Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELARIAN DI UJUNG FAJAR
"Aku tidak punya pilihan lain, Ndah. Dia akan mengambil Razka dariku jika aku tetap di sini."
Suara Assel bergetar hebat di balik sambungan telepon. Ia berdiri di tengah kegelapan kamar yang luas, hanya diterangi cahaya rembulan dari balik jendela. Di depannya, koper kecil berisi beberapa potong baju Razka sudah siap. Ia tidak membawa satu pun pakaian miliknya, tidak juga perhiasan pemberian Muzammil. Ia ingin pergi dengan tangan bersih, membawa harta paling berharganya: darah dagingnya sendiri.
"Kau gila, Assel? Ini jam dua pagi! Ke mana kau akan pergi?" Suara Indah di seberang sana terdengar panik namun penuh simpati.
"Ke mana saja, asal jauh dari Maheer. Dia mengancamku di depan makam Mas Muzammil. Tolong aku, Ndah. Hanya kau yang kupunya sekarang."
Hening sejenak sebelum Indah menjawab dengan helaan napas berat. "Tunggu di gerbang belakang sepuluh menit lagi. Aku akan membawamu ke rumah nenekku di pelosok Jogja. Maheer tidak akan bisa menemukanmu di sana."
Tepat pukul tiga pagi, sebuah mobil merah berhenti tanpa lampu depan di dekat gerbang belakang mansion. Assel menggendong Razka yang masih terlelap, menyelinap di antara bayang-bayang pohon. Para penjaga yang biasanya sigap, kini tampak tertidur di pos mereka masing-masing setelah menyesap kopi yang disuguhkan Assel beberapa saat lalu. Dengan jantung yang berdegup kencang, Assel masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Ndah," bisik Assel sambil mendekap Razka.
"Jangan berterima kasih sekarang. Kita harus keluar dari kota ini sebelum fajar menyingsing," sahut Indah, memacu mobilnya menjauh dari kemewahan yang kini terasa seperti penjara.
Pukul sembilan pagi, mobil Maheer terlihat sudah terparkir di depan Mansion milik Muzammil. Ia melangkah masuk ke dalam mansion kakaknya itu dengan langkah tegap. Jas hitam yang ia kenakan tampak sangat rapi, berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang masih kacau. Ia berhenti di depan kepala pelayan yang sedang menunduk ketakutan.
"Mana Assel? Katakan padanya aku sudah di sini," ujar Maheer ketus.
"Maaf, Tuan muda Maheer. Nyonya... nyonya sepertinya belum turun dari kamar," jawab pelayan itu gugup.
"Belum turun? Ini sudah hampir siang!" Maheer mendengus kesal. Ia tidak membuang waktu dan langsung menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Di depan pintu kamar utama, Maheer menggedor kayu jati itu dengan keras. "Assel! Buka pintunya! Kita punya jadwal yang harus ditepati!"
Tidak ada sahutan. Hening yang mencurigakan merayap keluar dari celah pintu. Maheer memutar kenop dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia mendorongnya hingga terbuka lebar. Kamar itu rapi, terlalu rapi hingga terasa tak berpenghuni. Aroma parfum Muzammil masih tertinggal di udara, menyesakkan dada Maheer seketika.
Matanya tertuju pada sebuah bingkai besar di atas kepala tempat tidur. Foto pernikahan Muzammil dan Assel. Keduanya tersenyum begitu tulus, sebuah kebahagiaan yang selama ini Maheer anggap sebagai kepalsuan. Ada rasa nyeri yang mendadak menyerang hatinya saat menyadari bahwa senyum itu kini terkubur bersama tanah makam kakaknya.
"Assel!" Maheer menerobos masuk ke ruang ganti.
Ia tertegun. Deretan baju Muzammil masih bersanding rapi dengan gaun-gaun Assel. Tidak ada yang hilang. Ia membuka lemari kecil Razka dan menemukan beberapa bagian sudah kosong.
"Sialan," umpat Maheer. Ia segera turun ke bawah dengan langkah menggelegar. "Semua penjaga, kumpul di depan sekarang!"
Tiga penjaga berdiri gemetar di hadapannya. "Kenapa kalian bisa kecolongan? Bagaimana dia bisa keluar?"
"Kami... kami tidak tahu, Tuan. Setelah Nyonya memberikan kopi, kami merasa sangat mengantuk," sahut salah satu penjaga dengan wajah pucat.
"Bodoh! Kalian diracuni kantuk oleh seorang wanita dan kalian tidak sadar?" Maheer berteriak, matanya berkilat marah. "Periksa CCTV sekarang!"
Beberapa menit kemudian, di ruang kendali, Maheer melihat rekaman pukul tiga pagi. Assel terlihat berjalan tergesa-gesa, memeluk Razka dalam dekapan pelindung, lalu masuk ke dalam sebuah mobil merah yang sudah menunggu.
"Kau pikir bisa lari dariku, Assel?" Maheer mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Ia segera menghubungi Hans, asisten setia kakaknya yang kini ia ambil alih. "Hans, lacak mobil merah dengan plat nomor ini sekarang juga."
Tidak butuh waktu lama bagi Hans yang ahli dalam bidangnya. "Tuan Muda Maheer, mobil itu terekam melintasi gerbang tol arah timur. Koordinat terakhir menunjukkan mereka menuju wilayah Yogyakarta, tepatnya ke arah pedesaan di pelosok."
Maheer mengambil kunci mobilnya dengan kasar. "Siapkan kendaraan. Kita berangkat ke Jogja sekarang."
"Tapi Tuan, ada rapat pemegang saham siang ini," Hans mencoba mengingatkan.
"Batalkan semuanya! Aku tidak peduli dengan rapat itu jika wanita itu berani membawa lari darah daging keluarga Arasyid," bentak Maheer.
Di dalam mobil yang melaju kencang, Maheer menatap jalanan dengan pikiran yang berkecamuk. Ia teringat kembali kata-kata terakhir Muzammil tentang fitnah. Namun, pelarian Assel justru memperkuat keyakinannya bahwa wanita itu menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa kau lari kalau kau memang tidak bersalah, Assel?" gumamnya rendah. "Kau hanya membuatku semakin ingin menghancurkanmu."
Hans yang duduk di kursi pengemudi melirik dari spion. "Tuan, daerah yang mereka tuju cukup terpencil. Akan sulit mencari mereka jika mereka sudah masuk ke wilayah perkampungan."
"Gunakan semua sumber daya yang kita punya, Hans. Aku ingin setiap sudut Jogja diawasi. Dia tidak akan bisa bersembunyi di bawah ketiak para sahabatnya selamanya."
Maheer menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke depan. Penolakan Assel di pemakaman kemarin dan pelariannya hari ini telah menyulut api baru dalam dirinya. Ini bukan lagi sekadar melaksanakan wasiat, ini adalah tentang harga diri dan kepemilikan.
"Kau ingin bermain kucing-kucingan? Baiklah," Maheer tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Tapi ingat, Assel. Ketika aku menemukanmu, mahar yang kau bayar akan jauh lebih mahal dari sekadar pernikahan."
Perjalanan panjang menuju Jogja pun dimulai. Di balik kemudi, Hans terus memantau pergerakan melalui jaringan GPS, sementara Maheer terus memutar-mutar cincin di jarinya, membayangkan wajah pucat Assel saat ia menemukannya nanti. Perburuan ini baru saja dimulai, dan Maheer Arasyid tidak pernah membiarkan mangsanya lepas.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah