Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 Ning dan Gus yang Agak Lain
“Maaf Ning, saya masih harus melayani pembeli.” Santaka menyerahkan uang kembalian dan struk pembelian pada Syifa.
Syifa mengigit bibirnya. Ia merutuki spontanitas bibir tipisnya yang mendadak genit. Bagaimana bisa seorang ning sepertinya begitu agresif mengajak laki-laki mengobrol?
“Baik, Gus Taka. Kalau sempat dan berkenan, saya tunggu. Mumpung saya di sini.”
Astagfirullahaladziim, sepertinya bibir Syifa sedang diduduki setan. Sudah menyesal, masih saja diulang. Syifa melipat bibirnya dan berjalan cepat menuju salah satu meja, menunggu pesanannya datang.
Tak lama pesanan Syifa datang. Gadis itu sebenarnya tak selera. Bukan karena makanan di SS tak enak, enak kok, sangat enak malah. Hanya saja hatinya yang tak enak.
Syifa menggulung spageti di piring putih itu. Bibirnya mengerucut. Ia melirik ke arah kasir. Santaka kini sudah berhijab. Syifa refleks memelototinya.
Ya Allah, saking berharap Santaka, Syifa sampai melihat karyawan SS menjadi berwajah sang bos. Godaan setan memang berbahaya.
Syifa celingak celinguk. Apa Santaka sedang bersiap menghampirinya? Lima menit, sepuluh menit, setengah jam. Tak terlihat sosok teduh itu. Syifa merasa sakit tenggorokan. Perih akibat menelan kecewa.
Santaka terlihat keluar dari pintu bertuliskan kitchen. Ternyata sang gus habis masak atau semacamnya. Namanya juga dari dapur, tak mungkin kan habis mengaji di sana?
Gus berkulit kuning langsat itu nampak menunduk. Ia berjalan cepat menuju tangga.
“Gus Taka...” Syifa meringis. Batinnya kesal, menegur sang bibir. Wahai bibir, bertobatlah. Perbanyak zikir.
Santaka mengerutkan alisnya. Wajahnya nampak tak bersahabat. “Maaf Ning, saya sedang banyak kerjaan. Kalau Ning mau ngobrol di Ndalem, silakan ngobrol sama istri saya, Mbak Dini.
Dia orangnya lucu, nyenengin. Jadi insyaa Allah cocok sama Ning. Saya permisi.” Santaka melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Dinginnya Santaka meninggalkan Syifa dalam perasaan nelangsa. Selain sakit tenggorokan, bibir Syifa turut nyeri, akibat terlalu aktif menggoda namun berujung nestapa.
*
*
Ahsan menatap layar ponselnya. Nomor yang tertera sudah tersimpan di ponselnya lebih dari tiga bulan yang lalu. Ia hanya menghubungi jika motornya akan diservis.
Ingin hati lebih dari sekadar saat motornya butuh jajan, namun saat itu Ahsan menjaga hatinya. Ia takut perasaannya jauh berkembang dan akhirnya tertolak oleh restu.
Namun ketika sang pemilik nomor ada di dekat jangkauan Ahsan, bukan hanya di bengkel, keinginan hatinya yang dulu, muncul kembali. Ia tak bermaksud jahat sampai menjadi pebinor atau perebut bini orang alias istri orang.
Tidak, hatinya tak sebusuk itu. Apalagi ini bukan hanya istri orang, tapi istri sepupunya. Ahsan hanya penasaran, bagaimana rasanya dekat dengan perempuan dari luar lingkungan pondok.
Perempuan yang mungkin lebih ekspresif, lebih berwarna dan punya sisi liar. Ahsan ingin tahu, dan Nandini akan selalu menjadi pilihannya.
Ahsan memencet ikon telepon. berwarna hijau. Tersambung.
“Assalammu’alaikum Dini...”
“Wa’alaikumsalam Gus Ahsan...”
“Lho kok jadi pake gus, Din? Kayak biasa saja...”
“Kata Gus Taka, aku harus manggil kamu Gus Ahsan. Ndak sopan kalau ndak.”
Ahsan berdecak, dalam hati. Kenapa nama sepupunya muncul ke permukaan?
“Dini, nanti siang tolong kamu cek motor aku, bisa ndak?”
“Motor yang mana? Kamu kan suka servis dua.”
“Yang Kawasaki. Bisa ya?”
“Hhmm, harus siang ini juga?”
“Iya, Din. Mati kalau di tanjakan, mbrebet-mbrebet gitu.”
“Bawa ke bengkel Bapak saja, Gus.”
Ahsan memejamkan mata. Ia tak suka dipanggil gus oleh Nandini. Ia jadi tak merasa spesial.
“Lah, ada kamu di Ndalem, ngapain ke bengkel lagi, hehehe...”
Nandini terdiam. “Yo wis, ba’da Zuhur. Dhuh, kamu ganggu aku mau nambah hafalan deh.”
“Hafalan?”
“Iya, Gus Taka minta aku nambah hafalan surat pendek. Maklum istri gus kan aku sekarang, hahaha...”
Ahsan merutuk. Nama Santaka lagi. Bisa tidak nama itu disterilkan dari topik pembicaraan mereka?
“Ntar aku bantu. Kan aku juga gus, hehehe...”
“Ih, sombong... Ya udah, di garasi aja ya jam setengah satu. Bye.”
Dengan semena-mena Nandini menutup sambungan telepon secara sepihak. Tak apa, Ahsan suka. Unik, berwarna.
Pukul 12.25, Ahsan melihat ke kanan dan kiri. Memastikan keadaan. Aman. Kisaran jam itu memang waktu istirahat bagi warga Ndalem.
Ahsan mematikan motornya. Ia melihat ponselnya. Tak ada pesan pembatalan janji dari Nandini. Berarti mereka jadi bertemu.
Pertemuan dua manusia dengan dua niat berbeda. Yang satu niat membantu, yang satu niat modus. Tak mengapa, urusan hati memang rahasia pemiliknya masing-masing.
Nandini datang dengan wajah santai. Tak ada senyum. Ahsan kecewa, harusnya Nandini semringah. Ahsan mengajaknya bermain mesin, kesenangan gadis itu. Kok datar sekali?
“Gus, kenapa ndak ke bengkel saja? Di sini alatnya terbatas. Cuma ada alat dasar punya Gus Taka.”
Ahsan mendengus. Nama Santaka muncul lagi. Orangnya tak ada, namanya menempel di bibir Nandini. Belum lagi panggilan gus itu.
“Ndak apa-apa. Kalau memang sudah dipegang kamu, ndak bener, baru ke bengkel. Panggil Ahsan saja Dini, kalau kita lagi berdua, kayak sekarang.”
“Ribet Gus, nanti malah kebiasaan. Pas di acara keluarga, aku spontan manggil namamu. Bisa dikerek di tiang sama Ning Sarah.”
Ahsan terkekeh. “Ning Sarah paling repot ya, jadi pengawas di Ndalem?”
“Hayo, aku rekam omonganmu lho, aku kasih tau Ning Sarah ah.” Nandini tertawa. Begitu renyah di telinga Ahsan.
“Ndak apa-apa. Paling dia nanya kok bisa dapet rekaman kayak gitu. Ngobrol berduaan ya sama Gus Ahsan. Akhirnya kita dihukum berdua deh...” Ahsan mengulum senyum.
“Dhih, pengen banget berdua...” Nandini mencebik. Menggemaskan di mata Ahsan.
Ahsan tersenyum. “Tolong, cek motorku.” Ahsan menatap Nandini kemudian menunduk.
“Iya iya.” Nandini meminta kunci lalu menyalakan motor sang gus. Suara mesinnya terdengar pincang, seperti orang asma, sesak napas.
“Bukannya ini motor baru ya, Gus. Rajin servis juga. Kok bisa rewel?”
Ahsan terkesiap. Tak mungkin kan kalau ia bilang jika ada unsur sabotase dari pemiliknya alias dirinya sendiri. Demi bercengkerama dengan sang ukhti montir.
“Kangen sama kamu kayaknya motorku.” Ahsan tersenyum simpul. Nandini kembali mencebik.
Nandini mematikan mesin lalu berjongkok di samping motor bertangki hijau army itu. Ahsan turut jongkok di samping Nandini. Sembilan puluh derajat posisinya.
Jadi jika mata Nandini menghadap motor, netra Ahsan melihat ke arah istri Santaka itu. Nandini tak mau ambil pusing dengan posisi gus muda itu. Asal tak jongkok di pangkuannya, tak masalah.
Nandini mengambil obeng dan mulai membuka panel samping yang menutupi area kelistrikan. “Aku cek soketnya dulu. Kalau mesin panas terus mati, biasanya ada yang ndak beres di jalur koil atau kabel massanya.”
Ahsan mengangguk-angguk. Nandini ini memang jago. Tentu saja benar masalahnya di kabel. Ahsan tahu persis sumber masalahnya.
Istri Santaka itu mulai mengurut kabel satu per satu. Ini pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ekstra. Jarinya yang mungil namun kuat masuk ke celah-celah mesin yang sempit.
Dahi Nandini mengerut. Bibirnya melipat. Mimik serius yang Ahsan sukai.
Nandini menemukan ada satu kabel yang terkelupas. Ternyata posisinya sangat tersembunyi, hampir mustahil dapat terkelupas sendiri kalau tidak sengaja digores.
Dini terdiam sejenak. Ia menggelengkan kepalanya. “Kamu sengaja ya, Gus?”
“Sengaja apa?”
“Kabel ini ndak mungkin luka di posisi seaneh ini kalau ndak dicungkil.”
Nandini menyipitkan mata saat menatap Ahsan. Sang gus gelagapan.
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj