NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.

Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pagi dengan Yan Chu

Pagi hari yang damai menyapa kediaman mereka dengan sinar matahari keemasan yang menembus celah jendela, menerangi sudut-sudut ruangan kayu yang masih sunyi.

Cahaya itu jatuh tepat di wajah Yan Chu, membuat bulu matanya yang lentik bergetar halus sebelum perlahan kelopak matanya terbuka.

​Yan Chu menghela napas panjang, ia perlahan bangun dari posisi tidurnya yang kurang nyaman di atas kursi kayu. Ia meregangkan kedua tangannya ke atas, sebuah gerakan yang membuat lekuk tubuhnya yang indah terlihat jelas, sementara pakaian merahnya sedikit tertarik ke atas menyingkap bagian perutnya yang rata dan putih.

Tidak ia sangka, rasa lelah membuatnya tertidur begitu saja saat semalam sedang mengawasi kondisi Yun Zhu.

​Namun, saat pandangannya menyapu sekeliling, sosok pemuda yang dicarinya tidak ada di sana. Kursi yang semalam ditempati Yun Zhu kini telah kosong.

​"Kemana perginya dia," ucapnya pelan dengan nada yang sedikit khawatir.

​Langkah kaki Yan Chu yang ringan membawanya menyusuri lorong kediaman hingga hidungnya menangkap aroma sedap yang menggugah selera.

Ia mengikuti asal aroma tersebut menuju dapur, dan di sana ia menemukan pemandangan yang tak terduga. Yun Zhu sedang berdiri membelakanginya, sibuk di depan tungku yang menyala.

​Tungku api menyala dengan stabil, bahan-bahan segar dimasukkan ke dalam kuali dengan cekatan, menciptakan suara desisan yang diikuti dengan sebaran aroma rempah yang semakin kuat ke seluruh ruangan.

​"Kau... bisa memasak?" tanyanya tanpa sadar, matanya mengerjap tidak percaya melihat seorang kultivator hebat seperti Yun Zhu sedang memegang sodet kayu.

​Yan Chu kemudian berjalan mendekat dan memilih untuk duduk di salah satu kursi kayu di area dapur. Sebelum benar-benar mendaratkan tubuhnya, ia menggunakan tangan halusnya untuk merapikan sedikit bagian bawah pakaiannya yang agak kusut agar tetap terlihat sopan.

​"Hanya sedikit bisa," jawab Yun Zhu tanpa menoleh, fokusnya masih tertuju pada masakan di depannya.

​Beberapa saat setelahnya, kepulan uap panas menandakan masakan itu telah matang sempurna. Yun Zhu menyajikannya di atas piring porselen yang indah dan meletakkannya di hadapan Yan Chu dengan gerakan yang lembut.

​Yan Chu memperhatikan potongan daging yang diselimuti bumbu kental itu. Ia perlahan mencubit sedikit daging menggunakan ujung jemarinya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya yang mungil.

Begitu rasa gurih dan pedas yang seimbang mulai menyebar di lidahnya, mata emasnya melebar seketika.

​"Ini... enak sekali!" serunya dengan nada antusias yang spontan.

​Namun, sedetik kemudian ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya merona merah karena merasa malu telah menunjukkan reaksi yang terlalu berlebihan. Ia sedikit salah tingkah, mencoba mengatur kembali raut wajahnya yang tadinya dingin.

​Yun Zhu yang melihat tingkah laku sang putri hanya bisa tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar tulus dan menenangkan.

​"Makasih pilnya. Itu sangat membantu," ucapnya sambil menatap Yan Chu dengan hangat.

​Yan Chu mengangguk pelan, ia merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia kembali menunduk, memandangi piring makanan di depannya dengan perasaan yang mulai berubah.

​'Dia baik, sangat lembut dan perhatian. Bukan orang yang tidak tau terima kasih,' pikirnya dalam hati.

​Kecurigaan yang semalam sempat menghantuinya kini perlahan mulai terkikis, digantikan oleh rasa kagum yang samar terhadap pemuda asing yang kini menjadi pasangannya tersebut.

Setelah menyelesaikan urusan di dapur, Yun Zhu melangkah kembali ke ruang tengah yang luas. Ia memilih untuk duduk bersila di atas kursi kayu panjang yang kokoh.

Kedua tangannya bergerak lincah membentuk segel kultivasi yang rumit, lalu perlahan ia memejamkan mata. Seketika, energi spiritual di sekitarnya mulai bergejolak pelan, tertarik masuk ke dalam pori-pori kulitnya.

​Tempat yang dipilih oleh Yan Qingchen memang sangat istimewa, kaya akan energi alam yang murni dan jauh dari kebisingan kota.

Dengan kondisi seperti ini, Yun Zhu yakin ia akan bisa meningkatkan alam kultivasinya tanpa harus membuang banyak waktu yang sia-sia.

​'Sayang sekali belum bisa mencoba Teknik Pelahap Jiwa. Harus cari kesempatan bagus untuk mencobanya nanti.'

​Beberapa saat kemudian, Yan Chu muncul di ambang pintu ruang tengah setelah menyelesaikan makannya. Langkah kakinya yang anggun terhenti sejenak saat melihat Yun Zhu yang sedang bermeditasi.

Pandangannya yang semula tertuju pada wajah tenang pemuda itu perlahan beralih ke arah lantai pualam yang dingin.

​Matanya yang emas berkedip beberapa kali, mencoba memastikan sesuatu yang bergerak di sudut matanya.

​Ia melihat seekor laba-laba kecil berbulu hitam yang sedang merayap pelan di lantai. Sekali lagi ia mengerjapkan mata, berharap itu hanyalah halusinasinya belaka.

Namun, saat makhluk kecil itu bergerak lebih cepat ke arahnya, pertahanannya runtuh seketika.

​"Kyaa!" teriaknya dengan suara melengking yang memecah kesunyian.

​Tanpa berpikir panjang, Yan Chu berlari kencang ke arah Yun Zhu. Dalam kepanikan yang luar biasa, ia langsung melompat dan duduk di pangkuan pemuda itu.

Karena gerakannya yang tiba-tiba, kedua puncak kembarnya yang kenyal menghantam dada bidang Yun Zhu dengan keras, menciptakan kontak fisik yang mengejutkan.

​Yun Zhu tersentak hebat, matanya terbuka lebar karena aliran energinya terganggu secara mendadak. Ia merasakan lengan halus Yan Chu melingkar erat di lehernya, sementara wajah cantik sang putri dibenamkan dalam-dalam ke dadanya, mencari perlindungan. Aroma harum dari rambut Yan Chu seketika memenuhi indra penciumannya.

​"Ada apa?" tanya Yun Zhu dengan nada bingung, tangannya tertahan di udara, tidak tahu harus melakukan apa.

​"La... laba-laba."

​Suara Yan Chu terdengar meredam dan bergetar di balik dada Yun Zhu.

​Yun Zhu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit konyol dengan situasi ini. Ia menunduk dan menemukan seekor laba-laba kecil yang sebenarnya sama sekali tidak berbahaya sedang terdiam di lantai.

Dengan satu jentikan jari yang santai, Yun Zhu melepaskan percikan kekuatan spiritual yang mendorong laba-laba itu meluncur jauh ke luar jendela.

​"Laba-labanya sudah pergi."

​Yan Chu perlahan menjauhkan wajahnya dari dada Yun Zhu, meskipun lengannya masih enggan melepaskan leher pemuda itu.

Ia menoleh ke arah lantai dengan waspada, memastikan berkali-kali bahwa makhluk berkaki delapan itu benar-benar sudah menghilang dari pandangannya.

​Begitu menyadari posisinya yang sangat intim—duduk di pangkuan seorang pria sambil memeluknya erat—darah seketika naik ke wajah Yan Chu.

Ia perlahan turun dari pangkuan Yun Zhu dengan gerakan yang kikuk, melepaskan rangkulannya dengan terburu-buru. Wajahnya yang seputih susu kini berubah menjadi merah padam hingga ke telinga.

​"Ma-maaf... aku tidak sengaja."

​Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa sangat malu dan salah tingkah. Gaun merahnya sedikit berantakan akibat gerakan panik tadi, menampakkan bahunya yang masih sedikit gemetar karena sisa rasa takut dan malu yang bercampur aduk.

​Yun Zhu hanya menatapnya dengan tatapan heran sekaligus geli.

​'Tuan putri yang terkenal dingin ternyata juga memiliki sisi seperti ini,' pikirnya dalam hati.

​Ia tidak menyangka bahwa sosok yang ditakuti dan dipuja oleh banyak pria di Kota Peiling bisa menjadi begitu rapuh dan menggemaskan hanya karena seekor serangga kecil.​

...---...

...[ Ilustrasi: Yan Chu ]...

1
Chen Xi
nextt~/Determined//Determined/
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Cantik, pingin lihat versi mominya/Doge/
Cecilia: eithhh
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, saking cantiknya sampai deskripsinya sepanjang ini😌
Cecilia: beda bangun kalau deskripsiin cwo🗿
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang dengan cara paling kejam termasuk wangchen
Cecilia: sip, sedang ditulis🔥🔥
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor istri mcnya berapa
Cecilia: dua yg paling disayangi, satu tianqiong, satunya udh muncul cuma blum interaksi. sisanya cuma tambahan aja
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
habis klan wang bantai juga klan Qin thor ambil sumber daya mereka
Huo Ling'er
upp
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
kayak milih suami aja🤣
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Saatnya memerah sapi, eh, keuntungan maksudnya /Pray//Doge/
Cecilia: yep, tpi lama sih
total 5 replies
Nadia Annazwa
/Determined//Determined//Determined/
Nadia Annazwa
alamakkk bahaya nihh
Chen Xi
nextt~
Fajar Fathur rizky
thor cepat naikin ranah kultivasi mcnya habis itu bantai klan wang
Cecilia: udh kutulis kok, tinggal up aja, nunggu waktunya
total 1 replies
Chen Xi
nexttt/Determined//Determined/
Nadia Annazwa
yoshaa🔥
Huo Ling'er
yeyy cwk baruuu
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Infokan cara bungkus istri kayak gini 🙃
Cecilia: aku jga mw
total 1 replies
[?.?.?]
yandere kah?🗿
Chen Xi
next bantai²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!