Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bayang-Bayang di Balik Gemerlap London
London di bulan Oktober adalah kanvas yang disapu oleh warna-warna jingga dan kelabu.
Udara dingin yang menggigit mulai merayap di sela-sela mantel wol, membawa aroma tanah basah dan kopi yang diseduh kuat. Bagi Arumi, perjalanan ini adalah puncak dari karier sastranya—sebuah validasi bahwa suaranya, yang dulu terbungkam di balik bayang-bayang kakaknya, kini menggema hingga ke seberang samudra.
Peluncuran edisi internasional "Akar yang Menghujam"di sebuah toko buku tua di kawasan Piccadilly berlangsung sukses besar. Arumi berdiri dengan anggun, menjawab pertanyaan para kritikus dengan kecerdasan yang tenang. Di sudut ruangan, Adrian berdiri sambil memangku Abimanyu yang mulai mengantuk, menatap istrinya dengan binar bangga yang tak pernah pudar.
Namun, suasana kemenangan itu mendadak bergeser saat mereka menghadiri jamuan malam di sebuah galeri seni kontemporer di Soho. Galeri itu milik Julian, seorang kurator seni yang merupakan kawan lama Adrian saat mereka menempuh studi di London School of Economics.
Julian adalah pria dengan selera berpakaian yang eksentrik dan tatapan yang seolah bisa menembus lapisan rahasia setiap orang. Saat Adrian sedang sibuk menyapa beberapa kolega bisnis dari firma investasi London, Julian mendekati Arumi yang sedang berdiri sendirian sambil menatap sebuah lukisan abstrak.
"Karya yang luar biasa, bukan?" Julian memulai, suaranya halus namun tajam. "Lukisan itu bercerita tentang memori yang terkubur. Sama seperti suamimu, Adrian."
Arumi menoleh, tersenyum sopan. "Adrian pria yang sangat tertutup, Julian. Saya rasa itu bagian dari pesonanya."
Julian terkekeh, menyesap anggur merahnya.
"Tertutup adalah kata yang sopan untuk menyebut seseorang yang melarikan diri dari hantu masa lalu. Kamu tahu, Arumi, Adrian selalu punya selera yang rumit. Tapi aku senang dia akhirnya menemukan seseorang yang bukan sekadar 'pajangan' untuk kerajaan bisnisnya. Meskipun... aku sempat sangsi saat mendengar dia menikah dengan adik dari wanita yang kabur darinya."
Arumi merasakan dadanya sedikit sesak. Kalimat Julian seperti jarum yang menyusup di antara celah harga dirinya. "Apa maksudmu dengan 'selera yang rumit'?"
Julian menatap Arumi dengan tatapan penuh arti. "Adrian yang dulu di London adalah pria yang sangat rapuh di balik setelan jas mahalnya. Ada alasan mengapa dia begitu mudah jatuh pada wanita-wanita yang 'sulit'. Dia tidak mencari cinta, dia mencari penebusan atas rasa bersalah terhadap ayahnya. Aku hanya berharap, di balik kesuksesan memoarmu ini, kamu benar-benar mengenalnya, Arumi. Bukan hanya mengenal 'kontrak' yang kalian jalani."
Sebelum Arumi sempat bertanya lebih lanjut, Adrian sudah kembali ke sisi mereka, merangkul pinggang Arumi dengan posesif. "Julian, kulihat kamu sedang mencoba meracuni pikiran istriku dengan cerita-cerita konyol masa kuliah kita."
Julian tertawa lepas, namun matanya tetap dingin. "Hanya sedikit bernostalgia, Adrian. Selamat atas kesuksesan kalian berdua. London sepertinya menyukai kalian."
Malam itu, di kamar hotel mewah yang menghadap ke arah Sungai Thames, keheningan terasa begitu berat. Abimanyu sudah terlelap di boks bayinya setelah perjalanan panjang seharian. Adrian sedang sibuk dengan laptopnya, memeriksa detail negosiasi investasi hijau yang akan dilakukan besok pagi.
Arumi duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya perlahan. Bayang-bayang kata-kata Julian terus berputar di kepalanya. Penebusan atas rasa bersalah terhadap ayahnya.
"Mas," panggil Arumi lembut.
"Ya, Sayang?" Adrian menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Apa yang Julian maksud dengan 'penebusan'?"
Gerakan jari Adrian di atas papan tik berhenti seketika. Ia menarik napas panjang, lalu menutup laptopnya perlahan. Ia berbalik menghadap Arumi, wajahnya tampak lelah di bawah temaram lampu tidur.
"Julian selalu bicara terlalu banyak. Dia suka mendramatisasi segala sesuatu," jawab Adrian pendek.
"Tapi dia bicara tentang ayahmu, Mas. Selama ini kita sudah bicara banyak hal, tapi setiap kali nama ayahmu muncul, kamu selalu membangun tembok. Kita di London, di tempat di mana kamu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar. Aku merasa... aku hanya mengenal Adrian sang CEO, bukan Adrian yang belajar di sini."
Adrian bangkit, berjalan menuju jendela yang menampakkan kerlip lampu kota London di balik kabut. "Ayahku adalah pria yang membangun Pramoedya dengan tangan besi, Arumi. Baginya, kegagalan adalah dosa yang tak termaafkan. Di London ini, sepuluh tahun lalu, aku hampir kehilangan segalanya karena satu kesalahan investasi kecil. Ayahku tidak memaafkanku. Dia memaksaku tinggal di sini, tanpa akses finansial, untuk 'belajar menjadi pria'. Itulah sebabnya aku menjadi sangat kaku. Aku merasa setiap langkahku adalah ujian di mata mendiang ayahku."
Arumi berjalan mendekat, menyentuh punggung Adrian. "Kenapa kamu tidak pernah cerita?"
"Karena aku malu, Arumi. Aku malu karena ternyata di balik kemegahan nama Pramoedya, aku hanyalah seorang anak yang ketakutan akan bayang-bayang ayahnya sendiri. Dan saat Siska pergi... rasa malu itu kembali. Aku merasa telah gagal lagi memenuhi standar stabilitas yang diinginkan keluarga."
Arumi memeluk Adrian dari belakang. Ia menyadari bahwa kesuksesannya di London justru memicu rasa tidak aman pada diri Adrian.
Di tempat ini, Adrian diingatkan kembali pada masa-masa terendahnya. Sementara Arumi sedang berada di puncak, Adrian sedang berjuang melawan hantu masa lalunya.
Keesokan harinya, Arumi harus menghadiri sesi tanda tangan buku di sebuah perpustakaan komunitas di Southbank. Namun, fokusnya terpecah. Ia memutuskan untuk menghubungi Julian secara diam-diam. Ia butuh tahu lebih banyak.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di dekat Tate Modern. Julian tampak sudah menunggu.
"Aku tahu kamu akan menghubungiku," ujar Julian.
"Katakan padaku, Julian. Apa yang sebenarnya terjadi di London sepuluh tahun lalu?"
Julian menghela napas. "Bukan soal uang, Arumi. Adrian jatuh cinta pada seorang wanita di sini—seorang seniman jalanan yang tidak punya nama. Ayahnya tahu dan menganggap wanita itu adalah penghambat masa depan Adrian. Ayah Adrian membayar wanita itu untuk pergi. Adrian tahu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia masih bergantung sepenuhnya pada kekuasaan ayahnya. Sejak saat itu, Adrian bersumpah tidak akan pernah membiarkan emosi menguasai logikanya lagi. Itulah sebabnya dia menerima perjodohan dengan Siska—dia hanya ingin patuh. Dan itulah sebabnya kontrakmu dulu terasa sangat dingin baginya. Dia sedang menghukum dirinya sendiri."
Arumi tertegun. Jadi, selama ini ia bukan hanya bersaing dengan kenangan Siska atau Clara, tapi ia bersaing dengan rasa benci Adrian terhadap ketidakberdayaannya sendiri di masa lalu.
Sore harinya, Arumi menemui Adrian yang baru saja selesai rapat di kawasan The City. Mereka berjalan kaki menyusuri tepi Sungai Thames, sementara pengasuh membawa Abi kembali ke hotel lebih dulu.
Langkah kaki mereka berirama di atas trotoar batu. Angin musim gugur menerbangkan beberapa helai rambut Arumi.
"Mas," Arumi memulai pembicaraan. "Aku bertemu Julian lagi hari ini."
Adrian berhenti melangkah. Wajahnya mengeras.
"Sudah kukatakan, dia hanya pengacau, Arumi."
"Dia ceritakan tentang wanita seniman itu, Mas. Tentang bagaimana ayahmu campur tangan."
Adrian memalingkan wajah, menatap aliran sungai yang keruh. "Aku tidak ingin kamu melihatku sebagai pria yang lemah, Arumi. Aku ingin menjadi pelindungmu, bukan bebanmu."
"Kamu bukan beban, Adrian!" Arumi memutar tubuh Adrian agar menatapnya. "Justru karena kamu pernah lemah, aku semakin mencintaimu.
Itu membuktikan bahwa kamu manusia, bukan sekadar mesin korporasi yang selama ini kamu tunjukkan pada dunia. London ini mungkin tempat lukamu, tapi London juga saksi bahwa kamu sudah melampaui standar ayahmu. Kamu membangun kembali perusahaan yang hampir hancur karena Paman Bram, kamu menjadi ayah yang hebat bagi Abi, dan kamu... kamu mencintai wanita seperti aku yang tidak punya apa-apa."
Adrian menatap mata Arumi yang berkaca-kaca.
Perisai yang selama ini ia bangun di London seolah runtuh oleh satu kalimat lembut istrinya.
"Aku takut, Arumi. Aku takut jika aku terlalu mencintaimu, aku akan menjadi lemah lagi seperti sepuluh tahun lalu."
"Cinta bukan kelemahan, Mas. Cinta adalah alasan mengapa kita berani menghadapi dunia. Lihatlah aku. Aku tidak punya apa-apa dulu, tapi cintamu memberiku keberanian untuk menulis, untuk berdiri di depan ratusan orang kemarin."
Adrian menarik Arumi ke dalam pelukannya. Di tengah hiruk-pikuk London, di bawah bayang-bayang Tower Bridge, Adrian akhirnya melepaskan beban sepuluh tahun yang ia simpan rapat-rapat. Ia menangis pelan di bahu Arumi—sebuah pelepasan yang selama ini ia tahan demi menjaga martabat nama Pramoedya.