Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Lift berdenting di lantai teratas, namun gema bentakan Arkan di lobi tadi masih terngiang jelas di telinga Kinanti. Ia melangkah masuk ke ruangannya dengan dagu terangkat, meski dadanya bergemuruh. Bukan karena takut, tapi karena sensasi kemenangan yang pahit.
Baru lima menit ia duduk, pintu ruangannya kembali dihantam terbuka. Arkan masuk bagaikan banteng yang terluka, wajahnya merah padam hingga ke telinga.
"Siapa pria itu, Kinanti?! Jawab aku!" Arkan menggebrak meja kerja Kinanti hingga vas bunga kecil di sudutnya bergeser. "Berani-beraninya kamu mempermalukan aku di depan semua karyawan! Keluar dari mobil pria asing di depan kantor sendiri... kamu sudah kehilangan akal sehat?!"
Kinanti meletakkan tasnya dengan perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Ia menatap Arkan dengan tatapan yang sangat tenang, ketenangan yang justru jauh lebih provokatif daripada teriakan mana pun.
"Kenapa, Arkan? Suaramu sampai terdengar ke ruang sekretaris. Apa kamu sedang membicarakan soal mempermalukan pasangan?" Kinanti tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak mencapai mata. "Bukankah kamu sudah lebih dulu melakukannya? Bedanya, kamu melakukannya dengan pengecut, sementara aku melakukannya dengan terhormat di bawah cahaya matahari."
"Bajingan itu siapa?!" Arkan tidak peduli pada sindiran Kinanti. "Itu mobil Dewa Dirgantara, kan? Sejak kapan kamu berhubungan dengan raksasa properti itu? Apa yang kamu berikan padanya sampai dia mau mengantarmu ke kantor?!"
Mendengar tuduhan rendah itu, mata Kinanti berkilat dingin. Ia berdiri, melangkah pelan memutari mejanya hingga ia berada tepat di depan Arkan.
"Jaga mulutmu, Arkan. Tidak semua pria berpikir menggunakan nafsu seperti kamu. Dewa adalah seorang pria yang tahu cara menghargai wanita. Sesuatu yang sudah lama hilang dari dirimu sejak kamu memutuskan untuk membagi tempat tidurmu dengan Alana."
"Jangan bawa-bawa Alana! Ini soal kamu yang mulai bermain api!"
"Bermain api?" Kinanti tertawa, sebuah tawa renyah yang terdengar menyakitkan. "Aku tidak bermain api, Arkan. Aku hanya sedang memegang cermin di depan wajahmu. Sakit? Dada kamu terasa sesak melihat istrimu turun dari mobil pria lain? Itulah yang aku rasakan setiap detik sejak aku tahu kamu mengkhianatiku. Bedanya, aku merasakannya berkali-kali lipat lebih hebat karena aku telah memberikan segalanya untukmu."
Kinanti melangkah maju, membuat Arkan terpaksa mundur selangkah.
"Dewa hanyalah awal. Jika kamu merasa ini sudah memalukan, maka bersiaplah. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi pajangan yang tidak dianggap. Aku ingin kamu tahu betapa perihnya melihat orang yang paling kamu percayai justru mencari kenyamanan di pelukan orang lain."
"Kamu sengaja melakukannya untuk membalas dendam, kan?!" tuduh Arkan dengan suara bergetar.
"Sebut saja sesukamu. Tapi ingat satu hal," Kinanti menunjuk dada Arkan dengan jari telunjuknya. "Aku tidak pernah bermain perasaan dengan Dewa. Aku terlalu menghargai diriku sendiri untuk jatuh ke lubang yang sama seperti kamu. Aku hanya ingin kamu menonton, Arkan. Menonton bagaimana aku diperlakukan seperti ratu oleh pria lain, sementara kamu sibuk menjadi budak nafsu wanita yang hanya menginginkan uangmu."
~~
Suasana makan malam di rumah itu terasa seperti jamuan di atas kuburan. Tidak ada suara denting alat makan, hanya kesunyian yang mencekam. Arjuna sudah dibawa ke kamar oleh pengasuhnya, meninggalkan Arkan dan Kinanti dalam ruang makan yang luas.
Arkan tidak menyentuh makanannya. Ia terus menatap Kinanti yang makan dengan anggun, seolah-olah tidak ada beban di pundaknya.
"Aku minta kamu jangan pernah bertemu pria itu lagi," ucap Arkan tiba-tiba, suaranya kini lebih rendah namun penuh penekanan.
Kinanti tidak berhenti mengunyah. Setelah menelan makanannya, ia menyeka bibirnya dengan serbet sutra. "Atas dasar apa kamu melarangku?"
"Atas dasar aku masih suamimu!"
"Suami?" Kinanti menaruh alat makannya, menimbulkan suara denting yang tajam. "Suami adalah dia yang menjaga kehormatan istrinya. Suami adalah dia yang tidak memberikan nafkahnya pada wanita simpanan. Kamu sudah memecat dirimu sendiri dari jabatan itu, Arkan. Sekarang, kamu hanyalah pria yang berbagi alamat rumah denganku demi status sosial."
"Kinanti, cukup!" Arkan berdiri, napasnya memburu. "Aku tahu aku salah soal Alana, tapi bukan berarti kamu bisa bertindak liar seperti ini! Kamu menghancurkan citra keluarga kita!"
"Citra keluarga kita sudah hancur saat kamu menikahi Alana!" balas Kinanti, suaranya mulai meninggi. "Kamu pikir aku bodoh? Kamu lebih peduli pada Alana daripada harga diri istri sahmu!"
Kinanti berjalan mendekati Arkan, tatapannya menghunus tajam.
"Tahu apa yang paling lucu, Arkan? Dewa Dirgantara... dia bertanya padaku tadi pagi, kenapa wanita sepertiku masih bertahan di bangunan yang sudah retak ini. Dan aku belum bisa menjawabnya. Tapi melihat wajahmu yang ketakutan kehilangan aku hanya karena cemburu buta, aku tahu jawabannya."
"Apa?" tanya Arkan parau.
"Karena aku ingin melihatmu hancur pelan-pelan. Aku ingin kamu terjebak di sini, melihatku bersinar, melihatku dikejar oleh pria-pria yang jauh lebih hebat darimu, sementara kamu tidak bisa melakukan apa pun karena kamu adalah pengecut yang takut kehilangan hartamu."
Arkan terdiam, lidahnya kelu. Ia merasa Kinanti yang dulu lembut kini telah berubah menjadi monster yang ia ciptakan sendiri.
Tiba-tiba, ponsel Kinanti yang tergeletak di meja makan berdenting. Sebuah notifikasi pesan masuk. Arkan dengan cepat menyambar ponsel itu sebelum Kinanti sempat mengambilnya.
Pesan dari Dewa.
"Aku baru saja melewati restoran tempat kita makan siang kemarin. Rasanya ada yang kurang tanpa kehadiranmu. Kamu sudah sampai rumah, Kinanti ?"
Mata Arkan membelalak. Ia melempar ponsel itu ke meja hingga layarnya sedikit retak. "Dia bahkan berani mengirim pesan malam-malam begini?! Kalian sudah sejauh apa?!"
Kinanti mengambil ponselnya, memeriksa layarnya yang retak, lalu menatap Arkan dengan senyum dingin. "Kami baru sejauh... saling menghargai. Sesuatu yang bahkan tidak kamu mengerti artinya."
Tanpa kata lagi, Kinanti berbalik meninggalkan Arkan yang kini terduduk lemas di kursi makan.
Arkan menjambak rambutnya sendiri, ia merasa dunianya sedang runtuh. Ia merasa memiliki Alana adalah kemenangannya, namun ia tidak sadar bahwa kehilangan hati Kinanti adalah kehancuran total bagi hidupnya.
Keesokan paginya.
Kinanti sengaja tidak membawa mobilnya sendiri. Ia berdiri di teras rumah, menunggu. Dan benar saja, tepat pukul delapan pagi, SUV perak milik Dewa berhenti di depan gerbang.
Arkan yang baru saja akan keluar dengan mobilnya terpaksa menginjak rem mendalam.
Ia melihat dari balik kaca mobilnya, Dewa turun dan membukakan pintu untuk Kinanti. Dewa bahkan sempat melirik ke arah mobil Arkan dan memberikan anggukan kecil yang terasa seperti ejekan kemenangan.
Kinanti masuk ke mobil Dewa tanpa keraguan. Di dalam mobil, suasana terasa hangat.
"Aku harap aku tidak membuat rumahtanggamu meledak," ucap Dewa sambil mulai mengemudi.
"Sudah meledak sejak lama, Dewa. Kamu hanya memberiku kembang api untuk merayakannya," jawab Kinanti sambil menatap jalanan.
Dewa tertawa, tangannya yang kokoh mengendalikan kemudi dengan tenang. "Kamu wanita yang luar biasa, Kinanti. Arkan benar-benar pria paling bodoh yang pernah aku temui karena telah membuang permata sepertimu."
"Aku tidak sedang mencari pengganti, Dewa. Aku hanya sedang ingin... bebas."
"Aku tahu. Dan aku tidak sedang menawarkan diri sebagai pengganti. Aku menawarkan diri sebagai tempat berlindung. Setidaknya, sampai kamu siap untuk membangun istanamu sendiri."
Kinanti menoleh, menatap profil samping wajah Dewa yang tegas. Ia tahu ia sedang bermain di tepi jurang. Ia tidak mencintai Dewa, setidaknya belum. Namun, melihat betapa hancurnya Arkan setiap kali ia melihatnya bersama Dewa, Kinanti merasakan kepuasan yang luar biasa.
Ini bukan lagi soal cinta. Ini soal keadilan. Dan jika keadilan itu harus dibayar dengan kecemburuan yang membakar Arkan hingga hangus, maka Kinanti akan dengan senang hati menyalakan apinya setiap hari.
Di belakang mereka, mobil Arkan mengikuti dengan jarak yang dekat, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Arkan baru sadar, bahwa ia sedang kehilangan segalanya, bukan karena Kinanti direbut orang lain, tapi karena ia yang telah mendorong istrinya ke pelukan dunia yang jauh lebih menghargainya.
...----------------...
**To Be Continue** ....
ga punya hati. .. tetap berselingkuh
Tunggu hukum karma selanjutnya
Kinanti yg dihianati kalah. ga setuju
.👍