NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Trauma dan Tuntutan

POV Zara Ayleen 

Aku mengguyur semua tubuhku, aku merasa kotor dan sangat menjijikan, bayangan itu selalu mencul di kepalaku, saat ia mencengkram tanganku hingga aku tak bisa bergerak. Ah tidak, kesucianku yang kujaga, kelak hanya untuk suamiku kini telah hilang di renggut paksa oleh seorang laki laki yang bahkan aku tidak mengenalnya siapa dia.

Aku menggosok keras tubuhku serta bibirku yang telah ia cumbu seenaknya, berani beraninya dia !. Sesak dadaku ketika bayangan itu muncul, saat ia menarik paksa rok yang masih ku kenakan, aku yang sudah berusaha meronta, namun kalah oleh badannya yang tinggi besar dan kokoh. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena saat itu aku sudah panik luar biasa air mataku tak henti-hentinya keluar saat dia mulai menyentuh tubuhku, sampai pada akhirnya aku tak sadarkan diri. Ketika aku terbangun rupanya dia telah membereskan pakaianku dan menyimpannya disampingku.

"Maaf" ucapnya, namun aku sangat trauma dengan suara itu. Bagiku suara itu adalah ancaman yang sangat berbahaya.

"Ibu, aku harus bagaimana? Apakah aku berdosa" keran shower terus mengalirkan air ditubuhku, entah sudah berapa jam aku mandi di toilet, yang pasti kini tanganku sudah memutih mengkriput, bibirku membiru kedinginan. Sudah hampir sepuluh kali aku membasuh tubuhku dengan sabun, namun tetap rasanya aku seperti bagaikan noda yang menempel permanen dan sulit dibersihkan. AKU KOTOR.

Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, aku memutuskan untuk menyelesaikan mandi junub. Sangat terdengar aneh bukan, karena aku belum menikah. Ah sakit sekali rasanya, ternyata di jalan kehidupanku yang masih panjangnya ini, kenapa takdir yang seperti ini harus menimpaku?.

Ketika aku hendak berjalan, nyeri di tubuhku sangat terasa, tulang- tulangku terasa remuk, bagian dadaku banyak bercak merah yang membekas, seganas itu kah dia, kenapa harus aku yang menjadi korbannya?. Bahkan ketika aku berjalan inti tubuhku sangat terasa nyeri bercampur perih yang luar biasa.

Mataku melayangkan pandangan pada sisi rumah, rumah telah gelap, tidak ada siapapun yang mengetahui keadaanku sekarang. Aku masuk ke kamar kemudian menguncinya, aku menggelarkan sajadah dan solat taubat memohon ampun sebanyak banyaknya sampai menjelang pagi, aku tidak bisa tidur. Aku sangat takut akan dosa atas perbuatan ini dan aku takut benih yang dia tanam oleh laki-laki itu akan tumbuh. Bagaimana nanti aku menjelaskan kepada ibu dan ayah, jika anak bungsunya ini sangat mengecewakannya.

Sinar matahari mulai menyoroti kamarku, menyinari wajahku yang kini terlihat sangat menyedihkan, mataku bengkak hidungku merah karena terus-terusan menangis, tidak berani keluar kamar, karena itu akan menjadi pertanyaan ibu dan ayah kenapa aku menangis.

"Zaraa nak, kamu belum siap-siap ini udah siang", ibu mengetuk pelan kamarku, aku tidak bergeming.sangat merasa bersalah pada ibu.

"Zaraa, kamu sakit nak?" Ibu kembali bertanya.

Aku menarik nafas pelan, menetralkan suara agar ibu tidak curiga kalau aku sedang menangis.

"Iya Bu, Zara mau istirahat dulu, kurang enak badan" ucapku sedikit lebih keras tanpa membuka pintu kamar.

"Ohh yasudah kamu istirahat dulu, ibu berangkat ke sekolah dulu, ibu sudah siapkan sarapan dibawah jangan lupa dimakan, biar cepat pulih"

"Iya Buu"

Ah jangankan untuk makan, untuk berjalan pun badanku terasa sangat remuk sekali, ditambah sangat perih ketika berjalan. Aku meraba perutku. jantungku berdebar takut jika benih yang dia tanam akan tumbuh dirahimku. Aku ingat sekali di mengeluarkannya di dalam, entahlah mungkin dia laki-laki gila.

***

Hari berikutnya, aku mulai kembali beraktifitas seperti biasanya. Berjalan pagi menuju sekolah tempat aku bekerja. Badan ku mulai pulih namun masih menyisakan luka di dalamnya.

Di gerbang sekolah aku berpapasan dengan Bu dini yang sedang turun dari mobilnya.

Deg!

Aku sampai lupa, bagaimana kondisi proposal pengajuan dana untuk buku perpus itu. Aduh aku merutuk dalam hati. Menari nafas, dengan langkah berat aku menghampiri Bu dini yang telah lebih dulu melihat keberadaan ku, tidak sopan kalau semisal aku tidak menyapanya.

"Pagi Bu" sapaku ramah.

"Pagi Zara, oh iya kemarin ada seseorang yang nganterin proposal yang kamu ajukan, kabar baiknya dia memberi uang lebih untuk beli buku, tapi anehnya dia malah nanyain alamat sama nama kamu Zar, kamu kenal ?".

Deg!!

Sontak saja jantung terasa berenti berdetak sejenak ketika mendengar ucapan dari Bu dini. Pandanganku mengabur hampir oleng.

"Oh Alhamdulillah Bu kalau perusahaan itu ngasih nominal lebih, terus ibu jawab apa ketika itu?. tanyaku, harap cemas. Jari jari tanganku mulai terasa dingin.

"Ibu jawab aja, soalnya dia ngakunya teman lama kamu, yasudah ya zar saya keruangan dulu ya"

"Iya Bu, silahkan"

**

"Zar, ngelamun aja dari tadi aku panggil gak nyaut-nyaut, masih sakit ?" Nura sahabat sekaligus rekan kerja menghampiriku, dia menghempaskan bokongnya di samping kursi meja kerja.

Aku yang tengah melamun dan memegang balpoin untuk mencatat pinjaman buku hari ini sontak saja menoleh pada asal suara.

"Kenapa Zar, kalau ada masalah cerita. Aku Nura your BESTie siap menampung segala keluh kesah mu", Nura tersenyum ceria padaku sambil menepuk-nepuk dadanya.

Aku tersenyum kikuk, sebenarnya ingin sekali aku mencurahkan apa yang mengganjal di hatiku—kejadian kemarin, namun setelah di pikir pikir, sepertinya jangan memberitahu  siapapun akan hal ini sekalipun itu orang terdekatku.

Aku menoleh kembali pada Nura, yang kini sedang menatapku intens dengan menekukan kedua alisnya. Aku membetulkan kacamata yang yang sedikit melorot kebawah.

"Gada apa-apa Ra, im fine. Makasih kamu udah selalu peduli sama aku. Aku hanya masih belum fit seratus persen aja badannya". Aku dengan wajah yang dipaksakan untuk tersenyum ceria, berusaha menyembunyikan masalah yang masih ku pendam.

"Yaudah deh, kalau masih belum mau cerita. Aku tau za, ekspresi kmu yang lagi bahagia, sedih, galau ataupun apapun, aku liat kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari aku" ucap Nura.

"Oh iya za, kemarin ada yang nanyain kamu"

Deg!

"Siapa?" Sontak mataku melotot.

"Hemm biasa aja kali za, kaya kaget gitu. Bu dini nanyain kamu, terus ku jawab aja kalau kamu izin sakit".

Aku menghela nafas lega, takut kalau lelaki gila itu yang nanyain aku. Bukan geer ya tapi aku ketakutan. Dia telah menancapkan trauma padaku.

"Udah jam pulang Ra, pulang bareng ga?" Tanya ku pada Nura yang masih membereskan buku-buku di rak.

"Duluan aja za, aku pulangnya mau mampir ke apotik beli obat ibu udah habis"

Jadilah kini aku berjalan kaki sendirian menyusuri lorong lorong sekolah yang mulai sepi karena para siswa sudah pulang setengah jam yang lalu. Sebelum pulang aku melaksanakan shalat asar terlebih dahulu karena biar nanti pulang bisa santai tidak kejar-kejaran dengan waktu shalat.

Selesai salat aku berjalan menuju gerbang sekolah.

"Tit"

Langkahku terhenti ketika ada mobil yang berenti pas di depanku. Aku mematung siapa di dalam mobil itu, apa dia kenal denganku.

Kaca mobil diturunkan, sontak mataku melotot kala melihat laki laki gila itu di dalamnya. Badanku menegang, panas dan dingin menjadi satu.

Badanku terpaku, seolah kaki ini tertancap pada tanah yang aku pijak. Laki-laki itu turun dari mobilnya, kacamata hitam bertengger dihidung yang terukir sempurna, dingin menggambarkan keangkuhan. Derap langkahnya semakin mendekat. Jantungku terasa berpacu sangat cepat.

"Kita harus bicara" ucapnya tenang, namun terlihat tegas.

Aku menggigit bibir bingung, apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi aku masih trauma dengan kejadian malam itu. Namun disisi lain aku harus menuntut pertanggung jawaban jika.....

*

*

Kalau misalnya kalian berada di posisi zara bagaimana teman-teman?

Jangan lupa like komen dan vote jangan lipa juga kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️. Semoga suka ya💗

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!