NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Sebuah Kemewahan

Senyum mengembang di wajah Tono. Laki-laki berkulit legam terbakar matahari itu menatap adiknya penuh haru.

"Alhamdulillah, Nduk! Kalau benar begitu, kamu duduk dulu sini. Minah, cepat bersihkan kamar depan buat Sukma tidur. Malam ini aku sama Tejo gelar tiker di kamar Bapak. Kamu sama anak-anak umpel-umpelan sama Yayuk ya."

"Nggih, Kang. Aku siapne saiki."

Minah langsung berdiri, bergegas menuju kamar depan. Ia tersenyum sungkan ke arah Sukma. Takut adik iparnya itu jijik.

Keluarga mertua Sukma jauh lebih berada dibanding mereka. Apalagi Sukma datang menenteng kardus-kardus berisi daging dan telur. Hatinya dipenuhi rasa sungkan bercampur terima kasih.

Yayuk, yang kakinya agak pincang, juga ikut bangkit tertatih. Ia harus merapikan kamarnya yang akan dipakai tidur berdesakan.

Sukma menatap punggung kedua kakak iparnya itu dengan perasaan tak enak. Keputusannya menginap mendadak memang merepotkan.

Tapi melihat rona bahagia di wajah keluarganya... rasanya sepadan. Dulu, pemilik asli tubuh ini paling malas pulang. Kalaupun pulang, hanya untuk numpang makan tanpa pernah membawa buah tangan.

Marni selesai menyuapi Pak Purnomo obat masuk angin. Ia keluar dari bilik kamar, berjalan menghampiri Sukma di ruang tamu.

Tejo, yang sejak tadi memangku anaknya yang balita, ikut nimbrung.

"Sukma, Koen bawa barang sebanyak ini, mertuamu ndak ngamuk tah?" tanya Tejo cemas.

"Iyo, Nduk. Lek Mbah Lasmi wani macam-macam, tak parani omahe!" Tejo mengepalkan tangannya. Ia baru tahu dari cerita orang betapa menderitanya Sukma selama ini.

Dulu ia ingin melabrak keluarga Priyanto, tapi dilarang keras oleh orang tuanya. Takut malah bikin rumah tangga Sukma hancur berantakan.

Sukma merasakan aliran hangat di dadanya. Keluarga Purnomo ini benar-benar tulus.

Dulu, Sukma Ayu yang asli selalu memikirkan cara mengeruk untung dari keluarganya demi kepentingannya sendiri.

"Aku wes resmi pisah KK, Mas Tejo." Sukma tersenyum menenangkan.

"Ladang singkong juga wes masuk namaku. Mulai sekarang aku bawa anak-anakku hidup mandiri. Bebas, ndak usah dengerin omelan mertua."

Marni menghela napas berat, duduk di sebelah Sukma.

"Nduk, Koen wes pisah KK, tapi Lasmi itu tetap ibunya Sutrisno. Koen kudu tetep sopan. Lek ndak, nanti Sutrisno sing repot. Masak iya de'e mau musuhi ibu kandungnya dewe?"

"Ngerti aku, Bu. Selama Mbah Lasmi ndak nyari gara-gara, aku yo diam. Malam ini aku nginap sini karena ada urusan penting."

Tono dan Tejo saling pandang. "Urusan opo, Nduk?"

"Dudu masalah gede." Sukma merendahkan suaranya, mencondongkan tubuh ke depan.

"Aku mau bantu benerin rumah ini. Ibu, Bapak... pokoknya ibu, bapak, sama Mas-mas kabeh ndak usah nolak."

Marni melotot kaget. Jantungnya berdebar kencang. Ia buru-buru melambaikan tangannya. Renovasi rumah butuh uang puluhan ribu. Duit dari mana perempuan beranak empat ini?

"Ojo ngawur Koen, Nduk! Aku sama Bapakmu wes rasan-rasan. Nanti nyuruh Mas Tono sama Mas Tejo minta jerami sisa panen ke Kades Darman. Tinggal panggil tukang buat nambal atap yang bocor."

"Bener kata Ibumu, Sukma. Koen fokus rawat anak-anakmu wae. Bapak sama Ibu masih sehat, aku sama Mas Tono juga masih sanggup kerja." Tejo ikut menolak halus.

Tono mengangguk setuju. Ia memang sering dicibir tetangga karena punya adik ipar tentara tapi rumahnya sendiri nyaris rubuh.

Tono selalu membela Sukma, mengatakan adiknya itu pasti punya kebutuhan sendiri. Baru hari ini Sukma benar-benar membuktikan kepeduliannya.

"Ini bukan soal repot atau ndak, Mas." Sukma bersikeras.

"Aku wes dadi istri tentara, tapi masa iya aku biarkan orang tuaku tidur kehujanan? Mas Trisno dewe sing nyuruh aku perhatikan bapak ibu di surat terakhirnya. Lek dia pulang lihat rumah iki makin reyot, aku sing diomeli."

Mata Marni berbinar mendengarnya. "Tenan, Nduk? Sutrisno ngomong ngono?"

"Sumpah, Bu." Sukma meyakinkan, meski sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja.

"Mas Tono besok tolong bawakan jerami dari ladangku pakai gerobak sapi ya. Anak-anak mau tak antar sekolah jam sepuluh."

Tono menatap ibunya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Yowes, lek pancen amanah bojomu."

"Lagi pula, rumah iki wes ndak layak, Bu." Sukma menatap atap yang hitam legam dipenuhi sarang laba-laba dan jelaga.

"Minto yo wes bujang. Masa tidurnya di dipan ruang tamu? Lek de'e ate gowo calon istri ke rumah, apa ndak malu? Pokoknya dengerin aku. Kita bongkar rumah ini. Bikin yang agak luasan dikit."

Ucapan Sukma telak membungkam Marni, Tono, dan Tejo. Mereka selama ini bekerja keras peras keringat, tapi entah kenapa uangnya selalu habis untuk makan sehari-hari.

Sukma merogoh tas selempangnya. Ditariknya gulungan uang hasil menjual Tape Compo tadi siang.

Seratus lima puluh ribu, sisa Seratus ribu ia simpan untuk jaga-jaga biaya operasi sesar Wati nanti.

Lembaran uang kertas bergambar R.A. Kartini dan Pangeran Diponegoro itu diletakkan begitu saja di atas meja bambu.

Tiga pasang mata langsung terbelalak seukuran piring.

"Iki... iki duit teko ngendi, Sukma?!" Tejo terlonjak mundur, suaranya bergetar ngeri.

Bagi petani miskin di tahun 1990, uang sebanyak itu hanya bisa dilihat di film-film Warkop DKI.

"Gusti Allah! Sukma! Koen nyimpen duit sakmene akehe wani-wanine numpang sepeda jengki ngelewati bulakan loh?!" Marni memegangi dadanya yang berdebar gila.

Tono menatap tumpukan uang itu dengan mata memerah. Antara syok, bahagia, dan tak percaya.

Seumur hidupnya jadi kuli cangkul, baru kali ini ia melihat uang ratusan ribu di depan mata kepalanya sendiri.

"Mas Tono, Mas Tejo... ini bukan duit haram." Sukma tersenyum menenangkan.

"Ini uang tabunganku dewe. Seratus ribu buat biaya bangun rumah. Tiga puluhnya buat pegangan Ibu sama Bapak. Sisanya buat beliin Mas Tono sama Mas Tejo baju, sepatu, dan modal sekolah anak-anak. Jangan mikir kapan balikinnya. Bikin bapak ibu nyaman di masa tua itu wes lebih dari cukup."

"Ndak! Ndak iso ngono!"

Tiba-tiba Tejo menggebrak meja pelan. Matanya berkaca-kaca menatap Sukma.

"Duit iki tak anggap utang, Nduk! Lek ndak, aku sama Tono mending tidur di gubuk sawah wae! Koen yo butuh duit gawe mangan!"

"Iyo, bener kata Tejo." Tono menyeka sudut matanya kasar.

"Ojo sampe bojomu tahu Koen buang duit ratusan ribu ke keluarga istrimu. Nanti malah jadi perkara gedhe!"

Sukma nyaris tertawa melihat reaksi keluarganya. Di saat mertuanya merampok uangnya tanpa ampun, keluarganya sendiri malah mati-matian menolak diberi.

"Yowes, yowes. Anggap wae utang. Sing penting besok Mas Tejo cari tukang bangunan. Pesen batu bata merah sama genteng. Ojo pakai atap rumbia lagi."

Marni dengan tangan gemetar menyapu uang itu ke dalam lipatan kain jariknya.

"Duit iki tak simpen, Nduk. Koen nek butuh opo-opo, ngomong Ibu."

Sukma mengangguk puas. Pak Purnomo yang terbangun karena suara ribut-ribut langsung diomeli Marni saat mencoba protes.

Ujung-ujungnya, kakek tua itu hanya bisa menangis haru melihat bakti putrinya.

Malam itu, aroma sedap mengepul dari dapur keluarga Purnomo.

Bukan lagi tumis kangkung atau ikan asin. Sukma memasak besar-besaran.

Minah dan Yayuk yang sejak siang hanya berani memasak tumis buncis untuk anak-anak, kini melongo melihat Sukma memotong-motong sekilo daging sapi dan ayam segar.

Sukma meracik semur daging sapi pedas manis, sayur lodeh nangka muda, dan ayam goreng lengkuas. Minyak goreng ia tuang tanpa ragu, membuat Minah memekik ngeri takut boros.

"Dik, ngirit minyake!" jerit Minah.

"Ben ae, Mbak Minah. Sesekali kita makan enak." Sukma tersenyum puas mengaduk wajan.

Asap gurih semur daging itu terbang tertiup angin malam. Menyelinap ke celah-celah dinding rumah tetangga.

Beberapa warga sampai menelan ludah sambil duduk di depan teras mereka, menebak-nebak siapa yang sedang hajatan.

Lampu teplok minyak tanah menerangi ruang tengah.

Tikar pandan digelar memanjang. Belasan piring seng disiapkan.

Marni, Pak Purnomo, Tono, Minah, Tejo, Yayuk, Sukma, Minto, dan ketujuh cucu duduk melingkar. Mata anak-anak itu berbinar terang menatap gunungan ayam goreng dan semur daging.

"Ayo, mangan!" komando Marni dengan suara bergetar bahagia.

Tejo mengambil sepotong daging semur yang empuk. Bumbu kecapnya meresap sempurna. Sekali gigit, rasa gurih pedas manis meledak di mulutnya. Ia tak sadar mengunyah sambil memejamkan mata.

"Gusti... enak tenan iki, Nduk. Koen tambahi bumbu opo to?" puji Tejo sambil menyuapkan sesendok semur ke piring istrinya, Yayuk.

Yayuk menerima suapan itu dengan wajah memerah malu, tapi senyumnya mengembang lebar.

"Iya, Mbakyu. Masakanmu sekelas warung makan kabupaten," puji Minto, si bungsu yang menyikat dua potong ayam goreng sekaligus.

Sukma hanya makan sedikit. Ia lebih asyik memperhatikan wajah-wajah bahagia keluarganya.

Di kehidupan lamanya, makan malam keluarga yang hangat seperti ini tak pernah ia rasakan, jadi ini adalah sebuah kemewahan yang tak bisa ia beli dengan uang.

Setelah makan malam, Minto dengan semangat mengangkut ember berisi air hangat ke kamar mandi darurat di luar.

Pemuda itu dengan telaten memandikan keponakan-keponakannya bergantian.

Minah menyiapkan baskom air hangat khusus untuk Sinta. Tugas memandikan anak-anak diambil alih total, membiarkan Sukma duduk santai di ruang tamu.

Marni membawa masuk sisa gula merah dari dapur. Ia harus membagi rata jatah gula itu, sedikit untuk Tejo yang istrinya sedang hamil muda, dan sedikit untuk Tono. Ia tahu ia tak boleh pilih kasih, apalagi setelah Sukma memberikan uang sebanyak itu.

"Koen kudu adil, Bu," tegur Pak Purnomo pelan dari atas dipannya, menyadari istrinya sedang memilah-milah gula merah.

"Iyo, Pak e. Aku ngerti." Marni menyahut pelan.

"Aku dudu mertuane Sukma sing gila harta."

Di kamar depan, Sukma duduk mengawasi keempat anaknya yang sedang bermain di atas kasur kapuk yang baru dijemur Minah.

Tiba-tiba, sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Gito merangkak naik ke atas kasur, langsung memeluk pinggang Sukma manja.

"Ibu, wangi banget..." Gito mengendus daster ibunya dengan senyum lebar. Bocah yang kini mulai berisi itu menyamankan kepalanya di pangkuan ibunya.

"Awas, kepalamu itu keras. Nanti tulang rusuk Ibu patah," goda Sukma sambil mencubit hidung anak keduanya itu.

"Biarin. Gito mau peluk Ibu terus."

Melihat adiknya bermanja-manja, Sigit yang duduk di ujung kasur hanya mendengus pelan.

Ia melipat kedua tangannya di dada, mempertahankan gengsinya sebagai anak sulung yang tangguh. Tapi matanya sesekali melirik iri ke arah Gito.

"Besok bangun pagi ya. Kita langsung pulang, terus Ibu antar kalian ke sekolah baru," ucap Sukma sambil menyisir rambut Gito dengan jari.

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!