Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perusahaan Ilegal
Liam berdiri di balkon itu dengan kedua tangan bertumpu pada pagar besi, menatap hamparan pekerja dan mesin-mesinnya dengan tatapan penuh otoritas.
"Tidak buruk, kan? Kau tidak akan menemukan pemuda seusiaku di Verovska yang bisa menggerakkan ribuan batang tembakau ke luar negeri setiap minggunya," sombong Liam, dagunya terangkat sedikit.
Gengsinya yang setinggi langit seolah mengharuskan dia terlihat seperti raja di depan Cassie.
"Jadi, ingatlah bahwa kau bekerja untuk orang yang menguasai setengah dari suplai tembakau ilegal di wilayah ini."
Cassie hanya memutar bola matanya, meski dalam hati ia memang takjub.
"Iya, iya, Tuan Besar yang Sangat Kaya. Aku sudah paham."
Suasana mendadak berubah saat Liam memutar tubuhnya, bersandar pada pagar dan menatap Cassie dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dan serius. Tidak ada ejekan, tidak ada kesombongan. Hanya ada rasa ingin tahu yang murni.
"Sebenarnya... kau sudah semester berapa?" tanya Liam tiba-tiba. "Selama tinggal di rumahku, kau hanya sibuk mengelap marmer atau mengomel soal ledekanku. Kau tidak pernah bercerita tentang apa yang kau pelajari di gedung tua kampusmu itu."
Cassie sedikit terkejut dengan perubahan topik yang mendadak. "Saat ini masuk semester tiga."
Liam mengangguk pelan, seolah sedang mencerna informasi itu. Ia terdiam sejenak sebelum melontarkan pertanyaan yang sebenarnya paling ingin ia ketahui. "Lalu, setelah lulus nanti... apa rencanamu? Apa kau akan tetap di Verovska dan mencari pekerjaan yang lebih 'normal' daripada menjadi pelayan di rumahku?"
Cassie menatap jauh ke arah deretan mesin di bawah sana, lalu menjawab dengan suara yang pelan namun pasti.
"Rencananya aku akan kembali ke tempat asalku. Keluargaku ada di sana, dan jujur saja, kota ini terlalu keras untukku. Aku hanya di sini untuk belajar, bukan untuk menetap."
Jawaban itu seperti siraman air es bagi Liam. Ia terdiam seketika. Seringai sombong yang tadinya menghiasi wajahnya menghilang tanpa bekas. Ia menatap lurus ke depan, namun pikirannya tampak kosong.
Kalimat 'kembali ke tempat asal' terasa sangat mengganggu di telinganya. Selama ini ia sibuk memastikan Cassie tidak pergi ke pelukan Ethan atau kembali ke apartemen kumuh, tapi ia lupa pada satu kenyataan pahit, Cassie punya dunia sendiri yang jauh dari Verovska, dunia yang tidak melibatkan dirinya.
Liam tidak mengajukan pertanyaan lanjutan. Ia tidak bertanya kapan tepatnya Cassie lulus, atau apakah Cassie akan merindukannya. Ia hanya berdiri di sana dalam keheningan yang menyesakkan, sementara suara bising mesin gudang seolah berubah menjadi suara detik jam yang menghitung waktu mundur keberadaan Cassie di hidupnya.
***
Untuk memecah suasana yang mendadak berat itu, Cassie mengalihkan pandangannya kembali ke arah kesibukan di bawah balkon.
"Liam," panggil Cassie pelan. "Boleh aku tanya satu hal?"
Liam hanya bergumam tanpa menoleh, masih berkutat dengan pikirannya sendiri tentang rencana kepergian Cassie.
"Kenapa kau membiarkan usaha rokok ini tetap ilegal? Maksudku... aku tahu kau punya beberapa bisnis lain yang legal dan aman. Kau punya nama di Verovska. Kenapa harus mengambil risiko sebesar ini untuk satu bisnis saja?"
Liam menghela napas panjang, ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan korek api, memainkannya tanpa menyalakan apa pun.
"Ya, itulah ironinya. Bisnis properti dan logistikku yang lain bisa legal karena dari awal aku memang warga negara yang baik, taat pajak, dan mengikuti semua prosedur birokrasi yang membosankan itu."
Ia menyandarkan punggungnya ke pagar besi, menatap langit-langit gudang yang tinggi. "Tapi rokok ini beda. Aku sudah berkali-kali mencoba mengurus izinnya. Aku punya modal, aku punya pabrik yang memenuhi standar, dan aku siap membayar pajak besar ke kota ini. Tapi entah kenapa, sampai sekarang legalitas usaha ini selalu dipersulit."
Cassie mengerutkan dahi. "Dipersulit bagaimana?"
"Ada tembok besar yang tidak bisa kutembus hanya dengan uang atau koneksi biasa," jawab Liam dengan nada frustrasi yang jarang ia tunjukkan.
"Setiap kali berkas izinnya masuk ke meja otoritas, selalu ada alasan untuk menolaknya. Entah itu masalah zonasi, standar emisi, atau aturan baru yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Rasanya seperti ada seseorang yang sengaja ingin aku tetap berada di zona 'hitam' ini."
Liam melirik Cassie dengan tatapan tajam.
"Berada di zona ilegal berarti aku lebih mudah dijatuhkan, lebih mudah diperas, dan lebih mudah dianggap sebagai 'penjahat' oleh teman polisimu itu. Dan jujur saja, aku sendiri tidak tahu siapa yang bermain di balik semua ini."
Cassie terdiam, ia baru menyadari bahwa kehidupan Liam tidak sesederhana "orang jahat yang hobi melanggar hukum". Ada sisi frustrasi dari seorang pengusaha yang sebenarnya ingin diakui namun sengaja dijegal oleh sistem.
"Mungkin itu alasan kenapa Ethan begitu gigih mengejarmu," gumam Cassie. "Dia hanya melihat apa yang ada di permukaan, tanpa tahu kalau kau sudah mencoba menjadi legal."
Liam mendengus dingin. "Ethan hanya melakukan tugasnya sebagai anjing pelacak yang patuh. Dia tidak akan peduli soal birokrasi yang busuk."
Liam kemudian menegakkan tubuhnya, kembali ke postur tubuhnya yang angkuh seolah ingin menepis sisi rapuh yang baru saja ia tunjukkan.
"Sudahlah. Ayo pulang. Tempat ini terlalu berdebu untuk mahasiswi sepertimu."
***
Malam itu, sebagai bentuk permintaan maaf yang tidak ia ucapkan secara langsung, Liam membawa Cassie ke sebuah restoran rooftop yang tenang. Tidak ada Marco, tidak ada Jino. Hanya mereka berdua di bawah lampu-lampu kota Verovska yang berkelap-kelip.
Ketegangan yang sempat memuncak pagi tadi sudah menguap sepenuhnya, digantikan oleh suasana santai yang jarang terjadi. Setelah menghabiskan separuh hidangan mereka, Cassie menyesap minumannya dan menatap Liam dengan tatapan menyelidik.
"Kau tahu, Liam?" Cassie memulai pembicaraan dengan nada sedikit jenaka. "Pertama kali aku melihatmu di peristiwa berdarah di apartemen itu, aku benar-benar mengira kau adalah penjahat kelas kakap. Semacam mafia mafia di film."
Liam menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik. "Oh ya? Teruskan."
"Iya! Di kepalaku, aku sudah membayangkan skenario gila," Cassie terkekeh, wajahnya sedikit merona karena pengaruh suasana.
"Aku pikir kau akan terobsesi padaku, mahasiswi beasiswa malang yang tidak punya siapa-siapa di sini. Lalu kau akan mengurungku di ruang bawah tanah rahasia, menjadikanku tawanan pribadimu, dan melakukan semua hal posesif seperti di novel-novel dark romance yang sering kubaca."
Liam terdiam sejenak, lalu tawa renyah pecah dari bibirnya. Itu bukan tawa sinis atau meremehkan, tapi tawa yang benar-benar tulus.
"Jadi kau kecewa?" tanya Liam setelah tawanya mereda, matanya berkilat jahil.
"Kau kecewa karena ternyata aku bukan pembunuh berantai atau bos mafia yang hobi mengurung orang di ruang bawah tanah?"
"Bukan begitu! Maksudku..."
"Dengar, Mahasiswa," Liam memotong sambil memajukan tubuhnya ke arah meja.
"Biar kuluruskan fantasimu itu. Mafia yang asli di dunia ini tidak ada yang setampan di bayanganmu. Aku beberapa kali berurusan dengan mereka, rata-rata mereka itu pria tua yang berbau cerutu, perutnya buncit, dan bicaranya kasar. Tidak ada sisi romantisnya sama sekali."
Cassie mengerucutkan bibirnya, merasa fantasinya baru saja dihancurkan oleh kenyataan pahit.
"Dan soal obsesi..." Liam menjeda kalimatnya, menatap Cassie dalam-dalam dengan sorot mata yang tiba-tiba melembut namun tetap intens.
"Sepertinya kau salah hitung. Dari awal aku memang sudah cukup terobsesi padamu, Cassie. Tapi untuk apa aku repot-repot mengurungmu di bawah tanah yang lembap dan bau?"
Liam menyeringai nakal. "Cukup belikan kau makanan enak sesekali, membiarkanmu tinggal di rumah mewahku, dan memberimu tumpangan gratis, dijamin kau tidak akan pernah kabur dariku. Kau itu terlalu mudah ditebak."
"Liam! Aku tidak semurah itu!" seru Cassie sambil melemparkan serbet ke arah Liam, meskipun ia tidak bisa menahan senyumnya.
"Faktanya, sekarang kau duduk di depanku dan tidak mau beranjak, kan?" ledek Liam lagi.
Cassie menghela napas, menyadari bahwa ia salah jika mengharapkan obrolan ini akan berakhir dengan pernyataan cinta yang puitis. Sekeras apa pun usahanya untuk bersikap serius, ujung-ujungnya Liam pasti akan menemukan celah untuk meledeknya. Tapi anehnya, ledekan itu tidak lagi terasa menyakitkan seperti dulu, malah terasa seperti cara Liam untuk menunjukkan bahwa dia tidak ingin suasana menjadi terlalu berat di antara mereka.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭