NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Penasaran

Matahari mulai merangkak naik, menyinari jalan setapak yang kini dipenuhi oleh pria-pria Sekte Pedang Hitam yang pingsan tertanam di tanah.

Tian Shan berdiri tegak, membiarkan angin pagi memainkan rambut putihnya.

Di hadapannya, Han Shao masih berusaha mengatur napas, wajahnya yang semula membiru kini mulai memucat ke arah yang lebih sehat.

​"Duduklah dengan tenang," perintah Tian Shan. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

​Han Shao menurut tanpa ragu. Ia duduk bersila, meletakkan kotak kayu berisi Inti Es Surgawi di pangkuannya.

Tian Shan melangkah ke belakang pemuda itu dan menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Han Shao.

​Seketika, Han Shao merasa seolah-olah sebuah gunung yang hangat sedang menekan tubuhnya.

Energi Pendekar Bumi milik Tian Shan mengalir masuk, namun tidak kasar. Energi itu terasa sangat padat dan stabil, menyusup ke setiap meridian yang tersumbat oleh kristal es kecil akibat racun.

​"Es bersifat tajam dan rapuh," gumam Tian Shan. "Tanah bersifat luas dan penampung. Jangan melawan hawa dingin itu, Han Shao. Biarkan energiku membungkusnya, lalu menariknya turun ke bumi melalui titik nadi di kakimu."

​Proses itu memakan waktu hampir satu jam. Keringat dingin yang mengucur dari dahi Han Shao seketika membeku menjadi butiran kristal sebelum jatuh ke tanah.

Perlahan, uap putih yang menyiksa itu mulai menghilang. Tanah di bawah kaki Han Shao mendadak menghitam dan membeku, tanda bahwa racun tersebut telah berhasil "dibuang" ke bumi.

​Setelah merasa cukup kuat, Han Shao berdiri dan membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih, Senior. Tanpa bantuan Anda, saya mungkin sudah menjadi patung es di pinggir jalan ini."

​"Simpan terima kasihmu untuk ibumu nanti," sahut Tian Shan datar sembari mulai melangkah. "Ayo jalan. Kota Awan Biru masih melewati Hutan Pinus Berbisik, dan aku tidak ingin bermalam di tempat terbuka lagi."

​Mereka berjalan menembus hutan yang rimbun. Pohon-pohon pinus raksasa di sini memiliki daun yang saling bergesekan saat tertiup angin, menciptakan suara desisan yang menyerupai bisikan manusia—alasan mengapa tempat ini dinamakan demikian.

​Selama perjalanan, Han Shao tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia melirik seruling bambu giok di pinggang Tian Shan dan kecapi di punggungnya. "Senior, apakah Anda seorang pendekar musik? Teknik Anda menggunakan suara tadi ... saya belum pernah melihat yang seperti itu."

​Tian Shan menatap lurus ke depan. "Suara hanyalah getaran. Getaran adalah bagian dari bumi. Jika kau memahami bagaimana bumi berdenyut, kau bisa mengubah suara menjadi senjata, atau menjadi obat."

​Han Shao terdiam, mencoba mencerna kata-kata filosofis tersebut.

Ia menyadari bahwa pria di sampingnya ini bukan sekadar pendekar kuat, melainkan seseorang yang memiliki pemahaman sangat mendalam tentang hakikat alam.

​Saat mereka mencapai tengah hutan, kabut tebal tiba-tiba turun. Suara bisikan pohon pinus berubah menjadi lebih intens, seolah-olah mereka sedang memperingatkan tentang sesuatu.

​Tian Shan tiba-tiba berhenti. Tangannya bergerak ke hulu serulingnya. "Ada yang mengikuti kita. Bukan manusia."

​Han Shao segera mencengkeram kotak kayunya dengan protektif. "Apakah itu Sekte Pedang Hitam lagi?"

​"Bukan. Mereka terlalu pengecut untuk masuk ke dalam hutan ini dengan kabut setebal ini," jawab Tian Shan. Matanya yang memiliki lingkaran emas berkilat. "Ini adalah Serigala Kabut, hewan spiritual ranah kedua puncak. Mereka berburu dalam kelompok."

​Benar saja, dari balik kabut, sepasang mata kuning bercahaya muncul satu per satu.

Ada sekitar sepuluh ekor serigala berbulu abu-abu pucat yang ukurannya sebesar anak sapi. Mereka bergerak tanpa suara, menyatu dengan kabut di sekelilingnya.

​"Senior, biarkan saya membantu!" Han Shao menghunus pedang pendeknya, meskipun tangannya masih sedikit gemetar akibat sisa racun.

​"Tetap di belakangku, Han Shao. Fokuslah menjaga kotak itu. Kau belum cukup pulih untuk bertarung dalam durasi lama," ucap Tian Shan.

​Tian Shan tidak mencabut serulingnya. Ia hanya berdiri diam, memejamkan mata, dan merasakan getaran kaki para serigala di atas tanah.

Baginya, kabut bukanlah penghalang. Melalui elemen bumi, ia bisa "melihat" setiap gerakan makhluk yang menyentuh tanah.

​GRRRRR ...

​Tiga ekor serigala menerjang dari arah yang berbeda secara bersamaan.

​Tian Shan menghentakkan kakinya ke tanah dengan hentakan kecil yang presisi.

​"Gelombang Tanah: Gempa Sunyi!"

​Tanah di sekitar mereka tidak meledak, melainkan bergetar dengan frekuensi tinggi yang sangat kuat.

Ketiga serigala yang sedang melompat itu seketika kehilangan keseimbangan di udara karena tekanan gravitasi yang mendadak berubah.

Saat mereka mendarat, kaki-kaki mereka langsung terperosok ke dalam tanah yang melunak seolah-olah itu adalah lumpur hisap.

​JREEENG!

​Tian Shan memetik satu senar kecapinya tanpa melepasnya dari punggung. Gelombang suara tajam melesat, membelah kabut dan memukul mundur kawanan serigala sisanya.

​Melihat kekuatan yang begitu dominan, pemimpin serigala kabut—yang berukuran paling besar—mengeluarkan lolongan panjang sebagai tanda mundur.

Mereka menyadari bahwa mangsa kali ini adalah predator yang jauh lebih tinggi dalam rantai makanan.

​Setelah ancaman mereda, kabut perlahan menipis.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga akhirnya pepohonan mulai jarang, menampakkan pemandangan sebuah kota besar yang dikelilingi oleh tembok batu putih tinggi di kejauhan. Kota itu terletak di atas bukit yang dikelilingi oleh awan-awan rendah, sesuai dengan namanya.

​"Itu dia ... Kota Awan Biru," ucap Han Shao dengan nada lega sekaligus cemas. "Rumahku ada di distrik bawah. Tapi Senior, Sekte Pedang Hitam pasti memiliki pengaruh di kota ini. Mereka mungkin sudah menunggu kita di gerbang."

​Tian Shan menatap gerbang kota yang dijaga ketat. "Bagus kalau begitu. Aku paling tidak suka jika harus mencari musuh yang bersembunyi. Jika mereka menunggu di depan mata, urusan kita akan lebih cepat selesai."

​Tian Shan berjalan memimpin, langkahnya mantap dan tak tergoyahkan.

Di matanya, Kota Awan Biru bukan sekadar tujuan perjalanan, melainkan tempat di mana ia akan sekali lagi menguji apakah kebaikan yang ia lakukan benar-benar bisa mengubah takdir seseorang, atau justru memicu badai yang lebih besar.

​Han Shao mengikuti di belakang, menatap punggung lebar Tian Shan dengan rasa hormat yang mendalam.

Ia merasa, selama ia berjalan di samping pria berambut putih ini, bahkan gerbang kengerian sekalipun tidak akan bisa menghentikannya untuk menyelamatkan ibunya.

​Gerbang Kota Awan Biru berdiri kokoh di hadapan mereka, dijaga oleh barisan prajurit dengan zirah perak yang berkilau tertimpa cahaya matahari.

Han Shao sempat ragu sejenak, melirik ke arah beberapa sosok berjubah hitam yang tampak mengawasi dari kejauhan—jelas merupakan mata-mata Sekte Pedang Hitam.

​"Senior, apakah kita harus menyamar?" bisik Han Shao cemas.

​Tian Shan hanya mendengus pelan, langkahnya tidak melambat sedikit pun. "Menyamar hanya untuk mereka yang merasa bersalah atau takut. Kita tidak termasuk keduanya."

​Setiap langkah Tian Shan di atas lantai batu kota itu mengirimkan getaran halus yang membuat para penjaga gerbang tanpa sadar berdiri lebih tegak, seolah-olah berat gravitasi di sekitar mereka meningkat secara misterius.

Mereka membiarkan keduanya lewat tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun interogasi.

​Mereka menyusuri jalanan kota yang berkelok hingga sampai di sebuah distrik yang lebih tenang, di mana bangunan-bangunannya tampak tua namun terawat.

Han Shao berhenti di depan sebuah gerbang kayu yang sudah mulai lapuk namun memiliki ukiran lambang keluarga yang masih bisa dikenali.

​"Ini rumahku," ucap Han Shao dengan suara bergetar.

​Di dalam, aroma jamu-jamuan yang pahit menusuk hidung.

Di sebuah kamar kecil yang remang-remang, seorang wanita paruh baya terbaring lemah.

Kulitnya pucat transparan, dengan bercak-bercak es yang mulai muncul di jemarinya—tanda bahwa penyakit dingin yang dideritanya sudah di ambang maut.

​"Ibu! Aku pulang!" Han Shao berlutut di samping tempat tidur, tangannya yang gemetar membuka kotak kayu itu.

​Inti Es Surgawi keluar dari kotaknya, memancarkan cahaya biru kristal yang begitu murni hingga seketika menurunkan suhu di dalam ruangan.

Hawa dingin dari inti ini berbeda dengan racun; ini adalah energi kehidupan es yang murni.

​Tian Shan melangkah maju. "Biarkan aku yang membantunya menyerap ini. Tubuhnya terlalu lemah untuk menerima energi sebesar ini sekaligus."

​Dengan kontrol yang sangat halus, Tian Shan menggunakan energi elemen tanah yang hangat untuk membungkus es tersebut, lalu mengalirkannya perlahan ke dalam titik nadi sang ibu.

Perlahan tapi pasti, warna di wajah wanita itu kembali. Bercak es di tangannya mencair, dan napasnya yang semula pendek menjadi lebih dalam dan stabil.

​Setelah sang ibu tertidur lelap dalam proses pemulihan, Han Shao keluar ke halaman depan dengan mata sembab karena haru.

Ia melihat Tian Shan sudah duduk bersila di bawah sebuah pohon sakura tua yang batangnya sudah menghitam.

​"Senior ... saya tidak tahu bagaimana cara membalas semua ini," ucap Han Shao tulus. "Tapi saya tahu, Sekte Pedang Hitam tidak akan membiarkan kita tenang. Mereka pasti sudah mengepung tempat ini."

​Tian Shan membuka satu matanya, lingkaran emas di pupilnya berkilat tenang. "Aku tahu. Aku merasakan setidaknya dua puluh detak jantung yang tidak teratur di sekitar tembok luar ini. Mereka seperti lalat yang menunggu bangkai, namun mereka lupa bahwa yang mereka hadapi adalah singa."

​"Apakah Anda akan pergi sekarang?" tanya Han Shao dengan nada sedikit takut.

​"Tidak," jawab Tian Shan singkat. "Ibumu butuh waktu tiga hari untuk benar-benar menyerap Inti Es itu. Jika aku pergi sekarang, mereka akan meratakan tempat ini sebelum fajar. Aku akan tinggal di sini sampai pondasi ibumu stabil."

​Han Shao merasa beban berat di pundaknya terangkat.

Ia kembali ke dalam untuk menjaga ibunya, sementara Tian Shan tetap berada di sana, menjadi penjaga yang tak terlihat namun sangat nyata.

​Malam tiba, dan kesunyian di distrik itu terasa mencekam.

Di balik kegelapan tembok rumah keluarga Han, sosok-sosok berjubah hitam mulai bergerak.

Pemimpin mereka, seorang pria dengan aura pedang yang tajam, memberi isyarat untuk menyerbu.

​Namun, sebelum kaki mereka sempat menyentuh lantai halaman, Tian Shan mengangkat seruling bambu gioknya. Ia tidak meniupnya, melainkan hanya mengetukkannya sekali ke permukaan tanah di bawah pohon sakura.

​TUK.

​Sebuah gelombang energi berbentuk lingkaran emas memancar keluar dari titik ketukan itu.

Seketika, tanah di seluruh kediaman keluarga Han menjadi sangat padat.

Setiap langkah yang diambil oleh para penyusup terasa seolah-olah kaki mereka sedang ditarik oleh magnet raksasa.

​"Siapa pun yang melangkahkan satu kaki lagi melewati gerbang ini," suara Tian Shan bergema di seluruh area tanpa ia perlu berteriak, "akan mendapati tulang kakinya hancur sebelum sempat menyentuh tanah."

​Beberapa anggota Sekte Pedang Hitam yang nekat mencoba melompat dari atap.

Namun, saat mereka berada di udara, gravitasi mendadak meningkat sepuluh kali lipat. Mereka jatuh berdentum ke tanah seperti batu besar, mengerang kesakitan dengan napas yang sesak.

​Tian Shan tetap duduk tenang, bahkan tidak menoleh ke arah mereka.

Baginya, melindungi keluarga ini adalah cara untuk menghargai ajaran gurunya tentang melindungi mereka yang berharga.

​"Dunia ini memang keras, Han Shao," gumam Tian Shan pada kesunyian malam. "Tapi selama bumi masih di bawah kakiku, tidak ada yang bisa merampas apa yang ingin kujaga."

​Di kejauhan, para petinggi Sekte Pedang Hitam yang mengamati dari bayang-bayang mulai menyadari satu hal: mereka tidak sedang berhadapan dengan pendekar bayaran, melainkan sebuah kekuatan alam yang berjalan dalam wujud manusia.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!