Mengisahkan hyunjin yang terobsesi pada wanita bernama eunbi, wanita yang mungkin tidak akan mencintainya karena kesalahan yang ia perbuat, ia menahan eunbi di bawah kuasanya hingga membuat gadis itu menjadi pemberontak seiring berjalan nya waktu.
Kisahnya semakin rumit saat eunbi dengan sengaja menyeret Seo-joon seorang pegulat handal namun miskin ke dalam kisah cinta mereka, mampukah eunbi terlepas dari jeratan hyunjin? dan apakah Seo-joon bisa menyelamatkan-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2 : Si pegulat handal
Kehilangan keluarga dan hidup bersama dengan orang yang di bencinya membuat eunbi putus asa dan berkali kali mencoba melakukan percobaan bunuh diri, namun berkali kali juga hyunjin berhasil menggagalkan nya.
Seperti hari ini wanita itu mencoba melompat dari lantai 2 rumah hyunjin, beruntung hyunjin bisa menggagalkan nya lagi.
"Kau gila?!" Bentak hyunjin.
"Kau yang gila bajingan!" Maki eunbi.
"Dengar! aku tidak ingin terus terusan menyakitimu eunbi, menurutlah padaku!" Bentak hyunjin.
"Menurutimu? aku lebih baik mati sialan!"
Hyunjin mendengar ini hampir setiap hari, mendengar bagaimana mulut manis itu memakinya setiap saat, ia bukanlah tipe orang yang memiliki kesabaran yang lebih eunbi akan berakhir melalui malam dengan seks yang kasar jika hyunjin kehabisan kesabaran nya.
"Kenapa kau tidak membiarkanku mati? bukankah aku anak penghianat? kau membunuh adik ku yang masih kecil? bukankah dia sama denganku?! hah?!" Eunbi mendorong hyunjin kasar.
"Aku tidak punya pilihan lain, aku mencintaimu berapa kali aku katakan? mengertilah" Pintanya.
"Sampai aku mati pun aku tidak ingin mengerti tentang hal ini, kau bajingan hwang hyunjin, ayahmu juga sama! aku berharap kau segera pergi ke neraka! matilah! matilah!" Eunbi memukul dada bidang hyunjin berkali kali, pukulan yang menurutnya sudah sangat kuat bagi dirinya yang lemah.
"Berhentilah eunbi!"
"Mati! mati! mati!"
Hyunjin memeluk eunbi secara paksa, eunbi justru menggigit lehernya kuat.
"Aargh!" Teriak hyunjin, ia reflek mendorong eunbi ke kasur karena sakit di leher nya.
Hyunjin mengusap lehernya dan menemukan noda merah, eunbi mengigitnya hingga berdarah.
"Lihatlah" Hyunjin menunjukkan darahnya pada eunbi yang berada di kasur.
"Berhentilah sayang" Pintanya pelan.
Eunbi mengatur napasnya yang ter engah engah, hampir setiap hari ia selalu melakukan pertengkaran seperti ini dengan hyunjin.
Hyunjin membuka jas hitamnya, mendekati eunbi dan mendorong gadis itu terlentang di kasur, ia menurunkan gaun yang di kenakan sang pujaan hati dalam sekali tarikan, eunbi sama sekali tak memakai pakaian dalam, ia telanjang bulat hanya dengan satu kali gerakan hyunjin melucutinya.
"Aku sama sekali tak ingin membunuh semua orang, tapi aku tidak bisa melakukannya" Hyunjin mengusap pipi eunbi yang terlihat lebih tirus daripada dulu saat mereka masih baik baik saja.
"Aku ingin kau menatapku, memanggilku seperti dulu, aku adalah hyunjin yang sama" Katanya.
Hyunjin mendekatkan wajahnya, melumat bibir eunbi, menikmati setiap sentuhan nya, tangannya semakin mendorong kepala eunbi untuk memperdalam ciuman.
Eunbi menutup matanya, ia tak sedang menikmati ciuman yang dilakukan hyunjin, ia benci melihat wajah pria ini.
"Hampir 2 bulan ini aku selalu memaksamu, melakukan hubungan tanpa persetujuan, setidaknya sekali eunbi-ah, sekali saja berikan aku yang terbaik, aku tidak ingin memaksamu, aku ingin bercinta denganmu, setidaknya sekali saja" Pintanya.
"Setelah kau membunuh keluargaku?"
"Ya, maafkan aku"
Eunbi bergerak, gadis itu bangkit dari bawah hyunjin, ia berdiri di samping ranjang masih dalam keadaan telanjang.
Hyunjin kembali menariknya, menarik perut eunbi mendekat dan mulai melumat buah dada pujaan hati bergantian.
Eunbi memejamkan matanya erat, tangannya menyugar surai hitam hyunjin.
Hyunjin terus menikmatinya, menyusu seperti bayi yang lapar, eunbi tak terlihat memberontak seperti biasa, gadis itu terlihat biasa saja.
Eunbi mendorong kepala hyunjin menjauhi dadanya, ruangan yang memiliki cahaya terbatas itu tak bisa menyembunyikan tatapan keduanya, hyunjin menatap eunbi penuh cinta sementara eunbi menatap hyunjin dengan pandangan yang kosong.
"Aku mencintaimu sayang" Ungkap hyunjin sekali lagi.
...****************...
"Seo-joon!"
"Seo-joon!"
"Seo-joon!"
Teriakan para penonton tinju menyuarakan nama yang sama, seorang pria dengan tubuh tinggi atlestisnya berada di sudut merah dan bersiap untuk melawan seseorang yang berada di sudut biru.
"Kang seo-joon bersemangatlah!" Wanita dengan pakaian kaos lusuh berteriak semangat padanya.
Ting ting...
Pertandingan di mulai, masing masing petarung mulai menunjukkan skill dan pertahanan masing masing di iringi sorakan dari ratusan penonton yang hadir.
"Jaeyi! bagaimana kesanmu?" Tanya mirae seorang gadis cantik berusia 24 tahun pada teman nya, Han jaeyi gadis kaya yang tak kalah cantik berusia sama dengan mirae.
"Tidak ada yang menarik kecuali pria bernama seo-joon itu" Jaeyi menjawab dengan candaan.
"Benar kan! aku juga sangat menyukainya, dia selalu menang setiap minggu" Mirae berseru heboh.
Jaeyi tampak menyembunyikan semu merah pada pipinya saat memuji pria tampan itu.
"Berapa usianya?" Bisik jaeyi.
"28 tahun dan belum menikah, aku yakin dia tak punya pacar" Kata mirae.
"Kenapa begitu yakin?"
"Entahlah, aku tidak pernah melihatnya bersama seorang gadis pun di sini" Kata mirae.
Jaeyi menyembunyikan senyumnya, ungkapan mirae tentang seo-joon membuat hatinya lega.
"Apa pekerjaannya?"
"Aku tidak tau, dia tidak seterbuka itu"
Jaeyi tampak mencebik tak puas mendengar jawaban mirae.
"Kenapa tidak kau suruh saja ayahmu membelinya, jadikan dia bodyguard mu" Bisik mirae.
"Mana mungkin" Jaeyi terkekeh konyol dengan ide mirae.
Ting ting ting....
"Pemenang malam ini, kang seo-joon!"
Sorak sorai penonton semakin membuat malam ini meriah, lagi dan lagi nama yang sama bergema di setiap sudut ruangan besar ini.
Pukul 01.00, Seoul, south Korea.
"Kau bisa kaya jika setiap minggu berturut-turut menang" Puji yuna, gadis belia berusia 18 tahun.
"Aku memang di takdirkan kaya, kan?" Seo-joon terkekeh sombong membalas ucapan yuna.
Dua orang manusia yang terpaut jarak usia cukup jauh namun memiliki nasib yang sama, baik yuna dan seo-joon adalah seorang yatim piatu sejak kecil, mereka berasal dari panti yatim piatu yang sama, namun keduanya berpisah sejak seo-joon menemukan nenek kandungnya dan tinggal bersama dengan wanita tua itu.
"Hei kak? kenapa tidak mencari pekerjaan tetap yang lain, kau sangat kuat" Kata yuna.
"Begitu?"
"Ya, melakukan tinju terlihat sangat melelahkan walau hanya satu minggu sekali, lagipula kau bisa memanfaatkan ketampanan dan kemampuan bela dirimu yang baik" Kata yuna.
"Aku akan memikirkan nya nanti"
"Seo-joon! seo-joon!" Teriak seorang pemuda yang berlari ke arah seo-joon dan yuna.
"Ah sialan! ada apa?!" Tanya seo-joon kesal, kimtan teman sekaligus tetangganya itu memang sangat suka bersikap panik.
"Orang itu datang lagi, dia memukul nenek!" Adunya.
Baik seo-joon maupun yuna terkejut.
"Sial!" umpat seo-joon, pria berusia 28 tahun itu berlari pulang ke rumahnya.
10 menit kemudian...
"Nenek!" Seo-joon berlari menghampiri neneknya yang berdiri didepan rumah.
"Kau sudah pulang?" Tanyanya dengan suara parau.
"Apa yang mereka lakukan? apa mereka menyakitimu?!" Tanyanya.
"Mereka bilang kita harus cepat membayar uang nya, atau mereka akan mengambil rumah ini" Ungkap sang nenek.
Seo-joon berdecak kesal, selama kurang lebih satu bulan ini seseorang yang mengaku sebagai pemilik lahan rumah mereka datang dan meminta uang.
Seo-joon tidak bisa menyangkal bahwa rumah yang ditempatinya tidak didapatkan secara resmi mereka sangat miskin untuk membeli sebuah lahan dan rumah.
"Seo-joon jangan pikirkan, jika mereka menyuruh kita pergi kita akan pergi, ayo masuklah di luar dingin" Ajak sang nenek, wanita itu berjalan tertatih masuk ke dalam rumah sederhananya.
"Darimana aku harus mendapat banyak uang?" gumam seo-joon.