Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Digital dan Sudut Pandang Sang Pecundang
Malam di Apartemen 402 biasanya menjadi tempat perlindungan paling aman bagi Arkan dan Ziva. Namun, malam ini, cahaya dari layar ponsel mereka terasa lebih menyengat daripada lampu interogasi. Sebuah akun gosip sekolah yang memiliki pengikut hampir seluruh siswa dan alumni SMA Garuda baru saja mengunggah sebuah kiriman anonim.
@GarudaSpill: "Plot Twist Terbesar Tahun Ini? Ketua OSIS Teladan & Si Pemberontak Jurnalisme ternyata tinggal satu atap? Bukti foto menyusul. #SkandalGaruda #ArkanZiva"
Ziva melempar ponselnya ke atas kasur seolah benda itu baru saja menyetrumnya. "Clarissa... dia bener-bener nggak mau lepasin kita, Ar. Dia udah pindah sekolah, tapi dia masih punya tangan di sini."
Arkan berdiri di dekat jendela, menatap pantulan dirinya yang terlihat lelah. "Dia nggak punya foto aslinya, Ziva. Aku sudah memusnahkan semua bukti fisik dari penyusup itu. Ini cuma gertakan sambal untuk memancing kita keluar."
"Tapi gosip itu lebih cepet nyebar daripada fakta!" Ziva berjalan mondar-mandir. "Besok di sekolah, semua orang bakal liatin gue kayak gue ini... entahlah. Gue capek, Ar. Gue capek pura-pura benci, terus sekarang harus pura-pura nggak tahu soal gosip ini."
Arkan berbalik, langkahnya tenang namun pasti. Ia memegang kedua bahu Ziva, memaksa gadis itu berhenti bergerak. "Tenang. Kalau kita panik, itu kemenangan buat dia. Besok, kita tetap jalankan rencana 'Bimbingan Konseling'. Biarkan mereka bicara. Selama nggak ada foto, itu cuma sampah digital."
POV Revan: Di Antara Rasa Iba dan Cemburu
Di sisi lain kota, Revan duduk di atas motor sportnya yang terparkir di pinggir lapangan basket umum. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan unggahan @GarudaSpill. Rokok di tangannya sudah hampir habis, abunya jatuh tertiup angin malam.
Sial, batin Revan.
Hatinya berkecamuk. Di satu sisi, ia merasa puas melihat Arkan mulai terpojok. Sejak awal, Revan membenci kesempurnaan Arkan. Arkan adalah segalanya yang tidak dimiliki Revan: kaya, pintar, berwibawa, dan dicintai semua guru. Revan adalah kapten basket yang populer, tapi ia tahu di mata sekolah, ia hanyalah "anak nakal yang jago olahraga", sedangkan Arkan adalah "masa depan bangsa".
Tapi di sisi lain, melihat nama Ziva terseret dalam skandal ini membuat dadanya sesak.
"Ziva nggak pantas dapet ini," gumam Revan pelan.
Ia teringat saat Ziva pertama kali mewawancarainya untuk
mading sekolah dua tahun lalu. Ziva yang galak, yang tidak takut pada gertakannya, dan yang selalu punya binar di matanya saat bicara tentang cita-citanya menjadi jurnalis investigasi. Revan jatuh cinta pada keberanian itu.
Revan membuka aplikasi pesan, jarinya ragu-ragu di atas nama Clarissa. Ia tahu Clarissa yang ada di balik ini semua.
Revan: Cla, berhenti. Lo udah keterlaluan. Lo hancurin masa depan Ziva juga kalau kayak gini.
Satu menit kemudian, balasan masuk.
Clarissa: Kenapa, Van? Lo kasihan sama 'istri' orang? Kalau lo mau Ziva, bantuin gue jatuhin Arkan. Begitu Arkan hancur, Ziva bakal butuh sandaran, kan? Itu kesempatan lo.
Revan meremas ponselnya. Tawaran Clarissa sangat menggiurkan. Jika Arkan jatuh, Ziva mungkin akan menjauh dari Arkan karena malu atau benci. Tapi Revan tahu, menghancurkan Arkan berarti menghancurkan dunia Ziva juga.
"Gue emang bukan orang baik, Cla," bisik Revan pada kegelapan. "Tapi gue nggak serendah itu buat dapet cewek yang gue suka."
Revan menyalakan mesin motornya. Deru mesinnya membelah sunyi. Ia tahu apa yang harus ia lakukan besok. Bukan sebagai musuh Arkan, tapi sebagai seseorang yang tidak ingin melihat Ziva menangis lagi.
Pagi yang Berbisik
Keesokan harinya, SMA Garuda terasa seperti sarang lebah. Bisik-bisik terdengar di setiap sudut koridor. Saat Ziva berjalan masuk, semua mata tertuju padanya. Beberapa siswi terang-terangan menunjuknya sambil berbisik, "Itu dia cewek yang katanya tinggal sama Arkan."
Ziva mencoba tetap tegak. Ia merapatkan jaketnya, telinganya terasa panas.
Tiba-tiba, sebuah tangan merangkul pundaknya dengan kasar namun protektif. Ziva tersentak, mengira itu Arkan yang sedang nekat. Namun, aroma parfum maskulin yang berbeda menyengat hidungnya.
Itu Revan.
"Woi, pada liatin apa? Nggak pernah liat orang cantik lewat?" teriak Revan dengan suara lantang yang menggema di koridor.
Para siswa yang tadinya berbisik langsung memalingkan muka, takut pada kapten basket yang terkenal temperamental itu.
"Kak Revan? Apa-apaan sih?" bisik Ziva sambil mencoba melepaskan rangkulan Revan.
"Diem, Ziv. Anggap aja gue lagi akting," jawab Revan tanpa menoleh. "Gue bakal anter lo sampai kelas. Biar mereka mikir gosip itu bohong karena lo sebenernya 'deket' sama gue, bukan sama robot kaku itu."
Ziva tertegun. Strategi Revan aneh, tapi efektif. Jika Ziva terlihat dekat dengan Revan, maka gosip tentang Arkan dan Ziva akan dianggap sebagai rumor tanpa dasar.
Dari kejauhan, di lantai dua, Arkan berdiri menatap pemandangan itu. Tangannya mencengkeram pagar besi hingga buku jarinya memutih. Gibran yang berdiri di sampingnya bisa merasakan aura dingin yang mematikan dari sang Ketua OSIS.
"Ar, tenang... Revan cuma mau bantu," bisik Gibran.
"Aku tahu," jawab Arkan, suaranya parau karena menahan amarah yang tidak seharusnya ada. "Tapi aku benci melihat tangan laki-laki lain di pundak istriku, meskipun itu untuk melindunginya."
Ruang Konseling: Rahasia yang Menguap
Sesuai rencana, sore itu Arkan dan Ziva "dihukum" untuk menjalani bimbingan konseling di ruang tertutup. Guru konseling, Bu Mira, sudah pergi setelah memberikan tugas esai refleksi diri bagi mereka berdua.
Pintu terkunci.
"Lo oke?" tanya Arkan segera setelah mereka berdua.
Ziva menghela napas panjang, duduk di kursi kayu yang keras. "Gue oke. Kak Revan tadi pagi... dia bantuin gue."
"Aku lihat," Arkan duduk di depan Ziva. "Dan aku nggak suka caranya."
Ziva menatap Arkan, sedikit tersenyum. "Lo cemburu, Pak Ketos?"
"Ini bukan soal cemburu, Ziva. Ini soal keamanan," Arkan mencoba membela diri, walau wajahnya sedikit memerah. "Revan itu tidak bisa ditebak. Kita nggak tahu apa motif aslinya."
Tiba-tiba, ponsel Arkan berbunyi. Sebuah panggilan dari nomor yang sangat ia kenal. Ayahnya.
"Halo, Pa?"
"Arkan, buka televisi atau portal berita sekarang," suara Pak Wijaya terdengar sangat tegang.
"Clarissa melakukan hal gila. Dia mengunggah foto pernikahan kalian ke akun media sosial pribadinya dengan tag akun resmi sekolah dan dinas pendidikan. Foto yang diambil penyusup itu ternyata sudah dikirim ke cloud pribadinya sebelum kamu hancurkan."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Arkan.
"Pa... lalu gimana?"
"Papa sudah mencoba memblokir beritanya, tapi ini sudah viral. Besok pagi, wartawan mungkin akan ada di depan gerbang sekolah. Arkan, siapkan dirimu. Ziva... bawa dia ke rumah utama malam ini. Apartemen nggak aman lagi."
Arkan menutup telepon. Ia menatap Ziva dengan tatapan yang sangat dalam, penuh rasa bersalah dan kesedihan.
"Ziva, kemasi barang-barangmu sekarang," suara Arkan bergetar. "Rahasia kita... sudah meledak ke seluruh dunia."