Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Buku harian itu sudah agak kusam, dengan sudut-sudut kertas yang mulai melengkung. Prabu membukanya dengan tangan bergetar.
Di lembar-lembar awal, aroma parfum lavender yang samar—aroma khas Xena—masih tercium, membawa ingatan Prabu kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu.
Prabu mulai membaca isi dari beberapa lembar penting dalam buku harian Xena:
14 September – Perpustakaan Sekolah
Hari ini aku hampir menangis karena tumpukan buku referensi Fisika itu jatuh berhamburan. Tapi tiba-tiba ada tangan yang membantuku. Itu Prabu.
Dia tersenyum, meski hanya sebentar, dan bilang mataku bisa makin besar kalau terlalu rajin belajar.
Dia mungkin hanya iseng, tapi bagiku, itu adalah momen terbaik dalam hidupku. Terima kasih, Pra, sudah membuatku merasa 'ada'.
20 November – Hari Paling Patah Hati
Aku bodoh. Sangat bodoh. Aku pikir piala perak ini bisa membuatmu melihatku sebagai seseorang yang berharga.
Ternyata benar kata Tryas, aku hanya kutu buku yang membosankan.
Melihatmu membuang piala itu ke tempat sampah adalah suara tersakit yang pernah kudengar.
Bukan bunyi besinya yang hancur, tapi harapanku. Aku pulang dengan tangan kosong, tapi dadaku terasa sangat penuh oleh sesak. Mengapa mencintaimu harus sesakit ini?
12 Februari – Kelulusan
Hari ini kita lulus. Kamu akan pergi ke sekolah penerbangan, mengejar langitmu. Aku akan ke fakultas kedokteran, mengejar caraku untuk menyembuhkan orang. Kita tidak akan pernah bertemu lagi, kan? Selamat tinggal, Pilotku. Aku akan terus melihat ke langit, karena aku tahu di sanalah kamu berada.
Aku akan mencintaimu dari kejauhan, tempat yang paling aman agar aku tidak perlu lagi dihina oleh duniamu.
Jurnal Lima Tahun Kemudian (Masa Koas)
Aku melihat namamu di berita hari ini.
Kapten Prabu. Kamu terlihat gagah dengan seragam itu.
Aku masih menyimpan piala yang penyok itu di laci bawah.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah kamu pernah sekali saja mengingat gadis berkacamata yang surat cintanya kamu remas sepuluh tahun lalu? Mungkin tidak. Dan itu lebih baik.
Ayahmu memintaku menikahimu setelah kecelakaan itu.
Ini bukan pernikahan impianku, Pra. Kamu menikahiku karena hancur, dan aku menikahimu karena aku tidak bisa membiarkanmu hancur sendirian. Kamu memanggil nama Tryas di malam pertama kita.
Aku menangis di kamar mandi agar kamu tidak dengar.
Tidak apa-apa, Pra. Jika aku harus menjadi obat yang pahit agar kamu bisa terbang lagi, aku ikhlas.
Biarlah aku yang menanggung bencimu, asal kamu tetap hidup.
Catatan Terakhir (Ditulis di Vila Pantai, Malam Sebelum Pemukulan)
Hari ini kamu tertawa sebentar saat kita lari pagi. Tapi kemudian kamu memanggilku 'Tryas'.
Rasanya seperti jantungku dicabut paksa. Aku sadar, sedalam apa pun aku menyembuhkan lukamu, aku tidak akan pernah bisa menghapus bayangannya.
Aku lelah, Pra. Aku sangat mencintaimu, tapi sepertinya cintaku justru menjadi racun bagimu.
Mungkin setelah kamu bisa mengendalikan traumamu, aku harus benar-benar pergi. Agar kamu tidak perlu lagi merasa berdosa karena membenciku.
Prabu menutup buku itu dengan napas tersengal. Air matanya jatuh tepat di atas tulisan terakhir Xena, membuat tinta itu sedikit luntur.
Setiap kata di buku itu adalah bukti nyata bahwa selama sepuluh tahun, Xena telah menjadikan Prabu sebagai pusat dunianya, sementara Prabu justru menjadikan Xena sebagai sasaran kemarahannya.
Pria itu mendekap buku harian itu ke dadanya, meratap dalam sunyi di koridor rumah sakit, menyadari bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya hati yang paling tulus yang pernah ada dalam hidupnya.
Sinar matahari pagi yang pucat masuk melalui celah gorden ruang perawatan, memberikan cahaya temaram pada wajah Xena yang masih dihiasi perban.
Saat ia perlahan membuka mata, rasa nyeri di wajahnya sudah sedikit berkurang, namun kepalanya masih terasa berat.
Hal pertama yang ia lihat adalah sosok Prabu. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja rapi, melainkan kaus yang tampak kusut.
Matanya merah dan sembab, seolah ia tidak tidur semenit pun sepanjang malam.
Di tangannya, ia memegang buku harian biru milik Xena yang sudah tertutup.
"Haus?" tanya Prabu dengan suara yang sangat lembut, hampir berbisik agar tidak mengejutkan Xena.
Xena terdiam sejenak, menatap suaminya dengan tatapan datar yang sulit diartikan, lalu ia menganggukkan kepalanya pelan.
Kerongkongannya memang terasa sangat kering dan perih.
Melihat respon itu, Prabu dengan sigap meraih gelas berisi air mineral dan sedotan di atas meja kecil. Ia mencoba membantu menyodorkan gelas itu ke bibir Xena dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Aku bisa sendiri, Pra," ucap Xena lirih. Tangannya yang masih tertancap jarum infus bergerak perlahan, mencoba mengambil gelas itu dari tangan Prabu.
Ia tidak ingin lagi bergantung pada pria yang baru saja memberikan luka fisik padanya.
Namun, Prabu menggelengkan kepalanya dengan tegas.
Ia menjauhkan sedikit gelas itu dari jangkauan tangan Xena, tapi bukan untuk menjahilinya.
"Diamlah, Xen. Biarkan kali ini, hanya kali ini saja, aku yang melayanimu," ucap Prabu dengan nada memohon yang sangat dalam.
Ia kembali mendekatkan sedotan itu ke bibir Xena.
Matanya menatap Xena dengan sorot penyesalan yang begitu pekat, seolah ia ingin menebus ribuan hari di mana ia mengabaikan wanita ini hanya dengan segelas air.
Xena akhirnya menyerah. Ia menyesap air itu sedikit demi sedikit di bawah tuntunan tangan Prabu.
Di dalam keheningan pagi itu, hanya ada suara tegukan air dan detak jantung Prabu yang berpacu kencang.
Prabu menatap setiap inchi wajah Xena yang tidak tertutup perban, menyadari bahwa buku harian yang ia baca semalam telah mengubah cara pandangnya selamanya.
"Maafkan aku karena baru membaca bukumu, Xen," bisik Prabu setelah Xena selesai minum, suaranya kembali pecah.
Xena tersentak kecil mendengarnya. Ia melirik buku biru yang ada di pangkuan Prabu, lalu memejamkan mata rapat-rapat.
Rahasia sepuluh tahunnya kini telah telanjang di depan pria yang paling ingin ia hindari.
"Kamu buang saja, Pra. Semuanya sudah tidak ada artinya lagi," ucap Xena pelan, suaranya terdengar hampa.
Ia menolehkan wajahnya ke arah lain, tak sanggup melihat buku yang kini menjadi saksi bisu betapa menyedihkannya hidupnya selama ini.
Prabu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia mendekap buku biru itu lebih erat ke dadanya, seolah-olah itu adalah satu-satunya barang berharga yang tersisa di dunia ini.
"Tidak akan pernah, Xen. Ini tulisan istriku," ucap Prabu dengan suara serak.
"Ini adalah hatimu yang selama sepuluh tahun ini aku buang-buang. Sekarang, aku tidak akan membiarkan satu lembar pun hilang."
Tepat saat suasana semakin emosional, pintu kamar terbuka.
Seorang perawat masuk membawa baki peralatan medis untuk memeriksa tanda-tanda vital Xena dan mengganti balutan luka di wajahnya.
Perawat itu tertegun sejenak melihat lebam di wajah Xena yang tampak sangat jelas setelah perban lama dibuka.
Ia melirik ke arah Prabu dengan tatapan penuh selidik dan curiga, lalu kembali menatap Xena dengan serius.
"Dokter Xena," panggil perawat itu sambil memegang lembut tangan Xena.
"Mohon maaf jika saya lancang. Tapi melihat pola lukanya, apakah Anda mengalami KDRT?"
Prabu tersentak. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan jemarinya meremas kain celananya.
Ia siap jika saat ini juga polisi datang dan membawanya. Ia tahu ia pantas mendapatkannya.
"Jika benar, dokter jangan takut. Saya bisa membantu dokter untuk melaporkan ini agar segera diproses oleh polisi. Kami di rumah sakit memiliki protokol untuk melindungi korban,"
lanjut perawat itu dengan nada tegas, matanya sesekali melirik tajam ke arah Prabu.
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Prabu menahan napas, menunggu vonis yang akan dijatuhkan Xena.
Ia sudah pasrah dengan keputusan yang akan diambil oleh istrinya. Namun, Xena perlahan menarik napas panjang yang terasa sesak.
Ia melirik Prabu sekilas—melihat suaminya yang hancur dan tak berdaya—lalu kembali menatap perawat itu dengan tatapan tenang yang menyayat hati.
"Bukan, Sus. Saya terjatuh," jawab Xena lirih namun pasti.
"Terjatuh?" perawat itu mengernyitkan kening, tidak percaya. "Tapi memar ini—"
"Saya terjatuh di pantai, terkena kayu besar saat ombak kencang. Suami saya yang menyelamatkan dan membawa saya ke sini," potong Xena, mencoba memaksakan senyum di balik rasa sakitnya.
Perawat itu terdiam cukup lama, menatap Xena dan Prabu bergantian sebelum akhirnya menghela napas.
"Baiklah, kalau itu pernyataan dokter. Saya akan mencatatnya di laporan medis."
Setelah perawat itu selesai dan keluar dari ruangan, Prabu langsung luruh.
Ia bersimpuh di lantai di samping ranjang Xena, menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya yang bertumpu pada pinggiran ranjang.
"Kenapa, Xen? Kenapa kamu masih melindungiku setelah apa yang aku lakukan?" isak Prabu.
"Seharusnya kamu biarkan aku dipenjara. Aku pantas di sana!"
Xena hanya menatap langit-langit, air matanya mengalir membasahi telinganya.
"Karena jika kamu dipenjara, aku akan semakin merasa gagal menjadi istrimu, Pra. Cukup hati dan fisikku yang hancur, jangan karirmu." ucap Xena.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣