NovelToon NovelToon
TUNGGU ANAK MU SUKSES BUU

TUNGGU ANAK MU SUKSES BUU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: dell_dell

Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.

Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.

Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.

"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membangun perusahaan

Setelah lulus kuliah dengan predikat Cum Laude dan memiliki pengalaman kerja yang luar biasa, Adel tidak lagi puas hanya menjadi karyawan. Ia punya mimpi besar: memiliki usaha sendiri yang bisa memberdayakan orang banyak, terutama mereka yang berasal dari kalangan kurang mampu seperti dirinya dulu.

Dengan modal yang sudah terkumpul, dukungan penuh dari Pak Budi sebagai mentor, dan kerja keras tanpa lelah, akhirnya lahirlah sebuah perusahaan bernama "ADVANCE GROUP".

Perusahaan ini bergerak di bidang jasa konsultan bisnis, digital marketing, dan juga memiliki lini produksi pakaian serta kerajinan tangan.

 

Hari pembukaan kantor pusat diadakan sangat meriah. Gedung kantor yang disewa Adel terletak di lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit di pusat kota. Pemandangannya luar biasa indah, bisa melihat seluruh kota dari ketinggian.

Acara dihadiri oleh banyak pejabat, pengusaha sukses, teman-teman, dan tentu saja Ibu Adel serta Pak Budi dan Ibu Rita.

"Selamat ya Bos Muda!" seru Pak Budi sambil tertawa lebar. "Saya bangga sekali melihat kamu bisa berdiri sejajar dengan para pengusaha besar."

Adel tersenyum bangga. "Semua ini tidak akan ada tanpa doa Ibu dan bimbingan Pak Budi."

Saat pita pemotongan dilakukan, tepuk tangan bergema. Adel kini resmi menjadi Direktur Utama. Ia mempekerjakan puluhan karyawan, memberi mereka gaji besar dan fasilitas layak.

Banyak karyawannya adalah orang-orang yang dulu juga diremehkan atau berasal dari ekonomi bawah, tapi Adel lihat potensi dan bakat mereka.

 

Berita tentang Adel yang punya perusahaan besar, punya kantor di gedung tinggi, dan mempekerjakan banyak orang menyebar bagai api membara.

Tentu saja berita ini sampai ke telinga Om Darmo, Tante Sari, dan Bu Ratna yang hidupnya semakin menyedihkan. Uang yang dulu Adel berikan sudah habis tak bersisa, mereka kembali kelaparan dan terlilit hutang.

Melihat Adel makin sukses, hati mereka bukan saja iri, tapi rasanya seperti mau meledak!

"GILA! GEDUNG PUNYA! PERUSAHAAN PUNYA! ITU DULU KEPONAKAN GUE YANG MISKIN KERAS!" teriak Om Darmo sambil memukul meja.

"Kenapa dia bisa segitunya sih?! Kita malah makin menderita! Itu tidak adil!" rengek Tante Sari.

Tiba-tiba, ada ide jahat muncul di kepala mereka.

"Eh... Kalau dia punya perusahaan besar, pasti uangnya banyak banget kan?" bisik Bu Ratna serakah. "Masa iya kita biarin dia kaya sendirian sementara kita kelaparan?"

"Benar!" Om Darmo menyeringai jahat. "Kita harus datang ke kantor barunya! Kita minta uang banyak! Kita tuntut jadi komisaris atau dapat gaji bulanan! Kan kita keluarga! Dia wajib menanggung kita!"

Mereka berpikir naif bahwa status keluarga lama mereka masih berlaku dan bisa dipakai untuk memeras Adel lagi.

 

Keesokan harinya, dengan pakaian seadanya yang kusut dan bau, Om Darmo, Tante Sari, dan Bu Ratna datang menumpang angkot menuju gedung super mewah tempat kantor Adel berada.

Mereka masuk ke lobi dengan wajah sombong.

"HEH! KAMI KELUARGA BOS BESAR SINI! SI ADEL! SURUH DIA KELUAR TEMUI KAMI!" teriak Om Darmo pada resepsionis.

Resepsionis kaget, "Maaf Pak, Bapak punya janji temu?"

"GAK PUNYA! TAPI KAMI KELUARGA! CEPAT PANGGIL! ATAU KAMI TERIAK TERUS DI SINI!"

Karena mereka ribut, akhirnya satpam mengizinkan mereka naik dengan diawasi ketat.

Saat pintu lift terbuka di lantai tertinggi, mata mereka terbelalak tak percaya. Ruangan kantor sangat luas, lantai mengkilap, karyawan bekerja rapi, dan pemandangan kota terlihat jelas dari jendela kaca raksasa.

Di ruangan paling ujung, ada ruangan besar dengan tulisan "DIREKTUR UTAMA".

Di sana, Adel duduk di kursi kerja yang besar dan nyaman, memakai setelan jas elegan, sedang memeriksa berkas dengan wajah serius dan penuh wibawa. Ia terlihat seperti CEO muda yang sangat berkelas.

Melihat pemandangan itu, rasa iri di hati mereka makin membakar dada.

 

"WOY DEL!!" teriak Om Darmo memecah keheningan. Semua karyawan kaget dan menengok.

Adel mengangkat wajah, tatapannya dingin dan tajam. "Apa yang kalian lakukan di sini? Ini tempat kerja, bukan pasar kaget."

Tante Sari langsung maju, "Del! Kamu sudah gila ya?! Sekarang jadi bos besar terus lupa sama keluarga?! Lihat kami! Kami kelaparan! Sedangkan kamu duduk di kursi empuk!"

"Kami datang mau minta uang lima puluh juta buat bayar hutang! Dan mulai sekarang kamu harus kasih kami uang tiap bulan lima juta! Atau kami akan teriak-teriak di sini bilang kamu anak durhaka!" ancam Tante Sari.

Bu Ratna ikut menimpali, "Iya Del! Kasih juga buat aku! Aku sakit-sakit! Kamu kan kaya raya sekarang, seribu dua ribu buat kamu itu cuma receh!"

Mereka berteriak sepuasnya, mengacaukan kantor, dan sengaja membuat keributan agar malu Adel di depan karyawannya.

Karyawan-karyawan Adel marah besar, "Pak, Bu jangan bikin ribut! Hormat sama Bos kami!"

"Diam kalian! Ini urusan keluarga!" teriak Om Darmo kasar.

Adel berdiri perlahan dari kursinya. Tingginya menjulang, auranya sangat kuat. Ia berjalan mendekati mereka dengan langkah pelan namun menggetarkan.

Ia tersenyum sinis, sangat dingin.

"Jadi... Kalian datang ke sini cuma buat minta uang dan bikin rusuh?"

"Ya! Berikan sekarang!" sahut Om Darmo kurang ajar.

Adel tertawa kecil, lalu wajahnya berubah murka.

"KALIAN SADAR TIDAK SIH POSISI KALIAN SEKARANG?! KALIAN DATANG KE TEMPAT SAYA DENGAN BAU KERINGAT MAU MERAMPAK HASIL KERJA SAYA?!"

"DENGAR BAIK-BAIK! SAYA SUDAH BERI UANG DULU, ITU PUNYA KASIHAN. TAPI KALIAN PIKIR ITU SUMBER KANGEN YANG BISA DIAMBIL TERUS?!"

"OM DARMO! TANTE SARI! KALIAN BUKAN SIAPA-SIAPA LAGI BAGI SAYA! KALIAN YANG MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN KEJAHATAN KALIAN SENDIRI!"

"Sekarang... KALIAN INGIN TAHU APA BALASANNYA?!"

Adel menekan tombol interkom.

"Security!! Masuk sekarang!!"

Beberapa satpam berbadan besar langsung masuk sigap.

"Tangkap orang-orang ini! Mereka mengganggu ketenangan dan mencoba memeras direktur! Lapor polisi atas dugaan pemerasan dan pencemaran nama baik!" perintah Adel tegas.

Deg! Wajah mereka pucat pasi.

"APA?! DEL JANGAN GITU! KAMI OM KAMU! KAMI KELUARGA!" teriak mereka panik.

"Keluarga tidak memeras keluarga! Keluarga tidak menyakiti keluarga! Kalian hanya orang asing yang berbuat dosa pada kami!" hardik Adel.

"BAWA MEREKA PERGI! JANGAN BIARKAN MEREKA MENGINJAK LANTAI INI LAGI!"

 

Akhirnya, Om Darmo, Tante Sari, dan Bu Ratna diseret keluar kantor dengan cara yang sangat memalukan di depan banyak orang. Mereka ditahan di pos satpam dan hampir dibawa ke kantor polisi kalau tidak memohon ampun sekuat tenaga.

Mereka lari tunggang langgang ketakutan, menyadari bahwa kekuasaan dan kekayaan Adel sekarang sudah berada di level yang tidak bisa mereka sentuh atau ganggu lagi.

Mereka hancur, kalah telak, dan tidak punya daya apa-apa.

 

Di dalam kantor yang kembali tenang, Adel menghela napas panjang.

"Maafkan saya atas gangguan tadi, rekan-rekan. Silakan lanjut bekerja," katanya tenang pada karyawan yang langsung hormat dan kagum pada ketegasan bosnya.

Adel menatap pemandangan kota dari jendela kaca.

"Mereka bisa mencoba menjatuhkan aku berkali-kali. Tapi lihatlah... sekarang aku berdiri di atas, dan mereka di bawah sana, terusik oleh keserakahan mereka sendiri."

"Permainan belum selesai. Masih banyak hal besar yang harus aku capai."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!