NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Malam Tanpa Beras

Bab 1: Malam Tanpa Beras

Jam dinding di dinding kamar yang retak menunjukkan pukul dua pagi. Di luar, angin malam Cirebon berhembus dingin menusuk tulang, membawa suara jangkrik yang kadang terdengar, kadang hilang ditelan hening. Tapi bagi saya, Rudini, rasa dingin di luar sana tidak sebanding dengan rasa dingin yang membeku di dalam dada saya. Bukan karena udara malam, tapi karena tangis Balqis yang tak kunjung henti.

Anak saya, Balqis, balita berusia dua tahun dengan mata bulat yang biasanya berbinar ceria, malam ini menangis pilu. Tangisnya bukan karena mimpi buruk, bukan karena digigit nyamuk, dan bukan karena ingin manja. Ia menangis karena lapar. Perut kecilnya keroncongan, suaranya lirih tapi terdengar begitu keras di telinga seorang ayah yang tak berdaya. Mulutnya mencari-cari puting ibu atau botol susu yang sudah kosong sejak sore tadi. Air matanya mengalir deras membasahi pipi mungilnya yang mulai pucat.

Saya, Rudini, ayahnya, hanya bisa terbaring lumpuh di atas kasur tipis yang sudah mulai tipis busanya. Tubuh saya terasa berat seperti dibebani batu gunung. Separuh badan saya, dari ujung kaki hingga tangan kiri, tidak bisa digerakkan sama sekali akibat serangan stroke yang menghantam hidup saya beberapa bulan lalu. Dulu, sebelum sakit ini datang, saya adalah pria yang kuat. Saya bisa mengangkat karung beras seberat 50 kilogram, bekerja seharian penuh di terik matahari tanpa mengeluh, dan pulang ke rumah dengan membawa uang dan beras untuk istri, ibu, dan anak-anak saya. Dulu, saya adalah pelindung keluarga.

Tapi sekarang? Sekarang, mengangkat gelas air minum saja saya kesulitan. Memegang sendok pun tangan saya gemetar tak terkendali. Rasa malu, sedih, dan putus asa sering kali menghantui saya di malam-malam sunyi seperti ini. Saya merasa menjadi beban bagi Ibu kandung saya yang sudah lansia dan janda, serta bagi istri saya yang harus berjuang sendirian.

"Ng... ng... Maem... Maem..." rintih Balqis parau. Suaranya serak karena terlalu lama menangis.

Dengan sisa tenaga yang ada, saya menoleh susah payah ke arah lemari dapur yang pintunya terbuka sedikit. Dari posisi tidur saya, saya bisa melihat kegelapan di dalamnya. Gelap. Kosong. Tidak ada bunyi gesekan kaleng beras yang biasa menenangkan. Tidak ada bau nasi hangat yang biasanya menyambut kepulangan saya dulu. Hanya ada debu yang beterbangan dan kehampaan yang menyiksa hati.

Rak-rak itu kosong melompong. Toples gula habis. Kaleng susu formula sudah lama dibersihkan sampai licin karena kami berharap ada sisa bubuk yang tertinggal, tapi nihil. Stok makanan di rumah kami benar-benar nol besar.

Di sebelah saya, terdengar suara napas berat. Itu Ibu, ibu kandung saya. Beliau tidur di atas tikar anyaman di lantai, karena kasur lainnya sudah harus saya tempati akibat kondisi stroke saya. Ibu sudah tua, rambutnya memutih semua, punggungnya bungkuk, dan beliau adalah seorang janda yang tidak memiliki penghasilan. Malam ini, beliau terlihat sangat lelah. Mungkin dalam tidurnya, beliau juga bermimpi tentang bagaimana caranya memberi makan cucunya besok pagi. Lelah melihat anaknya sakit dan lumpuh. Lelah melihat cucunya kelaparan. Lelah dengan kemiskinan yang seolah-olah tidak punya ujung dan terus membelit leher kami semakin erat.

"Sabar ya, Nak... Sabar ya, Balqis sayang," bisik saya parau, air mata panas mengalir deras di pipi kanan saya yang masih bisa bergerak. Air mata itu jatuh membasahi bantal yang sudah kusam. "Allah pasti kirim rezeki. Allah Maha Kaya. Ayah janji, besok... insya Allah besok kita makan. Besok Ayah usahakan."

Tapi jujur saja, janji itu terasa sangat pahit di lidah saya. Besok? Apa yang bisa saya lakukan besok kalau hari ini saja kami tidak punya satu rupiah pun di dompet? Stok popok (pempers) Balqis tinggal dua lembar lagi. Jika habis malam ini, apa yang akan kami pakai besok? Apakah harus menggunakan kain bekas yang mungkin membuatnya gatal? Obat stroke dan vitamin saya sudah habis tiga hari lalu. Badan saya terasa kaku dan nyeri, tapi saya tidak

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!