Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Setelah selesai menata beberapa barang di rumah baru, hari sudah mulai gelap. Arka dan Lilis pun memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil, suasana terasa lebih santai dari sebelumnya.
"Kamu lapar ngga?" tanya Arka sambil fokus menyetir.
"Lapar Mas, tapi kita makan di rumah aja. Pasti Mama udah masak," jawab Lilis.
Arka menggeleng pelan sambil melirik ponselnya sejenak. "Tadi Mama telpon kalau mereka makan di luar. Katanya mereka lagi ada urusan sama keluarga yang lain."
Arka kemudian memelankan laju mobilnya saat melewati deretan warung makan di pinggir jalan.
"Jadi, kita mau makan di mana?" tanya Arka lagi.
"Terserah Mas," jawab Lilis singkat.
Arka terkekeh pelan mendengar jawaban itu. "Emang ada makanan terserah? Baru tahu aku,"
"Maksudnya itu, terserah Mas aja makan di mana. Lilis ikut aja."
Arka tampak berpikir sejenak sambil memperhatikan sekeliling. Di depan, terlihat sebuah tenda warung yang cukup ramai dengan aroma sambal yang menggugah selera.
"Emmm, pecel lele mau?" tawar Arka.
"Mau, Mas," jawab Lilis cepat.
Arka langsung membelokkan mobilnya dan mencari tempat parkir di dekat warung pecel lele tersebut. Meski sederhana, makan malam kali ini terasa berbeda bagi Lilis ini adalah kali pertama mereka makan berdua di luar sejak menyandang status suami istri.
Arka memarkirkan mobilnya, lalu mereka turun dan berjalan menuju tenda pecel lele yang ramai. Setelah menemukan meja di sudut yang agak tenang, Arka memanggil penjualnya.
"Mas, pesan dua porsi lele goreng, ya. Nasinya uduk satu, nasi biasa satu. Sambalnya dipisah saja," ucap Arka memesan.
"Minumnya apa, Mas?" tanya si penjual.
"Teh manis hangat satu, air putihnya satu," jawab Arka. Ia menoleh ke arah Lilis. "Benar kan, Lis? Air putih saja?"
Lilis mengangguk pelan dari balik cadarnya. Setelah penjual itu pergi, Arka melipat tangannya di meja dan menatap Lilis dengan santai.
"Kamu liburnya berapa hari, Lis?" tanya Arka memulai obrolan.
"Tiga hari, Mas," jawab Lilis pelan.
Arka sedikit terkejut. "Oh, cepat ya?"
"Iya Mas, nanti kalau lama-lama takut dipotong gaji," sahut Lilis jujur.
Arka terdiam sejenak sebelum berkata lagi, "Kita nginap di rumah Ayah ya. Tadi juga aku sudah izin sama orang tuamu. Nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, Mas. Sekarang kita kan sudah menikah," jawab Lilis.
Meski sebenarnya berat bagi Lilis.
Sekitar jam sepuluh malam, mobil Arka memasuki halaman rumahnya. Suasana rumah sudah sepi karena adik-adik Arka sudah masuk ke kamar masing-masing untuk tidur. Arka dan Lilis melangkah masuk dengan perlahan agar tidak mengganggu penghuni rumah lainnya.
Saat melewati area dapur, mereka melihat Kirana dan Yuda yang sedang berbincang akrab sambil menikmati teh malam. Kirana yang sedang bermesraan dengan suaminya langsung terkejut melihat kehadiran anak dan menantunya secara tiba-tiba.
"Eh, mantu Ibu! Kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Kirana dengan wajah sumringah.
"Lupa, Bu. Tadi kita langsung saja. Kita mau ke atas dulu ya, Bu," ucap Arka.
Lilis yang merasa sedikit canggung hanya bisa tersenyum di balik cadarnya, lalu ia menyalami tangan mertuanya dengan takzim.
"Duluan ya Ibu, Ayah," ucap Lilis pelan sebelum mengikuti langkah Arka menaiki anak tangga satu per satu.
Kirana dan Yuda hanya menatap kepergian mereka dengan senyum penuh arti. Di lantai atas, Lilis merasa jantungnya berdebar kencang. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia ke rumah ini, namun statusnya sebagai istri yang akan menginap di kamar Arka membuat suasana terasa sangat berbeda malam itu.
"Mas, Lilis lupa. Lilis tak memiliki pakaian ganti di sini." ucap Lilis dengan nada bingung.
Arka yang baru saja meletakkan kunci mobil langsung menoleh. Ia menepuk jidatnya pelan, menyadari keteledorannya juga.
"Oh, bentar. Kamu mandi saja dulu, biar aku pinjam baju Tiara sebentar," jawab Arka cepat.
Lilis mengangguk pelan. "Iya, Mas."
Arka segera keluar kamar dan turun kembali untuk mencari adiknya. Beruntung Tiara belum tidur lelap. Tak lama kemudian, Arka kembali dengan sepotong baju tidur.
"Ini, kata Tiara pakai yang ini saja dulu. Masih baru kok, belum pernah dipakai," ucap Arka sambil memberikan pakaian itu kepada Lilis.
Lilis menerimanya dengan lega. "Makasih ya, Mas."
"Sama-sama. Sana mandi, biar badannya segar. Aku tunggu di sini," sahut Arka sambil duduk di tepi tempat tidur.
Lilis keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Ia sudah mengenakan baju tidur milik Tiara yang ukurannya sedikit longgar di tubuhnya. Meski di dalam kamar yang tertutup, Lilis masih memakai cadarnya.
Di dalam kamar, Arka juga tampak lebih segar. Ia sudah berganti pakaian santai dan sedang duduk di tepi ranjang. Begitu melihat Lilis, Arka menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Lis, sini duduk sebentar," panggil Arka lembut.
Lilis berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya, meskipun tetap menjaga jarak.
"Lis, aku tahu pernikahan kita ini sangat mendadak. Mungkin ini bukan pernikahan impian yang kamu bayangkan sebelumnya," ucap Arka sambil menatap lurus ke depan.
Lilis hanya diam, mendengarkan setiap kata dari balik kain cadarnya.
"Aku juga tahu, saat ini kamu belum memiliki rasa cinta buat aku. Mungkin masih ada rasa berat di hati kamu," lanjut Arka jujur. Ia menoleh sedikit ke arah Lilis, mencoba menatap matanya.
"Tapi aku ingin kamu tahu satu hal. Aku sungguh-sungguh dengan pernikahan ini. Aku tidak main-main saat mengucapkan akad."
Arka tidak mencoba menyentuh Lilis, ia ingin memberikan ruang agar istrinya merasa nyaman. "Aku tidak akan menuntut kamu untuk langsung mencintaiku. Aku menghargai keputusanmu. Tapi izinkan aku jadi suami yang baik buat kamu. Kita jalani ini pelan-pelan ya?"
Lilis hanya bisa mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa, hatinya masih terasa penuh dengan berbagai rasa yang sulit dijelaskan.
Arka kemudian bergeser sedikit lebih dekat, menatap mata Lilis dengan lembut.
"Boleh aku buka cadarnya? Aku belum pernah melihatmu tanpa penutup wajah," pinta Arka.
Lagi-lagi Lilis hanya mengangguk, memberikan izin.
Dengan gerakan tangan yang sangat perlahan, Arka mulai melepas ikatan kain itu. Saat kain cadar tersebut terlepas sepenuhnya, Arka terpaku. Ia menahan napas sejenak, terpesona dengan apa yang ada di depannya.
"Cantik," ucap Arka spontan.
Paras Lilis terasa sangat berbeda dengan saat terakhir ia melihatnya. Di hadapannya kini, tampak wajah yang begitu sempurna. Hidungnya mancung, bulu mata lentik, bibir merah alami, dan kulit putih bersih yang tampak sangat lembut di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
Arka seolah tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia kemudian kembali bertanya dengan suara yang hampir berbisik.
"Jilbabnya juga aku buka ya. Boleh kan?"
"Boleh, Mas," jawabnya sangat lirih.
Dengan penuh kasih, Arka membantu melepaskan jilbab instan yang dipakai Lilis. Begitu kain itu tersingkap dan memperlihatkan rambut serta leher Lilis yang putih, Arka berucap pelan dengan nada penuh kekaguman.
"Masyaallah..."
Arka benar-benar tak menyangka jika di balik kain yang selama ini menutupi, tersimpan kecantikan yang luar biasa. Ia merasa menjadi pria yang sangat beruntung malam itu. Sementara Lilis hanya bisa menunduk malu.
Melihat Lilis yang masih menunduk malu dan tampak sangat tegang, Arka tersenyum lembut. Ia tahu istrinya itu masih merasa asing dengan situasi ini.
"Sudah, jangan menunduk terus. Ayo kita istirahat," ajak Arka pelan.
Arka perlahan merebahkan tubuhnya dan memberi isyarat agar Lilis ikut berbaring di sampingnya. Lilis yang kaku bergerak sangat hati-hati, ia berbaring dengan tubuh yang masih tampak tegang dan menjaga jarak di sisi ranjang.
Melihat hal itu, Arka menggeser tubuhnya mendekat. Dengan gerakan tenang, ia menarik Lilis ke dalam dekapannya, memeluk Lilis dengan hangat namun tetap lembut. Lilis sempat menahan napas karena terkejut, namun ia tidak menolak.
"Makasih sudah mau menerimaku," bisik Arka tepat di telinga Lilis.
"Tidur, ya. Sudah larut malam," sambungnya lagi.
Lilis perlahan mulai melemaskan bahunya di dalam pelukan Arka. Meskipun hatinya masih berdebar kencang.