NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Eunbi

Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Terakhir

Matahari hampir sepenuhnya tenggelam, menyisakan sisa cahaya kemerahan yang samar di ufuk barat, namun di dalam gudang tua yang pengap dan gelap itu, suasana terasa jauh lebih gelap dan mencekam. Hyeri terbangun dengan rasa sakit di kepalanya, pandangannya masih kabur, namun perlahan ia sadar akan situasi mengerikan yang sedang ia hadapi. Tangan dan kakinya terikat kuat pada kursi kayu yang keras, mulutnya disumpal kain kasar sehingga ia tak bisa berteriak. Di hadapannya, Jung Sooah berdiri tegak, memutar-mutar pisau kecil berkilau di tangannya dengan gerakan santai namun menakutkan.

Wajah Sooah tampak berbeda. Tidak ada lagi jejak kelembutan atau keraguan. Matanya yang indah kini memancarkan kegilaan yang dingin, senyum di bibirnya terasa bengkok dan tidak wajar. Ia berjalan perlahan mengelilingi Hyeri, seolah sedang menikmati ketakutan wanita itu.

"Kau tahu, Hyeri... dulu aku pernah berpikir mungkin aku bisa memaafkanmu," gumam Sooah pelan, suaranya menggema di dinding gudang yang kosong. "Aku pikir kau hanya wanita biasa yang tidak tahu apa-apa. Tapi ternyata kau sangat pandai, ya? Kau mencuri hatinya, membuatnya melupakan semua janji masa lalu... kau membuatku terlihat seperti orang bodoh yang hanya hidup di kenangan."

Sooah berhenti tepat di depan Hyeri, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Ujung pisau dingin itu menyentuh pelan pipi Hyeri, menelusuri garis rahangnya. Hyeri menahan napas, matanya menatap tajam ke arah Sooah, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak akan takut, meski hatinya berdebar kencang karena bahaya yang mengancam nyawanya.

"Tapi tidak apa-apa," sambung Sooah sambil menarik pisau itu menjauh, tertawa kecil. "Sebentar lagi semuanya akan selesai. Heesung sedang dalam perjalanan ke sini. Dia datang... persis seperti yang aku inginkan. Dia meninggalkan segalanya, meninggalkan kariernya, meninggalkan dunianya, hanya demi menyelamatkanmu. Lihatlah... betapa beruntungnya kau sampai detik terakhir ini."

Di luar gudang, suara deru mesin mobil yang melaju kencang terdengar memecah kesunyian senja. Mobil Heesung berhenti mendadak, ban berdecit keras di atas kerikil. Pintu terbuka dibanting, dan Heesung berlari masuk ke dalam gudang itu tanpa ragu sedikit pun, napasnya tersengal, wajahnya pucat pasi karena ketakutan.

"Heesung...!" bisik Hyeri pelan di balik sumbatan kain, air mata bahagia dan cemas mulai menggenang di matanya. Ia lega melihat suaminya datang, namun di saat yang sama rasa takutnya berlipat ganda. Ia tahu Sooah tidak akan membiarkan Heesung pergi begitu saja, dan kehadiran Heesung di sini justru menempatkannya dalam bahaya yang sama besarnya.

Heesung berhenti melangkah saat melihat pemandangan di depannya. Ia melihat Hyeri terikat, wajahnya pucat dan ketakutan. Ia melihat Sooah berdiri di sampingnya dengan pisau di tangan. Dan ia melihat sejumlah orang bertopeng—anak buah sewaan Sooah—berdiri mengelilingi ruangan, memblokir semua jalan keluar.

"Sooah!" seru Heesung dengan suara parau dan marah, matanya membara menatap wanita yang dulu pernah ia cintai itu. "Lepaskan dia! Apa pun yang kau inginkan, ambillah dariku! Jangan libatkan dia dalam semua kegilaanmu ini!"

Sooah tertawa renyah, tawa yang terdengar hampa dan menyakitkan. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur sedikit, lalu ia berjalan mendekat ke arah Heesung.

"Akhirnya kau datang juga," ucap Sooah lembut, menatap wajah Heesung lekat-lekat seolah sedang memandang barang berharga. "Kau pikir apa yang aku inginkan? Uang? Kekuasaan? Semua itu aku punya, Heesung. Aku hanya menginginkan satu hal... kau. Hanya kau."

Sooah mengangkat pisau itu, menunjuk ke arah Hyeri yang terikat di kursi.

"Tapi wanita ini... dia menjadi penghalang. Dia mengubahmu. Dulu kau akan melakukan apa saja demi kami, demi cinta kita. Tapi sekarang? Kau berani menentangku, kau berani membenciku, semuanya karena dia. Dia harus hilang, Heesung. Hanya dengan begitu, kita bisa kembali seperti dulu lagi."

Heesung menggeleng kuat, matanya berkaca-kaca menahan emosi yang meluap. Ia melangkah maju perlahan, berusaha mendekat sambil tetap tenang agar Sooah tidak bertindak nekat.

"Kita tidak bisa kembali ke masa lalu, Sooah! Itu sudah berlalu, sudah mati! Wanita yang berdiri di depanku sekarang bukanlah Sooah yang aku cintai dulu! Wanita itu lembut, baik hati, dan penuh kasih sayang... bukan wanita gila yang mau membunuh orang demi keinginan sendiri seperti ini!"

Kata-kata itu menusuk tepat ke jantung Sooah. Wajahnya berubah merah padam karena amarah, matanya melotot penuh kemarahan yang tak terperi.

"Gila?!" teriak Sooah meledak. "Aku jadi seperti ini karena kamu, Heesung! Karena kamu meninggalkanku! Karena kamu lebih memilih karier dan wanita asing itu dibandingkan cinta kita yang bertahun-tahun lamanya! Aku rela melakukan apa saja demi kamu, aku rela menunggu, aku rela menanggung sakit... dan ini balasannya?!"

Sooah tiba-tiba berbalik, menarik rambut Hyeri hingga wanita itu mendesah kesakitan, lalu menempelkan ujung pisau itu tepat di leher Hyeri. Darah segar sedikit mengalir keluar karena goresan tajam itu.

"Jangan!" teriak Heesung histeris, berusaha menerobos, namun ditahan kuat oleh anak buah Sooah. "Sooah, kumohon! Jangan sakiti dia! Aku mohon... apa pun yang kau mau, aku lakukan! Aku akan pergi bersamamu, aku akan melupakan semuanya, asalkan kau lepaskan dia dengan selamat!"

Hyeri menggeleng keras, air matanya mengalir deras. Ia berusaha berteriak memberitahu Heesung agar tidak menuruti kemauan wanita itu, tapi suaranya tertahan.

Sooah tersenyum lebar, senyum kemenangan yang mengerikan. Ia melihat ketakutan di wajah Heesung, melihat betapa besarnya arti Hyeri bagi pria itu, dan rasa cemburu serta sakit hatinya semakin membakar dirinya.

"Terlambat, Heesung," bisik Sooah dingin. "Aku sudah bilang... jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang boleh. Aku sudah merencanakan ini semua dengan matang. Hari ini, di gudang ini... semuanya akan berakhir. Dia akan mati... dan kau akan mati bersamanya. Kita akan bersama selamanya di dunia lain, persis seperti yang aku inginkan."

Jantung Heesung serasa berhenti berdetak. Ia sadar Sooah sudah benar-benar gila dan tidak ada lagi jalan keluar lewat kata-kata. Wanita itu berniat membunuh mereka berdua.

"Kau gila... kau benar-benar gila..." gumam Heesung dengan napas tersengal, matanya menatap Hyeri yang menatapnya dengan tatapan perpisahan.

"Tidak, aku hanya mencintaiku terlalu banyak," jawab Sooah tenang. Ia mengangkat tangan bebasnya, memberi isyarat pada salah satu anak buahnya untuk menyalakan sesuatu. Di sudut ruangan, terlihat kaleng-kaleng bensin yang berserakan, dan bau menyengat sudah memenuhi udara. Sooah berniat membakar gudang ini sampai rata dengan tanah, menghancurkan segala bukti, dan membawa mereka bertiga mati bersama.

"Tidak!" teriak Heesung. Dengan kekuatan yang luar biasa, didorong oleh rasa takut kehilangan Hyeri, Heesung memberontak sekuat tenaga. Ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman dua orang yang menahannya, menendang dan memukul mereka hingga jatuh, lalu berlari secepat kilat ke arah Hyeri.

"Jangan mendekat!" teriak Sooah panik, kembali menempelkan pisau itu lebih kuat ke leher Hyeri. "Sekali kau melangkah lagi, aku tikam dia sekarang juga!"

Langkah Heesung terhenti. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia menatap mata Hyeri, dan di detik itu, ia melihat wanita itu mengangguk pelan, memberi isyarat padanya. Hyeri tidak takut mati, dia hanya takut Heesung yang terluka. Hyeri menggerakkan bibirnya, membentuk kata yang bisa dibaca Heesung: Lawan dia.

Di detik yang sama, Hyeri mengerahkan sisa tenaganya, mengangkat kakinya yang terikat namun masih bisa bergerak sedikit, dan menendang perut Sooah sekuat tenaga.

"Argh!" Sooah terhuyung ke belakang, kaget dan kesakitan. Pisau di tangannya terlepas sedikit.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Heesung. Ia melompat ke depan, menubruk Sooah hingga wanita itu jatuh ke lantai. Pisau itu terlempar jauh.

"Lari, Hyeri! Lari sekarang!" teriak Heesung sambil menahan Sooah yang meronta-ronta liar, berusaha meraih benda tajam apa pun di dekatnya.

Namun anak buah Sooah yang lain kembali bangkit dan menyerang. Heesung harus bertarung sendirian melawan mereka semua demi melindungi istrinya. Ia dipukul, ditendang, namun ia tidak pernah mundur selang pun, terus berusaha menghalangi mereka agar tidak mendekat ke arah Hyeri.

Hyeri yang tangan dan kakinya masih terikat, berusaha menggulingkan kursinya hingga jatuh ke samping, lalu bergeser perlahan mendekati pisau yang terlempar itu. Dengan susah payah, menggunakan siku dan gerakan tubuhnya, ia berusaha memotong tali yang mengikatnya. Darah mengalir di kulitnya yang tergores tali kasar, tapi ia tidak peduli. Satu-satunya pikirannya adalah: selamatkan Heesung.

Di tengah kekacauan itu, Sooah berhasil bangkit kembali. Wajahnya berdarah, rambutnya berantakan, matanya melotot penuh dendam yang murni. Ia meraih sebotol bensin di dekatnya, lalu berjalan terhuyung ke arah tumpukan kayu kering dan bahan mudah terbakar yang ada di tengah ruangan.

"Kalau begitu, kita semua mati saja!" teriak Sooah histeris. Ia menyambar korek api dari sakunya, siap menyulut api yang akan membakar semuanya.

"JANGAN!" teriak Heesung yang sedang terjepit oleh dua orang pria kekar. Ia tak bisa bergerak bebas. Ia melihat nyawa mereka berdua akan berakhir dalam sekejap mata.

Namun, tepat saat Sooah hendak menyalakan api, sebuah suara keras terdengar, disusul derap langkah kaki banyak orang yang masuk menyerbu ke dalam gudang.

"BERHENTI! POLISI!"

Pintu gudang didobrak terbuka. Lampu sorot yang terang menyilaukan mata semua orang. Puluhan petugas kepolisian bersenjata lengkap masuk, diikuti manajer Heesung dan tim hukum yang sudah lama mereka tunggu bantuannya. Ternyata, sebelum berangkat, Heesung sempat meninggalkan pesan singkat dan lokasi pada manajernya, meminta mereka membawa bantuan sesegera mungkin jika ia tidak menghubungi kembali dalam waktu tertentu.

Anak buah Sooah langsung berhenti bergerak, menyerah saat senjata polisi diarahkan ke mereka. Sooah sendiri terdiam kaku, korek api masih ada di tangannya, namun harapannya sudah musnah. Ia dikepung, ia kalah, dan semua rencananya hancur lebur di depan mata.

Heesung langsung berlari ke arah Hyeri, memotong tali pengikat di tubuhnya dengan tangan gemetar, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang erat, sangat erat seolah takut ia akan hilang lagi. Mereka berdua berlutut di lantai yang kotor itu, saling berpelukan, menangis karena rasa lega yang luar biasa.

"Aku pikir... aku pikir aku kehilanganmu..." isak Heesung, mencium kepala dan wajah istrinya berulang kali. "Maafkan aku... semua ini terjadi karenaku... maafkan aku, Hyeri..."

Hyeri memeluk leher suaminya kuat-kuat, menggeleng di bahu pria itu. "Kita selamat, Heesung... kita selamat... semuanya sudah berakhir sekarang..."

Di sisi lain ruangan, Jung Sooah berdiri diam, dikelilingi petugas yang bersiap memborgol tangannya. Ia tidak melawan lagi. Semangatnya yang dulu membara kini padam sepenuhnya. Ia menatap Heesung dan Hyeri yang saling berpelukan dengan tatapan kosong, hancur, dan akhirnya... pasrah.

Saat petugas menariknya pergi, Sooah berbisik pelan, cukup terdengar oleh Heesung: "Aku kalah... bukan karena aku kurang berusaha... tapi karena cintaku hanya untuk diriku sendiri... sedangkan cintanya... dia mencintaimu sampai rela mati demi kamu..."

Itu kata terakhirnya. Sooah dibawa pergi, dikawal keluar dari gudang itu, menuju masa depan penjara yang panjang, membayar semua kejahatan dan kegilaan yang telah ia lakukan.

Malam itu, di bawah langit malam yang kembali tenang dan bersih dari awan gelap, Heesung dan Hyeri berdiri di halaman rumah mereka yang aman. Luka-luka di tubuh mereka belum sembuh, rasa takut masih membekas, namun di hati mereka ada rasa damai yang sejati.

Heesung memegang tangan Hyeri, menatap cincin kawin di jari wanita itu, lalu menatap matanya lekat-lekat.

"Rencana awal kita adalah bercerai setelah kontrak selesai, ingat?" ucap Heesung pelan dengan senyum tipis namun penuh arti.

Hyeri tersenyum balik, mengangguk. "Aku ingat. Tapi rencana itu berubah, kan?"

"Ya," jawab Heesung mantap. Ia mengangkat tangan Hyeri dan mengecup punggungnya dengan penuh kasih sayang. "Rencana itu berubah menjadi selamanya. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi peran pura-pura, tidak ada lagi masa lalu yang mengganggu. Hanya ada kau dan aku, Hyeri. Sampai kapan pun."

Hyeri menyandarkan kepalanya di dada suaminya, mendengarkan detak jantung yang dulu sempat terbelah, namun kini berdetak hanya untuknya seorang.

"Sampai kapan pun, Heesung," jawab Hyeri lirih namun tegas.

Cinta yang bermula dari sebuah perjanjian kertas, yang diuji oleh masa lalu, fitnah, bahaya, dan kematian... akhirnya tumbuh menjadi cinta yang paling kuat, paling murni, dan paling abadi.

Dan di sanalah kisah mereka berdua berlanjut—tidak lagi sebagai idola dan istri kontrak, melainkan sebagai dua manusia biasa yang saling mencintai, saling melengkapi, dan siap menghadapi apa pun bersama-sama, sampai akhir waktu.

1
HAN EUNBI
🤭 menarik banget💪 tingkatkan
VOYAGE LEUER: 🤭terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!