NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Rencana Makan Malam Yang Gagal

"Seenaknya kamu buang aku ke Divisi lapangan, Raka?"

Suara Ningsih melengking dari seberang. Sedikit mengganggu gendang telingaku. Ku lirik arloji di pergelangan tangan, pukul 13.00 WIB. Kebetulan sekali aku baru selesai meeting bersama klien kantorku. Aku memainkan hari di kantong celana kerjaku. Urusan Ningsih cukup menguras energi.

"Tolong mengerti aku Ningsih, aku masih berbaik hati membiarkanmu bekerja di perusahaanku. Soal kompensasi kehamilanmu sudah aku minta Dimas yang atur. Setiap bulan akan aku tranfer ke rekeningmu sampai anak itu lahir."

Ningsih tertawa meledek.

"Kamu pikir ini hanya soal uang? Kamu mengukur harga diriku pakai uang, Raka?"

"Terus, apa maumu?"

Aku benar-benar seperti lelucon. Aku tahu yang diinginkan Ningsih adalah aku. Tapi itu sesuatu yang tak akan pernah terjadi.

"Aku mau kamu, aku mau tubuhmu!"

"Jangan kelewatan, Ningsih!"

"Bukan aku yang keterlaluan, Raka. Tapi kamu yang manipulatif. Selama tiga tahun aku kamu beri janji-janji manis. Tapi ujungnya kamu buang aku begitu saja. Sehina itukah aku, Raka?"

"Ningsih, kita memang dari awal tahu, kalau antara aku dan kamu sangat kecil kemungkinan bersama. Sekarang aku sudah memiliki kehidupan baru, tolong hargai keputusanku."

Ningsih tertawa, antara getir dan marah.

"Hargai, Raka? Setelah aku benar-benar cinta mati padamu, kamu pergi begitu saja? Aku nggak bisa, Raka."

Ningsih mulai merengek. Kutarik napas perlahan, mencoba mencari ketenangan sejenak. Tanpa drama, tanpa Ningsih.

"Raka, aku bicara. Jangan buat aku tersiksa seperti ini!"

Raungan suara di seberang membuatku tambah gila.

"Semakin kamu seperti ini, aku semakin muak melihatnu, Ningsih!" Suaraku bergetar. Aku benar-benar bisa gila menghadapi Ningsih.

"Apa kelebihan wanita itu dari pada aku, Raka?"

"Dia lebih segala-galanya. Dan yang terpenting dia lebih waras daripada kamu, Ningsih!"

Ningsih tertawa. Beberapa detik kemudian menangis. Lama-lama aku ikutan gayanya yang tidak masuk akal.

"Aku tidak akan menyerah, Raka. Aku yakin suatu saat kamu akan mengingat kembali tiga tahun kita yang lalu."

"Jangan gila Ningsih, aku sudah beristri!"

"Sebelum kamu memperistrinya apakah kamu pernah berpikir sedikit saja tentang aku, Raka?"

Suara Ningsih kembali terisak. Aku semakin frustasi menghadapinya.

"Aku tunggu di apartemenku, Raka. Mana tahu ini hari terakhir kita bertemu."

Setelah itu sambungan teleponku dengan Ningsih terputus. Perempuan ini benar-benar menguji kesabaranku. Apalagi yang akan ia perbuat.

"Bangsat!"

Aku meninju meja di depanku. Ningsih sudah keterlaluan.

Maaf Raka, terimakasih sudah menjadi bahagian dari ceritaku tiga tahun ini. Aku memang bukan wanita terbaik seperti impian orang tuamu. Salam sayang dari aku, Ningsih.

Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Ningsih. Membuat nadiku semakin mengalir lebih cepat.

"Pak, Raka! Maaf, aku baru dpat telepon dari asisten nona Ningsih. Katanya dia bunuh diri di dalam kamar."

Plak!! Tamparan sakti. Ia benar-benar membuktikan ucapannya. Tanpa menunggu aba-aba lagi aku menyambar ponsel dan segera berlari ke luar ruangan bersama Dimas.

Kebetulan sekali apartemennya tak berada jauh dari kantor aku meeting. Lima menit perjalanan kami sampai. Aku dan Dimas tergesa menaiki lift menuju lantai apartemennya.

Ketika sampai dipintu apartment, asisten pribadinya menyambut kami.

"Nona didalam pak, aku sudah panik!"

Aku langsung berlari ke kamar Ningsih. Di atas kasurnya darah sudah mengucur deras dari jadi pergelangan tangannya. Dan ia, masih sempa-sempatnya tersenyum kepadaku.

"Aku tahu Raka, kamu pasti akan datang,"

Iq tersenyum licik, lalu pingsan tak sadarkan diri

Aku dan Dimas bergegas mengangkatnya. Dimas ikutan panik, sampai bingung harus mengapa.

"Siapkan mobil dibawah Dimas, Rena kamu cari kain dulu buat melilit pergelangan tangannya."

Aku benar-benar panik, Ningsih melangkah sejauh ini.

Aku langsung membohongi tubuhnya keluar dari apartemen, di parkiran Dimas sudah menunggu. Rena juga aku ajak ikut serta bersama kami. Beberapa kali ponselku berdering tak lagi aku hiraukan karna panik.

Beberapa menit kami sampai di rumah sakit Fatimah. Aku membopongi tubuh Ningsih ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan secepatnya.

"Pak ponsel bapak berdering dari tadi, mana tahu Bu Laras yang telpon."

Aku tidak lagi waras oleh masalah yang bertubi-tubi ini. Hampir gila bahkan setengah gila, sudah tiga jam Ningsih di dalam ruangan, tapi tak juga kunjung ada kabar.

"Pak!" Dimas menyentuh bahuku, bersamaan dengan panggilan dokter yang menangani Dimas.

"Bapak suaminya pasien?" Dokter itu berjalan ke arahku.

Aku menggeleng.

"Aku rekan sejawatnya, dok. Bagaimana keadaan teman saya?"

Dokter separuh baya itu menatapku sejenak.

"Pasien kehilangan banyak darah. Tapi syukurnya cepat ditangani. Dia hanya butuh waktu untuk pemulihan."

Huft, akhirnya aku lega. Aku bisa bernafas dengan tenang, dan selanjutnya masalah baru akan datang. Oh Tuhan, sore ini aku sudah berjanji dengan Kania. Merencanakan surprise makan malam romantis untuk Laras.

Astaghfirullah, aku bisa-bisa melupakan.

Aku rogoh kantong celana, meraih ponselku.

20 panggilan tak terjawab dari Kania, lima kali panggilan dari Laras. Oh, Tuhan. Selesai satu, timbul satu lagi.

Abang kemana? Telepon Laras nggak dijawab?

Notif pesan dari Laras jam 14.00 WIB. Saat aku sedang paniknya mengantar Ningsih ke rumah sakit.

"Rena, tolong jagain Ningsih. Kalau ada apa-apa nanti kamu bisa hubungi Dimas."

Wanita di depanku itu hanya mengangguk, aku bergegas pergi meninggalkan rumah sakit. Ku lirik arloji sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB.

Aku berusaha menelpon Kania tapi ia tak kunjung mengangkat. Aku telpon Laras juga tidak menjawab. Mereka apakah sengaja, karena marah? Atau! Belum selesai semua pradugaku, sebuah chat masuk dari Kania.

Kania menyesal punya kakak seperti abang Raka.

Singkat, padat dan aku bingung apa maksudnya.

"Mau kemana pak?"

Dimas memecahkan kegalauanku. Pikiranku tak lagi di tempatnya.

"Ke kafe D'lux aja, Mas. Tempat makan malam yang kemarin kita pesan bersama Kania."

"Sebenarnya dari tadi nona Kania sudah menelpon saya, tapi saya nggak berani mengganggu Bapak."

Dimas berbicara terlalu hati-hati, atau lebih tepatnya takut.

Aku meremas jemariku. Mengigit bibir dan mengusap pelan-pelan kepalaku yang mulai nyatnyut.

"Bu Laras sudah bersama Kania. Sepertinya rencana Bapak untuk memberi kejutan gagal total."

"Sial!" Umpatku penuh amarah.

Beberapa menit akhirnya kami sampai dipelantaran kafe. Cuaca sudah mulai gelap, segelap hatiku yang sedang kalut.

Ketika memasuki kafe, aku sudah menemukan sosok Laras dan Kania di sudut ruangan. Aku berjalan dengan tergesa-gesa, aku harus menjelaskan semuanya terutama pada Kania.

Buar!! Segelas air jeruk membasahi seluruh muka dan sebagian baju kerjaku.

"Apa-apan kamu Kania?" Ujarku berang.

"Apa-apan kata abang," Kania begitu garang. Seharusnya aku yang marah karena disiram secara membabi buta.

"Ini apa?"

Suara bergetar, matanya membola. Kania untuk pertama kalinya semarah ini padaku. Ia menyodorkan sebuah foto di ponselnya.

Makjleb, foto saat aku menggendong Laras keluar dari kamarnya.

Ningsih menang, kerjasamanya cukup baik dengan Rena.

Aku masuk perangkapnya. Sial!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!