Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan yang mendadak
James sudah rapi dengan pakaian untuk acara kepesta kedua orang tuanya.
Anisa juga sudah siap yang tiba-tiba masuk dan memperlihatkan dirinya menggunakan gaun yang terlihat sederhana tapi tetap terlihat cantik dengan tak banyak hiasan pada gaunnya panjang hanya sampai sebatas bawah lutut sisanya ia memakai sepatu datar yang cocok.
Lalu rambut hitam panjang yang ikal itu di sanggul dengan bentuk kepangan rapi di tambah hiasan ringan yang tidak mengganggu geraknya atau membuat kepalanya pusing atau berat.
"Aku siap !"
"Sangat biasa saja." Jawab James sambil memakai jam tangannya.
"Ayah harus memujiku dong!"
"Tidak perlu!"
"Apa! Ini benar-benar sangat menyakiti hatiku."
"Kau berlebihan apanya yang menyakiti hatimu?"
"Ayah itu paktua yang tidak pengertian tidak romantis tidak punya kata-kata manis bahkan sangat datar wajahnya, aku tahu kenapa tidak ada yang mau dekat denganmu, karena kamu tampan tapi cuek kamu manis tapi, irit bicara.. Dasar dingin dan menyeramkan!"
"Apa!"
Tersenyum tanpa rasa bersalah dengan keterkejutan James membuat Anisa senang.
"Sudahlah ayo, nanti kita terlambat, kakek dan nenek dari ayah akan telat melihat putri yang cantik sepertiku ini."
Langkah ringan senang dan santai, James merasa malas mau mengajaknya jika seperti ini. Ternyata se menyenangkan ini mempunyai anak ya.
Didalam mobil yang berjalan menuju tempat pesta James mengawasi gerakan Anisa yang terus tak sabaran bahkan terpukau melihat sesuatu dari dalam kaca mobil.
"Jangan jauh dariku, jika kau tak mau membuatku repot."
"Apa ini, ayah yang mengajakku ya kenapa jadi malah membuatku harus patuh!"
"Kau ini putriku satu-satunya kalo ada yang membuat mu lecet aku tak punya cadangannya."
"Hei ayah! Kenapa mengatakan aku seperti barang aku ini akan jaga diriku baik-baik tahu."
"Pokoknya jangan menjauh terlalu jauh."
"Huh iya!"
Senyuman James benar-benar ,membuat Silva yang duduk didepan bersama sopir sedikit kaget.
Sudah berapa kali Tuannya memperlihatkan sisi aneh itu yang manis ramah dan murah senyum biasanya hanya datar dan dan menyeramkan.
*****
Setelah berdebat tentang hal tak penting sebelum sampai kini keduanya turun dengan tenang dan berjalan bersama tanpa bergandengan tapi, James lebih dulu menyentuh bahu Anisa.
"Diam sebentar." Anisa diangkat di gendongnya menatap kedepan dan saat masuk aula semua tamu menatapnya bahkan padangan nenek juga ibu ayahnya tak lepas dari putra kesayangan mereka dan Silva juga Canaria disana berdiri berjarak.
"Ibu bilang untuk tidak membawanya kemari!" Bisikan salah satu kerabat pada ibu Zachary.
Stella yang melihat kedatangan putranya mendekat dan tersenyum manis pada anak di gendongan James.
"Kamu tidak mengunjungi rumah utama? Apa kau begitu sibuk anakku?"
"Tidak terlalu, hanya malas." Anisa menatap malu tapi, terkejut dengan ucapan James.
Tipe-tipe anak durhaka !
Anisa menatapnya dengan polos James melihat ibunya bingung melihat Anisa.
"Dia Anisa Arthur Oceanus."
Terdiam keluarga inti yang mendengar dan beberapa tamu didekatnya yang mendengar James mengenalkan nama Anisa.
"Owh, hoho... Baiklah, Anisa aku Stella ibu dari James Arthur Oceanus kamu sudah bersenang-senang selama dengannya?"
"Iya Nyonya... Eh Ne-nenek." James mengangguk samar matanya terpejam.
Anisa merasa ini bukan tempat nya yang baik untuk bisa sembarangan, sepertinya James juga butuh ruang bicara dengan orang tuannya, Anisa harus paham akan hal pengertian semacam ini kan, walaupun ia anak kecil.
"Aku akan pergi bersama Paman Silva dan lainnya." James menurunkannya dan Ibunya kembali berwajah serius yang wajah ramahnya hanya di perlihatkan karena ada Anisa di gendongan James. Ibunya menarik tangan James, menggandengnya.
Anisa berjalan menjauh tapi, berbalik badan melihat kebelakang dimana James di ajak keluarganya bicara.
Pesta yang tidak ada anak kecil disini. Seseorang menyenggol nya seketika itu Canaria menahan tangannya hampir Anisa jatuh.
"Hati-hati !" Tanpa melihat siapa yang ia tabrak karena hanya melihat punggung Canaria ia tahunya itu orang dewasa bukan Anisa.
Wajah yang murung sambil kembali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Aku harus Kak!" Panggilnya di angguki Canaria yang langsung menuntunnya ketempat sedikit luas.
"Tunggu sebentar Nona aku akan ambilkan jus dan air putih, ingin kueh kering atau basah anda?"
Anisa tersenyum mengangguk.
"Apa saja aku tak akan menyusahkan Paman James." Terdiam sebentar sebelum pergi karena mendengar ucapan Anisa.
Silva yang ada didekat Anisa hampir tersedak minuman sodanya.
Selama pesta berlangsung hanya diam menunggu James di tempatnya duduk bahkan tak banyak yang melirik dan memperhatikan Anisa sinis.
Anisa adalah anak yang tak punya asal usul. Anisa sudah merasakan kalo semua orang pasti akan memojokkan atau membiarkan nya di sudut sambil bernafas biasa.
Di ruang tamu keluarga inti yang mana hanya ayah dan ibu juga James.
Ketiganya duduk berhadapan.
"Apa yang mau kalian katakan, pernikahan atau tunangan atau aku menghamili perempuan lain?"
Ayahnya lebih dulu memegang dahi dan menghembuskan nafas kasar.
"Apa yang kau lakukan !"
"Tidak ada, hanya menginginkan anak tanpa membuatnya."
"Apa!" Kaget mendengar putra nya menjawab hal itu dengan mudah.
Zachary tak mendidik James seperti ini kenapa bisa jadi seperti ini.
"Nak, ayahmu benar kenapa kamu melakukannya, jika kamu menghindari pernikahan kamu tinggal mengatakannya kenapa malah membuat dirimu buruk di mata mereka."
"Ibu, aku tidak perduli dengan pendapat mereka tentangku."
Ibu menghela nafasnya dan ayah juga serius menatapnya.
"Lalu bagaimana dengan anak manis itu, kau mau beri dia gelar apa di meja gosip nona dan nyonya di luar sana, anak haram Oceanus atau anak di luar nikah dari James Arthur."
"Keduanya tak masalah karena apapun itu, Anisa tetap putriku, aku menyayanginya karena aku akan mengurus menjaga dan membuatnya menjadi putriku satu-satunya."
Menghela nafasnya bergantian, kini ibu yang kewalahan.
"Anak itu sangat mirip dengan keluarga kita dan anak itu pernah membuat putri tertua keluarga Australis sampai hampir benar-benar tak berdaya bersama para bawahannya, aku tak bisa bilang kau menyembunyikannya karena kau bukan orang yang suka membuang benih mu sembarangan."
Percaya disi sekali Ayah Zachary.
"Aku juga bingung tentang itu, aku menemukannya di panti asuhan pedesaan yang pastinya kalian sudah menyelidikinya sebelum mengintrogasi ku sekarang. Dan kalian sudah tahu jika Rosa Alba Australis meninggal yang hanya di temukan tengkoraknya."
"Baiklah-baik... Ibu tidak mendukungmu tapi, mengizinkanmu berbuat kebaikan, awalnya nenek meminta kami menahan diri tapi, ayahmu tak tahan karena rasa penasaran dan kau sudah membuat nama belakang untuk anak itu, sungguh lah perkenalan yang begitu cepat."
Tersenyum bangga putranya seakan jadi beban ayah dan ibunya.
"Aku akan pulang sudah lama kita membicarakan ini mungkin Anisa sudah bosan."
James yang berdiri pamit pergi tidak di halangi ayah ataupun ibunya tapi, saat ia kembali ke aula pesta seorang wanita menatap putrinya dengan tatapan menjijikan.
"Kudengar anda putra Tuan James Arthur, bukan?"
"Iya."
"Anda cukup mirip dengannya?"
"Mungkin."
"Anda merasa kalo keberadaan anda adalah penghalang Tuan James menikah?"
Anisa diam saja ia tak mau menjawab ekspresi polos ketika di tanya dan menjawab apa adanya berubah sedih dan murung.
Dalam hati Anisa, Sialan aku benci dengan mereka semua kapan akan menyingkir aku tidak tahu kalo nona cantik Disi jelek semua hatinya.
Canaria pergi sebentar bersama Silva dan Anisa sendirian disini.
James mendekat dan mengulurkan tangan.
"Paman...."
"Apa ini?" Kaget karena Anisa memanggilnya seperti itu.
"Selamat malam Tuan James Arthur."
Acuh dan pergi sambil menggendong Anisa pergi.
Mereka yang memberi salam selamat malam tak ada di respon sama sekali.