Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
POV: RIANI
Sabtu pagi, Riani bangun dengan perasaan yang aneh. Bukan perasaan buruk, tapi juga bukan yang baik—lebih seperti... gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak kemarin malam.
Wahyu.
Lagi-lagi Wahyu.
Riani duduk di tepi kasur, meraih ponsel di meja samping. Pukul delapan lewat sepuluh menit. Hari Sabtu biasanya dia pakai untuk tidur sampai siang, tapi entah kenapa pagi ini matanya terbuka dengan sendirinya.
Notifikasi WhatsApp: 12 pesan baru dari grup "GENG REBAHAN".
Riani membuka.
Dinda (23:47): "Btw Ri, besok Sabtu kalian pada ngapain?"
Amel (23:52): "Gue mau ke mal kayaknya. Ada sale di Zara."
Sari (00:03): "Gue tidur seharian mungkin wkwk capek banget minggu ini."
Karin (00:15): "Gue ada kerjaan kampus sampe siang. Sore mungkin bisa meet up?"
Dinda (00:20): "Yuk meet up! Kangen ngumpul. Ri sama Sari gimana?"
Sari (00:25): "Okee gue usahain bangun siang wkwk."
Riani: "Gue bisa. Jam berapa?"
Dinda: "Jam 4 sore? Tempat biasa?"
Riani: "Oke deal."
Riani menaruh ponsel, berjalan ke kamar mandi. Cuci muka, sikat gigi, lalu kembali ke kamar untuk ganti baju. Hari ini dia pakai kaos putih polos dan celana jeans—simpel, nyaman untuk hari santai.
Sambil menyisir rambut, pikirannya melayang lagi ke percakapan kemarin sore dengan Karin dan Dinda.
Wahyu yang dulu ceria, suka tertawa, punya banyak teman.
Wahyu yang sekarang dingin, pendiam, membangun tembok di sekitarnya.
Apa yang terjadi di antaranya?
Karin bilang, keluarga Wahyu jadi bahan omongan. Ayahnya dituduh korupsi. Wahyu di-bully, dikucilkan, disakiti.
Riani merasa dadanya sesak setiap kali mengingat itu.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya—masih kecil, masih SD, sudah harus menghadapi stigma seperti itu. Orang dewasa saja belum tentu kuat, apalagi anak-anak.
Dan Wahyu... bertahan sendirian.
Tanpa teman. Tanpa dukungan.
Riani menarik napas panjang. Dia menaruh sisir, menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kenapa sih kamu peduli banget sama dia?" bisiknya pada diri sendiri. "Kalian bahkan bukan teman."
Tapi... apa salahnya peduli?
Apa salahnya ingin membantu seseorang yang terlihat kesepian?
Riani menggeleng pelan. Dia mengambil tas selempang kecil, memasukkan dompet, ponsel, dan powerbank. Hari ini dia berencana keluar sebentar—mungkin ke perpustakaan kampus untuk menyelesaikan tugas yang tertunda, atau sekadar jalan-jalan ke taman kota untuk refresh pikiran.
Tapi sebelum keluar, ponselnya berdering.
Karin.
Riani mengangkat. "Halo, Kar?"
"Ri, kamu lagi sibuk nggak?" suara Karin terdengar... serius.
"Nggak, kenapa?"
"Aku mau cerita sesuatu. Soal Wahyu. Penting. Bisa kita ketemu sekarang?"
Riani mengerutkan kening. "Sekarang? Bukannya kamu ada kerjaan kampus sampai siang?"
"Sudah selesai tadi pagi. Aku... perlu bicara sama kamu. Berdua saja dulu. Sebelum ketemu Dinda dan yang lain sore nanti."
Riani merasakan sesuatu yang tidak biasa dalam nada suara Karin. Biasanya Karin itu tenang, kalem, jarang terdengar... urgent seperti ini.
"Oke. Di mana?"
"Cafe Kopi Kita? Aku sudah di sini."
"Oke, aku berangkat sekarang. Tunggu ya."
Lima belas menit kemudian, Riani sampai di Cafe Kopi Kita. Suasana pagi Sabtu cukup sepi—hanya ada beberapa pengunjung yang sedang membaca buku atau mengetik di laptop.
Karin duduk di meja pojok dekat jendela, tempat favorit mereka. Di depannya sudah ada secangkir kopi dan sebuah buku catatan yang terbuka.
"Kar," Riani melambaikan tangan sambil berjalan mendekat.
Karin mengangkat kepala, tersenyum tipis. "Ri, duduk. Mau pesan apa?"
"Iced latte saja." Riani duduk di hadapan Karin, memanggil pelayan, memesan minuman. Setelah pelayan pergi, Riani menatap Karin dengan penuh tanda tanya. "Ada apa? Kamu terlihat... tegang."
Karin menarik napas panjang. "Kemarin, setelah kita ngobrol di sini, aku... nggak bisa berhenti mikir soal Wahyu."
"Aku juga," Riani mengakui.
"Dan tadi pagi, aku mencoba mencari tahu lebih banyak. Aku menghubungi beberapa teman lama yang satu SD dengan kami dulu. Termasuk satu orang yang satu SMP dengan Wahyu."
Riani condong ke depan. "Terus? Apa yang kamu dapat?"
Karin membuka buku catatannya—ternyata itu bukan buku biasa, tapi jurnal pribadinya. Di sana ada beberapa nama dan catatan tulisan tangan.
"Aku bicara dengan Lia—dulu teman sekelas kami di SD. Dia cerita, waktu kelas enam, Wahyu sempat... hilang beberapa hari dari sekolah."
"Hilang?"
"Maksudnya, nggak masuk sekolah. Tanpa keterangan. Guru sampai telepon ke rumahnya, tapi ibunya cuma bilang Wahyu sakit. Padahal Lia tinggal dekat rumah Wahyu, dan dia sering lihat Wahyu duduk sendirian di teras rumah—nggak kelihatan sakit."
Riani merasakan dadanya sesak lagi. "Jadi dia... sengaja nggak masuk?"
"Sepertinya. Lia bilang, setelah Wahyu balik sekolah, dia jadi lebih pendiam. Bahkan saat istirahat, dia cuma duduk sendirian di pojok kelas, baca buku atau diam saja. Nggak mau main, nggak mau ikut kegiatan kelompok."
Karin membalik halaman jurnalnya. "Terus aku bicara dengan Dimas—dia satu SMP dengan Wahyu. Dan Dimas cerita sesuatu yang... berat."
Riani menelan ludah. "Apa?"
"Waktu kelas delapan SMP, Wahyu pernah di-bully. Parah."
Kata "parah" itu menggantung di udara.
Riani merasa tangannya dingin. "Parah... seberapa parah?"
Karin menatap Riani dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara sedih, marah, dan frustrasi. "Dimas bilang, ada sekelompok anak cowok—anak berandalan—yang sering ngerjain Wahyu. Mulai dari ngambil barang-barangnya, nyembunyiin tas, sampai... mukul."
"Mukul?" Riani hampir berteriak, tapi dia tahan. Beberapa pengunjung cafe menoleh. Riani menurunkan suaranya. "Mereka... memukul Wahyu?"
Karin mengangguk. "Di toilet. Di belakang kelas. Tempat-tempat yang nggak ada CCTV atau guru. Dan alasannya..."
Karin terdiam sebentar.
"Alasannya karena mereka bilang, Wahyu itu 'anak koruptor'. Mereka bilang, Wahyu nggak pantas sekolah di situ. Mereka bilang, uang SPP Wahyu pasti hasil dari uang haram."
Riani menutup mulut dengan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Wahyu... melawan?" tanya Riani pelan.
"Nggak. Dimas bilang, Wahyu diam saja. Nggak melawan. Nggak lapor ke guru. Nggak cerita ke orang tua. Dia cuma... diam. Menerima."
"Kenapa dia nggak lapor?"
"Dimas nggak tahu. Tapi dia bilang, mungkin Wahyu takut kalau dia lapor, masalahnya malah jadi lebih besar. Atau mungkin... dia sudah nggak percaya sama siapa pun."
Riani merasa air matanya mulai turun. Dia cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan.
Karin melanjutkan. "Dan yang paling menyakitkan... guru-guru di sekolah itu tahu, Ri. Mereka tahu Wahyu di-bully. Tapi mereka... nggak berbuat apa-apa."
"Apa?" Riani tidak percaya.
"Dimas bilang, pernah ada satu guru yang lihat Wahyu babak belur di koridor. Guru itu tanya, 'Kenapa?' dan Wahyu jawab, 'Jatuh.' Guru itu... percaya. Atau pura-pura percaya. Entahlah. Yang jelas, nggak ada tindakan apa pun."
Riani menggelengkan kepala. "Ini... nggak adil. Wahyu nggak salah apa-apa. Kenapa dia yang harus—"
"Karena orang-orang itu butuh someone to blame," Karin memotong, suaranya pahit. "Mereka nggak peduli apakah Wahyu bersalah atau tidak. Yang penting, mereka punya target untuk disalahkan."
Hening.
Riani menatap cangkir iced latte yang baru saja datang, tapi dia sama sekali nggak berselera untuk minum.
"Karin..." Riani bersuara pelan. "Kalau Wahyu mengalami semua itu... bagaimana dia bisa bertahan?"
Karin tersenyum sedih. "Aku juga nggak tahu, Ri. Mungkin karena dia... kuat. Atau mungkin karena dia nggak punya pilihan lain."
Riani menghapus air mata lagi. "Dan sekarang dia kuliah, kerja, hidup sendirian... masih menanggung beban itu semua."
"Iya."
"Karin..." Riani menatap sahabatnya. "Kamu bilang kemarin, Wahyu pernah push you away. Waktu kalian masih SD."
Karin mengangguk.
"Menurutmu... kenapa dia lakukan itu? Padahal kamu teman baiknya."
Karin terdiam cukup lama. Lalu menjawab dengan suara lembut. "Karena dia nggak mau aku terluka. Dia nggak mau aku kena stigma yang sama. Dia nggak mau aku di-bully juga gara-gara berteman dengannya."
Riani merasakan dadanya makin sesak. "Jadi dia... mengorbankan persahabatan kalian demi melindungimu?"
"Iya. Dan itu... salah satu hal paling mulia sekaligus paling menyakitkan yang pernah dia lakukan."
Riani tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia menangis—pelan, tapi jelas.
Karin mengulurkan tisu. "Ri..."
"Maaf," Riani mengambil tisu, mengelap wajahnya. "Aku cuma... nggak bisa bayangin. Wahyu itu masih... apa, delapan belas tahun? Dan dia sudah mengalami semua itu?"
"Sembilan belas sekarang. Sama seperti kita."
"Tetap saja. Itu terlalu berat untuk seseorang seusianya."
Karin mengangguk. "Makanya aku bilang kemarin, kalau kamu mau mendekati Wahyu, itu nggak akan mudah. Karena dia... sudah terlalu sering disakiti. Dia nggak akan percaya begitu saja."
Riani menarik napas, berusaha menenangkan diri. "Aku tahu. Tapi... aku tetap mau coba."
"Kenapa, Ri?" Karin bertanya lembut. "Kenapa kamu begitu peduli sama dia?"
Riani terdiam.
Kenapa?
Dia tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin karena Wahyu terlihat kesepian. Mungkin karena Riani merasa... empati. Atau mungkin...
"Karena aku merasa, kalau aku nggak melakukan sesuatu, nggak ada orang lain yang akan," jawab Riani akhirnya. "Dan aku nggak mau Wahyu merasa... sendirian selamanya."
Karin tersenyum—senyum yang tulus, bangga. "Kamu baik, Ri. Tapi ingat, Wahyu mungkin akan tolak kamu. Berkali-kali. Kamu harus siap mental."
"Aku siap."
"Dan jangan pernah paksa dia untuk terbuka. Biarkan dia yang menentukan pace-nya sendiri."
"Aku mengerti."
Karin meraih tangan Riani, menggenggamnya. "Aku akan bantu kamu. Sebisa aku. Tapi aku nggak bisa jamin Wahyu akan menerima. Oke?"
Riani mengangguk. "Oke. Terima kasih, Kar."
Mereka duduk dalam diam sejenak, menikmati kehangatan persahabatan di antara kesedihan yang baru saja mereka bicarakan.
Lalu Riani bertanya, "Karin... kamu kemarin bilang, kamu lihat Wahyu di kantin kampus satu, kan?"
"Iya. Kemarin siang. Aku menyapanya."
"Dia... bagaimana?"
Karin tersenyum tipis. "Sama seperti dulu. Dingin. Nggak banyak bicara. Tapi... aku lihat matanya. Dia... terkejut. Mungkin nggak nyangka ketemu aku lagi."
"Dia bilang apa?"
"Nggak banyak. Cuma jawab pertanyaanku seadanya. Terus dia bilang ada meeting dan langsung pergi."
Riani mengangguk. "Kalau kamu bisa ketemu dia lagi, apa yang akan kamu lakukan?"
Karin berpikir sejenak. "Aku... akan bilang maaf."
"Maaf? Kenapa?"
"Karena waktu SD, aku nggak cukup kuat untuk stay. Aku... membiarkan dia push me away. Aku seharusnya lebih keras kepala, lebih gigih. Tapi aku nggak. Dan aku menyesal."
Riani menggenggam tangan Karin lebih erat. "Kamu nggak salah, Kar. Kamu waktu itu juga masih kecil."
"Tetap saja. Aku merasa... aku gagal sebagai teman."
"Tapi sekarang kamu bisa memperbaikinya."
Karin menatap Riani. "Kita bisa memperbaikinya. Bersama-sama."
Riani tersenyum. "Bersama-sama."
Sore harinya, Riani, Karin, Dinda, Amel, dan Sari berkumpul lagi di cafe yang sama. Kali ini suasananya lebih santai—mereka berbincang tentang berbagai hal: tugas kuliah, gossip kampus, rencana liburan akhir tahun.
Tapi di tengah obrolan, Dinda tiba-tiba bertanya, "Ri, jadi gimana rencana kamu soal Wahyu?"
Semua mata langsung tertuju pada Riani.
Amel, yang belum tahu konteksnya, mengerutkan kening. "Wahyu? Siapa itu?"
"Cowok yang Riani suka," Dinda menjawab dengan nada jahil.
"Aku nggak suka!" Riani protes. "Aku cuma... peduli. Beda."
Sari tertawa. "Peduli atau suka, ujung-ujungnya sama aja."
Riani memutar mata. "Kalian ini..."
Karin tersenyum, tapi tidak berkomentar.
"Oke serius," Dinda meluruskan tubuhnya. "Kalau kamu mau dekatin Wahyu, langkah pertama apa?"
Riani berpikir. "Mungkin... cari tahu dia sering ada di mana. Terus... kebetulan ada di tempat yang sama?"
"Stalker mode activated," Sari berkomentar sambil tertawa.
"Bukan stalker!" Riani membela diri. "Cuma... strategis."
Amel mengangkat tangan. "Wait, aku masih bingung. Ini Wahyu siapa sih? Kenapa Riani tiba-tiba interested?"
Karin dan Dinda bergantian menjelaskan—tanpa detail yang terlalu personal tentang masa lalu Wahyu, hanya konteks umum: Wahyu itu teman SMA mereka, sekarang kuliah di kampus yang sama, tapi orangnya tertutup dan sulit didekati.
Amel mengangguk-angguk. "Ohh... jadi challenge-nya adalah... membuat dia membuka diri?"
"Kurang lebih," Riani menjawab.
"Susah sih," Amel berkomentar. "Tipe orang yang sudah membangun tembok itu biasanya butuh waktu lama untuk percaya lagi."
"Aku tahu," Riani mengangguk. "Tapi aku mau coba."
Sari tersenyum. "Gue support sih. Tapi jangan sampai kamu malah jadi capek sendiri, Ri. Kalau dia terus-terusan push you away, jangan dipaksain."
"Iya, gue ngerti."
Dinda menyeruput kopinya. "Anyway, kalian tahu nggak, kalau Wahyu itu aktif di BEM Universitas?"
"BEM?" Amel mengangkat alis. "Serius? Tapi dia kan pendiam?"
"Makanya gue juga kaget," Dinda menjawab. "Tapi Rangga—pacar gue—bilang, Wahyu itu salah satu anggota yang paling reliable. Koordinator lapangan katanya. Kerjanya rapi, detail, nggak pernah telat."
Riani mencatat informasi itu di kepala. BEM Universitas. Sekretariat di gedung Rektorat, kampus satu.
"Berarti dia sering ke kampus satu dong," Riani bergumam.
"Yup. Dan itu... kesempatan buat kamu," Dinda menyeringai.
Riani tersenyum kecil. Mungkin, memang itu kesempatannya.
Malam harinya, Riani berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar.
Hari ini dia belajar banyak tentang Wahyu. Tentang masa lalunya. Tentang luka-luka yang dia bawa.
Dan semakin Riani tahu, semakin dia merasa... harus melakukan sesuatu.
Bukan karena kasihan.
Tapi karena... Wahyu layak mendapatkan seseorang yang peduli. Seseorang yang tidak akan pergi. Seseorang yang akan stay, meskipun dia terus mendorong.
Dan Riani ingin menjadi orang itu.
Mungkin dia belum tahu caranya. Mungkin dia akan gagal berkali-kali.
Tapi dia akan coba.
Untuk Wahyu.
Bersambung.....