Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
🤗🤗
Sejak pertemuan di perpustakaan itu, Alya merasa ada sesuatu yang berbeda. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Setiap kali ia duduk di kelas atau berjalan di koridor kampus, pikirannya selalu kembali pada Arka.
Bukan karena ia ingin, tapi karena tubuh dan pikirannya seolah otomatis mengingat kehadiran itu.
Hari itu, matahari pagi bersinar hangat. Suasana kampus terlihat sibuk seperti biasa, tapi bagi Alya, semua terasa lambat. Langkahnya sedikit lebih pelan, pikirannya terus mengulang pertemuan kemarin. Ia masuk ke kelas lebih awal, duduk di bangku yang sama. Buku di tangannya terbuka, tapi matanya menatap ke luar jendela. Ia tersenyum kecil sendiri, menyadari sesuatu yang belum pernah ia sadari sebelumnya: ia menantikan momen bertemu Arka.
Belum lama Alya membuka bukunya, pintu kelas terbuka. Arka masuk seperti biasa, langkah tenang, wajah datar, namun aura yang ia bawa membuat Alya hampir menahan napas. Ia menunduk cepat, berpura-pura membaca.
Namun pandangan Arka menyapu kelas dan akhirnya berhenti sebentar pada Alya. Kali ini berbeda dari biasanya. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa diabaikan perhatian yang halus, hangat, tapi nyata. Saat pelajaran dimulai, Arka mengajar seperti biasa, tegas dan jelas. Namun Alya merasa setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar lebih dekat, lebih personal. Ia sering menoleh diam-diam, dan setiap kali itu terjadi, jantungnya selalu berdetak lebih cepat.
Setelah kelas selesai, Alya memutuskan tidak langsung pergi. Ia mengambil jalur lain menuju kantin, berharap bisa menenangkan pikirannya. Tanpa disangka, Arka berjalan di jalur yang sama. Ia terlihat sedang membawa beberapa dokumen.
Alya menoleh sejenak, lalu tersenyum kecil. “Lagi buru-buru, Pak?”
Arka mengangguk singkat. “Sedikit. Tapi cukup untuk ngobrol sebentar?”
Alya ragu sebentar, lalu mengangguk. “Boleh, Pak.”
Mereka berjalan beriringan, langkahnya selaras tapi tetap nyaman. Tidak ada percakapan yang memaksa, hanya canda ringan sesekali. Arka sesekali menatap Alya, seolah memastikan bahwa ia baik-baik saja. Alya merasa hangat. Rasanya sederhana, tapi berbeda dari perhatian biasa.
“Tadi di kelas… aku lihat kamu agak lelah,” kata Arka tiba-tiba.
Alya tersenyum malu. “Enggak kok, Pak. Cuma banyak pikiran aja.”
Arka menatapnya sejenak, kemudian berkata pelan, “Kalau ada apa-apa, jangan ragu bilang. Kadang kita terlalu ingin terlihat kuat, padahal gak harus sendiri.”
Kata-kata itu membuat Alya terdiam. Tidak karena tersinggung, tapi karena… tersentuh. Ia tahu ini bukan hanya kata-kata formal sebagai dosen. Ada sesuatu di baliknya perhatian, rasa ingin menjaga, hal yang belum pernah ia rasakan dari orang dewasa sebelumnya, apalagi dari seorang dosen.
Mereka tiba di kantin. Arka memesan kopi, Alya memilih teh hangat. Mereka duduk di pojok yang tenang, saling berhadapan, tapi tetap menjaga jarak.
Hening sejenak datang, tapi kali ini bukan hening yang canggung. Ia nyaman. Hangat. Dan Alya merasa, tanpa disadari, hatinya mulai menyesuaikan ritme dengan Arka.
“Sering ke sini?” tanya Arka akhirnya.
“Kadang-kadang, Pak. Tapi jarang,” jawab Alya.
“Kalau kamu suka tempat ini, aku bisa temenin kapan-kapan,” katanya sambil tersenyum tipis.
Alya menelan ludah. Hatinya berdebar. “Eh… iya, Pak… boleh juga.”
Hening kembali datang. Tapi kali ini, terasa berbeda. Kedekatan yang tercipta bukan karena kata-kata panjang atau candaan berlebihan. Hanya karena mereka ada di situ, bersama, tapi tetap nyaman.
Sore itu, Alya pulang dengan langkah ringan tapi pikirannya penuh. Ia menyadari sesuatu: tanpa ia sadari, ia mulai menunggu. Menunggu kehadiran Arka. Menunggu perhatian halusnya. Menunggu kata-kata sederhana yang membuatnya merasa diperhatikan.
Di sisi lain, Arka berjalan pulang dengan dokumen di tangan, tapi pikirannya tetap tertuju pada Alya. Ada perasaan yang mulai sulit ia jelaskan, tapi ia tahu satu hal: ia ingin dekat dengannya, tapi dengan cara yang perlahan, tanpa terburu-buru, tanpa mengubah batas yang ada.
Malam itu, Alya duduk di kamarnya. Ia menatap buku yang dibuka tapi tidak dibaca. Ia tersenyum sendiri, menyadari satu hal yang belum ia akui bahkan pada dirinya sendiri:
“Aku… mulai tergantung dengan kehadirannya.”
Dan untuk Arka, malam itu juga, setelah menaruh dokumen di meja kerja, ia menatap kosong ke luar jendela, tersenyum kecil, menyadari hal yang sama:
“Aku juga mulai tergantung padanya… lebih dari yang seharusnya.”
Pertemuan yang tidak direncanakan itu—di perpustakaan, di kantin, di koridor kampus—perlahan mulai mengikat mereka dalam rasa yang lebih dari sekadar guru dan mahasiswa.
Rasa yang hangat, tenang, dan nyata.
Namun juga membawa pertanyaan yang tidak mudah dijawab:
“Seberapa jauh kita bisa membiarkan perasaan ini tumbuh?”
maaf lancang🙏🙏🙏