Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 8: Harga Sebuah Kebebasan
Aku menarik kursi kayu berdesain estetik yang sangat tidak ergonomis itu, lalu duduk di seberang Sari.
Sari sedang menatap layar iPad-nya dengan dahi berkerut, tapi begitu mendengarku duduk, ia langsung meletakkan benda itu dengan posisi layar telungkup. Fokusnya kini seratus persen tertuju padaku.
"Oke," kata Sari tanpa basa-basi pembukaan. "Kopi manismu udah siap. Tisu udah aku siapin di tengah meja kalau kamu butuh nangis. Sekarang, tumpahkan."
Aku menatap gelas caramel macchiato berembun di depanku. Aku meraih sedotannya, mengaduk campuran karamel tebal di dasar gelas, lalu menyedotnya pelan. Gula. Aku butuh banyak glukosa untuk memproses bahan bakar kewarasanku hari ini.
"Tisu nggak akan kepakai," kataku setelah menelan rasa manis yang sedikit membakar tenggorokan. "Aku udah nangis kemarin sore di kamar mandi, nyender di bathtub rusak."
Mata Sari sedikit melebar. Bagi seseorang yang mengenalku luar dalam, kalimat pengakuanku barusan adalah indikator merah yang menyala terang. Nara Kusuma tidak pernah menangis kecuali langit benar-benar runtuh.
"Ra... Ibumu ngomong apa sampai kamu nangis?" Suara Sari mendadak turun satu oktaf, kehilangan nada melengkingnya yang biasa.
Aku menghela napas. Menarik udara beraroma biji kopi panggang di kafe ini dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Aku menceritakan semuanya.
Tanpa filter. Tanpa berusaha memperhalus image ibuku seperti yang selalu kulakukan di masa lalu.
Aku menceritakan tentang percakapan di meja makan. Tentang tuntutan tiga juta per bulan yang jatuh tempo segera setelah aku menerima gaji pertama. Dan akhirnya, aku menceritakan tentang buku itu.
Buku catatan bersampul merah pudar dengan karet gelang kuning. Angka-angka yang ditulis dengan tinta hitam miring ke kanan. Daftar biaya hidup yang dirinci dari mulai biaya persalinan di bidan, harga kaleng susu formula saat aku masih bayi, sampai nominal uang obat demamku saat kelas tiga SD.
Selama aku bercerita, Sari tidak menyela sama sekali.
Ia hanya duduk mematung. Matanya menatapku lekat-lekat, rahangnya perlahan mengeras, dan tangan kanannya yang tadinya memegang gelas americano kini terkepal erat di atas meja.
Ketika aku selesai bercerita dan menutupnya dengan kalimat "Ibu bilang itu bukan utang, tapi kontribusi," keheningan total menyergap meja kami.
Sari menatapku selama sepuluh detik penuh. Otaknya yang biasanya memproses emosi secepat kilat, kali ini tampak mengalami error karena tidak sanggup menemukan kosakata yang cukup kuat untuk mendeskripsikan kekejian logis dari cerita barusan.
Lalu, Sari menarik napas panjang.
"Gila."
Satu kata itu meluncur tajam dari bibirnya.
"Ibumu bener-bener... gila." Sari mengusap wajahnya dengan kasar. "Maaf, Ra. Sumpah, maaf banget kalau aku kurang ajar ngomong gini soal ibumu. Tapi ini sinting! Siapa orang tua waras di dunia ini yang nyatet harga susu formula anaknya sendiri buat ditagih dua puluh dua tahun kemudian?!"
"Sar, kecilin suaramu," tegurku refleks, melirik ke arah meja sebelah yang jaraknya tidak terlalu jauh.
"Biarin aja orang dengar!" desis Sari, meski ia menurunkan volumenya sedikit. Matanya kini berkaca-kaca karena marah. "Ra, aku tahu ibumu kerja keras. Aku tahu dia banting tulang jualan baju di pasar dari subuh. Tapi ini udah nggak normal! Ini manipulasi mental level kriminal. Kamu itu anaknya, bukan nasabah KTA Bank!"
Aku menundukkan kepala, menatap pola serat kayu di meja. "Aku tahu."
"Terus kamu jawab apa waktu disodorin buku itu?"
"Aku bilang, 'Iya, Bu. Aku mengerti'."
Sari memejamkan mata dan mengerang frustrasi, memukul pelan meja kafe dengan kepalan tangannya. "Nara... kenapa kamu iyain?!"
"Terus aku harus jawab apa, Sar?" Aku mendongak, menatap matanya dengan rasa lelah yang akhirnya bocor keluar. "Aku harus teriak-teriak bilang aku nggak minta dilahirin? Aku harus banting piring dan bilang dia ibu yang pamrih? Kalau aku ngelakuin itu, aku cuma bakal ngasih dia amunisi baru buat ngerasa jadi korban. Dia bakal nangis, nyalahin Bapak, nyebut aku anak durhaka, dan atmosfer rumah bakal jadi neraka jahanam sampai berbulan-bulan."
Sari terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, menatapku dengan tatapan kasihan yang sangat kubenci, tapi saat ini sangat kubutuhkan.
"Lagi pula," lanjutku dengan suara parau. "Pengorbanan Ibu itu nyata, Sar. Dia emang beneran nggak makan daging demi beliin aku ayam goreng waktu SD. Dia emang beneran berdiri seharian di pasar pakai daster lusuh supaya aku bisa bayar uang pangkal kuliah. Uang itu beneran keluar dari keringatnya."
"Iya, pengorbanannya nyata," bantah Sari tegas. "Tapi cinta yang tulus itu nggak dikasih nota invoice, Ra. Kalau dia emang ikhlas, dia nggak akan nyimpen buku catatan merah itu di saku celemeknya nunggu kamu wisuda."
Aku terdiam.
Sebuah batu besar yang sedari semalam menekan dadaku mendadak terasa sedikit terangkat. Sari baru saja menyuarakan kalimat pembelaan yang selama ini selalu kutekan di dalam kepalaku sendiri. Ia marah untukku. Ia membela hakku.
Dan melihat ada orang lain yang memiliki reaksi emosional yang jauh lebih besar atas penderitaanku... entah bagaimana, itu memvalidasi kewarasanku. Aku tidak gila. Perasaanku valid. Ini memang tidak normal.
Sari menghela napas panjang, meredakan emosinya. Ia meraih gelas americano-nya dan meminumnya dengan tegukan besar.
"Oke," kata Sari, menaruh gelasnya dengan bunyi klak yang mantap. "Nangisnya udah. Marahnya udah. Sekarang kita bicara solusi."
Aku menaikkan sebelah alis. "Solusi?"
"Iya." Sari menatapku dengan tatapan yang sangat intens, tatapan yang jarang ia keluarkan kecuali saat sedang mengerjakan soal Ujian Nasional. "Ra, dengerin aku baik-baik. Kamu berhak pergi."
Aku membeku. "Pergi ke mana?"
"Keluar dari rumah itu. Keluar dari cuaca ibumu." Sari mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu nggak akan pernah bisa napas kalau kamu terus tinggal di bawah atap yang sama dengan orang yang setiap hari ngelihat kamu sebagai mesin ATM buat nutupin utang nyawanya. Kamu harus pergi, Ra. Cari kosan. Hidup mandiri."
"Itu butuh uang, Sar." Aku tertawa sinis. "Ibu minta tiga juta sebulan. Kalau aku dapat gaji UMR yang cuma empat jutaan, bayar Ibu tiga juta, sisa sejuta. Sejuta buat bayar kosan, transport, makan sebulan? Aku bisa mati kelaparan di jalan."
"Makanya," potong Sari cepat. Mata Sari kini berkilat penuh tekad. "Kita nggak akan nyari gaji UMR."
Aku mengerutkan dahi. "Terus cari gaji apa? Kita ini fresh graduate, Sar. Ijazah baru nebus dua hari yang lalu. Pengalaman kerja cuma magang abal-abal bikin kopi sama fotocopy dokumen. Siapa yang mau bayar kita di atas rata-rata?"
"Perusahaan yang butuh budak korporat bermental baja," jawab Sari mantap.