NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 : Diterima dengan baik

Langkah sepatu hak Ambar terdengar tegas menjauh. Suara itu menggema di lantai marmer, lalu perlahan menghilang di balik lorong. Udara yang tadi sempat hangat… kembali terasa kaku.

Kakek Sanjaya menghela napas pelan. Kepalanya sedikit menggeleng, nyaris tak terlihat.

“Ambar selalu saja begitu,” gumamnya lirih.

Arsen berdiri diam. Tatapannya sempat mengikuti arah kepergian ibunya, lalu kembali lurus ke depan. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak ada yang perlu dijelaskan. Namun rahangnya mengeras.

Nayra masih berdiri di tempatnya. Tangannya tanpa sadar meremas ringan bahu Alea. Ia mencoba tetap tegak, meski napasnya terasa lebih pendek dari sebelumnya.

Langkah kecil terdengar dari samping. Raya kini berdiri di sisi Nayra, sedikit di depan. Tidak banyak bicara, tapi posisinya jelas. Seperti tembok kecil yang berdiri di antara ibunya dan dunia di depannya.

Kakek Sanjaya memperhatikan itu. Tatapannya turun sedikit ke Raya, lalu kembali ke Nayra.

“Gadis ini...” katanya pelan, matanya mengarah pada Raya, “anakmu yang besar.”

Nayra mengangguk kecil. “Iya.”

Raya tidak menjawab. Ia hanya menatap balik, tanpa menunduk. Beberapa detik, lalu Kakek Sanjaya tersenyum tipis.

“Matanya tajam,” ucapnya ringan. “Seperti orang yang tidak mudah percaya.”

Raya mengangkat dagu sedikit. “Memang,” jawabnya singkat.

Nayra langsung menoleh. “Raya…”

Namun Kakek Sanjaya justru terkekeh pelan. “Tidak apa-apa,” katanya, tangannya terangkat sedikit, menahan. “Lebih baik begitu daripada terlalu mudah percaya.”

Kalimat itu membuat Raya sedikit terdiam. Di sisi lain, Alea yang sejak tadi diam, kembali mengintip dari balik lengan Nayra.

Ia melangkah satu langkah kecil ke depan. “Kakek…” panggilnya ragu.

Sanjaya langsung menoleh. “Ya?”

Alea menggenggam ujung bajunya sendiri, lalu menatap pria tua itu dengan mata bulat.

“Kakek capek ya?”

Pertanyaan sederhana itu membuat suasana berhenti sejenak.

Kakek Sanjaya berkedip. Lalu, sudut bibirnya kembali terangkat. “Hehehe... Lumayan, sayang,” jawabnya. "Oh ya... kalian jangan panggil aku dengan sebutan Kakek. Panggil saja aku Eyang," katanya.

Kakek Sanjaya terdiam sejenak, lalu menepuk bahu Pak Arya, ayahnya Arsen. "Ini baru kakek kalian. Panggil saja dia Opa dan yang tadi masuk ke dalam kamar itu dia oma kalian," lanjutnya sambil berusaha menjelaskan.

Alea langsung mengangguk, seolah mengerti. “Iya Eyang, Alea mengerti. Kalau Eyang capek... Eyang istirahat saja,” katanya serius. “Nanti sakit.”

Sanjaya tertawa kecil. Kali ini benar-benar terdengar. “Iya, iya… Kakek akan istirahat.”

Di belakangnya, beberapa pelayan saling melirik diam-diam. Suasana yang tadi tegang, kini sedikit mencair.

Arsen memperhatikan dari samping. Tatapannya bergeser dari Alea, Nayra, lalu ke Raya. Tidak ada kata, namun sesuatu di matanya berubah tipis.

“Kita duduk dulu,” ucap Kakek Sanjaya akhirnya, ia menoleh ke arah ruang tamu. “Aku ingin mengenal kalian.”

Nayra menarik napas pelan. Raya tidak langsung bergerak. Namun ketika Nayra melangkah lebih dulu, Raya akhirnya mengikuti.

Alea sudah lebih dulu berjalan kecil di depan, sesekali menoleh ke belakang, memastikan ibunya ikut. Arsen berjalan paling akhir.

Ruang tamu itu terasa lebih besar saat semua orang masuk. Langkah mereka bergema pelan, lalu mereda ketika satu per satu mengambil tempat. Sofa empuk, meja kaca, dan lampu gantung yang menyala lembut, semuanya tampak sempurna… terlalu sempurna untuk suasana yang masih menyisakan sisa ketegangan.

Kakek Sanjaya duduk lebih dulu. Tangannya bertumpu sebentar pada sandaran kursi sebelum akhirnya bersandar.

Pak Arya duduk di sampingnya. Tatapannya sesekali mengarah ke Nayra dan anak-anaknya, tapi tidak terlalu lama.

Nayra duduk di seberang. Punggungnya tegak, kedua tangannya bertaut di atas pangkuan. Jari-jarinya saling mengunci, lalu perlahan mengendur.

Raya duduk di sampingnya, sedikit lebih dekat dari biasanya. Bahunya hampir bersentuhan dengan Nayra. Tatapannya lurus ke depan, tapi matanya sesekali bergerak, memperhatikan setiap orang di ruangan itu.

Alea? Ia tidak benar-benar duduk. Tubuh kecilnya setengah berdiri di tepi sofa, matanya terus bergerak ke arah lampu, meja, dan ke wajah-wajah baru yang masih ia coba pahami.

“Duduk yang benar, Alea,” bisik Nayra pelan.

Alea langsung duduk tegak, dua detik, lalu kembali sedikit bergeser. Kakek Sanjaya memperhatikan itu semua tanpa bicara. Beberapa saat ia diam, hanya mengamati. Tatapannya berhenti di Nayra.

“Sudah lama kamu tinggal di sini?” tanyanya akhirnya.

Nayra mengangkat wajah. “Belum lama.” Jawabannya singkat dan hati-hati.

Kakek Sanjaya mengangguk pelan. “Dan kamu…” lanjutnya, matanya turun ke Alea, lalu bergeser ke Raya, "membesarkan mereka sendiri?”

Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan nada menghakimi. Tapi tetap terasa… berat.

Nayra menarik napas pelan. “Hm...”

Nayra mengalihkan pandangannya kearah Arsen, dia bingung harus bicara apa. Sedangkan pada kenyataannya Nayra masih berstatus istri Angga.

Arsen mulai gelisah dan dia mencoba untuk menjelaskan. "Opa, maaf sebaiknya jangan bahas itu. Karena Nayra masih belum sanggup untuk menceritakan semuanya."

Tatapan Kakek Sanjaya beralih pelan ke arah cucunya itu. Tidak tajam, tapi cukup dalam untuk membuat siapa pun memilih diam.

Beberapa detik. Lalu ia bersandar kembali. “Belum sanggup…” ulangnya pelan.

Matanya kembali ke Nayra. Nayra menunduk sedikit. Jari-jarinya kembali saling mengunci, lebih erat dari sebelumnya. Ia tidak membantah dan tidak juga mengiyakan.

Namun diamnya, sudah cukup menjawab. Kakek Sanjaya menghela napas pelan.

“Kalau begitu, tidak perlu dipaksa,” katanya akhirnya.

Raya melirik cepat ke arah Arsen. Lalu ke Nayra. Rahangnya sedikit mengeras, tapi ia memilih tetap diam.

Alea… masih mencoba memahami. Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu, sebelum akhirnya berhenti pada Nayra.

“Mama…” bisiknya pelan.

Nayra langsung menoleh. Alea menggeser tubuhnya lebih dekat, lalu menyelip di samping Nayra. Tangannya yang kecil meraih jemari Nayra dan menggenggamnya.

Pak Arya berdeham pelan. “Yang penting sekarang,” ucapnya, mencoba menarik suasana, “kalian sudah di sini.” Ia menatap Nayra, lalu ke anak-anaknya. “Apa pun yang terjadi sebelumnya, tidak harus langsung diceritakan hari ini.”

Arsen sedikit menurunkan bahunya. Ketegangan di wajahnya mereda, meski tidak sepenuhnya hilang.

Kakek Sanjaya mengangguk kecil. “Benar,” katanya. “Aku tidak butuh cerita panjang hari ini.”

Tatapannya kembali ke Raya, lalu ke Alea. “Kadang,” lanjutnya pelan, “yang perlu dilihat bukan masa lalu, tapi bagaimana seseorang berdiri sekarang.”

Raya tidak mengalihkan pandangan kali ini. Ia menatap balik, tanpa gentar. Dan untuk pertama kalinya Kakek Sanjaya mengangguk, seolah menemukan sesuatu yang ia cari.

Di sisi lain, Alea menarik tangan Nayra sedikit. “Mama…” bisiknya lagi.

Nayra menunduk. Alea mendekatkan wajahnya, suaranya lebih pelan. “Di sini… aman, kan?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi membuat dada Nayra terasa sesak sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Hanya mengusap rambut Alea perlahan.

“Iya,” ucapnya lirih.

Meskipun suaranya hampir tak terdengar, Alea langsung tersenyum kecil.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!