Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuang Empati
Udara pagi di distrik Rust terasa berat oleh kabut beracun yang menyelimuti sisa-sisa bangunan pabrik tua. V berjalan menyusuri trotoar yang retak, mengenakan jubah abu-abu panjang dengan kerah tinggi yang menutupi sebagian wajah barunya. Aroma logam berkarat dan air sungai yang busuk tercium tajam, membawa kembali memori menyakitkan yang coba ia kubur dalam-dalam.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok renta bersandar pada tumpukan palet kayu di sebuah gang sempit. Pria itu mengenakan pakaian compang-camping yang sudah berubah warna menjadi kecokelatan akibat debu dan minyak. Ia tampak gemetar, mencoba membungkus tubuh ringkihnya dengan selembar plastik tipis demi menghalau dinginnya angin pagi.
"Tolong, Nyonya, beri sedikit belas kasihan untuk orang tua yang belum makan dua hari ini," rintih pria itu dengan suara serak.
V menatap pria itu dari balik kacamata hitamnya, mengamati jemari si tunawisma yang kotor dan pecah-pecah. Pemandangan itu secara otomatis menarik V kembali ke malam ketika ia merangkak keluar dari sungai Rust dengan tubuh yang hancur. Ia ingat bagaimana rasanya kedinginan, kelaparan, dan merasa dunia telah mengabaikan keberadaannya sepenuhnya.
"Kau terlihat sangat menderita," ujar V dengan nada suara yang datar, nyaris tanpa intonasi emosional.
Tunawisma itu menatap V dengan harapan yang bersinar di matanya yang keruh. "Dunia ini sangat kejam, Nyonya. Saya kehilangan segalanya saat perusahaan besar menggusur lahan tempat saya bekerja dulu."
V merasakan sedikit getaran di ujung jemarinya, sebuah sisa kemanusiaan yang mencoba bangkit untuk memberikan bantuan. Namun, bayangan wajah Arlan yang tertawa di penthouse mewah miliknya seketika melintas di benak V. Ia teringat bagaimana Arlan membuang empati demi kekuasaan, dan bagaimana empati Asha dulu justru menjadi senjata yang menghancurkannya.
"Penderitaanmu bukan urusanku. Setiap orang di distrik ini punya beban masing-masing untuk dibawa," sahut V sambil memalingkan wajah.
Pria tua itu tertegun, tangannya yang gemetar perlahan turun saat mendengar jawaban dingin dari wanita di hadapannya. "Tapi, Anda terlihat seperti seseorang yang tahu rasanya berada di posisi paling bawah, Nyonya."
V mengeraskan rahangnya, merasa terganggu karena orang asing ini mampu membaca sisa-sisa trauma di balik topeng identitas barunya. "Kau salah menilai orang. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi nasib orang lain yang tidak mampu bertahan hidup."
Ia melangkah pergi, meninggalkan pria tua itu dalam kesunyian yang mencekam di gang yang lembap tersebut. Setiap langkah kaki V yang mengenai aspal terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur hilangnya rasa kemanusiaannya. Di dalam kepalanya, suara nelayan tua itu kembali terngiang tentang pentingnya menjaga hati agar tetap dingin.
"Empati adalah kelemahan yang akan membuat bidikanmu meleset, V," bisik V pada dirinya sendiri saat ia terus berjalan.
Ia ingat bagaimana Asha dulu selalu membantu yayasan yatim piatu dan memberikan santunan kepada para janda di Neovault. Arlan selalu menyebut tindakan itu sebagai pemborosan aset dan sentimentalitas yang tidak berguna dalam dunia bisnis. Kini, V menyadari bahwa Arlan mungkin benar tentang satu hal, yaitu kasih sayang hanya membuat seseorang mudah dikendalikan.
V sampai di sebuah jembatan penyeberangan yang menghadap langsung ke arah aliran sungai Rust yang keruh di bawahnya. Ia menatap permukaan air yang bergejolak, tempat di mana Asha secara resmi dinyatakan mati oleh dunia. Di sinilah ia harus benar-benar membuang segala bentuk belas kasihan yang masih tersisa di sudut jiwanya.
"Aku bukan lagi Asha yang lemah dan penuh pengampunan," gumam V sambil meraba bekas luka di bahunya.
Bekas luka itu berdenyut, seolah merespons tekad bulat yang baru saja ia ambil di tengah kepungan udara Rust yang menyesakkan. V menyadari bahwa jika ia ingin mengalahkan Arlan, ia harus menjadi lebih dingin dan lebih kejam daripada pria itu. Ia tidak boleh membiarkan rasa iba menghalangi setiap langkah strategis yang sudah disusun rapi.
Seorang anak kecil yang membawa tumpukan koran bekas berlari melewatinya, hampir menabrak tubuh V yang berdiri kaku. Anak itu terjatuh, dan koran-korannya berhamburan ke genangan air lumpur yang kotor. Anak itu mulai menangis, menatap korannya yang kini tidak mungkin lagi bisa dijual untuk membeli sepotong roti.
"Tolong, Nyonya, bantu saya memungut ini sebelum rusak semua," pinta anak itu dengan isak tangis yang memilukan.
V hanya menatap anak itu selama beberapa detik tanpa menggerakkan satu pun otot tubuhnya untuk membantu. Ia melihat kesedihan yang murni di wajah anak itu, namun ia segera memaksakan otaknya untuk melihatnya sebagai gangguan kecil. Ia tidak boleh goyah hanya karena pemandangan yang menyentuh hati di distrik yang penuh penderitaan ini.
"Bangun dan urus masalahmu sendiri. Menangis tidak akan mengeringkan koran-koran itu," ujar V sebelum melangkah melewati anak itu.
Tangisan anak itu semakin keras di belakangnya, namun V terus berjalan tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia merasakan dadanya terasa sesak, seolah ada bagian dari dirinya yang sedang berteriak protes atas kekejamannya. Namun, V menekan perasaan itu dengan bayangan Elena yang sedang memakai perhiasan mahal hasil curian dari hidupnya.
"Satu tetes empati hari ini akan menjadi satu liter air mata kegagalan besok," V meyakinkan dirinya sendiri berkali-kali.
Ia masuk ke dalam sebuah kafe kecil yang sepi di pinggiran distrik, tempat yang ia gunakan untuk menunggu kontak intelijennya. Di dalam, bau asap rokok murah dan sisa makanan basi menyambut indra penciumannya dengan kasar. Ia duduk di sudut yang paling gelap, menjaga agar punggungnya menghadap ke arah dinding kayu yang sudah lapuk.
Seorang pelayan wanita yang tampak sangat lelah mendekatinya, membawa daftar menu yang sudah sobek di bagian pinggirnya. Pelayan itu memiliki lingkaran hitam yang sangat dalam di bawah matanya, menunjukkan beban hidup yang teramat berat. "Mau pesan apa, Nyonya? Kami hanya punya kopi hitam dan roti gandum hari ini."
"Kopi hitam saja. Jangan tambahkan gula atau apa pun ke dalamnya," jawab V singkat tanpa menatap wajah pelayan itu.
Pelayan itu mengangguk lesu dan segera pergi ke arah dapur yang hanya dibatasi oleh selembar tirai kusam. V melihat pelayan itu sempat tersandung kaki meja, namun ia segera bangkit kembali dengan wajah yang tampak pasrah. V mengepalkan tangannya di bawah meja, berjuang melawan dorongan untuk menanyakan apa yang terjadi pada wanita itu.
"Jangan bertanya. Jangan peduli. Fokus pada rencana," batin V dengan penuh penekanan pada setiap kata yang terlintas.
Kopi hitam yang pahit itu akhirnya tersaji di hadapannya dalam sebuah cangkir keramik yang retak di bagian bibirnya. V menyesap cairan panas itu, membiarkan rasa pahit yang tajam membakar lidahnya dan menyadarkannya kembali pada realitas. Ia harus menjadi sepahit kopi ini untuk bisa bertahan di tengah manisnya tipu daya yang Arlan bangun di pusat kota.
"Apakah Anda sedang menunggu seseorang, Nyonya V?" tanya nelayan tua itu yang tiba-tiba muncul dan duduk di depannya.
V meletakkan cangkirnya dengan perlahan, tidak terkejut sedikit pun dengan kehadiran pria yang telah menyelamatkan nyawanya tersebut. "Aku hanya sedang memastikan bahwa aku sudah benar-benar membuang sisa-sisa Asha di jalanan Rust tadi."
Nelayan itu mengamati wajah V dengan saksama, mencari celah keraguan yang mungkin masih bersembunyi di balik sorot matanya. "Membuang empati bukan berarti kau menjadi iblis. Itu hanya berarti kau menjadi prajurit yang tahu kapan harus menyimpan pedangnya."
"Aku tidak butuh filosofi hari ini, Paman. Aku hanya butuh kepastian bahwa hatiku sudah cukup keras untuk langkah berikutnya," sahut V.
Nelayan itu tersenyum tipis, memahami transformasi psikologis yang sedang dialami oleh wanita di hadapannya ini. "Tadi aku melihat anak penjual koran itu. Kau tidak membantunya, padahal kau punya banyak uang di saku jubahmu."
"Memberinya uang tidak akan menyelesaikan masalah sistemik di distrik ini. Itu hanya akan memuaskan nuraniku yang tidak berguna," balas V dingin.
V berdiri, merasa pembicaraan ini mulai menyentuh area yang ingin ia hindari sekuat tenaga demi menjaga fokusnya. Ia meletakkan selembar uang dengan nilai yang jauh lebih besar dari harga kopinya di atas meja yang kusam. Namun, ia melakukannya bukan karena rasa iba, melainkan hanya untuk mempercepat kepergiannya dari tempat itu.
"Simpan kembaliannya. Gunakan untuk memperbaiki meja-mejamu yang sudah goyah ini," ujar V kepada pelayan kafe saat ia berjalan keluar.
Kembali ke jalanan Rust, V merasa dirinya sudah jauh lebih siap untuk menghadapi manipulasi yang akan ia lakukan terhadap Elena. Pengalaman di jalanan pagi ini telah menguatkan tekadnya bahwa kebaikan adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki sekarang. Di dunia yang sedang ia bangun, hanya ada kemenangan atau kehancuran total bagi musuh-musuhnya.
"Elena akan menjadi korban pertamaku yang akan merasakan betapa dinginnya seorang V," bisik V saat ia memasuki mobilnya.
Ia menyalakan mesin mobil, suaranya menderu di antara keheningan distrik Rust yang mulai terbangun oleh aktivitas pabrik. V menatap bayangannya di cermin spion, memastikan tidak ada lagi getaran ketakutan atau belas kasihan di sana. Mata itu kini hanya memancarkan satu hal, yaitu keinginan untuk membalas dendam dengan cara yang paling terstruktur.
"Asha sudah benar-benar mati di gang tadi. Yang tersisa hanyalah alat untuk menghancurkan Arlan Valeska," batin V dengan mantap.
Ia menginjak pedal gas, meninggalkan distrik Rust yang penuh dengan penderitaan manusia yang tidak lagi ia pedulikan. Langkahnya menuju pusat kota Neovault kini terasa lebih ringan, bebas dari beban moral yang selama ini menghambat pergerakannya. Perang psikologis melawan Elena sudah menanti, dan V tidak akan menunjukkan sedikit pun kelemahan di hadapan wanita itu.
"Selamat tinggal, empati. Kau tidak akan pernah punya tempat di sisiku lagi," gumam V saat mobilnya melaju kencang.
Setiap pemandangan kemiskinan yang ia lewati sepanjang jalan kini hanya menjadi latar belakang yang tidak berarti bagi tujuannya. V telah mengunci hatinya dalam sebuah kotak baja yang tidak bisa dibuka oleh tangisan anak kecil maupun rintihan orang tua. Ia sudah siap untuk menjadi predator yang sebenarnya di tengah hutan beton Neovault yang penuh dengan pengkhianat.