NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Ibu Dan Anak

Pagi di apartemen kecil itu hampir selalu dimulai dengan suara langkah kaki mungil yang berlari dari kamar ke dapur, disusul pertanyaan yang datang bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Elvara yang sedang menuang susu ke gelas hanya sempat menoleh ketika Rheon sudah duduk manis di kursi makan sambil memegang sendok seperti mikrofon.

"Mom, kenapa burung bisa tidur sambil berdiri?"

Elvara nyaris tersedak tawa. Rambut bocah itu masih berantakan, piyamanya miring sebelah, tetapi wajahnya terlihat sangat serius seolah sedang membahas perkara penting.

"Karena kaki mereka bisa mengunci saat tidur."

Rheon mengerutkan dahi cukup lama, lalu menatap kakinya sendiri.

"Kalau manusia bisa begitu, kita bisa tidur di bus."

"Kalau manusia bisa begitu, orang-orang bakal tidur sambil antre di bank."

Rheon tertawa puas sampai bahunya naik turun. Ia mengambil roti panggang di piring, lalu menggigit ujungnya kecil-kecil dengan cara makan yang terlalu rapi untuk anak seusianya. Banyak orang bilang Rheon dewasa sebelum waktunya, tetapi Elvara tahu itu bukan karena anaknya istimewa secara berlebihan.

Rheon hanya tumbuh dalam rumah yang sepi, bersama ibu yang selalu sibuk mengejar waktu. Ia melihat Elvara bekerja, membereskan rumah, menghitung pengeluaran, lalu tetap tersenyum setiap malam. Anak kecil cenderung meniru apa yang mereka lihat, dan Rheon belajar mengerti lebih cepat daripada yang seharusnya.

Meski begitu, rasa ingin tahunya tetap tak ada habisnya.

"Mom."

"Hm?"

"Kenapa hujan turun dari atas, bukan dari samping?"

Elvara menatap langit-langit dapur beberapa detik seolah berharap ada jawaban tertulis di sana.

"Karena awan adanya di atas."

"Kalau awan pindah ke samping?"

"Berarti kita punya masalah besar."

Rheon kembali tertawa keras. Tawa anak itu selalu menjadi suara favorit Elvara, suara yang menenangkan banyak hal dalam dirinya. Setelah lima tahun hidup berdua di negeri orang, suara itu pula yang membuat semua lelah terasa masuk akal.

Ia duduk di seberang Rheon sambil memotong apel menjadi bagian kecil dan meletakkannya ke piring anaknya. Dapur apartemen mereka tidak besar, hanya cukup untuk dua orang bergerak tanpa saling bertabrakan. Namun ruangan kecil itu terasa hangat karena hampir setiap pagi dipenuhi percakapan acak seperti ini.

"Setelah sarapan, mandi. Lalu kita ke daycare."

"Aku sudah besar."

"Anak besar tetap mandi."

"Aku mandi sendiri."

"Bagus. Tapi sabun jangan setengah botol lagi."

Rheon pura-pura batuk lalu memalingkan wajah. Minggu lalu ia menuang sabun terlalu banyak demi membuat busa seperti salju. Akibatnya lantai kamar mandi licin, dan Elvara harus membersihkan sambil menahan tawa melihat anaknya berdiri bersalah di sudut ruangan.

Hari-hari mereka dipenuhi hal sederhana seperti itu. Kaus kaki yang hilang sebelah, pensil warna yang entah bagaimana selalu berada di bawah sofa, bekal makan siang yang kadang tidak tersentuh, dan pelukan kecil yang datang mendadak saat Elvara sedang sibuk mencuci piring.

Bagi orang lain mungkin biasa saja. Bagi Elvara, itulah bentuk rumah yang paling nyata.

Setelah meja makan dibereskan, ia membantu Rheon mengenakan seragam kecil berwarna biru muda. Bocah itu berdiri tegak di depan cermin sambil mengangkat dagu dan merapikan kerah bajunya sendiri.

"Aku ganteng?"

"Sangat."

"Lebih ganteng dari Om penjaga lobi?"

Elvara menahan senyum.

"Jauh lebih ganteng."

Rheon mengangguk mantap.

"Berarti aku menang."

Mereka keluar apartemen sambil bergandengan tangan. Lift pagi itu cukup ramai oleh penghuni lain yang berangkat kerja. Seorang nenek dari lantai bawah tersenyum lebar saat melihat Rheon berdiri rapi dengan tas kecil di punggungnya.

"Wah, pangeran kecil sudah siap berangkat."

Rheon membungkuk kecil seperti bangsawan yang memberi salam.

"Terima kasih."

Nenek itu tertawa gemas, sementara Elvara hanya bisa menggeleng. Entah dari mana anak itu belajar kebiasaan seperti itu. Mungkin dari video yang diam-diam ia tonton, mungkin juga murni hasil imajinasinya sendiri.

Daycare berada di gedung sebelah, hanya beberapa menit berjalan kaki. Tempat itu cerah, bersih, dan penuh gambar hewan serta huruf warna-warni di dinding. Sejak pindah ke kota ini, Rheon beradaptasi lebih cepat daripada yang Elvara duga.

Ia mudah berteman, cepat menghafal nama guru, dan dalam waktu singkat sudah tahu letak semua mainan favorit di sana. Kadang Elvara bangga, kadang ia justru merasa sedih karena anaknya terlalu pandai menyesuaikan diri. Anak kecil seharusnya lebih manja sedikit.

Saat Elvara hendak pergi, Rheon menarik ujung blusnya.

"Mom."

"Iya?"

"Nanti jemput cepat ya. Aku mau tunjukkan robot dari balok."

"Aku usahakan."

"Janji?"

Elvara berlutut agar sejajar dengannya, lalu menatap mata kecil yang serius itu.

"Janji."

Rheon langsung mencium pipinya, lalu berlari masuk kelas tanpa menoleh lagi. Setiap kali itu terjadi, dada Elvara selalu menghangat. Sekecil apa pun gestur anaknya, selalu berhasil membuat hari terasa lebih ringan.

Ia menuju kantor dengan langkah cepat. Pekerjaan baru di Ardent Group menuntut penyesuaian banyak hal, tetapi ia menikmati kesibukan itu. Setidaknya saat bekerja, pikirannya tidak sempat berjalan ke arah yang seharusnya dihindari.

Namun siang harinya, saat menjemput Rheon, guru kelas menyambut sambil tersenyum geli.

"Bu Elvara, hari ini Rheon membuat kami kewalahan sedikit."

Elvara langsung menoleh ke arah anaknya yang berdiri di belakang guru sambil memegang botol minum.

"Dia nakal?"

"Bukan. Dia terlalu banyak bertanya."

Rheon mengangkat tangan.

"Aku hanya ingin tahu."

Guru itu tertawa.

"Dia bertanya kenapa ikan tidak berkedip, kenapa lem bisa lengket, kenapa daun jatuh kalau sudah tua, dan kenapa kucing takut timun di video internet."

Elvara menatap anaknya dengan campuran malu dan geli.

"Kamu tanya semua itu?"

"Aku belum sempat tanya kenapa orang dewasa suka bilang nanti."

Guru tersebut sampai menutup mulut menahan tawa. Elvara ikut tersenyum sambil mengucapkan maaf, walau diam-diam ia tahu rasa penasaran Rheon memang sulit dibendung.

Di perjalanan pulang, Rheon duduk di kursi belakang sambil memainkan mobil-mobilan kecil. Beberapa menit ia diam, lalu suara mungilnya terdengar lagi.

"Mom, kalau daun jatuh karena tua, manusia jatuh karena apa?"

"Karena tersandung."

"Kalau hati jatuh?"

Elvara menatap kaca spion.

"Dari mana belajar kalimat itu?"

"Dari Kak Mila. Katanya temannya jatuh hati."

Elvara menghela napas kecil.

"Kak Mila jangan terlalu sering nonton drama."

Rheon mengangguk seolah sedang menerima pelajaran penting.

Sesampainya di apartemen, mereka memasak makan malam bersama. Sebenarnya yang memasak hanya Elvara, sementara Rheon mendapat tugas mencuci tomat satu per satu dan menaruhnya di saringan. Ia melakukan tugas itu sambil bernyanyi dengan lirik yang berubah-ubah sesuka hati.

"Mom, kenapa orang kerja?"

"Supaya bisa hidup."

"Kenapa harus hidup?"

"Karena ada banyak hal bagus yang bisa dijalani."

"Contohnya?"

Elvara menoleh sambil mengaduk sup.

"Punya anak lucu."

Rheon menyeringai lebar.

"Itu aku."

"Iya, itu kamu."

Mereka makan sambil menonton kartun di televisi kecil ruang tamu. Setelah itu Rheon mengerjakan lembar aktivitas dari daycare, menyambung garis, membaca kata sederhana, lalu menghitung gambar apel dan jeruk dengan cepat.

Elvara sering kagum melihat cara berpikir anak itu. Namun di saat yang sama, ia juga khawatir. Anak yang cepat memahami sesuatu biasanya juga cepat menyadari kekosongan.

Dan benar saja, pertanyaan itu muncul ketika malam semakin tenang.

Rheon berbaring di sofa dengan kepala di pangkuannya. Elvara mengusap rambut hitamnya perlahan sambil menatap layar televisi yang sudah dimatikan. Ruangan hanya diisi suara pendingin udara dan kendaraan samar dari jalan raya.

"Mom."

"Hm?"

"Di sekolah tadi teman-teman cerita soal Ayah mereka."

Tangan Elvara tetap bergerak menyisir rambut anaknya.

"Lalu?"

"Ada yang Ayahnya pilot. Ada yang Ayahnya dokter. Ada yang Ayahnya galak kalau nilai jelek."

Nada suaranya biasa saja, tetapi Elvara mengenal anaknya. Ada rasa penasaran yang sedang ditahan.

"Kamu iri?"

Rheon menggeleng.

"Aku punya Mommy."

Jawaban itu justru membuat dada Elvara sesak. Anak sekecil ini sudah belajar menerima keadaan tanpa banyak menuntut.

"Kalau begitu sudah cukup."

"Sudah. Tapi aku tetap penasaran."

Elvara menunduk menatap wajahnya.

"Penasaran apa?"

"Seperti apa orangnya."

Ia sebenarnya sudah menyiapkan banyak jawaban selama bertahun-tahun. Tentang waktu yang belum tepat, tentang orang dewasa yang hidupnya rumit, tentang nanti saat kamu lebih besar. Namun saat melihat mata bening Rheon menatap lurus padanya, semua jawaban itu terasa rapuh.

"Dia..." Elvara berhenti sejenak. "Orang yang hebat."

"Hebat bagaimana?"

"Cerdas. Bekerja keras."

"Ganteng?"

Pertanyaan itu membuat Elvara hampir tertawa.

"Lumayan."

"Berarti aku mirip dia."

Elvara memandangi wajah kecil di pangkuannya. Hidung tegas, sorot mata tajam saat serius, kebiasaan mengangkat alis ketika bingung. Semakin besar, Rheon semakin membawa jejak seseorang yang berusaha ia lupakan.

"Iya," jawabnya lirih.

Rheon tampak puas beberapa detik, lalu kembali bertanya.

"Dia tahu aku ada?"

Jari Elvara terhenti di rambut anaknya.

"Belum."

"Kenapa Mommy belum bilang?"

Banyak jawaban berdesakan di kepala. Karena saat itu hidupnya berantakan. Karena ia takut kehilangan anak ini bahkan sebelum memilikinya. Karena ia takut pria itu memilih masa depannya yang rapi dan meninggalkan mereka begitu saja.

Namun semua itu terlalu berat untuk telinga seorang anak.

"Karena situasinya belum tepat."

"Kalau sekarang?"

Elvara menarik napas pelan.

"Rheon."

"Iya?"

"Ada beberapa pertanyaan yang butuh waktu."

Bocah itu menghela napas kecil seperti orang dewasa yang kehabisan kesabaran.

"Semua orang suka bilang begitu."

Elvara mencubit pelan pipinya.

"Karena memang benar."

Malam semakin larut. Ia membawa Rheon ke kamar, menyelimutinya, lalu duduk di sisi ranjang sambil membacakan cerita tentang penjelajah laut yang mencari pulau rahasia. Biasanya Rheon tertidur sebelum cerita selesai, tetapi kali ini matanya masih terbuka lebar.

"Mom."

"Masih belum tidur?"

"Satu pertanyaan lagi."

Elvara tertawa pasrah.

"Silakan."

Rheon memeluk boneka dinosaurusnya lalu menatap langit-langit kamar.

"Kalau Ayah orang hebat, apakah dia sibuk sekali?"

"Mungkin."

"Kalau dia sibuk, apa dia lupa pulang?"

Pertanyaan itu datang pelan, tetapi menusuk lebih tajam dari yang diduga. Elvara menggenggam tangan kecil anaknya dan menatap jari-jari mungil yang menggenggam balik tangannya.

"Kadang orang dewasa tersesat dalam hidupnya."

"Kalau tersesat, harus dicari."

Ia menelan ludah.

"Iya."

Rheon menoleh padanya. Wajah polos itu serius, seolah sedang menyusun potongan puzzle terbesar dalam hidupnya.

Lalu dengan suara pelan, ia bertanya,

"Apa Ayah tinggal di kota ini?"

Waktu seakan berhenti di kamar yang remang. Elvara menatap anaknya, lalu menoleh ke jendela tempat lampu-lampu kota berpendar di kejauhan. Kota ini luas, padat, dipenuhi jutaan manusia, tetapi hanya satu orang yang langsung muncul di benaknya saat mendengar kata ayah.

Pria yang ingin ia hindari.

Pria yang tak pernah tahu ia memiliki seorang putra.

Pria yang kini justru berada sangat dekat dalam hidupnya.

Elvara kembali menatap Rheon dan memaksakan senyum lembut.

"Sudah malam. Tidur dulu."

Rheon tampak ingin protes, tetapi kantuk lebih dulu menang. Kelopak matanya turun perlahan sampai napas kecilnya menjadi teratur.

Setelah anak itu tertidur, Elvara tetap duduk di sisi ranjang tanpa bergerak. Pertanyaan sederhana tadi terus berputar di kepalanya, semakin keras justru saat kamar sudah sunyi.

Apa Ayah tinggal di kota ini?

Ia tahu jawabannya.

Dan justru itulah yang paling menakutkan.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!