Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Murid Baru
Satu malam berlalu. Keesokan paginya, Ge masih bergelut dengan gulingnya saat waktu sudah menunjukkan jam tujuh.
“GE!” Suara Marni memanggil dari luar.
Tidak ada jawaban.
“GE!”
Masih tidak ada jawaban. Marni berdiri di depan pintu kamar Ge dengan wajah kesal. “Ini anak kalau tidur kayak orang mati,” gerutunya.
Marni membuka pintu kamar. Ge masih tidur tengkurap dengan posisi aneh. Satu kaki menggantung dari kasur, selimut entah ke mana.
Marni melipat tangan. “GE!”
Ge menggumam pelan. “Hmm… lima menit lagi…”
Marni mengambil gelas air di meja. “Lu yang minta.”
BYURR!
Air satu gelas langsung disiramkan ke wajah Ge.
“BANJIRRRR!!!” Ge langsung bangun sambil teriak. Dia duduk dengan rambut basah dan mata melotot.
Marni berdiri santai di depan kasur. “Bangun!"
Ge mengusap wajahnya. “Mak… itu air apa bensin?!”
“Air minum.”
Ge melihat bajunya yang basah. “Mak… manusia bangun itu pakai alarm, bukan tsunami!”
Marni sudah keluar kamar. “Cepat siap-siap ke sekolah!”
Ge langsung melirik jam. “ANJIR!”
Dia meloncat dari kasur. “Kenapa nggak bangunin dari tadi?!”
Marni menjawab dari dapur. “Udah tiga kali Mamak bangunin lu! Lu aja tidurnya kayak kebo!"
Ge langsung mandi super cepat. Lima menit kemudian dia keluar dengan rambut masih basah.
“Mak! Mana nasi?!” tanya Ge.
“Di meja!” jawab Marni.
Ge langsung makan sambil berdiri. Satu suapan, dua suapan, tiga suapan.
“Udah!”
Marni menatapnya. “Lu makan apa nyicip?”
“Biarin! Udah telat!” Dia langsung mengambil helm dan tak lupa salim sama Mamaknya.
“Pergi ya, Mak! Doain biar aku makin kreatif!" kata Ge.
“Iya. Pelan-pelan bawa motornya!” sahut Marni
Ge sudah keluar rumah. Motor tuanya meraung di jalan.
BRRAAAAAK!
Ge melaju di antara kendaraan. “Gas sedikit… gas sedikit…”
Dia melihat jam di ponselnya yang ditempel di stang. “Masih aman.”
Beberapa menit kemudian, gerbang sekolah sudah terlihat. Ge langsung memperlambat motor. Dia berhenti di parkiran. Menarik napas lega. “Wih… nggak telat.”
Ge turun dari motor dengan gaya santai. Namun saat masuk kelas, keadaan tampak heboh dari biasanya.
Bimo langsung melambai. “WOY GE!”
Ge duduk di bangkunya. “Ada apa ribut-ribut?”
Taufik menyenggol bahunya. “Lu telat sih! Cewek kemarin yang lu lihat!"
Ge mengerutkan kening. “Kenapa dia?”
Bimo menunjuk ke depan kelas. “Liat tuh!"
Ge menoleh. Di depan kelas berdiri seorang gadis cantik. Rambutnya panjang hitam. Kulitnya cerah. Matanya tajam tapi lembut.
Guru wali kelas berdiri di sampingnya. “Anak-anak, ini murid baru di kelas kita.”
Seluruh kelas langsung memperhatikan.
“Namanya Kanaya.”
Gadis itu tersenyum kecil. “Panggil aja Naya.”
Beberapa cowok langsung berbisik.
“Cantik banget.”
“Anjir kelas kita jackpot.”
Ge bersandar di kursinya. “Lumayan," komentarnya.
Bimo langsung menatapnya. “LUMAYAN?!”
Taufik juga melotot. “Lu buta?”
Ge menyeringai. “Bukan buta. Gue realistis.”
Guru menunjuk bangku kosong di tengah kelas. “Naya, silakan duduk di sana.”
Naya berjalan ke tempat duduknya. Beberapa cowok langsung merapikan rambut. Ada yang pura-pura baca buku.nAda yang pura-pura tak peduli.
Ge hanya melihat santai. Begitu Naya lewat dekat bangkunya, dia langsung bicara.
“Eh!" tegurnya.
Naya berhenti. Dia menoleh. “Iya?”
Ge tersenyum santai. “Lu percaya cinta pada pandangan pertama nggak?”
Seluruh barisan belakang langsung menahan tawa.
Naya mengangkat alis. “Kenapa?”
Ge menunjuk matanya sendiri. “Soalnya gue baru aja ngalamin.”
Bimo langsung menepuk meja.
“WOOO!”
Taufik ikut tertawa.
Naya menatap Ge beberapa detik. Lalu berkata datar, “Lu sering ngomong gitu ke orang baru ya?”
Ge menggeleng. “Enggak.”
“Serius?”
“Biasanya langsung gue ajak nikah.”
Kelas langsung meledak.
“ANJIR GE!”
Bimo hampir jatuh dari kursi.
Naya menatap Ge lagi. Namun kali ini dia malah tersenyum kecil. Lalu berjalan ke bangkunya.
Bimo langsung memegang bahu Ge. “Lu emang selalu gila!"
Ge santai. “Latihan komunikasi.”
Taufik menyeringai. “Komunikasi apaan. Gombal itu!"
Sementara itu, hampir seluruh cowok di kelas diam-diam memperhatikan Naya. Ada yang langsung follow Instagramnya. Ada yang pura-pura minta catatan.
Dalam satu pagi saja, Naya sudah jadi topik utama sekolah. Namun di sudut lain kelas, Tantri duduk dengan gelisah. Sejak tadi dia tidak fokus.
Matanya beberapa kali melirik ke arah Ge. Jantungnya masih berdebar. Dia takut. Takut Ge akan menyebarkan rahasianya. Tentang rumahnya, tentang ayahnya yang miskin, dan juga tentang semua kebohongan yang selama ini dia bangun.
Namun yang membuatnya bingung, Ge terlihat santai. Dia tertawa bersama Bimo dan Taufik. Menggombal murid baru. Seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.
Tantri menggigit bibirnya. “Kenapa dia nggak bilang apa-apa?”
Dia semakin cemas. Namun satu hal yang Tantri tidak tahu, Ge bahkan tidak terpikir untuk menyebarkan cerita itu. Bagi Ge, itu bukan urusannya. Yang ada di kepala Ge sekarang cuma dua hal. Pertama, Naya yang cantik dan kedua, bagaimana caranya bolos pelajaran nanti tanpa ketahuan guru BK.