Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemampuan Luar Biasa!
Li Hua mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi Shu Hua dari panah tajam yang kini melukai Li Hua.
Darah mulai menodai baju Li Hua, dan Shu Hua? Dia benar-benar kebingungan. Semua terjadi begitu cepat baginya. Tempat yang aneh, situasi yang aneh, pakaian yang aneh, dan kini... Shu Hua benar-benar tidak bisa mencerna semua dengan baik. Dan satu hal yang bisa dia lakukan hanya menangis, menyerahkan semua kepada takdir untuk kedua kalinya.
Namun, tangisan Shu Hua itu tampaknya sia-sia, karena luka yang tadinya ada pada tubuh Li Hua tiba-tiba saja menghilang secara ajaib, meninggalkan noda darah segar yang masih ada di pakaian Li Hua.
"Barusan... itu apa? Kenapa lukanya tiba-tiba sembuh seperti itu? Mataku tidak sedang bermasalahkan? Tadi itu..." Belum sempat Shu Hua selesai kaget, tiba-tiba satu panah lain melesat cepat kearah dirinya, tetapi kali ini entah kenapa Shu Hua bisa merasakan kedatangan panah itu.
Dengan hanya menggunakan tangan kosong, Shu Hua berhasil menangkap panah itu tanpa melukai tangan halusnya. Dan sesaat kemudian, Shu Hua benar-benar terkejut. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana tindakan luar biasa itu bisa ia lakukan!
"Apa barusan itu?! Kakak lihat itu?" Shu Hua bertanya kepada Li Hua, tak sadar jika sang Kakak buta.
"Su-a, kamu lupa? Kakak 'kan tidak bisa melihat," jawab Li Hua canggung. Dan lebih canggung lagi bagi Shu Hua.
Tidak memiliki waktu untuk kagum dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki, kini Li Hua dan Shu Hua dikelilingi oleh para pemburu dengan senjata tajam di tangan mereka.
"Ini kita lagi di kerjaain kali ya, Kak?" Shu Hua sungguh benar-benar berharap jika saat itu mereka hanya di prank saja. Sulit bagi Shu Hua untuk menerima kenyataan menyeramkan itu.
"Sayangnya tidak, Su-a. Ini nyata, dan jika kita mati di sini, mungkin kita tidak akan bisa kembali ke tempat asal kita. Jadi jika bisa, kita harus bertahan," ujar Li Hua tenang.
"Tapi bagaimana caranya? Mereka semua punya senjata, sedangkan kita tidak punya apa-apa. Andai aku punya pedang," ucap Shu Hua dalam keputusasaan. Dan siapa sangka? Ucapan asal dari Shu Hua langsung terwujud.
Sebuah pedang dengan ukiran yang luar biasa, terasa ringan di tangan Shu Hua. Dan sekali lagi, Shu Hua kaget dengan apa yang bisa ia lakukn.
"Wah! Kakak barusan lihat tadi? Pedangnya tiba-tiba muncul begitu saja! Kakak lihat?" Sekali lagi, Shu Hua sangat antusias sampai lupa tentang Li Hua, dan saat ia sadar, Shu Hua hanya bisa meminta maaf, lagi dan lagi.
"Lupakan saja tentang itu, dan fokus dengan apa yang ada di depan mata. Apa kamu bisa menggunakan pedang itu?" tanya Li Hua.
"Entahlah. Aku hanya biasa melihat di drama kolosal, dan mungkin ini tidak terlalu sulit. Aku akan mencoba; jika memang ditakdirkan untuk mati, setidaknya aku ingin mati saat berjuang mempertahankan hidupku!" Shu Hua dengan tegas menekankan keinginannya.
"Kakak tetap di belakangku, dan pegang tanganku!"
Satu tangan Shu Hua ia gunakan untuk memegangi Li Hua agar Li Hua tak jauh-jauh darinya; satu tangan Shu Hua yang lain memegang pedang, mengarahkan pedang itu kepada para pemburu yang sejak tadi tampak diam, dan saat melihat Shu Hua sudah mengeluarkan pedang, mereka mulai tampak bersemangat.
"Matilah kalian!" teriak salah seorang pemburu yang langsung menyerang Shu Hua; namun, serangan itu sangat lemah—Shu Hua dengan mudah mengelak serangan itu, bahkan dengan satu kali tebasan pedang, leher pemburu itu langsung mengeluarkan banyak darah.
Dengan mudah, Shu Hua berhasil menjatuhkan orang yang ingin membunuhnya. Dan bukan hanya satu saja, tetapi semua pemburu itu kalah dan langsung kehilangan nyawa di tempat.
"Kita harus pergi dari sini, Kak."
Menyadari betapa seriusnya situasi saat itu, Shu Hua langsung membawa Li Hua menjauh dari tempat di mana para pemburu telah berjatuhan, tak bernyawa lagi.
Shu Hua takut jika mereka tetap di sana, kemungkinan teman-teman para pemburu itu akan datang dan kemudian berusaha untuk menangkap Li Hua dan Shu Hua lagi.
Berlari melewati salju yang tebal, akhirnya Li Hua dan Shu Hua berhasil mencapai sisi hutan lain. Di hutan itu, entah kenapa, hawanya sangat berbeda. Dan saat Shu Hua menoleh ke belakang, ia melihat dengan jelas sebuah tabir yang terbentang melindungi hutan itu.
"Tabir?" Shu Hua tampak kebingungan.
"Sepertinya tabir itu berfungsi untuk melindungi hutan ini dari orang lain," sahut Li Hua.
Mengejutkan bagi Shu Hua mendengar sang Kakak mengatakan hal seperti itu.
"Bagaimana Kakak tahu?"
"Entahlah," jawab Li Hua yang juga tampak bingung walaupun ia terlihat tenang di luar.
"Sejak pertama kali aku membuka mata di sini, hal-hal aneh terus terjadi. Aku bisa melihat beberapa hal yang tidak bisa aku deskripsikan, dan aku juga bisa merasakan energi seseorang, dan yang lebih aneh, entah kenapa luka pada tubuhku bisa sembuh begitu saja. Ini benar-benar di luar nalar."
Bukan hanya Li Hua yang merasakan banyak keanehan pada dirinya. Shu Hua pun juga merasakan hal yang sama.
"Aku juga begitu. Bagaimana bisa aku memanggil senjata seperti itu? Dan sejak kapan aku lihai menggunakan pedang? Semua ini benar-benar tidak masuk akal!" Shu Hua menghela napas panjang.
"Dan sebenarnya, kita ini ada di mana? Kenapa orang-orang itu ingin membunuh kita?" Shu Hua penuh dengan tanda tanya yang tidak bisa dijawab oleh Li Hua.
Hening untuk beberapa saat; selanjutnya, Li Hua memutuskan apa yang harus mereka lakukan.
"Untuk saat ini, akan jauh lebih baik bagi kita untuk tidak keluar dari hutan ini. Di hutan ini, kita aman. Orang luar tidak bisa masuk ke sini," ucap Li Hua.
"Dari mana Kakak tahu hal itu?"
"Entahlah. Hanya saja, isi pikiranku mengatakan seperti itu."
"Kakak yakin?"
"Iya. Semua akan baik-baik saja asalkan kita tetap di dalam hutan ini. Dan selanjutnya, kita harus cari tempat untuk beristirahat. Bukankah kamu sudah lelah?"
"Baiklah."
Patuh pada Li Hua, Shu Hua kemudian membantu sang Kakak untuk berjalan masuk lebih jauh ke dalam hutan itu.
Li Hua dan Shu Hua berjalan jauh masuk ke dalam hutan, bahkan saat matahari sudah naik, keduanya masih berjalan, berusaha mencari tempat yang tepat untuk membuat tempat berlindung.
Namun, saat itu tampaknya keberuntungan sedang berpihak kepada mereka. Di dalam hutan itu ternyata ada sebuah gubuk tua yang terlantar. Walaupun gubuk itu tampak tidak terurus, gubuk itu masih berdiri kokoh.
Akhirnya, Li Hua dan Shu Hua memutuskan untuk tinggal di sana, menunggu saat di mana mereka bisa kembali ke dunia mereka.
Namun, harapan kedua saudari itu tidak terkabul. Bahkan setelah satu tahun berlalu, mereka masih terjebak di tempat itu. Dan saat mereka sudah mulai belajar menerima kondisi itu, tiba-tiba keduanya merasakan bahwa seseorang telah melewati tabir pelindung hutan itu.
"Ada seseorang masuk ke sini!" seru Li Hua.
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄