Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 - Cemburu
Semalaman Gwen tidak bisa tidur. Seluruh tubuhnya tak bisa diajak bekerjasama dengan baik—jantungnya berdebar tiap kali memori ciuman Aga menari-nari di kepalanya, perutnya mellilit karena campuran malu dan sesuatu yang lebih gelap, lebih menggoda. Bagaimana mungkin satu ciuman bisa merusak sistem kerja tubuhnya seluruhnya?
Gwen sungguh malu memikirkan bagaimana harus bersikap nanti. Apakah pura-pura tidak terjadi apa-apa? Atau mengakui bahwa bibirnya masih merasa hangat, masih merindukan sentuhan yang sama?
Pagi hari, Gwen memutuskan untuk lari. Bukan dari Aga—tentu saja bukan—tapi dari kenyataan bahwa ia sudah tidak punya kendali atas dirinya sendiri.
Ia mengenakan legging hitam dan kaos olahraga longgar, rambut dikuncir kuda sederhana. Untung saja ia sempat membawa sepatu lari barunya yang dibeli di Jakarta—yang jarang sekali dipakai—karena terasa kaku di kaki. Saat tangan Gwen meraih gagang pintu, suara itu meluncur dari kegelapan ruang keluarga.
"Mau kemana, kamu?"
Gwen melonjak kaget, hampir menjatuhkan botol minum di tangan kirinya. Aga duduk di sofa kulit, laptop terbuka di pangkuannya. Cahaya layar memantulkan warna biru samar di wajahnya yang belum bercukur, memberinya tampilan lebih berbahaya dari biasanya.
"Mau lari," jawab Gwen cepat, sengaja tidak menatap mata Aga. Ia sibuk memasang sepatu, berkonsentrasi pada tali. "Lari dari kenyataan," gumamnya lebih kepada dirinya sendiri.
Aga menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. "Tunggu aku."
"Tunggu—apa?"
Tapi Aga sudah berjalan ke arah koridor, menghilang ke dalam kamarnya. "Awas kalau kamu tinggal!" teriaknya dari balik pintu. "Aku bisa kasih hukuman ke kamu!"
Hukuman. Kata itu bergema di telinga Gwen, membuat pipinya memanas dalam kegelapan. Ia menggigit bibirnya, memutuskan untuk menunggu meski pikirannya mendesak untuk lari sekarang juga.
Semenjak usia tiga puluh, Gwen mulai mengatur pola hidup sehat. Berhenti memasukkan segala jenis makanan ke mulutnya. Meskipun masih kesulitan melepas kafein dan makanan manis. Lari pagi adalah ritualnya sejak dulu—satu-satunya waktu di mana pikirannya benar-benar miliknya sendiri.
Tapi pagi ini, pikiran dan tubuhnya bukan miliknya.
Gwen sudah selesai pemanasan di teras luar ketika Aga menghampirinya. Pria itu memakai jaket running tipis berwarna abu-abu tua, celana spandek hitam selutut yang menampakkan betis berototnya. Kakinya yang panjang sudah terbalut sepatu olahraga merah menyala—seolah ingin memastikan Gwen tidak bisa mengabaikannya di jalan.
"Aku temani," kata Aga, berdiri terlalu dekat.
"Emang kamu biasa lari?" tanya Gwen skeptis, sengaja membuat jarak.
"Aku rajin ke gym."
"Lari?" Tanya Gwen lagi, membuat Aga berdecak, lalu menarik lengan Gwen agar segera mulai acara larinya. "Kamu nggak pemanasan dulu, Ga?"
Bukannya melanjutkan perenggangan otot seperti yang dilakukan Gwen, Aga malah mendorong tubuh Gwen hingga punggungnya menempel ke tembok villa yang dingin, membuat Gwen terkesiap, napasnya terhenti saat Aga menempatkan kedua tangannya di tembok, mengurung Gwen di antara lengannya.
"Kenapa nggak olahraga di kamar aja?" Aga berkedip genit, suaranya turun satu oktaf menjadi bisikan yang merambat di kulit Gwen. "Lebih... privat. Lebih intens. Lebih berkeringat. Lebih nikmat."
Mengambil satu langkah maju, berjinjit, Gwen menempelkan bibirnya di telinga Aga. "Kamu mau sumbangin sosis kamu buat aku potong-potong?" bisiknya dengan nada menahan amarah. Ia berusaha mengusir pikiran yang membara sejak semalam, tapi tawaran Aga membuat kepalanya melenceng lagi.
Bayangan bibir Aga saja sudah cukup membuat otaknya dipenuhi dorongan erotis yang sulit ditahan.
Punggung lebar Aga yang sebelumnya mengungkung Gwen langsung tegak. Ia mundur selangkah, lalu menunduk dengan gaya pangeran yang berlebihan—tangan di dada, lutut sedikit ditekuk.
"Please, Madam," katanya dalam aksen British yang membuat Gwen ingin menamparnya dan menciumnya secara bersamaan. "Permission to accompany you on this morning run?"
Gwen mendengus, berusaha menyembunyikan senyum yang ingin merekah. "Gila."
"Ya… tergila-gila padamu," goda Aga, matanya menatap Gwen dengan senyum nakal.
Gwen menggigit bibir bawahnya, menatap Aga sambil menggeleng pelan. "Dasar… kamu selalu tahu cara membuatku kesal."
Aga tersenyum lebar, selangkah mendekat, menatap mata Gwen. "Kesal? Atau… tergila-gila padaku juga?"
Gwen menatapnya diam, napasnya tiba-tiba tercekat. Ia tahu jawabannya sendiri, tapi enggan mengaku.
Aga sudah berlari mundur menjauh, tangan melambai. "Ayo, Baby. Sebelum aku benar-benar mengajakmu olahraga di kamar."
Keduanya mulai berlari berdampingan, meninggalkan villa. Udara pagi Bedugul menusuk paru-paru Gwen—segar, bersih, dipenuhi wangi pinus. Langit perlahan terangkat dari gelap ke ungu, lalu merah muda menyapu ufuk timur.
...__KejarTenggat__...
Mereka berlari dalam irama yang sudah mulai selaras—napas memburu, kaki melangkah di jalan setapak berbatu, kabut pagi menyelinap di antara pepohonan pinus. Gwen merasa otot-ototnya mulai panas, keringat mengucur di punggung, tapi pikirannya justru semakin jernih. Atau mungkin semakin berantakan, karena setiap kali matanya mencuri pandang ke arahAga di sampingnya, ada sesuatu yang berdentum di dalam dada.
Setelah hampir tiga kilometer, Gwen memperlambat langkahnya. Paru-parunya membara, bukan karena kelelahan—ia biasa berlari lebih jauh di Jakarta—tapi karena udara pegunungan yang tipis dan dingin ini berbeda. Ia berhenti di tepi jalan setapak, menatap danau yang terhampar di bawah sana. Airnya gelap dan tenang, mencerminkan langit yang mulai berubah warna.
"Kenapa berhenti?" tanya Aga, ikut melambat di sampingnya.
"Cape, Ga," jawab Gwen, masih terengah, tangan bertumpu di lutut.
"Katanya sering lari?" goda Aga, alisnya naik-turun.
Gwen mendengus. "Terserah." Ia berdiri tegak, napas terengah. "Bentar lagi aku tumbang, serius."
Aga menyeringai, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. "Kalau kamu tumbang, aku yang nangkep."
Gwen memutar bola matanya. "Nggak usah sok pahlawan."
"Siapa bilang sok?" Aga mendekat setengah langkah lagi, suaranya merendah. "Aku serius."
Gwen menatapnya sejenak, jantungnya kembali berdentum—kali ini jelas bukan karena lari. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke danau.
"Udah, lanjut," katanya cepat.
Saat ia hendak melangkah, Aga menahannya.
"Tunggu di sini. Ada warung kecil di belokan tadi. Aku beli air,"
"Nggak usah—"
"Kamu butuh istirahat," potong Aga, sudah berbalik. "Dan aku butuh minum. Jangan kemana-mana, ya?"
Gwen ingin protes, tapi Aga sudah berlari mundur, langkahnya ringan di jalan berbatu. Ia menatap punggung pria itu menjauh, lalu menghela napas, berjalan mendekat ke tepi danau. Ada batu besar yang rata, sempurna untuk duduk. Ia menyapukan jaket tipisnya, lalu duduk, menatap air yang tenang.
Sunyi.
Hanya desiran angin dan sesekali suara burung yang memecah keheningan. Gwen menutup mata sejenak, membiarkan udara segar mengisi paru-parunya. Pagi ini seharusnya sempurna—lari, pemandangan, kedamaian—tapi kenapa pikirannya terus kembali ke bibir Aga? Ke tangan yang mengurungnya di tembok tadi? Ke—
"Permisi."
Gwen membuka mata. Seorang pria berdiri di depannya, memblokir pandangan ke danau. Tinggi, berambut coklat panjang yang dikuncir kuda santai, kulitnya sawo matang, hidung mancung, mata sedikit sayu seperti orang Timur Tengah. Ia mengenakan kaos polo putih dan celana khaki, tampilannya rapi seperti turis yang baru saja keluar dari resort bintang lima.
"Maaf mengganggu," pria itu tersenyum, giginya putih bersinar. "Saya lihat kamu sendirian di sini. Lagi menikmati pemandangan?"
Gwen mengangguk sopan, berdiri dari batu. "Iya, lagi istirahat sebentar."
"Sendirian?" tanya pria itu lagi, matanya mengamati Gwen dari atas ke bawah, membuatnya risih.
"Tunggu seseorang," jawab Gwen singkat, berharap pria ini mengerti isyarat. Tapi pria itu justru melangkah lebih dekat. "Nama saya Reza. Saya dari Jakarta, lagi liburan ke Bali. Kamu?"
"Gwen," jawabnya terpaksa, tidak mengulurkan tangan. "Saya juga dari Jakarta," bohongnya—meski tidak sepenuhnya salah. Kedua orang tuanya memang memiliki rumah di sana.
"Kebetulan sekali," Reza tersenyum lebih lebar, tangan masuk ke saku celana dengan santai. "Kita sama-sama sendirian di tempat asing. Mungkin... kita bisa saling menemani? Saya tahu tempat sarapan enak di dekat sini, view-nya langsung ke danau."
Gwen menahan napas. Sendirian? Gue tadi bilang lagi nunggu seseorang, deh… ini orang budegnya budeg banget, gumamnya dalam hati sambil menahan godaan untuk menepuk kepala Reza. Ia baru akan menolak, tapi suara itu tiba-tiba memotong dari arah belakang.
"Dia nggak sendirian."
Aga berdiri di jalan setapak, botol air mineral di tangan kanannya—sudah terbuka, setengah kosong, seolah ia meminumnya sambil berjalan dengan cepat. Wajahnya tegang, rahang mengeras, dan matanya menatap Reza dengan tajam.
"Aga," ucap Gwen, napasnya lega tanpa ia sadari.
Reza menoleh dan melihat Aga berdiri dengan kaos olahraga yang menempel di tubuh berototnya, wajah belum bercukur menambah kesan garang. Tersenyum, Reza mengangkat tangan dalam gerakan ramah.
"Oh, maaf. Saya kira—" Reza berhenti, matanya bergerak dari Aga ke Gwen, lalu kembali ke Aga. "Kalian adik - kakak?"
Aga membeku. Botol air di tangannya terasa seperti akan meledak. Sementara Gwen melongo.
Adik-kakak? Wajahnya dan Aga jelas jauh berbeda—Aga dengan darah blasteran dan mata zamrudnya yang mencolok, sementara Gwen berwajah Manado yang tegas.
"Kalau dia adikku, aku pasti protes ke orang tua," Ucap Gwen santai. "Soalnya dia dapat gen bagusnya semua."
Aga yang sejak tadi diam, menahan sesuatu di balik tatapannya, akhirnya tersenyum tipis sebelum menarik Gwen lebih dekat ke arahnya.
"Baby, kita pulang dan lanjut olahraga di kamar aja, yuk," ucapnya sambil mengecup telinga Gwen, membuat wanita itu langsung melotot tak percaya, wajahnya memanas seketika.
Reza terdiam sejenak, jelas tidak menyangka situasi di depannya. Senyum ramahnya menegang, meski pria itu berusaha tetap terlihat santai.
"Oh…," gumamnya pelan, matanya bergantian menatap Gwen dan Aga. "Saya salah paham, berarti."
Gwen masih terpaku di tempat, wajahnya panas, jantungnya berdetak tidak karuan—entah karena bisikan Aga, atau karena posisi mereka yang terlalu dekat di depan orang lain.
"Ga masalah," jawab Aga santai, bahu mengangkat seolah tak berdosa. "Bukankah kalau jodoh, wajahnya sering dibilang mirip?"
Tangannya merambat ke bawah, meremas bokong Gwen dengan santai seolah itu hal yang paling wajar di dunia. Gwen melotot tak percaya, tubuhnya menegang kaget. Matanya melebar menatap Aga, bibirnya terbuka setengah ingin protes, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Reza hanya tersenyum mengangguk setuju. "Iya juga sih. Jodoh memang sering mirip. Kalian cocok banget."
"Terima kasih," Aga tersenyum lebar, tangan di bokong Gwen meremas lagi, lebih dalam, lebih berani. "Istri saya memang cantik, ya? Saya harus hati-hati, nggak boleh ditinggal lama-lama. Baru sebentar ditinggal pergi beli air, sudah ada yang mencoba menikung."
Menikung. Kata itu diucapkan dengan nada menggoda, tapi mata Aga menatap Reza dengan peringatan terselubung.
"Maaf, saya nggak bermaksud—" Reza angkat tangan, mundur selangkah.
"Ga apa-apa," Aga memotong, tangannya berpindah meraih jemari Gwen, menggenggamnya erat dengan cara yang terlalu akrab untuk disalahartikan. "Kami baru menikah. Masih bulan madu. Dan untuk sampai ke titik ini, aku harus berjuang cukup lama, jadi aku agak protektif."
Reza tersenyum paham. "Oh, baru menikah. Selamat ya. Saya pergi dulu, nggak mau ganggu."
"Terima kasih," Ucap Aga, masih tersenyum santai.
Reza pergi. Langkahnya cepat, hampir berlari, menghilang di balik tikungan jalan setapak. Begitu pria itu lenyap dari pandangan, Gwen langsung menarik tangannya dari genggaman Aga dan memukul dada pria itu dengan kesal.
"Gila kamu!"
Aga tertawa, suaranya parau dan puas. "Apa?"
"Meremas bokongku di depan orang!"
"ga masalah," Ucap Aga sambil tersenyum lebar. "Kita kan baru menikah, sayang. Masih bulan madu."
Gwen melotot, pipinya merah padam—bukan karena marah sepenuhnya, tapi karena malu dan... sesuatu yang lain. "Kita bukan suami istri!"
"Belum," Aga melangkah mendekat, menghapus jarak yang Gwen coba buat. Tangan kirinya meraih pinggang Gwen lagi, tangan kanannya kembali ke bokong—kali ini tanpa penonton, tapi dengan keberanian yang sama. "Akan. Dan tadi... aku hanya latihan."
"Latihan?"
"Latihan jadi suami yang protektif," Aga menunduk, dahi mereka bersentuhan. "Yang nggak akan membiarkan siapa pun mendekati istrinya. Yang akan meremas bokong istrinya kapan pun dia mau. Yang akan bilang pada dunia bahwa wanita ini sudah punya pemilik."
Gwen menatapnya, marah dan terpikat secara bersamaan. "Kamu nggak punya hak—"
"Aku tahu," Aga memotong, suaranya turun menjadi bisikan. "Tapi aku ingin punya. Aku ingin punya hak untuk cemburu, untuk meremas, untuk mengklaim. Aku ingin kamu jadi milikku, Gwen."
Kabut dari danau mulai bergulir ke arah mereka, membasahi kulit dan menutupi dunia dalam selimut putih. Di dalam kabut itu, hanya ada mereka berdua. Hanya ada kebenaran yang akhirnya diucapkan.
Dan ketika bibir mereka bertemu di tengah kabut pagi yang dingin, tangan Aga kembali meremas bokong Gwen— mengklaim.
Ini bukan ciuman yang lembut.
Ini adalah pengakuan.
Ini adalah permulaan dari sesuatu yang tidak bisa lagi dihentikan.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
kalau "kita" berarti yang diajak berbicara ikut terlibat....