CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENALAN SAMA KELUARGA
Hubungan mereka sudah berjalan sangat manis. Status sebagai pacar sudah resmi terjalin, rasa sayang sudah tumbuh subur di hati masing-masing, dan mereka berdua sudah merasa sangat yakin bahwa merekalah pasangan yang ditakdirkan untuk satu sama lain.
Tapi, ada satu hal besar yang belum mereka lakukan. Sesuatu yang menjadi tolok ukur keseriusan sebuah hubungan.
Mengenalkan pada keluarga.
Bagi kebanyakan pasangan, langkah ini mungkin terlihat biasa saja. Tapi bagi Ayunda dan Gio, ini adalah momen yang sangat mendebarkan, bahkan lebih menegangkan daripada saat mereka berantem atau saat Gio ngajak pacaran dulu.
Gio tahu betul latar belakang Ayunda. Dia tahu kalau Ayunda dibesarkan di lingkungan yang sederhana, penuh kehangatan, tapi orang tuanya pasti sangat protektif dan pasti punya standar tinggi buat calon menantu. Begitu juga sebaliknya, Ayunda tahu keluarga Gio adalah orang terpandang, disiplin, dan mungkin agak kaku.
Tapi mereka berdua sepakat. Mereka tidak mau sembunyi-sembunyi. Mereka mau berani maju, menghadap orang tua masing-masing, dan meminta restu dengan kepala tegak.
Hari itu diputuskan untuk menjadi hari yang bersejarah. Mereka memulai dari rumah Ayunda terlebih dahulu.
Mobil mewah milik Gio terparkir rapi di halaman rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat asri dan bersih itu. Suasana di dalam mobil mendadak jadi hening dan mencekam.
Gio terlihat sangat kaku. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat, kelenjar di lehernya terlihat berdenyut-denyut karena gugup yang luar biasa. Wajahnya yang biasanya tenang dan keren, sekarang terlihat pucat dan sedikit panik.
"Yun..." panggilnya dengan suara parau. "Beneran kita masuk sekarang? Gak bisa ditunda lagi?"
Ayunda yang duduk di sebelah langsung terkekeh melihat tingkah pacarnya yang biasanya gagah dan berani, sekarang berubah jadi segan setengah mati.
"Ya masa ditunda terus sih Bos! Udah siapin mental dari seminggu lalu loh!" jawab Ayunda sambil mencubit pelan pipi Gio. "Tarik napas... buang... lo kan Giovanni yang gagah! Lo kan yang kemarin berani hajar cowok-cowok di restoran! Kenapa sekarang takut sama Bapak sama Ibu gue?"
"Itu beda Yun! Lawan orang yang mau ganggu kamu itu aku berani mati! Tapi lawan calon mertua itu... itu beda level seramnya!" jawab Gio jujur, matanya melirik ke arah pintu rumah dengan takut-takut. "Aku takut Bapak kamu gak suka sama aku. Aku takut dia anggap aku ini orang sombong atau kaku."
"Dih! Sombong apanya! Lo kan baik!" Ayunda memegang kedua tangan Gio yang dingin dan berkeringat itu. "Dengerin ya... Bapak sama Ibu gue itu orangnya paling baik dan paling welcome di dunia. Asalkan mereka liat lo tulus dan sayang sama gue, mereka pasti terima kok. Cuma... lo harus janji sama gue satu hal."
"Apa? Apa aja deh!"
"Jangan jadi diri lo yang kaku itu! Jangan jadi diri lo yang dingin! Keluarin sisi lo yang hangat, yang sopan, dan yang perhatian. Bicara yang lembut dikit, senyum yang lebar, tunjukin kalau lo beneran sayang sama anak mereka."
Gio mengangguk-angguk cepat, mencoba mencerna semua instruksi itu.
"Oke... siap. Sopan, ramah, senyum, tunjukin cinta. Catet semua."
"Ayo... jalan!" ajak Ayunda tegas.
Mereka pun turun dari mobil. Gio dengan sigap membukakan pintu untuk Ayunda, lalu dengan sangat gentleman dia menggenggam tangan Ayunda erat-erat, berjalan berdampingan menuju pintu utama.
Saat Ayunda mengetuk pintu dan memanggil, tak lama kemudian pintu terbuka.
Muncullah Ibu dari Ayunda, seorang wanita paruh baya yang ramah, wajahnya baik, dan senyumnya hangat. Di belakangnya ada Bapak Ayunda, terlihat tegas, gagah, dan tatapannya tajam menilai orang di depannya.
"Assalamualaikum..." sapa Gio dengan suara lantang tapi sopan. Dia langsung menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat.
"Waalaikumsalam..." jawab Ibu Ayunda tersenyum. "Oh ini ya nak Gio? Ayo masuk nak, masuk."
Mereka pun duduk di ruang tamu. Suasana awalnya memang terasa sedikit canggung. Gio duduk dengan sangat rapi, punggungnya tegak, tangannya diletakkan di atas lutut. Dia terlihat sangat sopan, tapi sangat kaku.
Bapak Ayunda menatap Gio dari atas sampai bawah dengan tatapan tajam, membuat Gio makin berkeringat dingin.
"Jadi kamu yang namanya Giovanni ya?" tanya Bapak Ayunda membuka suara dengan nada yang berat dan tegas. "Kamu yang sering ajak anak saya jalan-jalan belakangan ini?"
"I-iya benar Pak..." jawab Gio cepat, sedikit terbata-bata tapi dia berusaha menenangkan diri. "Saya Giovanni. Panggil saja Gio, Pak, Bu."
Gio lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Senang sekali bisa berkenalan dengan Bapak dan Ibu. Maaf kalau sebelumnya saya belum sempat mampir dan memberi hormat."
Bapak Ayunda menyambut uluran tangan itu, lalu dia menatap Gio lekat-lekat.
"Kamu orangnya gimana sama anak saya? Saya dengar kamu orang kaya, orang terpandang, tapi saya lihat sendiri kamu orangnya kaku dan dingin."
Pertanyaan itu meluncur tajam. Ayunda yang duduk di samping sudah siap mau intervensi, tapi tiba-tiba Gio menggeleng pelan dan tersenyum.
Senyum yang tulus, senyum yang hangat, dan senyum yang penuh keyakinan.
"Bapak benar..." jawab Gio jujur. "Dulu saya memang orangnya kaku, pendiam, dan dingin. Hidup saya penuh dengan aturan dan kesendirian. Tapi semenjak kenal Ayunda... semua berubah."
Gio menoleh sebentar menatap Ayunda dengan mata berbinar, lalu kembali menatap orang tua Ayunda.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa selain satu hal, Pak, Bu. Saya sangat mencintai Ayunda. Saya mencintai dia lebih dari apapun di dunia ini. Dia yang mengajarkan saya cara tertawa, dia yang mengajarkan saya apa itu bahagia, dan dia yang membuat hidup saya jadi berwarna."
Gio menelan ludah, lalu berkata dengan sangat tegas dan serius.
"Saya tahu saya mungkin tidak sempurna. Saya mungkin masih banyak kurangnya. Tapi saya berjanji di hadapan Bapak dan Ibu... saya akan menjaga Ayunda dengan sekuat tenaga saya. Saya akan melindungi dia, saya akan membahagiakan dia, dan saya tidak akan pernah membiarkan ada air mata kesedihan yang jatuh dari matanya selama dia bersama saya."
Suasana menjadi hening sejenak. Ibu Ayunda sudah menutup mulutnya terharu, matanya berkaca-kaca. Bapak Ayunda yang tadi wajahnya datar, perlahan-lahan sudut bibirnya naik membentuk senyum tipis.
Senyum lega, senyum setuju.
"Bagus..." kata Bapak Ayunda pelan, lalu dia menepuk bahu Gio kuat-kuat. "Kalau omongan kamu itu beneran dan kamu bisa buktikin... Bapak terima kamu. Bapak serahin anak Bapak ke kamu. Jagain dia baik-baik ya nak."
"Alhamdulillah..." Gio menghela napas panjang sekali, rasanya beban ribuan ton terangkat dari dadanya. Wajahnya langsung berseri-seri bahagia. "Makasih banyak Pak! Makasih Bu! Saya janji saya gak bakal nyeselin Bapak sama Ibu!"
"Iya iya... jangan nangis dong nanti malah!" goda Ibu Ayunda sambil tertawa renyah. "Ayo makan dulu yuk, Ibu masakin banyak kok buat menantu kesayangan!"
Suasana pun berubah menjadi sangat hangat dan meriah. Gio yang tadinya kaku, perlahan mulai mencair. Dia terlihat sangat sopan, sangat menghormati orang tua Ayunda, dan sangat perhatian. Dia tidak segan-segan mengambilkan makanan untuk Ayunda dan orang tuanya, mendengarkan cerita Bapak dengan antusias, dan membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
Ayunda melihat itu semua dari samping, hatinya meleleh dan bahagia setengah mati. Dia melihat Gio yang berusaha keras diterima oleh keluarganya, dan itu membuat rasa cintanya pada cowok itu bertambah tak terhingga.
"Gimana? Lolos gak ujiannya?" bisik Ayunda saat mereka lagi di dapur membantu membereskan piring.
Gio langsung nyengir lebar, keringat dinginnya sudah mengering digantikan oleh senyum kemenangan.
"Lolos dong! Mode sopan dan romantis aku emang gak ada lawan!" jawab Gio bangga, lalu dia mencuri kesempatan mencubit pelan pipi Ayunda. "Tapi jujur ya... tadi jantung aku mau copot rasanya. Takut banget Bapak kamu marah."
"Kan udah bilang gak usah takut! Lo itu udah cukup kok Gio."
"Karena ada kamu yang dukung dari belakang," jawab Gio lembut, menatap mata Ayunda dalam-dalam. "Makasih ya Yun... udah bawa aku masuk ke keluarga kamu yang hangat ini. Sekarang giliran kamu ya nanti kenalan sama keluarga aku. Mereka mungkin lebih kaku dikit, tapi aku janji aku bakal perang buat dapetin restu mereka juga!"
"Iya! Kita hadepin bareng-bareng!" jawab Ayunda semangat.
Malam itu berakhir dengan kebahagiaan yang luar biasa. Langkah pertama sudah berhasil dilewati. Pintu hati orang tua Ayunda sudah terbuka untuk Gio. Dan ini membuktikan, bahwa cinta mereka memang nyata, dan pantas untuk diperjuangkan sampai ke pelaminan.