NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbedaan dunia

“Dari mana kamu, Dek?”

Liora tersenyum, lalu menghampiri kakaknya. “Aku dari mall, Kak, sama Arga,” jawabnya sambil memperlihatkan belanjaannya.

“Ini semua Arga yang belikan kamu?”

Liora mengangguk santai. “Tentu saja, Kak.”

“Arga memang selevel dengan kamu, beda dengan Xavero yang cuma memberi kamu uang dua juta sebulan,” ucap Layla.

Liora terkekeh pelan, matanya menyapu satu per satu kantong belanjaan di tangannya.

“Jangan dibandingkan, Kak,” ucapnya ringan, tapi nada suaranya jelas merendahkan. “Memang dari awal juga sudah beda kelas.”

Layla menyandarkan tubuhnya di sofa, menyilangkan kaki dengan santai. “Bukan cuma beda kelas, Li. Itu… jauh banget bedanya.”

Liora tersenyum tipis, lalu meletakkan beberapa paper bag di atas meja. “Arga itu tahu bagaimana memperlakukan perempuan,” lanjutnya. “Dia gak pernah pelit, gak pernah hitung-hitungan.”

Layla mengangguk setuju. “Ya jelas. Dia besar di lingkungan yang benar. Bukan seperti orang yang harus kerja mati-matian cuma buat memberi uang bulanan seadanya.”

Liora menghela napas kecil, seolah mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan. “Dua juta,” gumamnya pelan, lalu tersenyum miring. “Bahkan buat skincare aku aja gak cukup.”

Layla tertawa kecil. “Dan dia pikir itu sudah cukup untuk jadi suami kamu?”

Liora mengangkat bahu santai. “Mungkin di dunianya, itu sudah lebih dari cukup.”

Hening sejenak.

Lalu Liora kembali berbicara, kali ini dengan nada lebih dingin. “Makanya aku tidak pernah benar-benar menganggap pernikahan itu serius.”

Layla menatapnya sekilas, lalu tersenyum puas. “Bagus. Setidaknya sekarang kamu sudah keluar dari kesalahan itu.”

Liora mengangguk pelan. “Dan sekarang, aku ada di tempat yang seharusnya.”

Ia menatap salah satu tas mewah di depannya, jemarinya menyentuh permukaan kulit halus itu.

“Dengan orang yang sepadan.”

Layla bersandar lebih santai, menatap adiknya dengan bangga. “Memang dari awal kamu pantasnya di atas, Li. Bukan ditarik turun oleh orang yang gak tahu diri.”

Liora tersenyum kecil.

Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.

Hanya kepuasan, seolah semua yang terjadi memang sudah semestinya.

“Oh ya, nama kamu sama Arga lagi jadi sorotan publik, loh,” ucap Layla sambil menyerahkan ponselnya pada Liora. Di layar terlihat berita tentang kedekatan putri keluarga Mahendra dengan pewaris Wijaya Group yang terpampang jelas.

“Banyak netizen yang mendukung kalian.”

Liora tersenyum puas saat melihat berita tersebut.

Liora tersenyum semakin lebar, matanya berbinar puas menatap layar ponsel itu.

“Seharusnya memang begitu,” ucapnya santai. “Mereka cuma melihat apa yang ingin mereka lihat.”

Layla menyeringai kecil, ikut menikmati momen itu. “Publik suka cerita sempurna. Pewaris Wijaya Group dan putri Mahendra… pasangan ideal.”

Liora menggeser layar, membaca beberapa komentar dengan santai.

Sebagian besar memuji. Mendukung. Bahkan menganggap mereka pasangan impian.

“Lihat ini,” gumamnya pelan. “Mereka bilang kita cocok.”

Layla mendekat sedikit, ikut membaca. “Bukan cuma cocok, Li… mereka bahkan sudah menganggap kalian pasangan resmi.”

Liora terkekeh ringan.

Tidak ada penolakan di wajahnya, justru sebaliknya.

“Bagus,” ucapnya singkat. “Semakin cepat mereka terbiasa dengan itu, semakin baik.”

Layla mengangkat alisnya, tertarik. “Kamu serius dengan Arga?”

Liora tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponsel itu di meja, lalu duduk dengan anggun.

“Serius atau tidak… itu tidak penting,” jawabnya tenang. “Yang penting, dia memberi apa yang aku butuhkan.”

Hening sesaat.

Layla tersenyum tipis. “Status, kekuasaan, uang…”

Liora menatap kakaknya, lalu mengangguk pelan.

“Dan posisi.”

Kalimat itu jatuh dengan dingin.

Layla tertawa kecil. “Kamu memang gak pernah berubah.”

Liora tersenyum samar.

“Tentu saja tidak.”

Tiba-tiba—

Ponselnya kembali bergetar di atas meja.

Nama Arga muncul di layar.

Senyum Liora langsung berubah… lebih lembut, lebih manis—berbeda dari sebelumnya.

Ia segera mengangkat panggilan itu.

“Halo…” suaranya berubah halus.

“…iya, aku sudah sampai rumah.”

Layla hanya bisa tersenyum miring melihat perubahan itu.

“Masih mau ketemu?” lanjut Liora, nada suaranya terdengar manja.

“…sekarang?”

Beberapa detik hening.

Lalu—

“Baiklah. Aku siap-siap lagi.”

Panggilan terputus.

Liora berdiri, merapikan rambutnya dengan santai.

“Mau ke mana lagi?” tanya Layla, meski sudah bisa menebak.

Liora mengambil salah satu tas barunya.

“Dinner,” jawabnya singkat. “Arga gak suka nunggu.”

Layla mengangguk, tersenyum puas.

“Jangan buat dia kecewa, Li. Orang seperti dia… gak datang dua kali.”

Liora berhenti sejenak di depan cermin.

Menatap refleksi dirinya.

Sempurna. Elegan. Dan berada di posisi yang ia inginkan.

“Tenang saja,” ucapnya pelan.

“Aku tahu cara mempertahankan sesuatu yang berharga.”

Dan tanpa ragu, ia melangkah keluar, meninggalkan ruangan itu dengan percaya diri.

°°

“Lo pulang jam berapa semalam?” tanya Radit saat melihat Xavero baru keluar dari kamar.

“Jam tiga,” jawab Xavero, lalu duduk di sampingnya.

“Lama banget lo. Terus, dapat kerjaan?”

Xavero menggeleng pelan. “Nggak, Dit.”

Radit menepuk bahu Xavero. “Nggak apa-apa. Siapa tahu hari ini lo dapat.”

Xavero mengangguk. Namun, pikirannya teringat kembali pada kejadian semalam saat ia menolong Naura. Ia menatap Radit, seolah ragu apakah harus menceritakannya atau tidak.

“Lo kenapa natap gue gitu? Gue ganteng, ya? Iya, gue tahu,” ucap Radit dengan nada percaya diri.

Xavero menatapnya malas, lalu mengalihkan pandangannya.

“Semalam gue sempat menolong seseorang,” ucap Xavero dengan nada serius.

Radit yang tadi santai langsung menoleh cepat.

“Nolongin seseorang?” ulangnya, alisnya terangkat.

Xavero menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.

“Kecelakaan,” jawabnya singkat. “Mobilnya nabrak pohon… parah.”

Ekspresi Radit berubah serius.

“Terus?”

“Mobilnya hampir meledak,” lanjut Xavero datar, seolah itu bukan hal besar. “Gue tarik orang di dalamnya keluar… beberapa detik kemudian mobilnya meledak.”

Radit langsung membeku beberapa detik.

“Lo serius?” suaranya merendah, kali ini tanpa bercanda.

Xavero hanya mengangguk pelan.

Kemudian, Xavero menceritakan secara detail kecelakaan semalam, hingga bagaimana ia bertemu dengan kakak dari wanita yang ia tolong.

“Gila…” gumam Radit. “Lo bisa aja mati kalau telat sedikit.”

Xavero tidak menjawab.

Hening sejenak.

Radit menatapnya lebih dalam. Kali ini berbeda, bukan lagi tatapan santai seorang sahabat, melainkan seseorang yang mulai menyadari sesuatu yang besar.

“Lo kenal orangnya?”

Xavero menggeleng. “Nama korban itu Naura… dan kakaknya Nathan.”

“Naura… Nathan…” gumam Radit pelan, seolah nama itu tidak asing di telinganya.

“Dia juga memberi kartu ini ke gue,” lanjut Xavero. Ia merogoh sakunya, lalu menyerahkan kartu tersebut kepada Radit.

Mata Radit langsung melebar saat melihat kartu itu.

“Serius dia kasih lo kartu ini?”

Xavero mengangguk. “Iya. Emang kenapa?” tanyanya bingung.

“Lo belum baca?”

Xavero menggeleng. Sejak semalam, kartu itu hanya tersimpan di saku jaketnya tanpa sempat ia perhatikan.

“Emang kenapa sih?”

“Dia itu Nathan Savier Pramudya… dan yang lo tolong itu Naura Safira Pramudya.”

“Terus?” ucap Xavero, masih belum memahami maksudnya.

“Lo serius nggak tahu mereka?”

Xavero kembali menggeleng.

Radit menghela napas pelan. “Pantes saja… kerjaan lo di gudang terus, jadi nggak tahu dunia luar,” ucapnya dengan nada sedikit kesal.

“Ya di sana kan tempat kerja gue, Dit,” balas Xavero santai. “Emang siapa sih mereka?”

Radit menatapnya serius. “Dengar baik-baik, ya. Mereka itu anak dari pemilik Pramudya Corp—perusahaan terbesar di Eldoria City, bahkan sampai ke mancanegara. Nggak semua orang bisa bekerja sama dengan mereka, apalagi sampai dipercaya.”

Radit menarik napas dalam, lalu menatap Xavero dengan serius.

“Dan lebih hebatnya lagi,” lanjutnya pelan, “Nathan itu bukan sekadar pewaris… dia yang sekarang pegang kendali utama.”

Xavero sedikit mengernyit.

“Secepat itu?”

Radit mengangguk.

“Orang tuanya masih ada, tapi yang jalanin semuanya sekarang Nathan. Dia terkenal dingin, tegas… dan gak pernah main-main dalam bisnis.”

Hening sejenak.

Radit melirik kartu di tangannya lagi, seolah memastikan itu benar.

“Banyak perusahaan besar bahkan takut kalau harus berurusan sama dia,” tambahnya. “Sekali dia nolak, gak ada kesempatan kedua.”

Xavero bersandar lebih dalam ke sofa.

Ekspresinya tetap tenang, tapi jelas ia mulai mencerna semuanya.

“Dan lo… dengan santainya menolong adiknya di pinggir jalan,” ucap Radit, kali ini setengah tidak percaya. “Tanpa tahu siapa dia.”

Xavero menghela napas pelan.

“Gue nolong karena dia butuh bantuan, bukan karena siapa dia,” jawabnya datar.

Radit langsung menatapnya.

“Iya, justru itu yang bikin ini gila,” balasnya. “Orang-orang biasanya baru gerak kalau tahu siapa yang mereka tolong.”

Xavero terdiam.

Tangannya tanpa sadar menyentuh saku jaketnya, tempat kartu itu ia simpan.

“Dia kelihatannya… bukan orang biasa,” gumamnya pelan, mengingat kembali Naura di dalam mobil tadi malam.

Radit tertawa kecil.

“Bukan ‘kelihatan’ lagi, bro. Mereka itu… beda dunia sama kita.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Namun kali ini, Xavero tidak langsung membalas.

Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jelas tidak lagi di ruangan itu.

“Dia bilang… kalau gue butuh sesuatu, hubungi dia,” ucapnya pelan.

Radit langsung menoleh cepat.

“Dan itu bukan omongan kosong,” katanya tegas. “Kalau orang kayak Nathan udah ngomong gitu, artinya dia serius.”

Hening.

Radit kemudian menyandarkan tubuhnya, menatap Xavero dengan sorot mata penuh arti.

“Ini kesempatan, Bro.”

Xavero meliriknya.

“Kesempatan apa?”

Radit tersenyum tipis.

“Buat keluar dari hidup yang sekarang.”

Xavero terdiam.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia menggeleng pelan.

“Gue nggak mau bergantung sama orang lain,” ucapnya tenang. “Apalagi cuma karena gue pernah nolong.”

Radit tidak langsung membalas.

Ia hanya menatap Xavero beberapa saat, lalu menghela napas.

“Bukan bergantung,” ujarnya akhirnya. “Tapi… membuka pintu.”

Xavero kembali diam.

Kalimat itu, sedikit mengusik pikirannya.

Di satu sisi, ia ingin berdiri dengan usahanya sendiri.

Di sisi lain, ini bukan peluang yang datang dua kali.

Radit bangkit dari duduknya, lalu menepuk bahu Xavero pelan.

“Lo gak harus pakai sekarang,” katanya santai. “Tapi… jangan sampai lo nyesel karena gak pernah coba.”

“Satu lagi yang harus lo tahu… Mahendra Group itu cuma serpihan debu dibandingkan dengan Pramudya Corp.”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!