NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 4: Rahasia di Balik Surat Ketiga*

Senin itu hujan turun lebih deras dari biasanya.

Alya datang ke kafe dengan hoodie basah dan rambut setengah basah, tapi matanya lebih terang dari minggu-minggu lalu.

Sejak mulai tukar surat dengan Revan, ia tidur lebih nyenyak.

Bahkan file novel _Senja yang Tertunda_ yang udah tiga bulan nggak disentuh, sekarang udah 12 halaman.

Ia langsung lirik meja 7 waktu masuk.

Kosong.

Alya taruh tasnya, tarik napas.

“Gapapa. Nggak harus tiap minggu juga.”

Tapi pas jam 10 pagi, pas lagi nyapu lantai, amplop cokelat itu muncul lagi.

Letaknya agak miring, kayak ditaruh buru-buru.

Alya buka. Tulisan tangannya masih sama. Tapi isinya… beda.

> _Kepada Alya Maharani,

> Jakarta bukan tempat yang bisa kamu tinggalkan dengan satu koper dan satu malam kereta.

> Beberapa hal ikut kamu sampai ke Jogja.

> Hati-hati, halaman kosong juga bisa robek kalau kamu nggak hati-hati dalam menulisnya._

Tangan Alya berhenti.

Darahnya dingin.

Nggak ada yang tahu nama lengkapnya di Jogja.

Nggak ada yang tahu kenapa ia kabur dari Jakarta.

Dan kalimat terakhir itu… persis yang dibilang editornya malam sebelum ia pergi.

“Revan!”

Suara Alya nggak sengaja meninggi.

Revan keluar dari dapur, kaget. “Ada apa?”

Alya lempar surat itu ke meja.

“Ini bukan buat Rani. Ini buat aku. Dan kamu tahu sesuatu tentang aku yang nggak seharusnya kamu tahu.”

Revan baca surat itu. Wajahnya berubah.

“Alya, bukan aku yang nulis ini.”

“Terus siapa?” Alya hampir teriak.

“Kamu bilang cuma kamu yang naruh surat di meja 7 selama tiga tahun!”

“Itu bener. Tapi surat ini… nggak.”

Revan menunjuk tulisan di sudut bawah, kecil banget. Hampir nggak kelihatan.

Angka “3”.

Alya nggak ngerti. “Angka 3 apa?”

“Penulisnya ganti,” kata Revan pelan.

“Tiga tahun ini cuma ada angka 1. Minggu lalu, waktu kamu bales surat aku, angka 2 muncul. Sekarang angka 3.”

Ada orang lain yang ikut main di meja 7.

---

Sore itu kafe tutup lebih cepat.

Revan nggak bisa fokus.

Alya juga nggak bisa kerja. Keduanya duduk di meja 7, diem, ngeliatin amplop itu kayak bom waktu.

“Aku nggak pernah cerita apa-apa tentang Jakarta ke siapa-siapa,” kata Alya akhirnya.

“Naskah aku ditolak 47 kali. Editor terakhir bilang, ‘Kamu nulis bagus, tapi kamu nggak jujur sama luka kamu sendiri.’

"Aku marah. Aku kabur.”

Revan menatapnya. “Kenapa nggak jujur?”

“Karena jujur itu sakit, Revan,” jawab Alya pelan.

“Dan kalau aku jujur, orang bakal tahu… aku nulis novel itu buat adik aku yang meninggal waktu aku 17 tahun.”

Ruangan jadi sunyi.

Revan nggak bilang ‘aku juga’.

Ia nggak bikin perbandingan. Ia cuma ngangguk.

“Kalau orang ketiga ini tahu tentang adik kamu… berarti dia kenal kamu dari Jakarta,” kata Revan.

“Atau dia kenal aku.”

Alya mengangkat kepala. “Maksud kamu?”

Revan diem sebentar.

Terus ia buka laci di bawah kasir.

Di dalamnya ada tumpukan surat lama, semuanya dengan angka “1” di sudut.

Dan satu amplop cokelat lagi. Belum dibuka. Dengan angka “4”.

“Surat-surat ini nggak pernah datang sendiri, Alya,” kata Revan pelan.

“Ada seseorang yang ngawasin kita. Dan kayaknya, orang itu nggak senang kamu mulai nulis lagi.”

---

Malam itu, Alya pulang dengan satu pertanyaan di kepala:

Kalau bukan Revan, siapa yang tahu semua ini?

Dan yang lebih menakutkan—

Apa tujuan orang itu?

---

*[Bersambung: Bab 5 – Orang di Balik Meja 7]*

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!