Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan di Atas Panggung
Pagi ketiga turnamen tiba dengan langit yang akhirnya cerah.
Matahari musim semi menggantung rendah di timur, sinarnya yang keemasan menembus kabut tipis yang menyelimuti puncak Sekte Pedang Langit. Arena sudah penuh sejak fajar—para penonton tahu bahwa hari ini adalah babak delapan besar, di mana hanya petarung-petarung terbaik yang tersisa.
Dari enam belas peserta yang bertarung kemarin, delapan maju. Wei Ling adalah satu-satunya kultivator Tahap Pemurnian Qi yang masih bertahan—sebuah prestasi yang sudah menjadi buah bibir di seluruh arena. Lin Yao, dengan statusnya sebagai kultivator Pendirian Fondasi tingkat 4, diunggulkan sebagai salah satu calon pemenang. Enam lainnya berasal dari berbagai sekte kecil, kebanyakan di Pendirian Fondasi tingkat 1 sampai 3.
"Delapan besar," gumam Wei Ling, menatap panggung dari tribun. "Aku masih tidak percaya aku sampai sejauh ini."
"Percayalah," kata Xiao Chen di sampingnya. Hari ini dia duduk lebih dekat dari biasanya—lutut mereka hampir bersentuhan. "Kau pantas berada di sini."
Wei Ling menoleh, menatapnya. "Kau akan menonton?"
"Tentu saja. Aku tidak akan melewatkan kesempatan melihatmu bertarung."
"Dan... jika aku menang lagi?"
Xiao Chen tersenyum, nada suaranya merendah. "Kalau kau menang lagi, hadiahnya akan lebih... menarik."
Wajah Wei Ling langsung memerah. "Kau—maksudmu—"
"Aku tidak bilang apa-apa. Kau yang menyimpulkan sendiri."
"Xiao Chen!"
Tetapi sebelum Wei Ling bisa melanjutkan protesnya, suara tetua wasit sudah bergema.
"Babak delapan besar akan segera dimulai! Peserta pertama: Wei Ling dari Sekte Awan Kelabu melawan... Lin Yao dari Sekte Kayu Suci!"
Keheningan singkat. Lalu gumaman penonton.
Wei Ling menatap kosong ke arah panggung. "Aku melawan Lin Yao?"
Feng Mo mengumpat pelan. "Dari semua lawan yang mungkin, kenapa harus dia?"
Lin Yao sudah berdiri di sisi lain arena. Jubah hijaunya berkibar, rambut hitamnya diikat setengah seperti biasa. Dia tidak membawa pedang—tangannya kosong. Matanya yang hijau zamrud menatap ke arah Wei Ling, lalu beralih ke Xiao Chen.
"Kau akan tetap turun?" tanya Xiao Chen pada Wei Ling.
Wei Ling menegakkan bahunya. "Tentu saja. Aku tidak akan mundur hanya karena lawanku lebih kuat." Dia berdiri, menggenggam Pedang Bulan Sabit. "Tapi aku tahu peluangku tipis."
"Tipis bukan berarti tidak ada."
"Kau selalu begitu optimis?"
"Aku realistis. Kau sudah mengalahkan dua lawan yang lebih kuat. Lin Yao adalah yang ketiga." Xiao Chen berdiri, dan sebelum Wei Ling melangkah, dia menariknya ke dalam pelukan singkat. Tangannya meluncur ke pinggang Wei Ling, bibirnya mengecup lembut di bawah telinga gadis itu. "Untuk keberuntungan. Kali ini lebih spesial."
Wei Ling membeku, sensasi hangat menyebar dari titik di mana bibir Xiao Chen menyentuh kulitnya. "Kau... kau cium leherku..."
"Di bawah telinga, tepatnya. Itu titik yang lebih sensitif." Xiao Chen melepaskannya dengan senyum puas. "Sekarang, pergilah dan menangkan pertarungan."
Dengan langkah yang sedikit goyah—bukan karena takut, tapi karena efek samping dari ciuman itu—Wei Ling berjalan menuju panggung.
Zhang Yuan mencondongkan tubuhnya ke arah Feng Mo. "Apakah dia selalu seperti itu?"
"Selalu," jawab Feng Mo datar. "Kau akan terbiasa."
"Aku tidak yakin bisa."
—
Panggung terasa lebih besar pagi ini. Atau mungkin itu hanya perasaan Wei Ling.
Lin Yao berdiri di seberangnya, jarak sekitar dua puluh meter. Tanpa pedang, tanpa senjata, tanpa gerakan persiapan. Hanya berdiri dengan satu tangan di pinggul, ekspresinya tenang.
"Aku akan memberimu satu kesempatan," kata Lin Yao. "Serang aku dengan jurus terbaikmu. Aku tidak akan menghindar."
Wei Ling mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena kau muridnya. Dan kau sudah bekerja keras untuk sampai di sini."
Itu bukan belas kasihan—Wei Ling bisa melihatnya di mata Lin Yao. Itu rasa hormat.
"Baik." Wei Ling mengangkat Pedang Bulan Sabit. Qi-nya berkumpul, mengalir melalui meridian, terkonsentrasi di ujung pedang. Dia akan menggunakan teknik terkuat yang Xiao Chen ajarkan padanya—Teknik Pedang Aliran Air Fana tingkat Tinggi, versi yang telah disempurnakan.
Pedangnya bergerak dalam busur yang mengalir, seperti air sungai yang tak terputus. Bilah perak itu berkilau di bawah sinar matahari, menciptakan ilusi selusin pedang yang menyerang dari berbagai arah.
Lin Yao mengangkat tangannya.
Satu telapak tangan. Satu pukulan.
Gelombang Qi yang terkonsentrasi menghantam pusat serangan Wei Ling, menghilangkan ilusi dan melemparkannya ke belakang. Wei Ling mendarat di tepi panggung, Pedang Bulan Sabit masih di tangannya, tapi napasnya tersengal.
"Aku menyerah," katanya.
Lin Yao mengangguk. "Kau hampir mengenalku. Ujung pedangmu berjarak dua sentimeter dari jubahku."
"Dua sentimeter itu jarak yang sangat jauh dalam pertarungan."
"Ya. Tapi lebih dekat dari yang pernah dilakukan siapa pun di tingkatmu." Lin Yao mengulurkan tangannya. "Bangun."
Wei Ling menerima bantuan itu dan berdiri. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada gurumu." Mata Lin Yao melirik ke arah tribun—ke arah Xiao Chen. "Dia yang membuatmu sekuat ini."
—
Setelah Wei Ling kembali ke tribun—dengan sambutan hangat dari Zhang Yuan dan Wei Zhen—pengumuman berikutnya membuat seluruh arena terdiam.
"Pertandingan selanjutnya: Lin Yao dari Sekte Kayu Suci melawan..." Tetua wasit membaca gulungan di tangannya, alisnya berkerut. "...Xiao Chen dari Sekte Awan Kelabu."
"Apa?!" Wei Ling berdiri.
"Aku tidak mendaftar," kata Xiao Chen, ekspresinya lebih tertarik daripada terkejut.
Wei Zhen sudah bangkit dan berjalan ke arah meja panitia. Setelah beberapa menit berdiskusi dengan ekspresi tegang, dia kembali dengan wajah campuran antara marah dan bingung. "Seseorang menambahkan namamu ke daftar undian. Tanpa sepengetahuanku."
"Siapa?"
"Qin Wuya." Wei Zhen mengepalkan tangannya. "Dia bilang kau sudah menjadi bagian dari Sekte Awan Kelabu secara de facto, jadi kau berhak didaftarkan. Dan karena tidak ada aturan yang melarang pergantian peserta—"
"Tidak apa-apa." Xiao Chen berdiri, merapikan jubah putihnya. "Sebenarnya, ini menyenangkan."
"Xiao Chen, kau tidak perlu—"
"Aku ingin." Xiao Chen menatap Wei Ling, lalu Wei Zhen, lalu ke arah panggung di mana Lin Yao sudah menunggu. "Lagipula, seseorang berhutang taruhan padaku."
—
Ketika Xiao Chen naik ke panggung, suara arena berubah.
Bukan tepuk tangan—tapi keheningan. Keheningan yang muncul ketika orang-orang menahan napas tanpa sadar.
Dia berjalan dengan langkah ringan, jubah putihnya berkibar pelan. Rambut putihnya yang panjang tergerai bebas, berkilau keperakan di bawah sinar matahari. Mata ungu keemasannya memantulkan langit, dan untuk sesaat, dia tidak terlihat seperti peserta turnamen—dia terlihat seperti dewa yang kebetulan mampir.
"Akhirnya," kata Lin Yao. Bibirnya melengkung dalam senyum tipis—senyum yang langka. "Kau di sini."
"Kau yang memintanya." Xiao Chen berhenti sekitar sepuluh meter darinya. "Taruhannya masih berlaku?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, aturannya sama. Sentuh aku—bagian mana pun dari tubuh atau pakaianku—dan kau menang."
Para penonton yang cukup dekat untuk mendengar berbisik-bisik. Apa maksudnya? Tidak ada yang bertaruh seperti itu. Biasanya taruhan adalah menang atau kalah, bukan... sentuhan.
"Pertarungan... MULAI!"
Lin Yao tidak membuang waktu. Dia melesat ke depan dengan kecepatan penuh—lebih cepat dari yang pernah dilihat siapa pun di turnamen ini. Jurus Telapak Angin Fana tingkat Tinggi sudah aktif di tangannya, menciptakan pusaran udara yang meraung.
Xiao Chen bergerak.
Satu langkah ke kiri. Bukan menghindar—hanya melangkah, seolah dia sedang berjalan-jalan di taman. Telapak tangan Lin Yao melewati bahunya.
Lin Yao berputar, kakinya menyapu ke arah lutut Xiao Chen. Gerakan yang indah dan mematikan—kombinasi antara tarian dan serangan.
Xiao Chen melompat ringan, mendarat satu meter di belakangnya. "Bagus. Lebih cepat dari sebelumnya."
"Aku belum selesai." Lin Yao membentuk segel tangan, dan tiba-tiba ada tiga dirinya—Teknik Bayangan Cermin Fana tingkat Tinggi. Tiga Lin Yao menyerang dari tiga arah: kiri, kanan, atas.
Xiao Chen tersenyum.
Dia tidak bergerak ke samping. Dia bergerak ke depan—menerobos di antara dua bayangan, langsung ke arah Lin Yao asli. Mata hijau itu membelalak karena terkejut, tapi Lin Yao sudah mengantisipasi. Tangannya terulur ke arah dada Xiao Chen—
Dan menyentuh udara kosong.
Xiao Chen sudah berdiri di belakangnya. "Hampir."
Lin Yao berbalik, napasnya mulai memburu. "Bagaimana kau... kau bahkan tidak melihat!"
"Aku tidak perlu melihat. Aku bisa merasakan niatmu sebelum kau bergerak."
"Itu tidak mungkin."
"Aku tahu." Xiao Chen berjalan santai ke arahnya. "Itu sebabnya aku berbeda."
Lin Yao menatapnya, dadanya naik-turun. Dia sudah mencoba tiga serangan berbeda—dan tidak satu pun yang mendekat. Ini persis seperti enam bulan lalu. Tapi kali ini, dia tidak akan menyerah.
"Aku akan menyentuhmu," katanya. "Hari ini. Di sini."
"Aku menunggu."
Lin Yao menutup matanya. Tubuhnya rileks. Qi-nya, yang tadinya bergolak, perlahan menenang. Para penonton berbisik—apa yang dia lakukan? Menyerah?
Tapi Xiao Chen melihatnya. Dia melihat Qi Lin Yao berubah, bukan berkumpul di tangan atau kaki, tapi menyebar ke seluruh tubuh. Merata. Tenang. Seperti permukaan danau tanpa riak.
Dia belajar, pikir Xiao Chen. Dia akhirnya mengerti.
Lin Yao membuka matanya. Dan dia berjalan.
Tidak berlari. Tidak melesat. Hanya berjalan, langkahnya ringan, tangannya terulur ke depan. Tidak ada teknik. Tidak ada jurus. Hanya gerakan alami—seperti seseorang yang ingin menyentuh bunga tanpa membuat kelopaknya jatuh.
Xiao Chen berdiri diam.
Lima meter. Tiga meter. Satu meter.
Jari-jari Lin Yao semakin dekat. Sepuluh sentimeter. Lima sentimeter.
Dan kemudian, tepat ketika ujung jarinya hendak menyentuh dada Xiao Chen—
—Xiao Chen melangkah ke kiri. Bukan menjauh. Ke kiri.
Jari-jari Lin Yao menyentuh lengan jubahnya.
Sentuhan itu ringan—hampir tidak terasa. Tapi itu sentuhan.
Seluruh arena terdiam.
Lin Yao berdiri dengan jari-jarinya masih menempel di lengan jubah Xiao Chen. Matanya yang hijau terbelalak—tidak percaya, kaget, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berkilau.
"Aku..." suaranya bergetar. "Aku menyentuhmu."
"Ya." Xiao Chen menatapnya, dan tidak ada kekalahan dalam ekspresinya. Hanya kehangatan. "Kau berhasil."
"Tapi kau... kau sengaja. Kau berhenti bergerak."
"Aku tidak berhenti bergerak. Aku hanya memutuskan bahwa kau layak menang." Xiao Chen meraih tangan Lin Yao yang masih menempel di lengannya, menggenggamnya dengan lembut. "Kau melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain. Kau menenangkan dirimu. Kau berhenti mencoba menaklukkan dan mulai... menerima. Itu lebih sulit dari teknik apa pun."
Lin Yao menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, matanya berkaca-kaca. "Kau... brengsek. Kau memberiku kemenangan."
"Aku memberimu apa yang kau perjuangkan. Itu berbeda."
"Pertarungan... selesai!" suara tetua wasit terdengar ragu-ragu. "Pemenang... Lin Yao dari Sekte Kayu Suci!"
Tidak ada yang bersorak. Penonton masih mencoba memahami apa yang baru saja mereka saksikan.
Lin Yao tidak beranjak. Dia berdiri di sana, jari-jarinya masih digenggam Xiao Chen. "Pertanyaanku."
"Tanyakan."
"Dari mana asalmu? Sebenarnya?"
Xiao Chen menatapnya, dan untuk pertama kalinya, senyumnya sedikit memudar—bukan karena tidak suka, tapi karena pertanyaan itu memang tidak bisa dijawabnya. "Aku tidak tahu. Aku sungguh-sungguh tidak tahu. Yang kutahu hanyalah bahwa aku muncul dari retakan ruang dengan kain emas ini, dan aku mencari sesuatu yang belum kutemukan."
"Jadi kau tidak berbohong selama ini."
"Aku tidak pernah berbohong padamu."
Lin Yao menatapnya lama. Lalu dia melepaskan tangannya—tapi tidak sepenuhnya. Jari-jarinya masih menyentuh jubah Xiao Chen sejenak sebelum akhirnya menjauh. "Suatu hari nanti, kau akan menemukan jawabannya. Dan saat itu... aku ingin ada di sana."
"Kenapa?"
"Karena..." Lin Yao menegakkan bahunya, mengembalikan topeng ketenangannya yang biasa. "...seseorang harus memastikan kau tidak membuat masalah."
Xiao Chen tertawa. "Kau benar-benar luar biasa, Lin Yao."
"Aku tahu."
Dia berbalik dan berjalan turun dari panggung. Tapi ketika melewati Xiao Chen, dia berhenti sejenak dan—tanpa menoleh—berbisik, "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk membuatku merasa... bahwa aku layak menang."
—
Ketika Xiao Chen kembali ke tribun, Wei Ling sudah menunggunya dengan tangan di pinggul. "Kau sengaja membiarkannya menang."
"Tentu saja."
"Kenapa?"
Xiao Chen duduk, menyilangkan kakinya. "Karena dia bekerja keras untuk itu. Karena dia tidak pernah menyerah. Dan karena..." Dia menatap Wei Ling dengan ekspresi yang sulit diartikan. "...kadang-kadang, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan lawan, tapi mengalahkan diri sendiri."
Wei Ling terdiam. Lalu dia duduk di sampingnya, bahunya menyentuh bahu Xiao Chen. "Kau tahu, untuk seseorang yang mengaku tidak ingat apa-apa, kau bisa sangat bijaksana."
"Aku belajar dari menonton. Dari membaca. Dari kalian." Xiao Chen menoleh, menatapnya. "Manusia sangat menarik. Mereka jatuh, tapi mereka bangkit lagi. Mereka gagal, tapi mereka mencoba lagi. Itu... menginspirasi."
Wei Ling menatapnya. "Kadang-kadang, kau terdengar seperti seseorang yang datang dari tempat yang sangat jauh."
"Mungkin memang begitu."
—
Malam harinya, pemenang turnamen diumumkan.
Lin Yao menjadi juara pertama—kemenangannya atas Xiao Chen dianggap sebagai pertarungan paling berkesan. Wei Ling finis di posisi delapan besar, sebuah prestasi luar biasa untuk kultivator Tahap Pemurnian Qi. Feng Mo finis di enam belas besar.
Sekte Awan Kelabu, yang tadinya dianggap remeh, sekarang menjadi topik pembicaraan. Para pedagang yang sebelumnya tidak melirik kota kecil itu mulai bertanya tentang rute perdagangan. Para kultivator independen mulai mengirimkan lamaran untuk bergabung.
"Kita berhasil," kata Wei Zhen malam itu, suaranya penuh emosi. "Kita benar-benar berhasil."
"Kita baru saja memulai," jawab Xiao Chen.
Mereka berdiri di balkon penginapan, menatap bintang-bintang. Turnamen sudah berakhir, tapi perjalanan mereka masih panjang. Dan di suatu tempat di kejauhan, di antara pegunungan dan awan, sesuatu yang lebih besar menunggu.
—
Bersambung ke episode 5...