NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PEMBALASAN

​Pagi di Tangerang tidak pernah terasa sesunyi ini. Di kedalaman Prawira Fortress, tiga lantai di bawah permukaan tanah, udara terasa sejuk berkat sistem sirkulasi mandiri yang canggih. Nata berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan data biometrik penyusup yang tertangkap semalam. Pria itu, yang teridentifikasi sebagai Samuel Drax, mantan sersan di unit komando elit, kini menjadi pion paling berharga dalam papan catur Nata.

​"Elena, sudah kau dapatkan semuanya?" tanya Nata, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang dingin.

​Elena mengangguk, jemarinya bergerak lincah. "Kami telah menembus enkripsi pada ponsel satelit yang dibawa Drax. Sesuai dugaan, ada jejak komunikasi terputus yang mengarah ke server bayangan milik Blackstone Sovereign Group. Tapi ada yang lebih menarik, Bos. Kami menemukan daftar aset rahasia yang digunakan Blackstone untuk mendanai operasi hitam mereka di Asia Tenggara."

​Nata menyesap kopinya, matanya berkilat. "Jonathan Vance melakukan kesalahan fatal. Dia menggunakan uang nasabahnya untuk membiayai pembunuhan. Di Amerika, itu bukan hanya pelanggaran etika; itu adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan publik yang bisa menghancurkan harga saham mereka dalam semalam."

​"Apa rencana kita, Bos? Menyerahkannya ke polisi?" tanya Yuda yang baru saja kembali dari lantai atas setelah memastikan Kirana dan Arya nyaman di kamar baru mereka yang berlapis baja.

​"Polisi hanya akan membuatnya menghilang di balik birokrasi," jawab Nata. "Kita akan menyerahkannya ke pengadilan yang paling kejam di dunia: Pasar Saham Wall Street."

​Nata memulai operasinya tepat saat bel pembukaan perdagangan di New York berbunyi. Namun, ia tidak melakukan serangan siber. Ia melakukan serangan informasi.

​Melalui ribuan akun anonim di platform finansial global dan menggunakan jaringan "Dinar Digital" yang sudah mulai aktif di Timur Tengah, Nata merilis sebuah dokumen berjudul: "The Blackstone Papers: Blood for Profit."

​Dokumen itu berisi bukti transfer dana dari akun operasional Blackstone ke perusahaan-perusahaan cangkang yang menyewa tentara bayaran Unit 7. Yang paling mematikan adalah rekaman pengakuan Samuel Drax—yang telah dimanipulasi secara psikologis oleh Elena menggunakan frekuensi suara tertentu—yang menyebutkan bahwa misi mereka adalah melenyapkan kompetitor bisnis di Indonesia demi mengamankan monopoli logistik Amerika.

​"Lihat ini, Bos," Elena menunjukkan grafik saham Blackstone. "Turun tiga persen dalam sepuluh menit pertama. Investor institusi mulai panik."

​Nata belum puas. "Aktifkan tahap kedua. Yuda, hubungi kontak kita di media internasional melalui jalur diplomatik. Berikan mereka akses eksklusif untuk mewawancarai Drax secara anonim melalui live stream terenkripsi."

​Di New York, Jonathan Vance sedang berada di tengah rapat dewan direksi ketika layar di ruang rapatnya tiba-tiba berubah menampilkan wajah Samuel Drax yang babak belur namun berbicara dengan sangat jelas tentang instruksi yang diterimanya dari "kantor pusat".

​"Matikan! Matikan sekarang!" teriak Vance, wajahnya memerah karena amarah dan ketakutan.

​Namun, sistem keamanan siber Blackstone telah dilumpuhkan oleh Elena dari jarak jauh menggunakan celah yang ditinggalkan oleh Drax saat ponsel satelitnya terhubung ke jaringan ruko semalam. Nata tidak hanya menyerang harga saham mereka; ia sedang mempermalukan mereka di depan seluruh dunia.

​"Vance," suara Nata tiba-tiba terdengar melalui sistem tata suara ruang rapat Blackstone. "Ini adalah harga dari menyentuh rumahku. Aku tidak butuh peluru untuk menghancurkanmu. Aku hanya butuh kebenaran."

​Vance terdiam, menatap ke arah kamera di sudut ruangan dengan kebencian yang mendalam. "Kamu tidak akan selamat dari ini, Prawira. Kamu sedang melawan sistem yang membangun dunia ini!"

​"Sistem yang kamu bangun sudah tua dan busuk, Vance. Aku hanya mempercepat keruntuhannya," jawab Nata sebelum memutus sambungan.

​Di Jakarta, Jenderal Surya datang ke Prawira Fortress dengan ekspresi campur aduk. Ia melihat bagaimana seorang pemuda berusia awal dua puluhan mampu mengguncang salah satu institusi keuangan terbesar di dunia dari sebuah bunker di Tangerang.

​"Nata, pemerintah Amerika sedang melakukan protes keras. Mereka mengklaim ini adalah serangan informasi yang tidak berdasar," ucap Surya.

​"Biarkan mereka mengklaim apa pun, Jenderal," Nata menunjukkan layar yang menampilkan pengunduran diri massal dewan direksi Blackstone. "Kenyataannya, pasar sudah memberikan vonisnya. Blackstone kehilangan nilai pasar sebesar empat puluh miliar dolar hari ini. Mereka terlalu sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri untuk memikirkan ekstradisi saya."

​Surya menggelengkan kepala. "Kamu benar-benar berbahaya. Tapi aku senang kamu ada di pihak kami—setidaknya untuk saat ini."

​Nata menatap Jenderal Surya dengan serius. "Saya di pihak yang menjamin keselamatan adik-adik saya, Jenderal. Selama Indonesia bisa menjamin itu, saya akan menjadi perisai ekonomi negara ini."

​Malam itu, setelah badai informasi mulai mereda, Nata duduk di ruang tengah bunkernya bersama Kirana dan Arya. Mereka sedang menonton film animasi, seolah-olah perang global yang baru saja terjadi tidak pernah ada.

​"Kak, apa kita akan tinggal di sini selamanya?" tanya Arya, matanya tertuju pada layar TV.

​"Tidak, Arya. Kita hanya akan tinggal di sini sampai Kakak selesai membangun 'dunia baru' yang lebih aman untuk kalian," jawab Nata sambil mengelus rambut adiknya.

​Kirana, yang sudah lebih dewasa, menatap kakaknya dengan penuh arti. Ia tahu bahwa setiap kali Nata tersenyum seperti itu, ada beban seberat gunung yang sedang ia panggul. "Kak... jangan lupa untuk beristirahat. Kakak terlihat sangat lelah."

​Nata tersenyum tulus. "Istirahat adalah kemewahan yang belum bisa Kakak beli sekarang, Kirana. Tapi Kakak janji, suatu hari nanti kita akan punya waktu sebanyak yang kita mau."

​Di ruang kerja pribadinya, Elena menunggu Nata dengan laporan baru. "Bos, dampak dari serangan Blackstone mulai meluas. China dan Arab Saudi melihat ini sebagai kesempatan untuk benar-benar melepaskan diri dari sistem pembayaran Amerika. Pangeran Khalid baru saja mengirim pesan: Dia ingin mempercepat peluncuran Dinar Digital secara global."

​Nata berdiri di depan peta dunia digitalnya. Ia melihat bagaimana satu per satu simpul ekonomi mulai berubah warna. Kekuasaan Amerika yang selama ini mutlak mulai retak.

​"Vance mungkin sudah jatuh, tapi dia bukan satu-satunya," gumam Nata. "Ada entitas yang lebih besar di balik Blackstone. Mereka yang disebut sebagai 'The Council'. Mereka tidak akan membiarkan seseorang mengganggu tatanan dunia tanpa perlawanan yang lebih brutal."

​"Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Elena.

​"Kita tidak bisa hanya menyerang. Kita harus membangun kedaulatan yang nyata. Elena, siapkan draf untuk akuisisi satelit komunikasi pribadi. Kita tidak boleh lagi bergantung pada infrastruktur pihak ketiga. Aku ingin Prawira Global memiliki 'mata' dan 'telinga' di luar angkasa."

​Nata menyadari bahwa pertempuran ini telah berevolusi. Dari sekadar bertahan hidup menjadi perlombaan senjata teknologi dan ekonomi tingkat tinggi. Ia telah melintasi garis takdir yang jauh lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan saat pertama kali hidup kembali di tahun 2005.

​"Tahun ini adalah tahun transisi," ucap Nata pada dirinya sendiri. "Dan aku akan memastikan bahwa saat tahun ini berakhir, tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa mendikte langkah Nata Prawira."

​Babak baru telah dimulai. Bukan lagi soal ruko atau bank lokal, tapi soal kedaulatan digital di luar angkasa dan di seluruh penjuru bumi.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!