NovelToon NovelToon
YOU (Obsessive Love Disorder)

YOU (Obsessive Love Disorder)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.

Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Pikiran dan Kursi yang Kosong

Di dalam mobil yang membawanya menuju kantor pusat Lichtenzell Group, Eleanor menatap kosong ke arah jalanan London yang masih berkabut. Pikirannya jauh lebih riuh daripada kebisingan kota di luar sana.

'Kenapa aku harus semarah ini?' Batinnya sambil meremas tas tangannya.

Eleanor mencoba menganalisis perasaannya sendiri secara logis, layaknya ia menganalisis laporan audit. Jika ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Edward, bukankah seharusnya ia hanya merasa kesal karena ditipu? Tapi ini berbeda. Rasa sesak di dadanya saat tahu bahu Edward baik-baik saja dan semua itu hanya skenario, terasa seperti pengkhianatan yang mendalam.

'Kenapa aku merasa terluka? Kenapa aku merasa bodoh karena sempat merasa bersalah dan ingin menjaganya?' Eleanor memejamkan mata. Kejujuran yang pahit mulai muncul di permukaan, ia marah karena ia sempat membiarkan dirinya luluh. Ia marah karena ia sempat merasa nyaman di pelukan pria itu. Dan menyadari bahwa kenyamanan itu dibangun di atas kebohongan Edward membuat harga diri Eleanor hancur berkeping-keping.

"Pria itu benar-benar menganggapku pion di papan caturnya," gumam Eleanor dingin. "Dan aku benci diriku sendiri karena sempat menjadi pion yang penurut."

Pukul 07:30 Pagi. Edward keluar dari kamarnya dengan langkah santai, masih mengenakan jubah mandi sutra hitamnya. Ia berjalan menuju pintu penghubung kamar Eleanor dengan senyum tipis yang tersisa dari sisa kepercayaan dirinya kemarin. Ia yakin, setelah semalam Eleanor mendiamkannya, pagi ini wanita itu pasti akan meledak atau setidaknya memberikan tatapan tajam yang ia rindukan.

Ceklek. Pintu itu tidak lagi terkunci—mungkin Eleanor lupa menguncinya pagi ini. Edward melangkah masuk dengan gaya angkuh. "Selamat pagi, Nyonya Zollern. Apa tidurmu nyenyak di balik pintu yang kau perbaiki d—"

Kata-katanya terhenti. Kamar itu sudah rapi. Tempat tidurnya sudah dibersihkan, dan jendela sudah terbuka lebar. Namun, sosok yang dicarinya tidak ada di sana.

Edward mengernyitkan dahi. Ia segera turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Ia berharap melihat Eleanor sedang duduk dengan kopi dan tabletnya seperti kemarin. Namun, yang ia temukan hanyalah meja makan yang sudah tertata rapi untuk satu orang.

"Di mana Istriku?" Tanya Edward pada kepala pelayan yang berdiri tegap di sudut ruangan.

"Nyonya sudah berangkat setengah jam yang lalu, Tuan. Sekitar jam tujuh pagi," jawab kepala pelayan dengan suara rendah.

Edward tertegun. Ia melirik jam tangannya. "Jam tujuh? Kantor Lichtenzell bahkan belum buka jam segini. Dia sarapan di sini?"

"Tidak, Tuan. Nyonya hanya meminum segelas air putih dan langsung meminta sopir untuk berangkat. Beliau berpesan bahwa ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda."

Wajah Edward yang tadinya tenang kini mulai menegang. Rasa menang yang ia bangga-banggakan kemarin mendadak menguap, digantikan oleh rasa kesal yang membakar dada. Eleanor benar-benar mengabaikannya. Bukan hanya mendiamkannya, tapi secara fisik pun wanita itu menghindarinya.

"Sialan," umpat Edward pelan.

Ia duduk di kursi makannya, namun nafsu makannya hilang seketika. Edward menyadari satu hal: Eleanor tidak sedang bermain kucing-kucingan dengannya. Eleanor sedang menunjukkan bahwa Edward bisa memiliki statusnya, bisa memiliki tubuhnya dalam pernikahan ini, tapi Edward tidak memiliki akses sedikit pun terhadap waktu dan kehadirannya.

Edward membanting sendoknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan bunyi denting yang keras. "Dia pikir dia bisa lari dariku di rumahku sendiri?"

Edward segera meraih ponselnya dan menghubungi Rey. "Rey, cari tahu jadwal Eleanor hari ini. Semua rapatnya, semua orang yang akan ditemuinya. Dan siapkan mobil sekarang. Aku tidak akan membiarkan dia merasa bebas hanya karena dia berangkat lebih pagi."

Edward benar-benar bertambah kesal. Baginya, diabaikan adalah penghinaan terbesar. Dan Eleanor tahu persis bagaimana cara memberikan penghinaan itu dengan cara yang paling elegan.

1
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🙈🙈🙈🙈
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
nahhh
Hana Nisa Nisa
suka tata bahasanya bagus
Hana Nisa Nisa
😄😄😄😄
Hana Nisa Nisa
baper euyy
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🥰🥰🥰🥰🥰
W.s • Bae: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!