi zona aman itulah, dua bulan memang merupakan sebuah rentang waktu yang teramat longgar dan tidak mendesak bagi keselamatan kedok penyamarannya.

Setelah kedua belah pihak resmi mencapai kesepakatannm mengenai nominal tarif harga serta tanggal penyerahan barang, Valeria segera melangkahkan sepasang kakinya murni untuk keluar meninggalkan area pasar barang bekas tersebut dengan hati yang dilanda ketenangan total.

Ia berdiri diam di atas permukaan trotoar tepi jalan, baru saja berniat murni untuk mengeluarkan gawai ponselnya murni guna melakukan proses pemindaian kode elektronik pada sebuah unit skuter listrik sewaan (shared electric scooter) yang terparkir di sana, ketika sebuah deru mesin mobil sport mewah merek Porsche berwarna abu-abu metalik mendadak meluncur dengan ritme yang teratur sebelum akhirnya resmi berhenti mematung tepat di samping koordinat berdirinya.

"Wah, Nona Valeria Francesca? Sebuah fenomena kebetulan yang teramat luar biasa sekali bisa berpapasan dengan dirimu di sudut jalanan kumuh seperti ini. Kenapa sore hari ini seorang Pak CEO Alessandro terpantau sedang tidak berada di posisinya murni untuk mendampingi rute perjalanan kamu?"

Permukaan kaca jendela mobil sport mewah tersebut perlahan bergulir turun ke arah bawah, membiarkan sebuah intonasi suara bariton milik seorang pemuda asing merangsek maju memenuhi ruang udara. Pada detik awal, fungsi otak Valeria memang sempat didera oleh sebaris rasa asing yang teramat kaku karena sama sekali tidak sanggup mengenali jati diri dari sang pemilik suara; sebelum akhirnya sepasang mata bulatnya secara tidak sengaja langsung membentur sesosok siluet wanita cantik yang sedang duduk manis dengan balutan busana flamboyan di kursi penumpang depan—tidak lain dan tidak bukan adalah Celline, sang musuh bebuyutan dari kalangan geng sosialita kemarin sore.

Melihat kehadiran musuh abadinya tersebut, fungsi logika Valeria langsung berhasil merangkai kesimpulan rasional bahwa sosok pemuda kaya raya yang saat ini sedang memegang kendali kemudi Porsche tersebut... mutlak merupakan sang kekasih konglomerat dari Celline yang bernama Adrian, sesosok pewaris takhta bisnis kasta kedua tertinggi di dalam lingkaran pergaulan Dirgantara Group.

Valeria menyembunyikan tas mewahnya ke belakang, meluncurkan seulas senyuman formalitas yang teramat tipis di bibirnya, "Iya, memang sebuah kebetulan yang teramat unik, Tuan Muda Adrian. Hubungan asmara kami saat ini sedang berjalan normal; Alessandro saat ini sudah sejak pagi buta berangkat murni untuk menuntaskan urusan operasional bisnis di kantor pusat, sementara aku sendiri murni cuma lagi kepikiran buat jalan-jalan santai mencari angin segar di luar rumah. Kalau kalian berdua sendiri... apakah sore ini sedang menjadwalkan agenda pergi kencan romantis?"

Adrian mengeluarkan sebaris suara dengusan pendek dari balik tenggorokannya, meluncurkan nada bicara yang sarat akan unsur gurauan tipis, "Kencan romantis macam apa dari sepasang kekasih lama seperti kami? Agenda perjalanan kami sore ini murni hanya dialokasikan murni untuk memborong beberapa potong barang keperluan gaya hidup baru di pusat perbelanjaan."

Belum sempat Valeria menyusun kosakata murni untuk meluncurkan kalimat balasan sopan, sudut matanya secara tidak sengaja justru berhasil menangkap sebuah pergerakan gestur kecil dari arah kursi penumpang depan; di mana Celline terpantau sedang meluncurkan aksi memutar sepasang bola matanya jengah secara sembunyi-sembunyi, memancarkan ekspresi kedengkian pekat atas eksistensi kehadiran Valeria di tepi jalan. Aksi pemutaran bola mata yang terkesan teramat picik dan kekanak-kanakan tersebut seketika langsung tertangkap basah secara riil oleh ketajaman pandangan mata Valeria. Di dalam lubuk batinnya, Valeria benar-benar merasa bahwa tingkat rasa percaya diri dari seorang Celline memang sudah berada di dalam status yang terlampau kritis dan beracun; wanita matre itu seolah-olah mengasumsikan bahwa seluruh wanita cantik di dunia ini dipastikan akan memiliki ketertarikan murni untuk merebut atau menggoda iman sang kekasih kayanya, padahal realitasnya, Valeria sendiri bersumpah mutlak sama sekali tidak memiliki sepersen pun ketertarikan batin murni untuk sudi menapakkan kaki melintasi interior mobil Porsche milik mereka.

Adrian yang tidak menyadari adanya percikan api permusuhan di antara kedua wanita tersebut, justru kembali membuka suara dengan intonasi yang teramat ramah dan proaktif, "Nona Valeria, koordinat destinasi tujuan kamu setelah ini mau dialokasikan ke arah mana? Mari naik saja ke dalam mobilku, biar sekalian aku antarkan dirimu sampai ke tempat tujuan dengan selamat."

Mendengar tawaran tumpangan gratis yang terlampau ramah dari bibir sang kekasih, rona wajah Celline yang duduk di sampingnya seketika bertransformasi menjadi kian masam, kaku, dan dipenuhi oleh gurat ketidakpuasan moral yang mendalam.

Valeria dengan gerakan taktis langsung meluncurkan kalimat penolakan tegas demi menjaga batas kenyamanan sosial, "A-ah... terima kasih banyak atas sekeranjang kebaikan hatimu, Tuan Muda Adrian. Namun, aku rasa penawaran tumpangan itu mutlak tidak perlu repot-repot dieksekusi sore ini; lagipula koordinat lokasi tujuanku setelah ini sudah teramat dekat, dan aku bisa dengan mudah memanggil armada taksi daring murni untuk menjemput posisiku kapan saja."

Adrian tampaknya masih belum memiliki niat yang cukup besar untuk menghentikan niat baiknya, kembali meluncurkan kalimat persuasi, "Aduh Nona Valeria, tolong jangan bersikap terlampau sungkan atau kaku seperti itu kepada rekan sendiri. Ayo naik saja langsung ke dalam kabin belakang..."

Valeria mempertahankan keteguhan prinsip pertahanan dirinya dengan tingkat kekokohan seratus persen, menggelengkan kepalanya anggun, "Bener-bener nggak perlu repot, Tuan Muda Adrian. Terima kasih sekali lagi atas tawarannya."

Melihat Valeria terus konsisten meluncurkan benteng penolakan yang tebal, Celline yang sudah berada di ambang batas kesabarannya segera mengulurkan jemarinya murni untuk mencengkeram erat lengan kemeja Adrian, meluncurkan untaian kalimat manja yang sengaja dibuat mendayu-dayu murni untuk memutus percakapan, "Aduuuh... Tuan Muda Adrian sayang... jika Nona Valeria dari awal memang sudah secara sadar meluncurkan kalimat penolakan tegas karena merasa tidak nyaman, maka sewajarnya kita mutlak tidak boleh bersikap memaksa lagi bukan? Ayo kita segera mengayunkan kemudi mobil ini murni untuk berangkat sekarang juga. Bukankah di dalam rentang waktu petang nanti kamu masih memiliki janji temu penting bersama rekan bisnis kelas atasmu murni untuk bermain tenis di klub olahraga elit?"

Valeria sama sekali tidak meluncurkan sisa pandangan matanya murni untuk sudi meladeni drama manja dari sepasang kekasih borjuis tersebut. Ia segera membalikkan poros tubuh fisiknya, mengayunkan jemarinya murni untuk menuntaskan proses pemindaian kode elektronik skuter listrik sewaan di tepi trotoar, lalu dengan gerakan yang teramat lincah, tangkas, dan senyap langsung meluncur pergi meninggalkan radius area Porsche tersebut tanpa menolehkan kepalanya kembali.

Berbicara mengenai urusan lembaran sejarah masa lalu dari pemilik raga terdahulu, setelah wanita matre itu berhasil melancarkan aksi konspirasi kotor murni untuk mengunci status asmara di samping seorang Alessandro Dirgantara, ia memang tercatat langsung bergerak dengan teramat agresif murni untuk mendaftarkan identitas dirinya ke dalam puluhan kelas kursus pembentukan karakter sosialita kasta tinggi kota. Mulai dari kelas meditasi yoga premium, kursus merangkai bunga estetika ala Eropa, hingga pelatihan olahraga golf elit kalangan jetset... mutlak tidak ada satu pun varian aktivitas kelas sosial yang terlewat dari daftar kunjungannya, membuat lembaran jadwal kegiatan hariannya di setiap minggu selalu berada di dalam status yang teramat padat merayap.

Namun, faktor pembeda utama yang teramat kontras di antara mereka adalah: jika figur pemilik tubuh Valeria yang asli di masa lalu bersedia menggelontorkan pasokan dana fantastis murni untuk menghadiri seluruh kelas kursus tersebut murni didorong oleh motif pamer, pencitraan palsu, serta demi mendapatkan sekeranjang pasokan foto estetika yang bisa ia unggah murni untuk menyombongkan diri di halaman beranda media sosialnya... maka Valeria yang sekarang memegang kendali jiwa justru memiliki motivasi batin yang seratus persen murni karena dirinya memang benar-benar ingin menyerap seluruh ilmu keterampilan tersebut ke dalam hidupnya.

Sebab di dalam dimensi kehidupan aslinya di dunia nyata dulu, dirinya hanyalah sesosok gadis pekerja kelas buruh biasa yang di setiap harinya dipaksa pasrah murni untuk memeras seluruh keringat tenaga laksana seekor anjing pekerja, berdesak-desakan menahan pengap di dalam gerbong kereta komuter bawah tanah demi mengejar absensi kantor; jadi dari sudut pandang ekonomi mana dirinya di masa lalu akan bisa memiliki pasokan kuota sisa uang tunai ataupun ruang waktu luang murni untuk bisa menikmati kemewahan fasilitas kelas kebugaran yoga atau golf elit seperti ini? Sekarang, karena takdir dunia novel secara cuma-cuma telah menyediakan sekeranjang fasilitas sumber daya finansial yang teramat mewah dan tanpa batas di depan matanya... maka logikanya Valeria mutlak wajib memanfaatkan momentum emas ini sebaik-baiknya murni untuk meningkatkan kualitas kapasitas kompetensi dirinya sebelum hari kebebasannya tiba.

Namun, tepat pada detik di saat dirinya sedang sibuk menggeledah dan membongkar seluruh isi lemari pakaian raksasa di dalam kamar utama murni untuk berburu kostum kebugaran yang pas... Valeria seketika hanya bisa mengembuskan napas panjang dilanda gelombang kepasrahan batin yang mendalam. Di sepanjang hasil pencariannya, ia bersumpah mutlak sama sekali tidak berhasil menemukan selembar pun setelan pakaian yoga yang berada di dalam kategori normal atau layak pakai.

Seluruh koleksi pakaian olahraga milik Valeria asli terpantau hanya berada di dalam dua varian kategori ekstrem: kalau tidak memiliki potongan kain jala transparan yang terlampau vulgar dan mengekspos area sensitif kulit tubuh, maka pilihan lainnya murni merupakan busana olahraga murah bermutu rendah yang fungsinya murni hanya didesain estetis di depan kamera untuk kebutuhan sesi pemotretan pamer semata, mutlak tidak akan pernah memiliki jaminan kenyamanan medis jika nekat digunakan untuk melakukan pergerakan olahraga aktif di kehidupan riil.

Tidak memiliki alternatif pilihan lain, Valeria segera memosisikan jemarinya murni untuk meluncurkan proses pelacakan daring lewat internet demi berburu referensi mengenai jajaran merek busana kebugaran fitnes internasional yang memiliki reputasi kredibilitas tinggi. Berdasarkan hasil riset daringnya, ia berhasil menemukan fakta unik bahwa salah satu gerai toko butik luring (offline store) resmi dari merek pakaian olahraga premium tersebut... kebetulan koordinat posisinya sedang mendirikan cabang raksasa di dalam area pusat perbelanjaan megah yang lokasinya berada tepat di samping gedung pencakar langit kantor pusat Dirgantara Group milik Alessandro.

Sebentuk binar kilauan takjub seketika meledak terang benderang di dalam sepasang mata bulat Valeria begitu menyadari adanya momentum kebetulan tersebut. Tanpa membuang jeda waktu lebih lama lagi, ia segera menggerakkan jemarinya di atas layar gawai, meluncurkan sebuah pesan teks singkat yang dialokasikan khusus murni menuju ke arah nomor pribadi Alessandro Dirgantara:

【Ales... apakah di dalam rentang waktu jam istirahat makan siang nanti, sistem jadwal operasional kerja kamu memang sedang berada di dalam kondisi yang longgar atau memiliki waktu luang? Siang ini aku memiliki rencana pribadi murni untuk pergi menuju ke area butik pusat perbelanjaan di samping kantormu murni untuk memborong beberapa setelan pakaian yoga baru, jadi aku kepikiran buat ajak kamu makan siang bareng, hehe.】

___

Bersambung~~

1
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!