NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pesta Mewah dan Kekacauan Genta

Malam itu, Jakarta terasa lebih gemerlap dari biasanya. Aku berdiri di depan cermin besar di kamar tamu rumah Clarissa, mencoba merapikan dasi kupu-kupu yang rasanya lebih mirip jerat leher daripada aksesoris fashion. Clarissa memaksaku memakai tuksedo sewaan yang harganya katanya bisa buat beli motor bekas.

​"Genta! Sudah siap belum? Kita sudah telat!" teriak Clarissa dari ruang tengah.

​Begitu aku keluar, aku hampir lupa cara bernapas. Clarissa memakai gaun malam berwarna merah marun yang panjangnya menyapu lantai. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya dipoles riasan yang membuatnya terlihat seperti bidadari yang baru saja turun dari iklan sampo.

​"Waduh, Mbak Bos... kalau penampilannya begini, saya takut nanti para tamu malah mengira saya ini sopir truk yang salah masuk pesta," kataku sambil nyengir minder.

​"Diam kamu. Ingat, malam ini ulang tahun teman SMA saya, namanya Cindy. Dia orangnya agak... kompetitif. Jadi tolong, jangan buat saya malu dengan tingkah konyolmu itu," Clarissa memperingatiku dengan tatapan tajam yang sudah biasa kuterima.

​Kami sampai di sebuah hotel bintang lima di kawasan Kuningan. Ballroom-nya sangat luas, penuh dengan lampu kristal dan orang-orang yang bicaranya pakai campuran bahasa Inggris yang bikin telingaku gatal. Musik klasik mengalun lembut, sangat kontras dengan musik dangdut koplo yang biasa kudengar di pangkalan ojek Sidoarjo.

​Baru saja masuk, seorang wanita dengan dandan berlebihan mendekati kami. Itulah Cindy, sang pemilik acara.

.

​"Oh, Clarissa! Akhirnya kamu datang juga! Dan... siapa ini? Bodyguard barumu ya? Kok mukanya mirip aktor film laga tahun 80-an?" Cindy tertawa mengejek sambil melirikku dari atas ke bawah.

​"Namanya Genta. Dia asisten keamanan saya," jawab Clarissa singkat, mencoba menahan emosi.

​"Asisten keamanan? Bilang saja tukang pukul, Clarissa. Tapi ya sudahlah, silakan nikmati pestanya. Oh ya, makanannya mahal-mahal lho, jangan sampai asistenmu ini kalap ya!" Cindy berlalu sambil tertawa sombong.

​Aku mendengus kesal. "Mbak Bos, wanita tadi itu perlu saya kasih pelajaran tata krama apa gimana? Mulutnya lebih pedas dari sambal korek langganan saya."

​"Sudah, Genta. Biarkan saja. Ayo kita cari tempat duduk," bisik Clarissa lesu.

​Acara inti dimulai, tapi perutku sudah mulai konser keroncongan lagi. Aku melihat meja prasmanan yang sangat panjang di pojok ruangan. Ada berbagai macam makanan yang bentuknya cantik-cantik tapi ukurannya sangat mungil. Ada salmon, caviar, dan entah apa lagi namanya.

​Aku mendekati meja itu. Karena tidak ada piring besar, aku mengambil piring kecil dan menumpuk semua jenis makanan di situ sampai tinggi seperti gunung merapi. Orang-orang di sekitarku mulai berbisik-bisik, tapi aku cuek saja. Lapar itu nyata, gengsi itu cuma hiasan!

​"Mas, ini sambalnya mana ya?" tanyaku pada pelayan yang lewat.

​"Maaf Sir, di sini tidak ada sambal. Adanya saus wasabi atau mustard," jawab pelayan itu bingung.

​"Waduh, hambar dong! Sini Mas, saya kasih tahu. Makan ginian kalau nggak pakai sambal itu kayak mandi nggak pakai sabun," kataku sambil merogoh saku tuksedoku dan mengeluarkan Sambal Sachet yang selalu kubawa untuk kondisi darurat.

​Aku menyobek sambal itu dan menyiramkannya ke atas kaviar mahal. Pas aku makan... HAP! Rasanya baru mantap! Beberapa tamu elit di sampingku sampai melongo melihat aksiku yang sangat tidak berkelas ini.

​Masalah besar muncul saat acara dansa dimulai. Cindy sengaja memancing Clarissa untuk berdansa dengan mantan kekasihnya yang juga hadir di sana, seorang pria sombong bernama Richard. Richard terus-menerus menggoda Clarissa dan bicaranya sangat merendahkan perusahaan Clarissa.

​Melihat wajah Clarissa yang mulai berkaca-kaca karena tertekan, aku tidak bisa tinggal diam. Aku meletakkan piringku yang sudah ludes, lalu berjalan ke tengah lantai dansa dengan percaya diri tingkat tinggi.

​"Permisi, Mas Richard yang gantengnya pas-pasan. Giliran saya sekarang yang berdansa dengan Mbak Bos," kataku sambil menyingkirkan tangan Richard dari bahu Clarissa.

​"Apa-apaan kamu?! Kamu cuma bodyguard, jangan lancang!" Richard membentakku.

​"Bodyguard juga manusia, Mas. Daripada situ, muka rapi tapi kelakuan kayak ulat bulu. Sini Mbak Bos, ayo kita tunjukkan cara dansa ala Sidoarjo!"

​Aku menarik tangan Clarissa. Aku tidak tahu cara dansa klasik, jadi aku mengajak Clarissa bergerak mengikuti instingku. Aku melakukan gerakan-gerakan konyol, sedikit goyang jempol, dan memutar Clarissa dengan semangat. Clarissa yang tadinya sedih, tiba-tiba tertawa lepas melihat tingkahku.

​Seluruh tamu pesta terdiam. Cindy tampak sangat marah karena acaranya yang formal jadi berantakan. Tapi Clarissa terlihat sangat bahagia, seolah beban di pundaknya hilang seketika.

​"Genta, kamu benar-benar gila!" ujar Clarissa saat kami sudah berada di dalam mobil untuk pulang. Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil, wajahnya tampak jauh lebih santai.

​"Gila tapi bikin Mbak Bos ketawa, kan? Daripada ikut pesta tapi batin tersiksa, mending kita bikin geger sekalian," jawabku sambil melonggarkan dasi kupu-kupuku yang menyiksa.

​Clarissa menatapku dalam-dalam. "Terima kasih, Genta. Malam ini... kamu benar-benar menyelamatkan saya. Meskipun cara kamu makan kaviar pakai sambal sachet itu benar-benar bikin saya ingin pura-pura tidak kenal kamu."

​Aku tertawa lebar. "Sama-sama, Mbak Bos. Lain kali kalau ada pesta lagi, kabari ya. Saya stok sambal sachet yang lebih banyak biar para tamu elit itu tahu rasa sambal asli Indonesia!"

​Clarissa tersenyum manis, senyum paling tulus yang pernah kulihat selama aku bekerja dengannya. Ternyata, menjadi bodyguard seorang CEO cantik itu bukan cuma soal menjaga raga, tapi juga soal menjaga suasana hati—meskipun caranya harus sedikit sengklek

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!