"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 // MBKCM
Akhir minggu akhirnya tiba. Suasana di Royal Plaza, salah satu mall paling mewah di pusat kota terasa sangat berbeda dari biasanya. Area koridor yang biasanya ramai oleh hilir mudik pengunjung, kini tampak lengang dan sepi. Pihak manajemen memang sengaja mengosongkan mall selama setengah hari khusus untuk menyambut kedatangan sang pemilik baru.
Di dalam Butik Elegance, ketegangan begitu terasa di antara para karyawan. Namun, hal itu seolah tidak berlaku bagi Saskia. Gadis berambut sebahu itu tampak sangat antusias. Sejak satu jam yang lalu, dia tidak bisa diam dan berkali-kali mengingatkan Kiana yang sedang merapikan riasan di depan cermin toilet karyawan.
"Ki! Astaga, kenapa kamu pakai warna lipstik nude sih? Pucat banget tahu!" protes Saskia sambil menyodorkan lipstik berwarna merah cerah miliknya ke depan wajah Kiana. "Harusnya pakai yang sedikit merah biar dilirik nanti pas rombongan lewat!"
Kiana menghela napas pelan, menepis pelan tangan Saskia yang memegang lipstik. "Hush! Saskia, apa sih? Tujuan kita itu untuk menyambut tamu besar pemilik gedung Royal Plaza ini, bukan mau menyambut jodoh. Tampil sesuai SOP kerja saja, yang penting rapi, bersih, dan sopan."
Saskia mengerucutkan bibirnya, memasukkan kembali lipstiknya ke dalam saku rok seragamnya. "Ih, Kiana mah kaku banget deh. Ini kan kesempatan langka! Kapan lagi kita bisa dilihat langsung sama taipan muda terkaya di negara ini?"
Saskia kemudian memegang kedua pundak Kiana, menatap sahabatnya itu dengan mata berbinar-binar penuh harap. "Ya sudah, kalau gak mau pakai lipstik merah, siapkan senyum terbaikmu kalau begitu, sahabatku sayang. Ingat perkataanku, siapa tahu Pak Ardan itu nyantol sama salah satu dari kita. Terutama kamu yang punya mata indah begini!"
Kiana tidak bisa menahan tawa ringannya mendengarkan celotehan absurd sahabatnya itu. Dia mengangkat tangannya, lalu Kiana mengetuk pelan dahi Saskia sembari tertawa kecil.
"Berhenti berkhayal, Saskia Anindya! Kamu ini kebanyakan nonton drama deh," ledek Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pria sekelas dia pasti punya standar wanita yang sangat tinggi. Mana mungkin melirik pelayan butik seperti kita."
"Aduh!" Saskia mengusap dahinya yang diketuk Kiana sambil cemberut. "Kan tidak ada salahnya berharap, Kiana! Hidup tanpa khayalan itu hambar tahu."
Saskia segera kembali menatap cermin, lalu sibuk merapikan poninya yang sedikit berantakan agar terlihat sempurna.
Sebelum Kiana sempat membalas, suara langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Manajer butik mereka, seorang wanita paruh baya berwajah tegas bernama Bu Ambar, bertepuk tangan dua kali untuk mengumpulkan mereka dengan karyawan Butik Elegance lainnya di area depan toko.
"Semuanya, berbaris rapi! Cepat!" perintah Bu Ambar dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan.
Dalam hitungan detik, enam orang pelayan butik termasuk Kiana dan Saskia sudah berbaris rapi dalam posisi berdiri tegak di dekat pintu masuk, saling berhadapan tiga di kiri dan tiga di kanan.
Bu Ambar berjalan di depan barisan, memeriksa penampilan anak buahnya satu per satu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ingat semuanya, jaga wibawa, kesopanan, dan keramah-tamahan tertinggi kalian yang sudah diajarkan selama ini. Jangan memalukan nama Butik Elegance."
"Baik, Bu," jawab para karyawan serempak.
"Butik kita akan menjadi tempat pertama yang akan dimasuki oleh rombongan Pak Ardan Arkatama," lanjut Bu Ambar dengan raut wajah yang tidak kalah tegang. "Sambut dengan senyum yang tulus, dan jangan bicara jika tidak perlu. Tetap tundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat saat beliau berjalan masuk, baru tegakkan kepala dan beri senyuman saat beliau berhenti. Paham?"
"Paham, Bu."
"Bagus. Mall ini dikosongkan setengah hari untuk kunjungan hari ini, jadi kalian semua hanya fokus pada tamu penting kita ini saja. Jangan ada yang bermain ponsel atau saling berbisik!" peringat Bu Ambar dengan tatapan tajam yang sempat tertuju pada Saskia. Saskia hanya bisa tersenyum kaku dan langsung berdiri tegap.
Suasana di dalam butik mendadak menjadi sangat sunyi. Detik jam dinding terdengar begitu kentara, memompa rasa gugup di dada setiap orang yang ada di sana. Kiana meremas jemarinya di balik punggung. Entah kenapa, firasatnya mendadak merasa tidak tenang sejak nama Ardan Arkatama terus-menerus digaungkan sejak pagi.
Tak lama kemudian, rombongan itu hadir.
Suasana koridor luar yang tadinya sepi, mendadak dipenuhi oleh suara langkah kaki yang beritme mantap. Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang diyakini sebagai tim pengaman, berjalan lebih dulu di depan pintu butik, memastikan keadaan aman.
Kemudian, sosok utama yang dinanti-nantikan pun melangkah masuk melewati pintu kaca Butik Elegance.
Ardan Arkatama, dengan setelan jas abu-abu lengkap dengan dasinya yang senada, memasuki Butik Elegance dengan langkah yang penuh wibawa. Postur tubuhnya yang tinggi tegap setinggi 185 sentimeter membuat atmosfer di dalam butik seketika terasa mendominasi dan mengintimidasi. Wajahnya yang tampan dengan pahatan rahang yang tegas tampak begitu dingin, tanpa ekspresi, memancarkan aura seorang penguasa mutlak yang tidak tersentuh.
Di belakangnya, mengekor Bimo yang membawa tablet kerja, bersama dengan beberapa direktur operasional mall yang tampak berjalan dengan tubuh sedikit membungkuk penuh hormat.
Sesuai instruksi, semuanya menunduk menyambut kedatangan sang pemilik baru.
"Selamat datang di Butik Elegance, Pak Ardan," ucap Bu Ambar memimpin dengan nada suara yang sangat sopan.
Ardan menghentikan langkah kakinya tepat di tengah-tengah barisan para pelayan butik. Dia hanya bergumam pelan sebagai respons, matanya yang tajam bak elang menyapu interior butik dengan pandangan menilai yang dingin.
Saat rombongan berhenti, para pelayan butik mulai mendongakkan kepala mereka kembali secara perlahan. Saat mendongak untuk memberi senyuman teramahnya, Kiana menarik napas dalam-dalam, bersiap mengulas senyum profesional sesuai SOP yang diajarkan.
Namun, begitu pandangannya terangkat penuh dan menangkap sosok pria berjas abu-abu di depannya, seluruh pasokan udara di paru-paru Kiana seolah disedot habis. Senyuman yang baru saja hendak terukir di bibirnya seketika membeku.
Jantung Kiana berdegup gila-gilaan, rasanya seperti mau melompat keluar dari rongga dadanya. Matanya membelalak sempurna dengan tubuh yang mendadak kaku bak batu.
Tamu penting ini... pria yang diagung-agungkan sebagai penguasa Royal Plaza ini... adalah pria yang sama yang bersamanya beberapa hari lalu! Pria yang menyelamatkannya di jembatan, pria yang menyetubuhinya di dalam mobil, dan pria yang melempar amplop uang sepuluh juta sambil mencapnya sebagai wanita pemburu harta.
Kiana gemetar hebat di tempatnya berdiri. Tatapan mereka bertemu.
Ardan, yang awalnya hanya berniat melakukan inspeksi formalitas tanpa minat, mendadak menghentikan pergerakan matanya tepat saat netranya menangkap sosok gadis di barisan sebelah kanan. Sepasang mata indah yang malam itu menangis di bawah kungkungan tubuhnya kini sedang menatapnya dengan pandangan penuh syok dan ketakutan yang nyata.
Ardan terpaku di posisinya. Alis tebalnya sedikit berkedut, terkejut mendapati fakta bahwa dunia ternyata sesempit ini. Gadis yang memenuhi pikirannya selama beberapa hari terakhir, gadis yang meninggalkan aroma manis di jas hitam di kamarnya, kini berdiri di hadapannya dengan seragam pelayan butik.
Aura dingin di sekitar Ardan mendadak semakin pekat. Tatapan mereka saling mengunci di tengah keheningan butik yang mencekam, menciptakan ketegangan tak kasat mata yang membuat Saskia dan Bimo yang menyadarinya langsung mengerutkan dahi bingung.