"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Cincin Aurel
Cya yang merasa lapar berjalan ke dapur untuk mencari makanan. Namun, dapur itu kosong—tak ada satu pun makanan yang bisa ia temukan. Akhirnya, ia memutuskan keluar untuk membeli makanan. Lagi pula, ia memang sedang malas memasak.
Untungnya, Cya sudah hafal letak warung makan terdekat dari rumahnya, jadi ia tidak perlu membangunkan Rajendra.
Sesampainya di warung nasi Padang, ia bertemu dengan Bela.
"Bela? Kamu juga mau beli makanan?" tanya Cya.
"Iya, lapar banget. Tapi malas masak," jawab Bela.
Cya tersenyum kecil. "Sama."
"Memangnya suami kamu gak masak?" tanya Bela lagi.
"Enggak," jawab Cya singkat.
"Pasti dia lagi sibuk kerja ya," tebak Bela.
Cya hanya membalas dengan senyum tipis.
"Ini, Mbak, pesanannya," ucap penjual warung sambil menyerahkan bungkus makanan kepada Cya.
"Ini uangnya." Cya memberikan selembar uang lima puluh ribu.
"Ini kembaliannya, Mbak."
"Ambil saja, Bu. Terima kasih ya."
"Terima kasih banyak, Mbak," balas si penjual.
Bela lalu menoleh ke Cya. "Cya, tungguin aku ya."
"Iya."
Beberapa menit kemudian, Bela kembali menghampiri Cya.
"Cya, aku makan di rumah kamu aja ya? Aku malas makan sendirian di rumah."
"Boleh banget," jawab Cya dengan wajah sedikit cerah. Setidaknya ia tidak perlu makan sendirian.
Mereka pun berjalan bersama sambil mengobrol ringan. Tak terasa, keduanya sudah sampai di depan rumah.
Di teras, terlihat Bu Riska sedang duduk santai sambil membaca majalah.
"Dari mana kamu, Cya?" tanya Bu Riska tanpa mengalihkan pandangan dari majalahnya.
"Dari warung," jawab Cya datar.
Bela menatap Bu Riska, lalu berbisik pelan pada Cya, "Itu mama kamu ya?"
Tanpa menunggu jawaban, Bela langsung mendekat dan mengulurkan tangan. "Salam kenal, Tante. Saya Bela, temannya Cya."
Bu Riska langsung tersenyum manis, lalu menyambut uluran tangan Bela. "Iya, salam kenal juga, Bela."
Cya memutar bola matanya.
"Tumben si nenek galak bisa sok manis." Cya, ingin mengatakannya di hati namun, tanpa sengaja, kalimat itu justru terucap pelan dari mulutnya.
Bu Riska langsung menatap tajam. "Apa maksud kamu?"
Cya cengengesan. "Maaf, nyonya… keceplosan."
Bela mengernyit bingung. Ia mulai merasa ada yang aneh.
"Tante ini… bukan mama kamu?" tanya Bela ragu.
Cya baru saja ingin menjawab, tapi—
"Jelas bukan," potong Bu Riska cepat. "Saya nggak sudi punya anak seperti dia. Anak saya itu cantik, pintar, dewasa, dan gak manja seperti Cya."
Cya langsung tersenyum sinis. "Saya juga gak mau jadi anak nyonya. Orang tua saya baik, nggak drama, dan nggak suka julid," balasnya santai.
Bela hanya bisa melongo, benar-benar tidak menyangka suasana bisa berubah setegang ini.
"Udah, Bel. Kita masuk aja," ajak Cya sambil menarik tangan sahabatnya. "Nanti nafsu makan kita hilang kalau lihat nenek galak itu."
"Saya dengar, ya!" bentak Bu Riska.
Namun Cya pura-pura tidak peduli. Ia tetap melangkah masuk sambil menarik Bela.
"Kamu jangan mau berteman sama dia, Bela! Dia itu anak nakal!" teriak Bu Riska dari belakang.
***
Sesampainya di dapur, Cya mengambil dua piring untuk dirinya dan Bela. Ia juga menuangkan air putih untuk mereka berdua.
"Ayo makan, Bel," ajaknya sambil duduk di samping Bela yang lebih dulu mengambil tempat di kursi meja makan.
"Iya. By the way, ibu yang di luar itu siapa? Kenapa kelihatannya kalian nggak akur?" tanya Bela penasaran.
"Oh, itu mertua suamiku."
"Loh, bukannya tadi kamu bilang dia bukan mama kamu?"
"Memang bukan."
Bela menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku jadi bingung."
Cya terkekeh. "Kamu gak perlu bingung. Aku kan sudah bilang kalau aku ini bukan istri pertama. Istri pertama suamiku sudah meninggal. Nah, ibu-ibu yang kamu lihat di luar itu adalah ibunya."
"Oh..." Bela mengangguk-angguk, mulai paham. "Terus kenapa dia tinggal di sini? Anaknya kan sudah gak sama Rajendra lagi."
Cya justru mengernyit, salah fokus. "Kamu tau nama suamiku?"
"Lah, waktu itu kamu pernah ngasih tau."
"Waktu itu kapan?" Cya benar-benar tidak ingat.
"Mungkin pas pertama kita kenal," jawab Bela ragu. "ku juga manggil dia Om."
"Waktu itu aku memang manggil dia ‘Om’, tapi aku nggak ingat pernah nyebut namanya."
"Ya mungkin kamu lupa aja. Kalau kamu nggak bilang, mana mungkin aku tahu?" Bela langsung mengalihkan pembicaraan. "Eh, makanannya enak banget, ya."
"Iya." Cya ikut makan, dan mereka tidak melanjutkan topik itu lagi.
"Ngomong-ngomong, suami kamu gak pernah pulang makan siang? Atau kamu nggak pernah bawain dia makanan ke kantor?"
"Nggak pernah. Aku juga nggak pernah masak selama tinggal di sini."
Bela menatap Cya dengan mata berbinar. "Wah, enak banget hidup kamu. Punya suami kaya, nggak perlu masak, malah dia yang masakin kamu. Jadi pengen punya suami kayak gitu."
"Bukannya kamu belum move on dari mantan kamu?"
"Iya sih. Sebenarnya mantan aku juga bisa segala hal. Dia bisa masak, nyuci, dia juga kaya... dan yang paling penting, dia juga bisa makan," ujar Bela sambil tertawa.
Cya ikut tertawa. "Ya iya lah, semua orang juga bisa makan."
"Cya..." Belum sempat mereka menghabiskan makanan, suara Rajendra terdengar dari lantai atas.
"Cya, kamu di mana?" teriaknya.
"Saya di dapur, Om!" jawab Cya.
Tak lama, suara Rajendra menghilang—tanda bahwa ia sudah mendengar jawaban Cya.
"Cya, aku pamit dulu ya," ucap Bela tiba-tiba.
"Kok buru-buru? Nasi kamu belum habis, loh."
"Nggak apa-apa, aku sudah kenyang. Aku baru ingat lagi bikin kue di oven. Takut gosong."
"Oh, ya sudah. Aku antar ke depan—"
"Enggak usah!" Bela langsung berdiri dan memberi isyarat. "Aku bisa sendiri."
Belum sempat Cya membalas, Bela sudah berlari keluar rumah.
Sementara itu, Rajendra yang hendak turun ke dapur menghentikan langkahnya saat melihat seorang perempuan berlari keluar dari rumahnya.
"Jangan-jangan maling," gumamnya.
"Cya! Ada maling!" teriaknya keras. Rajendra langsung berlari ke teras untuk mengejar.
Mendengar itu, Cya ikut berlari. Ia mendapati Rajendra sudah berdiri di teras, sementara Bu Riska masih duduk santai di sana.
"Mana malingnya?" tanya Bu Riska panik.
"Mama gak lihat perempuan yang barusan keluar?"
"Dari tadi Mama di sini, nggak ada maling."
"Barusan, Ma!"
Bu Riska berpikir sejenak. "Maksud kamu perempuan yang tadi lari keluar?"
"Iya! Itu malingnya!"
"Astaga, bukan maling. Itu Bela, temannya Cya. Iya kan, Cya?"
Cya yang berdiri di samping Rajendra langsung mengangguk. "Iya, itu Bela, temanku."
Rajendra menghela napas. "Aku kira maling. Soalnya dia langsung kabur begitu lihat aku. Aku bahkan belum sempat lihat wajahnya."
"Dia bukan kabur, Om," jelas Cya santai. "Dia buru-buru pulang karena lagi bikin kue di rumah. Takut gosong... nanti malah kebakaran."
"Makanya, lain kali kalau teman kamu datang ke rumah ini, kamu harus bilang sama suami kamu, supaya dia nggak berpikiran macam-macam," nasihat Bu Riska dengan suara yang dibuat lembut. "Kasihan, loh, anak sebaik Bela dibilang maling," sambungnya.
Sepertinya Bu Riska mulai memainkan peran dramanya lagi.
Cya hanya tersenyum tipis. "Iya, Tante. Makasih ya atas nasihatnya."
Mendengar Cya memanggil Bu Riska dengan sebutan tante untuk pertama kalinya, Rajendra langsung terkejut. Namun di balik keterkejutannya, ada rasa lega—setidaknya panggilan tante jauh lebih baik daripada nyonya.
Bukan hanya Rajendra yang terkejut, Bu Riska pun demikian. Ia bahkan tampak sedikit gugup, apalagi melihat respons Cya yang begitu santai. Biasanya, setiap kali ia menyindir, Cya pasti langsung sewot.
"Ya... sama-sama," jawab Bu Riska, terdengar agak gelagapan.
Rajendra tersenyum tipis. Tangannya terangkat, mengelus puncak kepala Cya dengan lembut. "Aku senang kamu manggil Mama dengan sebutan Tante."
"Mulai sekarang saya akan lebih menghormati Mama dan Papa mertua Om. Makanya saya juga akan mengubah panggilan saya ke mereka."
Senyuman Rajendra semakin lebar. Jarang sekali Bu Riska melihat Rajendra tersenyum seperti itu. Bahkan dulu saat bersama Aurel, laki-laki itu hanya tersenyum tipis.
"Terima kasih," ucap Rajendra tulus.
Ia benar-benar senang melihat perubahan sikap Cya terhadap mertuanya.
"Om, kenapa cepat banget bangunnya? Saya kira Om ngantuk banget," tanya Cya, sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia memilih tidak menanggapi ucapan terima kasih Rajendra yang menurutnya tidak perlu.
"Iya, aku memang mengantuk. Tapi kamu nggak ada di samping aku, makanya aku cari kamu. Takut kamu kabur lagi."
Cya mendengus pelan. "Ya ampun, selama Om menepati janji, saya gak akan ke mana-mana."
Bu Riska yang melihat itu semua hanya bisa mendelik kesal. Selama ia tinggal di rumah ini, baru kali ini ia melihat Rajendra dan Cya tampak seakrab itu.
Rajendra mengangguk. "Ayo ke kamar, aku mau tidur lagi."
"Tapi saya lagi makan, Om. Makanan saya belum habis."
"Ya sudah, aku temani kamu makan dulu."
Bu Riska semakin geram melihat pemandangan itu, tetapi ia tetap memaksakan senyum agar terlihat seolah-olah ikut senang melihat mereka akur.
"Yey, ayo Om," ujar Cya sambil bergelayut manja di lengan Rajendra.
Begitu keduanya masuk ke dalam rumah, Bu Riska tak lagi mampu menyembunyikan ekspresi kesalnya. Alisnya menekuk tajam, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat.
"Bisa-bisanya mereka bermesraan di depan aku," gerutunya pelan. Tatapannya berubah dingin dan penuh rencana. "Aku akan buat kalian bertengkar... sampai akhirnya berpisah. Tunggu saja nanti."
***
Setelah sampai di dapur, Rajendra duduk di hadapan Cya yang kembali melanjutkan makannya.
"Om juga mau?" tanya Cya saat menyadari sejak tadi Rajendra menatapnya.
"Memang boleh?" Sebenarnya Rajendra tidak lapar, tapi entah kenapa ia jadi ingin ikut makan.
"Boleh dong. Kata Mami sama Papi, kita nggak boleh pelit."
"Ya sudah, aku mau."
"Sini." Cya menepuk kursi di samping kirinya.
Tanpa perlu disuruh dua kali, Rajendra langsung pindah dan duduk di samping Cya.
"Aaa..." Cya memberi isyarat agar Rajendra membuka mulut.
Rajendra sempat tertegun. Ia kira Cya akan menyuruhnya mengambil sendok sendiri, ternyata gadis itu justru ingin menyuapinya.
"Ayo, buka mulutnya, Om."
Rajendra sedikit grogi, tapi tetap menuruti. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Cya.
"Enak nggak?"
Rajendra mengangguk pelan. Entah kenapa, makanan yang disuapkan Cya terasa jauh lebih enak dari biasanya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia makan nasi padang dari tempat itu.
Cya pun ikut menyuap dirinya sendiri. Ia mengunyah sambil menggeleng-gelengkan kepala kecil, menikmati rasa makanannya dengan ekspresi puas.
Rajendra tak bisa mengalihkan pandangannya. Tingkah Cya yang sederhana justru terlihat begitu menggemaskan di matanya.
Setelah selesai makan, Cya kembali memeluk Rajendra di kamar. Laki-laki itu langsung terlelap dalam pelukannya, seolah menemukan tempat ternyaman.
"Kayak anak kecil aja, tidur harus dipeluk," gumam Cya pelan sambil mencubit pipi Rajendra gemas.
Cya mengira Rajendra sudah benar-benar tertidur. Padahal, laki-laki itu masih bisa merasakan sentuhan dan mendengar ucapan Cya.
Tanpa disadari, senyum tipis terukir di wajah Rajendra. Pipi laki-laki itu sedikit memerah saat ia mengeratkan pelukannya.
Untuk pertama kalinya, Rajendra tidur dengan perasaan setenang dan sehangat ini. Entah ini hanya rasa nyaman... atau tanpa ia sadari, hatinya mulai jatuh pada Cya.
***
Hari ini Rajendra tidak masuk kantor, dan kebetulan Cya juga tidak ada jadwal kuliah.
Alhasil, keduanya berencana untuk jogging bersama.
Rajendra memperhatikan Cya yang sedang mengikat tali sepatunya. Gadis itu terlihat sedikit lambat. Rajendra sudah selesai mengikat kedua tali sepatunya, sementara Cya baru menyelesaikan satu.
"Sini, aku bantu." Tanpa menunggu persetujuan, Rajendra berjongkok di depan Cya dan mulai mengikat tali sepatu gadis itu.
"Eh, enggak usah, Om," ucap Cya sambil menyentuh pundaknya.
"Kamu kelamaan. Nanti keburu siang. Kalau kesiangan, kamu bisa kepanasan."
Interaksi mereka tak luput dari perhatian Bu Riska yang sedang menyiram bunga. Saking fokusnya memperhatikan, air yang ia siram malah jatuh ke luar pot.
“Semakin hari semakin akrab saja,” batinnya kesal. “Dan sialnya, si Cya sekarang sudah tidak mudah dipancing emosi di depan Rajendra.”
"Nah, sudah selesai." Rajendra berdiri, lalu menarik tangan Cya agar ikut berdiri.
"Makasih, Om."
"Ayo," ajaknya singkat, tanpa menanggapi ucapan terima kasih itu.
"Tunggu."
"Kenapa?"
"Aku mau telepon Bela dulu. Aku mau ngajak dia jogging bareng kita."
Rajendra menghela napas pelan. Sebenarnya ia ingin menikmati waktu berdua dengan Cya tanpa gangguan siapa pun. Namun demi Cya, ia tetap mengangguk.
Setelah mendapat izin, Cya segera menghubungi Bela.
"Halo, Bel. Kamu mau ikut jogging bareng aku sama suami aku di taman kompleks?"
Cya terdiam sejenak mendengarkan jawaban di seberang sana. Rajendra hanya menatapnya, menunggu.
"Katanya dia gak bisa. Dia sudah jogging dari tadi," ujar Cya setelah menutup telepon.
"Ya sudah, kita berdua saja."
Cya mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka pun berjalan berdampingan meninggalkan rumah.
Dari kejauhan, Bu Riska memandangi punggung keduanya dengan tatapan tidak suka.
“Cih, mereka berdua itu kelihatan akur banget,” gumamnya sinis. “Harus ada cara supaya mereka bertengkar lagi.
***
Baru berlari tiga putaran, Cya sudah ngos-ngosan, sementara Rajendra masih terlihat segar bugar.
Cya berhenti, menumpukan kedua tangannya di atas lutut sambil mengatur napas. Melihat itu, Rajendra pun ikut menghentikan langkahnya.
"Capek?" tanyanya.
Cya menegakkan tubuh, lalu mengangguk. "Om kok enggak kelihatan capek?"
"Aku sering olahraga. Kamu gampang capek karena jarang olahraga," jawab Rajendra santai. "Mau istirahat dulu atau lanjut?"
"Istirahat dong, Om. Nanti kaki saya copot kalau dipaksa lanjut."
Mereka pun berjalan ke sebuah bangku taman berwarna putih tak jauh dari sana dan duduk berdampingan.
"Mau makan sesuatu?" tanya Rajendra, melirik deretan pedagang kaki lima di sekitar taman.
"Hmm... mau deh."
"Mau apa?"
"Bakso bakar aja. Dua."
"Tunggu sebentar."
Rajendra langsung bangkit dan pergi membeli pesanan Cya.
Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan dua tusuk bakso bakar dan dua botol air mineral.
"Ini."
"Makasih, Om. Om enggak mau?" tanya Cya sambil menerima makanan itu.
"Aku enggak biasa makan makanan kayak gitu."
"Hm, orang kaya mah gitu," gumam Cya.
"Kamu juga orang kaya."
"Tapi Om lebih kaya sampai enggak mau makan jajanan pinggir jalan."
"Bukan enggak mau, cuma enggak terbiasa."
"Ya sudah, coba aja biar terbiasa."
Cya menyodorkan bakso ke depan mulut Rajendra. Dengan sedikit ragu, Rajendra akhirnya menggigitnya.
"Enak kan?" tanya Cya antusias.
Rajendra mengangguk pelan, mulutnya masih penuh.
"Tuh kan. Kadang makanan kaki lima itu lebih enak daripada restoran mahal."
"Iya, tapi kebersihannya belum tentu terjamin."
"Memangnya Om lihat langsung cara masaknya?"
"Enggak juga sih."
"Nah, sama aja dong."
Rajendra menggeleng kecil. "Tetap beda, Cya."
Setelah selesai makan, mereka kembali jogging. Namun kali ini langkah mereka jauh lebih pelan—hampir seperti berjalan kaki—atas permintaan Cya.
"Om, kenapa banyak banget cewek yang lihatin kita?" tanya Cya tiba-tiba.
Rajendra melirik sekilas ke sekitar, lalu menjawab santai, "Mungkin karena kamu cantik."
Padahal ia tau betul, tatapan itu tertuju padanya.
"Kak... kak, tunggu sebentar!"
Dua gadis berpakaian cukup terbuka menghampiri mereka.
Rajendra mengernyit. "Kenapa?"
"Kita boleh minta nomor kakak enggak?"
"Untuk apa?" tanya Cya, sementara Rajendra langsung menjawab, "Enggak."
Dua gadis itu saling pandang, sedikit canggung. "Kita mau kenal lebih dekat sama kakak kamu," ujar salah satu dari mereka, sengaja mengabaikan jawaban Rajendra dan berharap Cya membantu.
Cya langsung melongo. "Memangnya muka saya seimut itu sampai dikira adiknya dia?"
"Memang bukan?" sahut salah satu dari mereka polos.
Tanpa banyak bicara, Rajendra melingkarkan tangannya di pinggang Cya. "Dia istri saya."
Seketika wajah kedua gadis itu berubah. Mereka langsung meminta maaf dan buru-buru pergi.
"Dasar cewek zaman sekarang," gerutu Cya. "Ketemu cowok ganteng dikit langsung nyamperin."
Rajendra hanya diam, membiarkan Cya mengomel.
Namun tiba-tiba—"Awh!" ringis Cya saat kakinya tersandung dan ia terjatuh.
Rajendra langsung berjongkok di sampingnya. "Kamu enggak apa-apa?"
Cya menggeleng, tapi wajahnya meringis. "Kaki saya sakit..."
Rajendra hendak memeriksa kakinya, namun perhatiannya teralih pada sesuatu yang berkilau di dekat kaki Cya.
Sebuah cincin berlian.
Tangannya beralih, mengambil cincin itu perlahan.
"Cincin siapa, Om?" tanya Cya penasaran.
Namun Rajendra tidak langsung menjawab. Tatapannya terpaku pada cincin itu, wajahnya berubah serius—bahkan sedikit pucat.
"Aurel..." gumamnya pelan.
serena sahabat nya aja ga peduli sm cya jngn d jadikan shabat klonkyk gitu jempaskan saja seperti bella