NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:851
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9. Pagi yang Terasa Berbeda

   ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

Keesokan harinya, matahari pagi bersinar sangat cerah, menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar. Suasana pagi di rumah Aisyah biasanya selalu penuh semangat dan keceriaan, namun hari ini terasa berbeda. Ada awan mendung tipis yang menyelimuti hati Aisyah.

Aisyah bangun lebih awal seperti biasa. Ia segera melaksanakan shalat Subuh dengan khusyuk, berdoa memohon ketenangan hati. Setelah itu, ia turun ke dapur membantu Mama Laras menyiapkan sarapan dan bekal untuk Shuka. Tangannya bergerak sigap, tapi matanya terlihat sayu dan sering kali melamun jauh.

Pikirannya terus menerus berputar mengingat ucapan Papa Arya tadi malam.

"nak Aqlan sudah punya pasangan, Sayang. Papa liat sendiri di pom bensin sama ceweknya, akrab banget."

Kalimat itu terus bergema di kepalanya seperti kaset yang diputar ulang. Bayangan sosok wanita cantik yang berdiri di samping Gus Aqlan tadi malam terus muncul di benaknya.

"Ternyata selama ini aku cuma berharap kosong ya..." batin Aisyah sedih, dadanya terasa sesak dan perih. "Pantesan aja kemarin dia buru-buru sekali mau pulang, bilang ada persiapan ini itu. Ternyata... ternyata dia ingin cepat-cepat kembali ke orang yang dia sayang. Dan pantesan juga Mama melarang keras aku dekat-dekat sama dia. Mungkin emang benar ya, kita nggak ditakdirkan. Mungkin emang garis takdir kami beda."

Air mata hampir menetes, tapi Aisyah cepat-cepat mengusapnya. Ia tidak mau orang tuanya tahu kalau ia sedang terluka. Ia berusaha tegar, memaksakan senyum di wajahnya setiap kali Shuka atau Papa Arya mengajak bicara.

Setelah sarapan selesai, Aisyah bersiap berangkat. Ia mengenakan busana kampusnya yang rapi, membetulkan hijabnya dengan sempurna, berusaha tampil sekuat biasanya.

"Ayo Shuka, berangkat!" ajaknya dengan suara yang berusaha terdengar ceria.

"Iya Kakak!" sahut Shuka kecil dengan semangat, tidak tahu apa yang sedang dirasakan kakaknya.

Aisyah pun mengantar Shuka ke sekolah seperti biasa. Melihat adiknya masuk gerbang sekolah dengan riang sedikit banyak mengobati rasa sakit di hatinya, tapi rasa kosong itu tetap ada.

Setelah mengantar Shuka, Aisyah melajukan mobilnya menuju kampus. Perjalanan pagi itu terasa sangat panjang dan sepi bagi Aisyah.

Sesampainya di area parkir kampus, ia memarkirkan mobilnya dengan hati-hati. Ia turun membawa tas besarnya, berjalan dengan langkah yang anggun namun terasa lebih lambat dan berat dari biasanya.

Siang itu cuaca cukup panas, banyak teman-teman mahasiswa yang lalu lalang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa teman yang mengenalnya menyapa dengan ramah.

"Pagi Aisyah!"

"Selamat pagi, Aisyah!"

Aisyah hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan dan anggukan kepala. Tidak ada tawanya yang renyah seperti biasanya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.

Ia berjalan menyusuri koridor kampus yang teduh. Di dalam hatinya, ia terus berbicara pada diri sendiri, mencoba menyadarkan diri agar tidak terlalu berharap.

"Aisyah Adeeba... kamu harus kuat, Sayang. Kamu harus bisa ngontrol perasaan kamu sendiri," ucapnya dalam hati sambil menghela napas panjang yang tertahan. "Dia itu cuma teman yang baik hati, itu saja. Dia membantu kamu karena memang dasarnya dia orang yang suka menolong, bukan karena ada rasa apa-apa. Lagian kan dia sudah punya yang punya, sudah ada yang mendampingi. Jadi... jangan berharap lebih. Jangan bikin hati sendiri sakit."

Saat berjalan menuju kelas, matanya tanpa sadar, tanpa perintah otak, terus mencari-cari sosok yang sangat ia rindukan itu. Mencari sosok berbusana putih yang selalu memancarkan ketenangan.

Namun begitu sadar apa yang ia lakukan, Aisyah segera menggelengkan kepala keras-keras.

"Sudah Aisyah... jangan cari. Dia sudah milik orang lain. Fokus kuliah saja."

Akhirnya ia sampai di depan kelas. Ia masuk dan memilih duduk di tempat biasa, barisan kedua sebelah kanan. Ia segera membuka buku catatan dan laptopnya, berusaha sangat keras untuk fokus pada materi yang akan diajarkan, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Seolah-olah hatinya tidak sedang hancur lebur karena kesalahpahaman yang belum terungkap.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!