Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Akhir Pekan di Lapangan Golf
Alvian nonton TV, rebahan di sofa. Mumpung hari minggu, klinik tutup, ingin bersantai di rumah. Namun saat itu pintu terbuka, Clarissa pulang setelah shift malam, berjalan sambil bawa kopi take away.
"Jam delapan Papa akan ke sini. Ingin ajak kamu pergi bermain golf dengan teman-temannya."
Mendengar ini Alvian langsung duduk tegap. "Wah! Beneran? Tidak biasanya Papa ajak aku pergi. Lalu, apa Istri juga ikut?"
Clarissa melangkah terus naik tangga. Bicara tanpa berhenti. "Lihat nanti. Kalo sempat mungkin akan ikut. Tapi tidak bisa berangkat bareng."
Alvian semakin sumringah. Dia masuk ke kamar, langsung cari baju polo, celana training, dan tentu saja, topi golf.
__
Seperti yang Clarissa bilang, jam delapan dr. Hendra datang sudah dengan pakaian sport-nya, terlihat sederhana, tapi tetap berwibawa.
"Pagi, Pa."
Dokter Hendra mengangguk samar, sementara pandangannya tanpa sengaja tertuju ke lakban hitam yang ada di tangga. Dia berdehem, berkata, "Di mana Clara? Apa dia tidak ikut?"
"Istri ada di atas, Pa. Katanya, lihat nanti, kalo sempat ikut, kalo tak sempat tak ikut."
"Oh!" Dokter Hendra kembali memakai topinya, lalu keluar sambil mengajak Alvian. "Ayo, kita berangkat sekarang. Teman-teman Papa sudah menunggu di lapangan."
"Siap, Pa."
Mereka berangkat sekitar jam 08.10 WIB. Sampai di lokasi, Royale Golf Cafe, dua puluh menit kemudian.
Baru di tempat parkir, puluhan mobil sport berjajar dari barat ke timur. Dari yang termurah bernilai beberapa milyar, hingga yang termahal sampai ratusan milyar. Tetapi dibandingkan dengan mobil mertuanya, Rolls-Royce Boat Tail, deretan mobil-mobil itu masih seperti langit dan bumi.
"Ayo masuk, jangan lupa ambil stik golf-nya di belakang."
Alvian terburu-buru mengambil koleksi stik mahal yang ada di dalam bagasi. Mereka masuk ke area kafe, di salah satu meja sudah menunggu empat pria setengah baya yang usianya tidak jauh dari dr. Hendra.
"Wow.. Apa ada member baru di sini?"
Itu adalah dr. Heru, yang sengaja menggoda Alvian.
"Oh ya.. Hari ini aku mengajak menantuku. Namanya Alvian." Dokter Hendra menoleh ke Alvian, mengenalkan teman-temannya. "Dokter Heru, Dokter Nurkhozin. Kamu sudah bertemu dengan mereka di pesta terakhir kali. Sedangkan mereka, Pak Bambang, bos properti, dan Pak Usman, bos maskapai."
Alvian menyapa satu persatu, termasuk dr. Heru dan dr. Nurkhozin.
"Hendra, kamu pintar juga pilih menantu. Gagah. Kayak... tentara," ucap Pak Bambang.
Alvian tertawa, "Saya dokter, Om. Tentara cuma cita-cita waktu kecil. Tapi nggak kesampean."
Dokter Hendra menyipitkan mata sedikit. Sedangkan dr. Heru tertawa dengan jawaban Alvian. "Jangan salah, menantu Hendra ini dokter yang punya kemampuan. Bukan hanya bisa tahu obat palsu sekali lihat, juga bisa diagnosis saraf terjepit tanpa tes MRI."
Pak Bambang dan Pak Usman terkejut, sementara Alvian hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Cuma beruntung Om. Cuma beruntung."
Setelah basa-basi singkat mereka mulai memasukki area golf center. Semua naik mobil golf, Alvian nyetir, seperti sudah biasa, sangat stabil.
Setelah sampai di hole 1, semua turun, mulai mengeluarkan stik dan juga bola golf. Setiap orang memiliki pramugolf, kecuali dr. Hendra yang ditemani oleh Alvian.
Mereka bermain satu ronde terlebih dahulu. Tidak kompetisi, hanya sekadar bermain. Tapi, saat mau mulai ronde kedua, Pak Bambang tiba-tiba bersuara.
"Bagaimana jika bermain serius? 9 hole, yang kalah harus invest 50 milyar."
Dokter Heru berdecak. "Bilang saja kamu sedang membutuhkan suntikan modal. Di antara kita berlima, siapa yang bisa mengalahkanmu dalam bermain golf?"
Tiga lainnya, termasuk dr. Hendra mengangguk.
"Bambang, kamu benar-benar keterlaluan. Jika kita bermain serius, bukankah Hendra akan langsung kehilangan uangnya?" celetuk dr. Nurkhozin.
Mereka tertawa, tapi dr. Hendra terlihat cemberut. Berkata, "Siapa bilang aku akan langsung kalah? Kalian lupa, di sini masih ada menantuku?"
Alvian terkejut. Dia yang tak tahu apa-apa tiba-tiba ditarik ke dalam masalah.
"Hendra, apa kamu serius? Lihat saja ekspresinya sekarang, dia mungkin bahkan tidak bisa bermain." Pak Usman tertawa.
Dokter Hendra menatap Alvian sejenak, lalu bertanya dengan berat hati. "Ka-kamu bisa main?"
"Sedikit-sedikit, Pa."
"..."
Jawaban macam apa itu. Jadi yang benar bisa atau tidak?
Dokter Hendra mau mengomel, tapi teman-temannya lainnya terus mendesaknya agar bersiap.
"Cepat Hendra. Jika tidak, kamu mengaku kalah saja."
Sudut mata dr. Hendra berkedut beberapa kali. Dia tersenyum, mendorong Alvian ke depan. "Dia... Menantuku yang akan mewakili ku bermain. Tidak masalah, bukan?"
Empat pria setengah baya saling pandang, lalu mengangguk-angguk tanda tidak ada yang keberatan.
Melihat mereka mulai bersiap, dr. Hendra memijat keningnya dengan frustrasi. Bukankah tidak ada yang berbeda dengan hasilnya. Dia tetap harus mengeluarkan uang lima puluh milyar meski uang itu tidak benar-benar hilang.
"Setidaknya, jikapun kalah nanti, itu karena Alvian yang main. Masih lebih baik daripada kalah di tangan sendiri."
Memikirkan hal tersebut ekspresi dr. Hendra kembali tenang. Dia berjalan ke arah mobil golf, mengambil air mineral.
"..."
Di waktu yang sama, dr. Heru dan tiga senior lain berkumpul di sekitar Alvian. Satu dari mereka bertanya, "Bagaimana? Apa kamu sungguh bisa bermain?"
"Sedikit Om. Pernah belajar dulu, di desa."
"Ha-ha-ha-ha ...."
Mereka tertawa. Menepuk pundak Alvian bergantian.
"Tenang saja, kami para senior tentu saja tidak akan menindas seorang junior. Bukankah begitu, Bambang?"
"Ya ya.. Bolehlah."
Alvian tertawa kecil.
Setelah cukup lama bersiap, mereka mengambil nomor untuk menentukan siapa yang akan memukul pertama. Ternyata, nomor satu adalah dr. Heru. Nomor dua Pak Usman, nomor tiga dr. Nurkhozin, nomor empat Pak Bambang, dan Alvian mendapatkan nomor lima, terakhir.
Tanpa menunggu lebih lama, permainan langsung dimulai. Dokter Heru melakukan pukulan, tidak buruk, melesat cukup jauh. Yang lain bertepuk tangan.
"Bagaimana? Lebih baik dari terakhir kali, kan? Tidak sia-sia berlatih setiap malam. Ha-ha-ha-ha... "
Pak Usman mengambil posisi. Tarik nafas panjang, melakukan pukulan.
Tekniknya sempurna, bola melesat jauh, belasan meter lebih dekat dari hole dibandingkan pukulan dr. Heru.
"Ha-ha... Aku masih lebih unggul. Kamu harus berlatih lebih keras," kata Pak Usman.
Kemudian, dr. Nurkhozin dan Pak Bambang memukul secara bergantian. Tentu saja, hasil pukulan mereka jauh lebih baik dari dua orang pertama, terkhusus Pak Bambang yang pernah menjajal kompetisi profesional.
Tekniknya presisi, pukulannya tepat mengenai bagian terluar bola golf. Melesat, sudut 45°.
"Nak, jangan merasa tertekan, oke? Kami sudah berusaha menahan diri, tapi hanya cukup di situ batas kami."
Alvian tersenyum. Dia berjalan santai menempatkan bola. Mengayunkan stik, seperti memegang sapu.
Empat pria paruh baya tertawa, sementara dr. Hendra menggosok wajahnya, merasa menyesal.
"Gaya apa itu? Apa kamu benar-benar bisa melakukan pukulan? Aku bahkan ragu bola itu akan bergerak," keluhnya.
Alvian sudah siap. Dia menatap hole sejauh 220 meter itu, membidiknya dengan serius.
"Ayo, pukul saja. Selama kena bola, itu bukan awalan yang buruk," kata dr. Heru.
Alvian tersenyum samar. Detik berikutnya, dia mengayunkan stik, memotong jalur udara, memukul bola dengan keras.
Tak!
Bola melesat tinggi. Saking tingginya, membuat semua berpikir bola akan melewati hole. Namun, di waktu yang tepat ternyata gerakan bola itu tiba-tiba menungkik secara tidak wajar.
Shut...
Semua terkejut. Dokter Hendra bahkan melompat dari mobil golf, sambil menggunakan tangannya layaknya teropong.
"Apa itu masuk?"
Dokter Heru, Dokter Nurkhozin, Pak Usman dan Pak Bambang juga menunggu kepastian. Mereka menatap petugas yang ada di dekat hole, di mana petugas itu berjongkok sejenak sebelum mengangkat bendera. Berseru, "Hole in one!"
Semua menyentuh kening, hampir terjatuh. Tapi dr. Hendra menjadi orang yang paling heboh.
"Apa aku berhalusinasi? Apa itu benar-benar masuk?! Hahahahaha... "