Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otak kotor
Kecanggungan terjadi di kamar bernuansa pink pastel tersebut. Kejadian beberapa menit lalu membuat Rinjani malu sampai akhirnya ingin menghilang di dunia Ikhram. Apalagi pria itu sempat menggodanya, meminta pertanggungjawaban karena dia telah membangunkan Ikhram.
"Jani ... kamu beneran nggak mau tanggung jawab?" Telunjuk Ikhram terus menjentik lengan Rinjani. Mengulum senyum menyadari istrinya itu mengeratkan pegangan pada selimut.
Ya, berhasil terlepas dari Ikhram ... Rinjani menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut tebal yang semula Ikhram pakai.
"Apa sih memangnya kamu nggak pernah ciuman," balas Rinjani masih dalam persembunyian.
"Memangnya kamu sering?" Sudut bibir yang semula membentuk setengah lingkaran kini telah menghilang. Alis pun bertaut menunggu jawaban yang pasti.
"Otak kamu kotor ya?"
Dan pertanyaan itu berhasil memancing Rinjani keluar dari persembunyian. Terlalu tiba-tiba dan sembarangan. Hampir terjadi ciuman tidak sengaja part dua. Bagaimana tidak, jarak Ikhram saat Rinjani di dalam selimut sangat dekat, apalagi dirinya bertumpu tangan menghadap Rinjani.
Ikhram menyengir, hampir saja ... hampir saja dirinya tidak akan melepaskan Rinjani andai bibir itu kembali menempel. Beruntung hanya hidung, itu pun membuat jantung Ikhram mengila.
Ada gila-gilanya Rinjani memancing pria halal yang bisa melakukan apapun di dalam kamar itu.
"Pertanggungjawaban yang ada di pikiranmu itu pasti sangat kotor." Masih mengulum senyum.
Benar, Rinjani akui pikiran kotornya. Apalagi melihat tatapan Ikhram yang nakal. Sebenarnya sah-sah saja, tapi dirinya belum siap.
"Nggak kok, sok iye banget." Rinjani mencibir. "Btw kamu nggak mendengar apapun?"
"Dengar apa?"
"Sudahlah lupakan." Rinjani mengibaskan tangannya dan memunggungi Ikhram, kali ini benar-benar tidur tanpa perdebatan.
Berbeda dengan Ikhram yang menghela napas berkali-kali.
...
Sejak pagi, Rinjani berjibaku di dalam ruangan tidak terlalu luas, namun terasa nyaman dan tertata rapi. Dindingnya didominasi warna putih dengan beberapa bagian diberi sentuhan pink pastel.
Di salah satu sisi, terpajang papan inspirasi berisi potongan majalah, palet warna, dan contoh desain logo yang menampilkan berbagai gaya kreatif.
Dua meja kerja berjajar saling berhadapan di tengah ruangan, masing-masing dilengkapi komputer dengan layar lebar, tablet gambar, serta tumpukan sketsa dan catatan kecil. Kabel-kabel tersusun rapi, menunjukkan kebiasaan kerja yang terorganisir.
Di sudut ruangan, terdapat rak kecil berisi buku desain, majalah kreatif, serta meja lebih luas dan berbeda dari dua meja sebelumnya. Sebuah tanaman hias diletakkan di dekat jendela, memberikan kesan segar dan hidup.
Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menerangi ruangan dengan sinar alami yang hangat.
Suasana terasa tenang namun produktif. Sesekali terdengar suara klik mouse, ketikan keyboard. Aroma kopi dari cangkir di atas meja menambah kesan santai namun tetap fokus dalam bekerja.
Sesekali Rinjani meminta pendapat Zira dan Meli. Mendiskusikan beberapa desain dan jadwal meeting di luar kantor. Mau bagaimana lagi, kantor Rinjani terlalu sempit untuk mengadakan meeting di sana.
"Bagaimana dengan bahan box yang saya perintahkan?" Rinjani melirik arloji dipergalangan tangannya. Sudah setengah empat sore. Janjinya dengan Ikhram akan segera tiba.
"Sudah Bu. Proses pembuatan boxnya hampir selesai dan akan dikirimkan pada perusahaan produksi. Tapi ...."
Rinjani menatap Zira, dia tidak lagi fokus pada jam tangannya.
"Klien kita meminta potongan harga lagi saat pekerjaan sudah di tengah jalan."
"Buatkan jadwal pertemuan kami."
Klien menyebalkan seperti itu sudah menjadi makanan Rinjani selama merintis bisnis.
"Meli, hubungi jasa percetakan terkait undangan pernikahan klien kita. Pastikan selesai tepat waktu."
"Baik Bu."
Rinjani membereskan barangnya yang berserakan di atas meja. Tidak lupa merapikan riasan wajahnya.
Tingkahnya menjadi objek menarik dua karyawan yang juga bersiap pulang. Zira mengulum senyum. Jika atasannya sudah berdandan seperti ini pasti akan bertemu orang istimewa. Dulu Rinjani melakukan hal serupa setiap kali kencan dengan Ardian.
"Sudah cantik Bu."
"Kamu ini." Rinjani terkekeh.
Mereka bertiga sama-sama meninggalkan kantor. Keluar dari kegedung secara bergantian.
"Rasanya sus ya sepupu bu Rinjani. Katanya punya istri tapi tatapannya sama bu Rinjani keliatan banget kecintaanya." Meli berbisik, menyenggol lengan Zira.
Atensi pun tertuju pada ... bagaimana Rinjani menghampiri Ikhram. Gerak melindungi seolah pasangan.
"Jangan-jangan mereka selingkuh!" Zira terpekik.
Rinjani dan Ikram menoleh usai mulut Zira dibekap oleh Meli.
"Kenapa?" tanya Rinjani yang bersiap masuk ke mobil. Ada Ikhram di sampingnya, melindungi kepala Rinjani agar tidak terjedot.
"Ini Zira digigit semut Bu." Meli menyengir dan menyeret Zira menjauh dari kawasan kantor.
"Tunggu apa lagi? Ayo masuk."
"Jangan memperlakukan saya seperti pasangan, orang bisa saja salah paham," ujar Rinjani memasang sabuk pengaman.
"Kita memang pasangan, dan kamu sudah mengizinkan saya mencintaimu. Saya nggak peduli pandangan orang lain."
"Jatuh cinta sendirian itu nggak enak."
"Kalau begitu jatuh cinta berdua saja, apa yang salah?" Ikhram menaikkan alisnya.
"Modusmu! Cepat jalan keburu malam!" Melempar tatapan ke jendela mobil.
Dia tiba-tiba tertawa kala melewati warung makan ayam goreng di dekat kantor.
"Kenapa ketawa?"
"Jadi ingat kamu sampai lupa bernapas hanya karena saya mengusap kepalamu. Entah apa yang terjadi jika saya menciummu."
.
.
.
Bosan nggak sih gini-gini aja, adain koflik enak kayaknya.
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,