NovelToon NovelToon
Dia Yang Ku Pilih

Dia Yang Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:851
Nilai: 5
Nama Author: Yolanda Fitri

Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Haruskah aku memulainya kembali

1 Tahun Kemudian

Tak terasa, sudah satu tahun Bianca berkuliah di BIM. Dia terus menjalani hari-harinya dengan dikelilingi teman-teman yang selalu mendukungnya, yaitu Leo dan Dinda.

Ella sudah jarang mengganggunya karena sekarang Bianca dilindungi oleh Leo. Apa pun yang terjadi, Leo selalu ada untuk membela Bianca. Keluarga Leo pun sangat baik hati, mereka menerima Bianca dengan tangan terbuka seolah dia adalah bagian dari keluarga sendiri.

Keluarga Leo memang cukup berpengaruh di Indonesia, tetapi mereka tidak pernah membeda-bedakan orang lain. Semua diperlakukan dengan adil dan sama rata.

Suatu malam di hari Minggu, Bianca mengambil cuti bekerja karena sedang sakit. Kemungkinan besar ini akibat kelelahan, karena setiap hari dia harus berkuliah di pagi hari dan bekerja di sore hari. Bisa dibilang, waktu istirahatnya sangat kurang.

Tak lama kemudian, ponsel Bianca berdering. Ternyata Leo yang menelepon. Bianca pun mengangkatnya. Belum sempat dia mengucapkan sepatah kata pun, tangannya tidak sengaja menyenggol gelas di atas meja hingga ponselnya ikut jatuh ke lantai.

Leo yang mendengar suara gaduh dari seberang telepon langsung merasa panik. Tanpa berpikir panjang, dia segera bergegas menuju kediaman Bianca.

Sesampainya di rumah Bianca, Leo langsung berteriak sambil menggedor pintu, "Bi, buka pintunya, Bi! Ini gue, Leo!"

Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah. Leo semakin takut membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi. Dia segera memanggil warga sekitar untuk meminta bantuan membuka pintu. Akhirnya, pintu rumah Bianca pun terpaksa didobrak.

Di dalam, Leo menemukan Bianca tergeletak lemah di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang sangat panas. Dengan sigap, Leo menggendong Bianca menuju ke mobilnya dibantu oleh beberapa warga yang ada di sana.

"Terima kasih, Bapak dan Ibu sekalian. Dia teman saya, saya akan membawanya ke rumah sakit sekarang," ucap Leo sebelum masuk ke dalam mobil dan melesat meninggalkan tempat itu.

Namun, Leo tidak membawa Bianca ke rumah sakit umum. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Menurut pendapat Leo, Bianca membutuhkan istirahat di tempat yang tenang, bukan di rumah sakit yang ramai dan bising. Lagipula, dia memiliki dokter pribadi yang bisa dipanggil kapan saja.

Sesampainya di rumahnya, Leo langsung menggendong Bianca masuk dan membawanya ke kamar tamu yang nyaman. Di sana, dia bertemu dengan ibunya.

"Bianca kenapa, Leo?" tanya Mama Leo dengan nada khawatir.

"Dia sakit, Ma. Tolong teleponkan dokter sekarang, ya," jawab Leo sambil membaringkan tubuh Bianca di atas tempat tidur yang empuk.

Mama Leo langsung menelepon dokter dengan perasaan cemas. Tak butuh waktu lama, dokter pun datang dan segera memeriksa kondisi Bianca.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter berkata kalau Bianca mengalami kelelahan yang sangat parah dan terserang gejala tipes. Oleh karena itu, Bianca harus beristirahat total di rumah selama satu minggu ke depan dan tidak boleh melakukan aktivitas berat.

Mama Leo bertanya kepada dokter, "Apakah Bianca akan baik-baik saja, Dok?"

"Iya, tentu saja, Bu. Asalkan pasien cukup istirahat dan tidak memaksakan dirinya untuk beraktivitas berat, kondisinya akan membaik dengan cepat," jawab dokter.

"Baik, terima kasih, Dok," ucap Mama Leo sambil mengantar dokter keluar dari rumah.

Di dalam kamar, Leo duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Bianca yang masih tertidur pulas.

"Cepat sembuh ya, Bi. Nanti kalau kamu sudah sehat, kita beli es krim sebanyak-banyaknya," bisik Leo lembut seolah Bianca bisa mendengarnya, berusaha menyemangati gadis itu.

Tak lama setelah itu, Bianca pun perlahan membuka matanya dan sadar dari pingsannya.

"Aduh... kepala gue pusing sekali. Di mana gue ini?" gumam Bianca sambil mencoba bangun dan memegangi kepalanya yang terasa berat.

Leo segera membantu Bianca untuk duduk dengan bersandar di bantal, lalu menjawab, "Kamu ada di rumah Aku. Sekarang jangan pikirkan apa-apa, ya. Istirahat saja dulu di sini."

Karena masih terasa sangat lemas, Bianca pun kembali membaringkan tubuhnya dan tertidur lagi setelah disuruh oleh Leo.

Leo keluar dari kamar dan menemui mamanya. "Bagaimana keadaan Bianca, Sayang?" tanya Mama Leo.

"Dia sudah sadar sebentar tadi, Ma. Tapi sekarang sudah tidur lagi supaya bisa istirahat dengan baik," jawab Leo sambil menutup pintu kamar perlahan.

Mereka berdua pun pergi meninggalkan Bianca yang sedang tertidur lelap.

Keesokan paginya, Bianca terbangun dan merasa kaget karena dirinya tidak berada di kamarnya sendiri, melainkan di sebuah kamar yang sangat luas dengan tempat tidur yang terasa begitu empuk dan mewah. Dia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 07.00 pagi. Bianca pun buru-buru bangun karena hari ini dia berencana akan berkuliah.

"Sudah, istirahat saja dulu. Hari ini tidak usah kuliah, ya," kata Leo yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi roti dan segelas susu hangat.

"Loh aku ada di rumah kamu ya, Leo?" tanya Bianca yang masih sedikit linglung.

"Iya. Semalam Kamu sakit, jadi aku bawa ke sini supaya Kamu bisa dirawat dengan baik dan Mama juga bisa bantu menjaga Kamu," jelas Leo.

Bianca tersenyum haru mendengar penjelasan itu. Dia merasa sangat bahagia dan tersentuh karena ternyata masih ada orang-orang baik yang peduli dan menyayanginya tulus.

Hari-hari berlalu, hubungan Leo dan Bianca semakin dekat. Bahkan panggilan 'Lo' dan 'Gue' yang biasa mereka gunakan perlahan hilang dari percakapan mereka, digantikan dengan nada bicara yang lebih akrab dan lembut. Bisa dibilang, hubungan mereka sudah semakin erat dan dekat layaknya sepasang kekasih, meskipun belum ada status resmi. Orang tua Leo pun sangat menyayangi Bianca. Bagi mereka, kehadiran Bianca membuat putra satu-satunya itu terlihat lebih hidup, ceria, dan bahagia kembali setelah dulu sempat bersedih cukup lama.

Leo pun berniat untuk menyatakan perasaannya kepada Bianca. Menurutnya, waktu yang tepat sudah tiba.

Di malam harinya, Leo menelepon Dinda dan meminta bantuannya untuk mengajak Bianca ke sebuah taman yang sudah dia siapkan esok hari.

Dinda sudah mengetahui niat baik Leo yang berencana menyatakan cintanya kepada Bianca. Dinda dengan senang hati bersedia membantu karena menurut penilaiannya, Leo adalah pria yang sangat tepat dan pantas membuat sahabatnya bahagia.

Keesokan harinya, Dinda datang ke rumah Leo untuk menjemput Bianca.

Sebenarnya Bianca masih diminta untuk menginap di rumah Leo sampai benar-benar pulih, namun Bianca bersikeras ingin pulang ke rumahnya sendiri.

"Bi, bagaimana keadaan Lo? Gue sebenarnya mau datang kemarin, tapi Leo melarang. Katanya Lo butuh istirahat total," tanya Dinda sambil langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.

"Gue baik-baik saja kok. Sekarang sudah sehat seperti biasa. Rencananya hari ini gue mau pulang," jawab Bianca.

"Ya sudah, bagus deh kalau gitu. Nanti habis dari rumah Lo ambil barang-barang, kita jalan-jalan dulu, yuk!" ajak Dinda dengan semangat.

Bianca hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang riang itu. Meski begitu, dia senang sekali memiliki teman seperti Dinda yang ceria. Kehadiran Dinda sering kali membuatnya lupa akan rasa lelah dan beratnya kehidupan yang harus dia jalani, hanya karena tingkah lucu dan canda tawa Dinda.

Bianca keluar dari kamar dan berpamitan kepada mama Leo. Sebenarnya Mama Leo belum mengizinkan Bianca pulang karena khawatir kondisinya belum sepenuhnya pulih, namun melihat Bianca yang bersikeras, beliau akhirnya mengizinkan. Lagipula, Bianca juga memiliki kehidupannya sendiri yang harus dijalani.

Bianca sempat mencari keberadaan Leo, namun tidak menemukannya di mana pun. Bahkan saat dia mencoba menelepon, ponsel Leo tidak diangkat. Akhirnya Bianca hanya bisa menitipkan pesan kepada Mama Leo bahwa dia sangat berterima kasih atas segala kebaikan Leo dan keluarganya, lalu berpamitan untuk pulang.

Bianca dan Dinda pun segera meninggalkan rumah besar itu dan menuju ke rumah Bianca.

Sesampainya di sana, mereka berdua langsung merebahkan tubuh di atas kasur Bianca yang berukuran tidak terlalu besar.

"Aduh... rindu juga gue sama kamar kecil gue ini. Walaupun sempit dan sederhana, tapi di sinilah tempat ternyaman buat gue," ucap Bianca sambil memeluk guling kesayangannya.

"Gue iri sama Lo, Bi. Lo bebas melakukan apa saja sesuka hati. Sedangkan gue? Hidup gue penuh aturan dan harus selalu di bawah perintah orang tua. Rasanya sungguh tidak seru," keluh Dinda.

Bianca menatap Dinda lekat-lekat, lalu berkata dengan nada lembut, "Lo salah, Din. Hidup punya keluarga yang lengkap dan utuh itu nikmat yang luar biasa, lho. Paling tidak kalau sakit, ada yang menjaga dan merawat. Coba lihat gue, Din. Sakit sedikit saja tidak ada yang tahu kalau gue tidak ditolong Leo. Kalau tidak ada Leo, mungkin gue sudah pergi dari dunia ini."

Dinda langsung memeluk Bianca dengan erat. Dia merasa sangat bersalah karena tidak sengaja membuat Bianca sedih. Dinda sadar, Bianca tidak memiliki orang tua lagi, tapi dia malah mengeluh soal orang tuanya sendiri.

Waktu terus berlalu hingga jarum jam menunjukkan pukul 7 malam.

Saatnya Dinda mengajak Bianca pergi ke taman sesuai rencana Leo.

Sesampainya di sana, Bianca merasa heran karena suasana taman itu tampak sangat gelap dan sepi. Tanpa sepengetahuan Bianca, Dinda perlahan menjauh dan meninggalkan Bianca sendirian di sana. Bianca baru sadar kalau Dinda menghilang saat dia memanggil-manggil nama sahabatnya itu, namun tidak ada sahutan sama sekali.

Tak lama kemudian, lampu-lampu taman perlahan menyala satu per satu. Bianca terbelalak kaget melihat pemandangan di hadapannya. Taman itu berubah menjadi sangat indah. Barisan bunga-bunga berwarna-warni tersusun rapi bagaikan karpet merah, dan di ujung jalan setapak itu, tampak seorang pria berdiri tegak sambil membawa seikat bunga.

Pria itu berjalan perlahan mendekati Bianca. Semakin dekat, semakin jelas wajahnya terlihat. Ternyata, pria itu adalah Leo!

Bianca sungguh terkejut. Sejak pagi tadi dia tidak bertemu dengan Leo, tapi sekarang pria itu justru ada di sini, berdiri tepat di hadapannya sambil membawa bunga yang sangat indah.

Sampai di depan Bianca, Leo menatap lekat-lekat mata gadis itu dan berkata dengan suara tenang namun bergetar,

"Bi, sudah satu tahun kita saling mengenal. Aku rasa, ini waktu yang tepat buat aku menyampaikan perasaan aku ke Kamu. Aku jatuh hati pada Kamu sejak pertama kali kita bertemu. Di saat semua wanita lain memandang Aku dengan pandangan kagum, cuma Kamu yang bahkan tidak melirik sedikit pun. Aku kagum dengan kemandirian Mu, ketegaran Mu, dan segala hal tentang diri Mu. Semuanya bikin aku makin jatuh cinta. Maka, di hari ini aku ingin bertanya... Bianca, maukah Kamu menjadi pacar Aku ?"

Mendengar pernyataan cinta yang tulus itu, Bianca langsung menangis haru sekaligus bingung. Dia menjawab di sela isak tangisnya, "Leo, Aku tidak mau kehilangan Kamu. Kalau kita pacaran dan nanti akhirnya putus, kita bakal jadi orang asing. Aku tidak mau hal itu terjadi."

Setelah mengucapkan itu, Bianca langsung berlari meninggalkan Leo yang masih terpaku di tempatnya. Leo terlihat sangat kaget dan bingung tidak mengerti maksud perkataan Bianca.

Dinda yang sejak tadi bersembunyi pun keluar dan menghampiri Leo yang tampak kecewa dan bingung.

"Tenangin diri Lo dulu, Leo. Kasih dia waktu sendiri ya. Biar gue yang urus Bianca sekarang," kata Dinda mencoba menenangkan Leo.

Leo masih bingung dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Bianca menolaknya atau menerimanya? Karena dari perkataan Bianca tadi, sepertinya bukan penolakan, melainkan ketakutan akan kehilangan dirinya.

Sementara itu, di rumahnya, Bianca masih terus menangis. Dinda berusaha menenangkan sahabatnya itu dengan memeluknya erat. Setelah Bianca mulai tenang, Dinda pun mulai mengajaknya bicara.

"Apa sih yang bikin Lo menangis begitu? Padahal Leo cuma mau menyatakan perasaannya, itu hal yang indah, lho. Lagian Dinda lihat, Lo juga sebenarnya punya rasa sama Leo kan?" tanya Dinda lembut.

Bianca mulai menjelaskan semuanya kepada Dinda. Memang benar, dia perlahan mulai memiliki perasaan istimewa terhadap Leo. Namun di sisi lain, rasa takutnya jauh lebih besar daripada perasaannya itu. Dia tidak mau kehilangan Leo, padahal Leo adalah orang yang paling baik dan sangat berarti baginya.

"Kalau gue menjalin hubungan sama Leo, terus tiba-tiba di masa depan kita putus, kita bakal jadi orang asing. Atau yang lebih gue takutkan... dia pergi tiba-tiba tanpa pamit dan ninggalin gue cuma pakai selembar surat," ucap Bianca dengan suara lirih yang penuh kesedihan.

Seketika itu juga, ingatan Bianca melayang kembali pada kisah cintanya di masa lalu bersama Barra. Luka mendalam yang dulu pernah dia rasakan kembali terasa perih, dan ketakutan itu kini menghantuinya kembali.

Akhirnya Dinda pun paham alasan di balik sikap Bianca kepada Leo tadi. Ternyata Bianca belum berani memulai hubungan baru karena dia masih trauma dengan kejadian masa lalunya yang menyakitkan. Dinda menyarankan agar Bianca segera menjelaskan hal ini kepada Leo. Tujuannya supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan hubungan persahabatan mereka tetap terjaga dengan baik seperti sediakala.

1
Yolanda Fitri
oke kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!