NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Tak Pernah Dipilih”

Zain yang melihat itu hanya tersenyum tipis, puas.

Arkan masih menatap Zain dengan penuh curiga, sementara Nayla pura-pura fokus pada makanannya.

Zain sendiri terlihat santai, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Udah kenyang?" tanya Zain akhirnya, memecah suasana.

"Aku udah!" jawab Arkan cepat.

Nayla mengangguk pelan. "Iya, sudah."

Zain berdiri lebih dulu.

"Yaudah, ayo. Kita jalan."

Arkan langsung turun dari kursinya dan meraih tangan Nayla lebih dulu, seakan tidak mau kalah.

Zain hanya melirik sekilas, lalu menyeringai tipis.

Protektif banget… batinnya.

Mereka berjalan keluar restoran.

Cahaya matahari mulai sedikit meredup, tanda hari beranjak sore.

Udara terasa lebih sejuk dibanding saat mereka datang.

Zain membuka pintu mobil, lalu melirik ke arah Arkan.

"Yang kecil di belakang ya," ucapnya santai.

Arkan langsung menatap tajam. "Aku nggak kecil!"

Zain mengangguk pelan, seolah setuju.

"Oh iya? Berarti berani dong duduk sendiri di belakang?"

Arkan terdiam sejenak.

Zain menyandarkan tangannya di pintu mobil, senyum tipis mulai terlihat.

"Soalnya yang takut biasanya minta ditemenin."

"Aku nggak takut!" bantah Arkan cepat.

Zain mengangkat bahu ringan.

"Yaudah. Duduk belakang."

Arkan mengerut, masih ragu, tapi gengsinya lebih besar.

"Aku berani!"

Zain menyeringai tipis, lalu melirik ke arah Nayla.

"Kamu di depan saja aja, Nay."

Nayla masih sedikit ragu, tapi akhirnya mengangguk pelan.

Arkan masuk ke kursi belakang dengan wajah sedikit cemberut.

Zain menutup pintu mobil, senyumnya belum hilang.

Kena juga, batinnya puas.

Zain hanya menyeringai tipis.

Sementara itu, Arkan duduk di belakang, menatap ke depan dengan mata menyipit.

Mobil kembali melaju.

Beberapa detik hening.

Zain menyalakan mesin, lalu melirik sekilas ke arah Nayla.

"Nay."

"Iya?"

"Jadi… sore atau malam?"

Nayla terdiam sejenak.

Arkan langsung menyela dari belakang.

“Aku ikut!”

Zain tersenyum tipis, tanpa menoleh.

“Belum tentu.”

Arkan menatap Zain penuh permusuhan.

“Kakak…” panggilnya sendu.

Nayla menoleh pada Zain dengan tatapan serius.

“Kak Zain…” peringatnya pelan.

“Bercanda, Nay,” balas Zain sambil tertawa kecil.

Di belakang, Arkan bersedekap dengan bibir yang memonyong.

Ia jelas kesal.

Nayla menoleh, menangkap ekspresi itu. Hatinya terasa tidak nyaman. Ada dorongan untuk memeluk dan menghiburnya.

“Arkan, Kakak pindah ke belakang saja ya… temenin kamu.”

Zain seketika menoleh. Ada sedikit kepanikan di matanya.

Sementara itu, Arkan berpikir keras.

Di satu sisi, ia ingin Nayla di sampingnya.

Tapi di sisi lain, harga dirinya terlalu tinggi—ia tak mau kalah dari Zain.

Saat Arkan masih tenggelam dalam pikirannya, Zain tersenyum licik.

“Arkan mau ditemenin sama Kak Nayla?” tanyanya santai.

Arkan mengerutkan kening, mendengkus kesal.

“Nggak apa-apa, Nay. Temenin Arkan saja. Dia kan masih kecil,” ucap Zain, sekilas melirik lewat kaca spion tengah.

“Aku bukan anak kecil!” teriak Arkan tegas.

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada melemah—

“Kakak… di depan saja.”

Zain sempat tersenyum penuh kemenangan. Namun, itu tidak berlangsung lama.

Beberapa menit kemudian, Arkan mulai terlihat mengantuk. Nayla yang menyadarinya pun akhirnya berpindah ke kursi belakang, memberi sandaran untuknya.

Zain sedikit kecewa, tapi ia juga tidak tega melihat Arkan.

Tanpa ragu, Arkan langsung naik ke pangkuan Nayla, mencari posisi ternyaman.

Cara Nayla memperlakukannya—begitu

lembut dan penuh perhatian—membuat hati Zain terasa hangat.

Sekilas, terlintas dalam benaknya… Nayla kelak pasti akan menjadi ibu yang penuh kasih.

Zain tersipu sendiri. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar.

“Nay…” panggilnya lembut.

“Iya, Kak Zain… kenapa?”

Zain terdiam sejenak, lalu bertanya—

“Antara aku dan Arkan… siapa yang paling penting?”

“Arkan, lah…” jawab Nayla spontan.

Senyum di wajah Zain memudar.

Sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

Namun, mendengarnya langsung—tanpa ragu, tanpa berpikir—tetap saja terasa menyesakkan.

Seolah dirinya… memang tidak pernah benar-benar dipertimbangkan.

“Nayla…”

Zain kembali bersuara, kali ini lebih pelan.

“Kalau kamu disuruh milih antara aku dan Arkan… kamu pilih siapa?” tanyanya, dengan harapan kecil yang ia sembunyikan.

“Arkan. Bukannya sama saja ya, pertanyaannya?” Nayla mengerutkan kening, bingung.

Zain menggeleng pelan.

“Jelas beda, Nay…”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah—

“Yang tadi… itu tentang siapa yang paling berarti di hati kamu.”

“Tapi yang ini…”

Zain menggenggam setir sedikit lebih erat.

“Ini tentang… kalau kamu harus memilih.”

Hening sejenak memenuhi mobil.

“Kak Zain… dalam kondisi apa pun, anak-anak memang harus diprioritaskan. Apalagi aku dan Arkan sudah punya kedekatan emosional.”

Nayla menarik napas pelan.

“Aku nggak bisa mengabaikan seseorang yang benar-benar butuh aku.”

“Aku juga butuh kamu, Nay…”

Suara Zain terdengar lebih rendah dari sebelumnya.

“Tapi Arkan jauh lebih butuh aku.”

“Aku juga butuh kamu. Banget.” Zain tetap tak mau kalah.

Nayla mengernyitkan dahi. Pernyataan Zain terasa tidak masuk dalam logikanya.

“Kak Zain itu sudah besar, sudah dewasa. Aku nggak bisa ngasih apa-apa buat Kak Zain.”

Nayla menunduk, menatap Arkan yang tertidur di pangkuannya.

“Tapi Arkan masih butuh aku. Dia butuh kasih sayang… butuh perhatian. Setidaknya sampai dia sedikit lebih dewasa.”

“Aku nggak minta kamu ngasih apa-apa, Nay…

aku cuma pengen… dipilih.”

“Tuh, kan… jadi sudah jelas kan? Arkan lebih butuh aku.”

Hati Zain mencelos.

Rasa kecewa itu menekan dadanya, tapi ia tidak bisa menyalahkan Nayla. Sejak awal… ia sendiri yang memilih untuk menyukainya.

Ia menyukai kejujurannya. Pendirian Nayla yang kuat.

Dan sekarang… justru itu yang menyakitinya.

“Kenapa dia nempel banget sama kamu sih? Kan pengasuh yang lain juga banyak, Nay…”

“Kalau soal itu, aku juga nggak tahu. Yang aku tahu… Arkan butuh aku.”

Zain terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.

“Kalau aku kasih kamu uang… lima kali lipat dari yang dikasih neneknya Arkan… gimana?”

Zain terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah—

“Bahkan… aku bisa kasih lebih dari itu.”

“Hah? Kak Zain… ini apa sih?”

Nayla langsung menatapnya, keningnya berkerut tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!