NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: KODE DI BALIK KABUT SWISS DAN TAHTA YANG DITINGGALKAN

​Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun bagi keluarga Diningrat, denyut nadinya telah berubah frekuensi. Di usia senja yang penuh wibawa, Presiden Diningrat Adhirdja—ayah Ian—akhirnya memutuskan untuk melangkah turun dari panggung kekuasaan. Keputusan pensiun itu mengguncang bursa efek dan memicu spekulasi nasional, namun di kediaman utama Diningrat, suasana justru terasa seperti fajar yang tenang setelah badai.

​Sang Mantan Presiden kini lebih sering terlihat di teras belakang, mengenakan batik sutra longgar, menyesap teh melati sambil menatap burung-burung di taman. Tidak ada lagi ajudan militer yang berlarian; yang ada hanyalah Mbok Yem yang sesekali mengomel karena sang mantan orang nomor satu di republik ini lupa meminum obat kolesterolnya.

​"Ian," panggil sang Ayah suatu sore, suaranya berat namun hangat. Ian, yang kini berusia 31 tahun, duduk di hadapannya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. "Dunia ini sudah cukup aku genggam. Sekarang, aku hanya ingin menggenggam tangan seorang cucu. Kapan kamu dan Rhea akan memberikan suara tangis bayi di lorong rumah yang sepi ini?"

​Ian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung beban rahasia. "Sabar, Yah. Rhea sedang fokus pada laboratorium riset barunya. Kami sedang mengusahakannya."

​Namun, di balik senyum itu, pikiran Ian terbelah. Fokusnya tidak sepenuhnya berada pada masa pensiun ayahnya atau impian tentang cucu. Di saku jasnya, tersimpan sebuah mikrokontroler kecil—hasil salinan dari dokumen "Mawar Merdeka" yang ia dapatkan dari kebun apel Lorenzo Valenti di Trentino.

​Operasi Bayangan: Kembali ke Tanah Valenti

​Larut malam di ruang kerja yang hanya diterangi lampu meja, Ian menatap layar monitor. Yusuf berdiri di belakangnya seperti bayangan yang tak terpisahkan. Data medis yang disamarkan oleh Lorenzo mulai terurai.

​"Tuan Muda," Yusuf berbisik, suaranya setajam silet. "Nama kode 'Mawar Merdeka' bukan merujuk pada Cansu. Status medis itu menunjukkan seorang pasien pria, usia lanjut, dengan riwayat cedera paru-paru kronis dan operasi plastik rekonstruksi wajah sepuluh tahun lalu."

​Ian merasakan darahnya mendingin. "Kakekku meninggal saat aku berusia 18 tahun. Aku melihat jasadnya. Aku melihat pemakamannya. Tapi Lorenzo... dia tidak akan menyimpan rahasia medis sebesar ini jika itu hanya orang asing."

​"Pasien ini disembunyikan di sebuah vila medis di wilayah Lugano, Swiss, tepat di perbatasan Italia. Keamanan di sana adalah protokol 'Black Box' Valenti," tambah Yusuf.

​Ian berdiri, mengancingkan jasnya. Keputusannya sudah bulat. Ini bukan lagi soal politik Jakarta; ini soal kebenaran garis darah Diningrat yang mungkin telah dimanipulasi selama belasan tahun.

​"Yusuf, siapkan penerbangan pribadi. Tanpa logistik perusahaan. Kita berangkat besok fajar. Katakan pada Rhea aku ada urusan merger mendadak di Singapura. Dan jangan sampai Mbok Yem tahu, atau dia akan menyelundupkan satu ton jamu ke koper kita."

​"Dimengerti, Tuan Muda. Hanya kita berdua?"

​"Hanya kita. Kali ini, sang Macan harus berburu di dalam gelap."

​Drama di Bandara: Pamit yang Menyesakkan

​Pagi buta di lobi mansion, Rhea berdiri menunggu dengan mantel panjangnya. Ia menatap Ian dengan tatapan yang sulit diartikan—tatapan seorang istri yang tahu suaminya sedang berbohong demi melindunginya.

​"Singapura, Ian? Sejak kapan merger dilakukan tanpa membawa tim legal pusat?" tanya Rhea lembut, sambil merapikan kerah baju Ian.

​Ian terdiam sejenak. Ia mengecup kening Rhea lama. "Hanya urusan teknis, Rhea. Aku akan kembali sebelum sup ceker Mbok Yem dingin."

​"Jangan membohongi dokter, Adrian," bisik Rhea. "Pergilah. Selesaikan apa pun bayangan yang masih mengejarmu. Tapi ingat, ada seorang Ayah yang menunggu cucu, dan ada seorang istri yang menunggumu pulang dengan utuh."

​Ian hanya bisa mengangguk, lalu melangkah keluar menuju limusin yang sudah menunggu di bawah gerimis Jakarta.

​Infiltrasi Lugano: Pertemuan di Tepi Danau

​Tiga puluh enam jam kemudian, udara dingin Alpen menusuk hingga ke tulang. Lugano menyambut Ian dan Yusuf dengan kabut tebal yang menyelimuti danau. Mereka tidak menggunakan mobil mewah, melainkan sebuah SUV hitam sewaan yang tidak mencolok.

​Vila medis milik keluarga Valenti berdiri angkuh di atas bukit, dikelilingi oleh hutan pinus dan penjagaan sensor termal yang canggih.

​"Yusuf, gunakan pemutus frekuensi Cansu. Jika dia memang keponakan Lorenzo, kode aksesnya pasti memiliki pola yang sama," perintah Ian.

​Mereka bergerak secepat bayangan. Di usia 31 tahun, fisik Ian berada di puncaknya. Ia memanjat dinding batu villa dengan ketangkasan seorang komando, diikuti Yusuf yang memantau radar melalui kacamata taktisnya. Begitu mereka berhasil masuk ke sayap medis, aroma antiseptik bercampur dengan wangi bunga lavender—aroma yang sama dengan surat Cansu—memenuhi lorong.

​Ian berhenti di depan sebuah pintu baja dengan akses biometrik. Di layar kecil tertulis: Patient 001 - Mawar Merdeka.

​Tangan Ian bergetar saat ia menempelkan perangkat dekripsi milik Yusuf. Saat pintu terbuka dengan bunyi klik yang halus, ruangan di dalamnya tampak seperti suite hotel mewah, namun penuh dengan peralatan pendukung kehidupan.

​Di sana, di kursi roda yang menghadap ke arah danau yang berkabut, duduk seorang pria tua. Rambutnya putih sempurna, kulit wajahnya tampak kaku—bekas operasi rekonstruksi yang luar biasa halus namun tetap terlihat tidak alami.

​Pria itu menoleh perlahan. Matanya yang tajam, mata yang sama dengan mata Ian, menatap sang cucu.

​"Kamu terlambat sepuluh menit dari perkiraanku, Adrian," suara itu parau, namun memiliki wibawa yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.

​Ian terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Kakek...?"

​"Kakekmu yang resmi sudah mati dan dikubur di Jakarta. Pria di depanmu ini hanyalah 'Mawar' yang dipetik Lorenzo agar tidak dihancurkan oleh musuh-musuhmu," pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan intrik masa lalu.

​Konfrontasi dan Kebenaran yang Pahit

​"Kenapa? Kenapa memalsukan kematianmu?!" Ian bertanya dengan nada yang tertahan, mencoba menekan amarah yang bercampur dengan rasa lega yang aneh.

​"Karena jika aku tetap hidup sebagai Kepala Keluarga Diningrat, ayahmu tidak akan pernah menjadi Presiden, dan kamu tidak akan pernah menjadi macan yang tajam," jawab sang Kakek tenang. "Lorenzo membutuhkanku untuk mengamankan jaringan di Eropa, dan aku membutuhkan kematian untuk melindungi kalian dari bayang-bayang rezim lama. Pradikta mengira dia menang, padahal dia hanya menari di atas papan catur yang aku buat."

​Yusuf berdiri di ambang pintu, tetap siaga namun matanya membelalak tak percaya.

​"Cansu tahu tentang ini?" tanya Ian lagi.

​"Cansu adalah orang yang merawatku selama di sini. Dia adalah penebusan dosa ayahnya kepadaku. Dan sekarang, Lorenzo membawamu ke sini karena dia tahu aku sudah tidak punya banyak waktu. Dia ingin 'Mawar' ini kembali ke tanah asalnya."

​Ian mendekat, berlutut di depan kakeknya. Di saat yang sama, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Rhea di Jakarta:

​"Ian, aku baru saja memeriksa hasil tes laboratorium pribadiku. Sepertinya Ayah tidak perlu menunggu terlalu lama. Kita akan memiliki Diningrat kecil."

​Air mata Ian jatuh, bukan karena kesedihan, tapi karena ironi yang luar biasa. Di satu sisi, ia menemukan kakeknya yang bangkit dari kematian; di sisi lain, ia baru saja mendapatkan kabar tentang kehidupan baru yang sedang tumbuh di rahim istrinya.

​"Adrian," panggil sang Kakek, memegang bahu cucunya. "Bawa aku pulang. Bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai seorang kakek yang ingin melihat cicitnya lahir."

​Penutup Bab: Simfoni yang Kembali Menyatu

​Ian menatap Yusuf, lalu menatap kakeknya. Ia tahu, membawa pulang pria ini ke Jakarta berarti akan memicu badai politik baru jika rahasia ini terbongkar. Namun, melihat kerutan di wajah kakeknya dan teringat pesan Rhea, Ian menyadari bahwa keluarga adalah segalanya.

​"Yusuf, ubah rute penerbangan. Kita kembali ke Jakarta dengan 'kargo' paling berharga dalam sejarah Diningrat," perintah Ian mantap.

​"Siap, Tuan Muda," jawab Yusuf, kali ini dengan senyum tipis di wajah kakunya.

​Di luar, kabut Lugano mulai tersingkap, menampakkan matahari fajar yang keemasan. Sang Macan tidak lagi berburu; ia sedang menjemput masa lalu untuk menyambut masa depan. Babak baru telah dimulai, dan kali ini, simfoni Diningrat akan dimainkan dengan lengkap—dari sang mantan Presiden yang pensiun, hingga sang bayi yang akan segera hadir ke dunia.

​Namun, di kegelapan koridor villa, Lorenzo Valenti mengamati melalui CCTV dengan cerutu di tangan. Ia tersenyum. "Permainan sesungguhnya baru saja dimulai, Adrian. Selamat datang di liga yang sebenarnya."

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!