NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Reynanda turun dari mobilnya pelan. Tatapannya langsung jatuh ke arah Carisa yang masih duduk di balik kemudi, diam, seolah belum sepenuhnya percaya dengan apa yang ia lihat.

Ia melangkah mendekat tanpa terburu-buru. Hujan tipis masih turun, membasahi bahunya, tapi Reynanda tidak terlihat peduli.

Carisa akhirnya membuka pintu mobilnya. Ia turun, berdiri dengan sedikit kaku di samping mobil yang mogok itu.

“Mobilmu kenapa?” tanya Reynanda, suaranya datar, tapi sorot matanya jelas tidak biasa.

Carisa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan.

“Mogok,” jawabnya singkat.

Reynanda mengangguk pelan, matanya sempat turun ke arah kap mobil, lalu kembali ke wajah Carisa.

“Kamu sendirian?”

Carisa menghela napas pendek. “Kelihatan, kan.”

Nada suaranya masih menyisakan kesal bukan hanya untuk situasi ini, tapi juga untuk semua yang terjadi sebelumnya.

Reynanda tidak menanggapi nada itu. Ia hanya berdiri beberapa detik, memperhatikan keadaan sekitar, lalu kembali bicara.

“Kamu mau ke mana?”

“Bandung.”

“Sendiri?”

Carisa menahan rahangnya. “Iya.”

Reynanda menatapnya lebih lama kali ini, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

“Yuda?”

Carisa tertawa kecil, tapi tidak ada lucu di sana. “Sudah duluan.”

Reynanda tidak bertanya lagi, tapi ada perubahan kecil di ekspresinya. Sesuatu yang lebih dalam, lebih sulit disembunyikan.

“Kamu sudah hubungi bengkel?” tanyanya.

“Sudah. Katanya satu jam baru sampai.” Carisa menatap jalan di depannya. “Ini juga sudah hampir satu jam.”

Reynanda melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali ke Carisa.

“Kamu nggak bisa nunggu di sini,” katanya akhirnya. “Bahaya.”

Carisa diam.

Ia tahu itu benar.

Tapi tetap saja, ada bagian dalam dirinya yang menolak bukan karena situasinya, tapi karena siapa yang sekarang berdiri di depannya.

“Aku tunggu aja,” jawabnya, pelan tapi jelas.

Reynanda menarik napas, menahan sesuatu.

“Carisa,” katanya lebih tegas. “Ini tol. Kamu sendirian. Dan hujan.”

Carisa menoleh, menatapnya.

“Aku nggak apa-apa.” Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu dipaksakan.

Reynanda menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng kecil.

“Kamu ikut aku,” katanya akhirnya. “Kita pergi bersama ke Bandung.”

Carisa langsung bereaksi. “Nggak usah.” Penolakan itu cepat. Refleks.

Reynanda tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Carisa, lebih dalam, seolah tidak akan mundur.

“Kamu yakin mau nunggu di sini sendirian?” tanyanya pelan.

Carisa tidak menjawab. Hening sejenak. Suara kendaraan melintas di samping mereka terasa lebih keras dari biasanya.

Reynanda melangkah sedikit lebih dekat.

“Risa,” suaranya turun, lebih tenang tapi justru lebih menekan. “Lupakan dlu masalah tentang kita.”

Carisa menahan napas. Kalimat itu membuatnya diam.

“Ini soal kamu yang lagi di tengah tol, mobil mogok, hujan, dan nggak ada siapa-siapa,” lanjut Reynanda. “Kamu butuh jalan keluar, jangan keras kepala.”

Carisa memejamkan mata sebentar. Ia lelah. Terlalu lelah untuk terus menolak hanya karena ego atau perasaan yang belum selesai.

Saat ia membuka mata lagi, sorotnya berubah. Tidak sepenuhnya lunak, tapi tidak lagi setajam tadi.

“Orang bengkelnya sebentar lagi sampai,” katanya pelan, masih mencoba bertahan.

Reynanda mengangguk. “Oke. Kita tunggu sampai mereka datang.”

Carisa menatapnya.

“Kita?”

“Iya.”

Nada Reynanda datar, tapi tegas.

“Aku nggak mungkin ninggalin kamu di sini.”

Carisa tidak menjawab. Tidak menyetujui. Tapi juga tidak menolak lagi.

Ia hanya berdiri di samping mobilnya, sementara Reynanda berdiri tidak jauh darinya.

Hujan turun sedikit lebih deras. Waktu berjalan pelan.

Lalu tiba-tiba ponsel Carisa kembali bergetar di tangannya. Ia langsung melihat layar. Nomor orang bengkel.

“Pak?” suaranya sedikit cepat.

Di seberang terdengar helaan napas. “Maaf, Bu… untuk sekarang mekanik kami belum ada yang bisa ke lokasi. Lagi penuh semua.”

Carisa diam. Wajahnya langsung berubah.

“Jadi… nggak bisa datang?” tanyanya, menahan nada kesal.

“Belum bisa, Bu. Saran kami Ibu hubungi derek saja, nanti mobilnya dibawa ke bengkel.”

Carisa tidak langsung menjawab. Beberapa detik.

“Iya, Pak,” katanya akhirnya singkat.

Telepon ditutup.

Ia menatap ponselnya sebentar, lalu menurunkannya perlahan. Rahangnya mengeras.

“Lengkap sudah,” gumamnya pelan, hampir seperti mengejek keadaan.

Reynanda yang berdiri tidak jauh darinya menatap sekilas. “Nggak jadi datang?”

Carisa tertawa pendek, kering. “Mekaniknya nggak ada yang free. Disuruh panggil derek.”

Reynanda mengangguk, tidak terlihat terkejut. “Ya sudah. Derek aja dulu.”

Carisa tidak langsung bergerak. Ia justru berdiri diam, menatap mobilnya sendiri, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya.

Hujan masih turun tipis. Jalan tol tetap ramai. Dan ia masih berdiri di situ sendirian tadi, sebelum akhirnya situasi memaksanya untuk tidak benar-benar sendiri.

“Aku harus ke Bandung,” katanya akhirnya, datar.

Reynanda menoleh. “Aku tahu. Jadi kita pergi bersama."

Carisa tidak menanggapi langsung. Ia menarik napas pelan, lalu seperti baru ingat sesuatu.

“Humaira dimana?” tanyanya, singkat.

Reynanda menjawab tanpa jeda. “Sudah duluan, dari tadi siang.”

Carisa mengangguk kecil. Tidak ada ekspresi yang jelas hanya sekilas gerakan yang menutup topik itu.

Hening sebentar. Lalu Carisa memiringkan kepala sedikit, menatap ke arah mobil Reynanda, lalu kembali ke mobilnya sendiri yang mogok.

Ia menghela napas pelan. “Aku nggak punya waktu nunggu derek,” katanya akhirnya. “Kalau nunggu, bisa-bisa kemalaman sampai Bandung.”

Reynanda tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Carisa, seolah menunggu kalimat berikutnya.

Carisa mengangkat dagunya sedikit. “Aku ikut mobil kamu.” Nada suaranya datar.

Reynanda akhirnya tersenyum, ia merasa senang bisa berduaan dalam mobil bersama Carisa. "Ayo!"

Carisa tidak langsung bergerak. Ia berbalik ke mobilnya, memastikan pintu terkunci, lalu menelpon derek dengan singkat menyebut lokasi, jenis mobil, dan langsung menutup telepon tanpa basa-basi.

Ia kembali ke arah mobil Reynanda. Langkahnya tenang, tapi jelas tidak sepenuhnya nyaman. Sesaat sebelum membuka pintu, ia berhenti.

Menatap sekilas ke arah jalan yang basah, lalu mengembuskan napas pendek.

Hari ini benar-benar tidak memberinya ruang. Ia membuka pintu, lalu masuk tanpa banyak bicara.

Reynanda sudah di kursi kemudi. Ia menunggu sampai Carisa menutup pintu.

Mesin dinyalakan. Suara mobil langsung memenuhi ruang sempit itu.

Beberapa detik tidak ada yang bicara. Carisa menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan, ekspresinya kembali rapi seolah semua yang terjadi tadi sudah ia simpan di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Mobil mulai bergerak, perlahan meninggalkan bahu jalan tol. Hujan masih turun. Dan di dalam mobil itu, mereka kembali berada dalam satu ruang yang sama dengan jarak yang seharusnya sudah tidak ada, tapi tetap terasa.

1
Nanik Arifin
awas Kiara, begitu ketahuan kebusukannya g kan ada orang yg simpati lagi sama kamu. yg ada mereka menjauh dan jijik. sebagian lagi khawatir kamu jd pelakor dlm rumah tangganya. bawa Label itu sepanjang hidupmu
Elsa friska sisilia
mudahan cepat ketahuan kebusukan kiara
Nanik Arifin
kurang ajar Carissa, dah ditolong malah mencelakai penolongnya
semoga seluruh sisa hidupmu menderita. penderitamu dlu bukan salah Carissa, jd salah sasaran klo kau balas dendam ke Carissa.
awas klo Yuda membiarkan Kiara jd duri dlm rumah tangganya...Yuda Ceo, klo ada apa" pd Carissa mudah baginya tuk dptkan cctv-nya, agar tahu pasti kejadiannya.
aku g rela ya Thor klo Carissa kmb pd Reynanda. buat Carissa & Yuda hidup bahagia. begitu pula anak Carissa dg Rey. Carissa & anaknya sama" korban. kesalahan Carissa adl melakukan zina , selebihnya dia baik. Insyaa Allah hatinya bersih, jauh bgt dg Kiara
Elsa friska sisilia: g sabar nunggu kelanjutanx,,mudahan cepat k tauan jahatx s kiara
total 1 replies
Elsa friska sisilia
dasar Reynanda bikin Clarisa dlm masalah aja
Elsa friska sisilia
jengkel dech,,semoga pak Yuda tetap setia
Elsa friska sisilia
Reynanda jodohkan sama Kiara sama2 g tau malu pelakor pebinor
Elsa friska sisilia
mudahan aja Reynaldi jodohx kiara
erma
bagus sih ceritanta...tp alurnya lambat
Nanik Arifin
hmmm.... pelakor & pebinor mulai beraksi 😓
Nanik Arifin
awas klo bawa pemikiran Kiara ke rumah tanggamu Yuda... ku getok kepalamu.
ingat, Kiara bibir pelakor yg tingkat halunya tinggi
Nanik Arifin
innalillahi, Kiara! busuk nian hati & perilakumu. Carissa begitu baik padamu, dan balasanmu....
Nanik Arifin
eallah Ki .. Ki...kamu itu anak baru dah menilai negatif senior. ingat, kamu disitu buat kerja, bukan tuk menilai otang
Binti Rusidah
best
Nanik Arifin
jangan coba" jd pelakor ya Kiara...
Riris Rahayu
kamu terllu pngecut Clarissa dia tdak berdosa tp kmu menghukum nya dngan tdak ingin melihat nya
Nanik Arifin
ingat Carisa, bicarakan ini dg suamimu. kalian sdh jd keluarga, lebih tepatnya pasangan suami-istri, terbukalah. ini jg akan meminimalkan konflik dl rumah tanggamu
Mawar
berarti anknya carisa diadopsi sama org.
Nanik Arifin
kamu yg ninggalin tanpa kabar, kamu yg pertama bertemu seolah-olah tak pernah terjadi apa", kamu yg memulai hidup baru dg yg lain bahkan sebentar kemudian punya anak, tapi kamu pula yg seolah-olah tll mencintai & jd korban. benci kamu yg playing victim Rey...😤😠
titik mala
nanda ndableg
tifara zahra
lagi donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!